
Nara sudah siap dengan pakaian kerjanya, begitu pula dengan Septian. Hari ini, keduanya sama sama kerja pagi, membuat Nara semakin bersemangat. Setidaknya, nanti malam, dia tak perlu lagi menunggu kedatangan suaminya hingga larut.
"Bang, kita berangkat sama sama aja. Anterin aku dulu, baru abang ke coffee shop. Mumpung searah." Ujar Nara.
"Tapi aku pulangnya jam 5 Ra. Entar kamu gimana pulangnya?"
"Gampang, entar aku bisa naik taksi."
"Enggak, entar yang ada aku dimarahin papa kamu."
Nara memutar kedua bola matanya lalu memeluk Septian yang sedang menyisir rambut.
"Please....pengen dianterin abang." Rengeknya manja.
"Aku gak enak sama mama papa kamu Ra. Masa aku pulang pakai mobil kamu, sedang kau naik taksi."
"Alesan, bilang aja kalau emang gak mau nganterin." Nara melepaskan pelukannya lalu bersedekap dengan mulut mengerucut.
Septian menghela nafas lalu membalikkan badan menghadap Nara. Menyentuh pipi mulus istrinya lalu mencium bibirnya sekilas. "Ya udah, abang anterin."
"Makasih." Nara berteriak gembira.
Cup
Dia mencium pipi Septian lalu meraih tasnya.
"Aku tunggu dibawah." Ujarnya sambil berjalan cepat keluar kamar.
Septian yang hendak memberikan sentuhan terakhir pada rambutnya, dibuat terkejut dengan warna merah dipipinya. Bekas bibir Nara tercetak sempurna disana. Septian tersenyum sambil menyentuh pipinya. Kalau saja tak mau bekerja, dia pasti tak akan menghapus tanda itu seharian. Sayangnya, dia tak mungkin pergi ke coffee shop dengan penampilan seperti itu.
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, Septian menghentikan mobilnya didekat pintu masuk kampus. Sebelum turun, Nara merapikan kembali rambut serta mengecek isi dalam tasnya.
"Gak ada yang ketinggalan kan?" Tanya Septian.
Nara menggeleng lalu menutup kembali tasnya.
"Kalau ada yang godain, gak usah diladenin."
"Siap Abang." Jawab Nara dengan senyuman manisnya. Dia meraih tangan Septian lalu menciumnya. Septian tak mau kalah. Dia memegang bahu Nara lalu mencium kening, kedua pipi dan bibirnya sekilas.
"Dada.. Abang, hati hati dijalan." Nara menarik handle pintu dan segera keluar.
Setelah memastikan Nara masuk kedalam kampus, Septian segera tancap gas menuju coffee shop.
...*******...
Septian melihat jam yang tertempel didinding cafe. Sudah hampir pukul tiga. Tadi dia dan Nara sempat berkirim pesan. Istrinya itu bilang, hari ini pulang jam dua. Septian mengambil ponsel yang berada disaku apronnya. Dia berniat menelepon Nara, memastikan apakah wanita itu sudah sampai dirumah apa belum.
"Sep, ada yang nyari tuh." Ujar Dafa yang datang menghampirinya.
"Siapa?" Septian yang tadi fokus pada ponsel langsung mengedarkan pandangannya.
"Tuh, cewek cantik." Dafa menunjuk kearah wanita yang duduk sendirian di pojok cafe. Septian mengikuti arah tunjuk Dafa, dan seketika, senyumnya terukir.
"Makasih ya." Ucapnya sambil menepuk lengan Dafa. Dia menyimpan kembali ponsel lalu beranjak untuk menemui wanita itu. Beruntung cafe sedikit sepi, jadi dia tak terlalu sibuk.
"Kok gak bilang kalau mau kesini?" Tanya Septian sambil menarik kursi lalu duduk dihadapan wanita yang selalu membuatnya rindu itu.
"Kan mau surprise in Abang." Sahut Nara penuh semangat.
"Tapi aku masih dua jam lagi pulangnya Ra. Emang gak papa kamu nungguin. Atau mau tidur dimobil? Abang ambilin kunci ya?"
Nara menggeleng cepat. "Aku mau disini aja. Ngeliatin abang kerja."
"Entar kamu bosen loh."
"Gak bakalan. Natap abang mah, gak ada bosennya."
Septian tergelak mendengar ucapan Nara. Apakah dia memang sesepesial itu dimata Nara? Sayangnya, dia belum sepercaya diri itu untuk menganggap dirinya spesial dimata Nara.
"Mau abang buatin kopi gak? Kamu belum pernahkan ngerasain kopi buatan abang?"
Nara mengangguk penuh semangat.
"Aku perhatiin, abang yang paling cakep daripada pegawai yang lain. Pasti banyak yang naksir abang disini? Kalau pengunjung? pasti juga banyak yang godain kamu kan?"
"Heis...." Septian bedecak lalu mengusap punggung tangan Nara yang ada diatas meja.
"Jaman sekarang, tampang itu nomor dua. Yang penting tajir, banyak yang naksir. Abang mah apa, cuma pegawai cafe. Mana ada coba yang mau. Untung untung aja, budos mau sama abang." Godanya sambil terkekeh. Membuat Nara seketika tersipu malu.
"Sep.. ada pesanan." Teriak Niko.
Septian menoleh kearah Niko sambil membentuk jarinya menjadi simbol ok.
"Aku tinggal dulu ya. Kopi buat kamu, segera aku buatin. Oh iya, kamu suka apa? espresso, latte, americano?"
"Latte aja."
"Sip."
Septian segera kembali ketempatnya bekerja. Setelah membuatkan pesanan pelanggan, dia membuatkan latte art untuk Nara. Sebelumnya, dia sudah memesan tiramisu pada Olive.
