
Baru melihat tulisan Mezra coffee shop, perasaan Deigo sudah berbunga bunga. Dengan segera, dibelokkannya kemudi mobil ke arah tempat parkir. Setelah mobilnya terparkir sempurna, segera dilepaskannya seatbelt yang melingkar didadanya.
Sambil bersiul riang gembira, dia merapikan rambut di center mirror. Senyumnya mengembang setelah dirasa, penampilannya sudah sempurna.
Sudah 2 hari dia tak bertemu Shaila. Dia sibuk bikin konten dan pemotretan diluar kota. Rindu yang memenuhi relung jiwanya, akan segera terobati sebentar lagi.
Dengan langkah penuh semangat, dia berjalan memasuki cafe. Tapi, semangat membaranya seakan langsung nyungsep ke dasar tanah saat melihat gadis pujaan hati sedang bersama pria lain.
Shaila tampak bersenda gurau bersama seorang pria di salah satu meja yang berada di sudut cafe. Wajahnya tampak berseri seri, senyum dan tawa berkali kali tampak menghiasi bibirnya. Hati Diego panas, dia merasa tak terima Shaila tertawa bahagia dengan pria lain.
"Hai." Tanpa permisi, Diego langsung ikut duduk dimeja mereka. Dan tatapannya seketika tertuju pada pria yang bersama Shaila.
Dalam sekejap, Shaila merasa suasana berubah. Rasanya canggung saat ada Diego.
Pria yang bersama Shaila menyunggingkan senyum sambil memperhatikan Diego. Dia terlihat sedang mengingat ingat sesuatu.
"Kamu Diego kan?" Tanyanya begitu dia ingat.
Shaila mengernyitkan bingung, terlebih Diego. Dia bingung darimana pria itu mengenalnya? Apa dia salah satu pengikutnya di ig atau medsos lainnya?
"Diego anaknya pak Dion?" Tanyanya lagi.
Diego makin bingung. Pria itu bahkan tahu nama papanya.
"Lo kenal gue?" Diego menunjuk dirinya sendiri.
"Gak kenal sih, tapi tahu. Saya beberapa kali kerumah kamu. Gantiin ayah saya ngajar ngaji."
Mata Diego seketika terbelalak. Apakah ini artinya, dia anak ustad Fahri?
"Lo... "
"Saya anak Ustad Fahri, yang biasa ngajar ngaji privat dirumah kamu. Kita pernah ketemu sekali loh, tapi mungkin kamu tidak ingat. Kamu buru buru mau keluar waktu itu." Ternyata ingat Fahri lebih kuat dibanding Diego.
Diego seperti terhempas ke perut bumi. Pria yang akrab dengan Shaila itu adalah anak Ustad. Hello, apa kabar dengan dirinya? dia bukan apa apa dibanding Fahmi. Kalau mereka memang ada apa apa, apakah mungkin dia mampu bersaing dengannya. Seketika Diego merasa sangat kecil. Dia yang selalunya sombong, baru kali ini merasa tak percaya diri.
"Kalian saling kenal?" Tanya Fahmi sambil menunjuk Diego dan Shaila.
"Teman kerja." Jawab Shaila.
Jawaban itu terasa amat menyakitkan bagi Diego. Rasanya tak terima jika dia diperkenalkan sebagai teman kerja. Tapi ada daya, ingin menyangkal tidak mungkin. Toh kenyataannya, mereka hanya teman kerja.
"Oh...." Fahmi manggut manggut.
"Mas Diego, dipanggil bang Asep." Dicky yang seorang waitres menyampaikan amanah dari Septian.
"Gue tinggal dulu ya." Pamitnya dengan berat hati. Tapi tetap berada diantara mereka berdua, juga bukan pilihan yang tepat. Hatinya hanya akan panas. Terasa tercabik cabik karena cemburu.
Dari jauh, Diego menatap Shaila yang masih melanjutkan obrolan dengan Fahmi. Hatinya berdenyut denyut nyeri. Shaila memang dekat dengannya, tapi sulit diraih. Apalagi jika ada pria lain sekelas Fahmi, akan membuatnya merasa kian jauh seperti jarak matahari dengan pluto.