Setelah latte art spesialnya siap. Septian menyuruh Olive mengantarkan kopi tersebut beserta sepotong tiramisu untuk Nara.
"Titipan dari Asep." Waitres tersebut menyerahkan secarik kertas kecil yang terlipat menjadi dua.
"Terimakasih." Ucap Nara lagi setelah menerima kertas titipan Septian.
Latte with love for the special person in my life.
Hari Nara terasa berdebar hanya dengan membaca tulisan tangan Septian. Rasanya, ribuan kupu kupu menggelitiki perutnya. Sebuah kalimat yang mampu membuatnya terasa menjadi wanita paling dicintai didunia. Ya, walaupun dia belum pernah mendengar Septian mengucapkan kata cinta secara langsung padanya. Tapi, cara pria itu mentreat dirinya, sudah bisa menunjukkan semua itu.
Nara melipat kembali kertas tersebut lalu menatap kearah Septian. Tapi pria itu sedang tak melihatnya, dia tampak sibuk meracik kopi.
Nara memegang cangkir latte didepannya. Rasanya sangat berat untuk meminum latte secantik itu. Apalagi, itu buatan suaminya. Sayang sekali kalau latte secantik itu harus rusak karena dia seruput.
Kling
Nara mendengar suara notif dari ponselnya. Ternyata ada pesan dari Septian.
Diminum, jangan dilihatin aja.
Nara tersenyum melihatnya, dia mendongak lalu menatap Septian yang ternyata juga melihat kearahnya.
Septian membentuk jari jempol dan telunjuknya membentuk love sambil tersenyum kearah Nara.
Nara tergelak lalu meraih cangkir lattenya. Menunjukkan ke arah Septian lalu menyeruputnya.
"Siapa dia Sep?" Tanya Dafa yang berada tak jauh dari Septian.
"Bini gue."
"Dih, baru pacaran udah nyebut bini. Gak usah ngarep ketinggian. Dari gayanya, kayak orang kaya. Gak mungkin cewek kayak gitu mau sama kalangan kelas menengah kebawah kayak kita. Ya, meskipun lo cakep sih."
"Serah lo lah." Septian malas menjelaskan.
"Eh, kata Olive, lo tadi kesini bawa mobil. Mobil siapa?" Dafa mulai kepo. Sebenanya bukan hanya Dafa, teman temannya yang lain juga pada nanya sejak tadi, tapi Septian enggan menjawab.
"Lo tuh, ditanya diem....mulu."
"Harus gue jawab apa. Lo juga pasti gak percaya kalau gue bilang, itu mobil bini gue."
"Tauk ah." Dafa malah melenggang pergi.
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul lima. Septian yang melihat barista shift sore datang, segera melepas apronnya. Dia pergi ketoilet untuk membasuh muka dan berganti baju. Setelahnya, langsung bergegas mendatangi Nara.
"Boring ya nungguin aku?"
"Enggak kok. Daripada nungguin dirumah, mending disini. Bisa sambil ngelihat orangnya langsung."
"Pulang yuk."
"Emmm.... gimana kalau kita pacaran dulu." Ajak Nara.
"Emang kamunya gak capek?
Nara menggeleng. "Abang capek?"
"Enggak juga sih. Emang mau jalan Kemana?"
"Mall, nonton yuk."
"Mall ya." Septian tersenyum absurd sambil menggaruk garuk tengkuknya. Tabungannya sudah banyak terkuras untuk mahar pernikahan mereka. Dan sekarang, tiap bulan harus menyisihkan uang untuk periksa ke dokter. Yang pasti, biayanya tak murah seperti dibidan.
Dan satu lagi, dia juga harus menghemat demi menabung untuk biaya persalinan Nara.
Mall, sudah pasti barang yang dijual disana mahal mahal. Makananpun, juga tentu mahal. Gajian juga masih beberapa hari lagi.
"Ish, kok diem sih. Mau enggak?" Tanya Nara sambil menggoyangkan lengan Septian.
"Iya, mau." Mana mungkin dia mengecewakan Nara dengan bilang tidak mau. Bukankah memang sudah kewajiban dia untuk membahagiakan Nara dan memenuhi semua kebutuhannya.
Wajah Nara langsung berseri mendengarnya. Dia melingkarkan tangannya pada lengan Septian lalu mereka berdua melangkah keluar cafe.
"Suit... suit...gebetan baru sih Sep?" Goda Olive yang kebetulan keluar hampir bersamaan dengan mereka.
"Kepo lo." Sahut Septian.
"Kenalin mbak, Olive, teman kerjanya Asep." Olive mengulurkan tangannya kearah Nara.
"Saya Nara, istrinya Septian."
Dafa, Olive dan Niko melongo mendengarnya. Mereka tak pernah mendengar Septian menikah, tapi kenapa tiba tiba udah punya istri.
"Mulut lo kemasukan lalat Daf." Dafa buru buru menutup mulutnya mendengar ledekan Septian.
"Kita pergi dulu ya." Pamit Septian lalu meninggalkan tiga orang yang masih cengo itu.
"Itu beneran bininya Asep? Gila...... Bening banget. Tajir pula." Dafa geleng geleng apalagi lagi melihat Septian dan Nara masuk kedalam mobil yang cukup mewah.
"Itu beneran mobil bininya Asep? Gue mau dong punya bini kek gitu juga." Niko ikut bersuara.
"Dih, muka muka kek kalian pengen punya bini kek bininya Asep? ngimpi...Asep mah cakep, terus dia kuliah. Lah kalian?" Olive menyebikkan bibirnya lalu meninggalkan teman temannya masih mematung.