...*****...
Diego tak berlama lama di cafe. Dia menyegerakan pulang karena ingin bertemu dengan Damar. Sepanjang hidupnya, belum pernah dia merasa membutuhkan Damar. Tapi kali ini, hanya Damar yang mungkin bisa membantunya.
Sesampainya dirumah, Diego segera meluncur ke kamar adiknya. Sudah menjadi kebiasaan, kalau dia akan mendorong pintu dengan keras seperti orang mengamuk. Hingga terciptalah bunyi brakkk yang sangat keras. Dan Damar yang sedang belajarpun, tak perlu menoleh sudah tahu kalau itu kelakuan kakaknya.
"Mar." Panggil Diego sambil berjalan menghampiri adiknya yang sedang duduk dimeja belajar.
Sang adik tak menyahut, membuat Diego merebut pensil dan menutup bukunya.
"Aku lagi ngerjain PR kak." Protes Damar sambil membuka kembali bukunya.
"Itu gak penting." Sahut Diego sambil merebut buku Damar. "Ada yang lebih penting. Simak hafalan surat pendek kakak. Sekaligus benerin yang salah salah dan bantu kakak menghafal yang belum hafal."
"Durhaka lo gak mau bantu kakaknya sendiri. Mau gue kutuk jadi batu kayak malin kundang?" Ancam Diego.
"Sebelum kakak ngutuk aku. Aku lebih dulu ngutuk kakak. Kakak udah jadi kakak durhaka karena melarang aku ngerjain PR. PR itu hukumnya wajib dikerjakan. Dan kakak sudah mendzolimi aku karena melarang ngerjain PR. Kakak mau kena azab? Kakak mau ma_"
"Cukup cukup." Diego membungkam mulut Damar yang terus saja nyerocos. "Omongan lo udah ngelebihin panjangnya khotbah jumat."
"Sotoy, Emang kakak pernah denger khotbah jumat?"
"PERNAH! Bawel lo."
"Kapan?" Damar seperti tak percaya.
"Dulu pas seumuran lo."
"Sek__"
"Udah cukup." Diego buru buru memotong ucapan Damar. "Sekarang buruan Kerjain PR, gue tunggu." Akhirnya Diego mengalah. Dia menunggu Damar sambil rebahan diranjang adiknya. Jempol dan matanya terus aktif. Yang dia lakukan sekarang adalah stalking IG nya Fahmi yang ternyata tidak di lock.
Fahmi pria yang cukup tampan. Pembawaannya yang karismatik jelas menambah daya tariknya. Selain itu, kepandaiannya dalam hal agama pasti membuat kaum hawa kian klepek klepek.
"Mar, lo kenal Fahmi, anaknya Ustad Fahri?" Tanya Diego.
"Kenal. Diakan beberapa kali ngajar kesini, gantiin ayahnya. Hebat banget loh kak dia, udah hafiz."
"Hafiz? Apaan itu?"
Seketika Damar menepuk jidatnya sendiri. Hanya istilah hafiz saja, kakaknya tidak tahu. Rasanya kasihan sekali pada papanya yang mengeluarkan banyak uang untuk menyekolahkan kalau istilah hafiz saja tidak tahu.
"Paan sih?" Diego kembali mengulang pertanyaannya.
"Hafiz itu, istilah untuk orang yang sudah hafal alquran."
"WHAT!" Diego seketika melotot. Hafal Alquran? Sedangkan dia, Setelah hampir 2 minggu belajar, baru hafal 10 surat pendek.
"Gak udah syok gitu kali, biasa aja. Adik kakak yang ganteng ini juga udah hampir hafal juz 30. Bangga kan punya adik seperti aku? Yang kasihan itu aku. Punya kakak, gak ada yang bisa dibanggain."
Tak terima dihina, Diego melempar bantal tepat dikepala Damar. Membuat Damar yang sedang menulis, mencoret bukunya secara tidak sengaja. Dia lalu mengambil tipe X dan balas melemparkan pada Diego. Tapi Kakaknya sungguh gesit, bisa menghindar dengar cepat lalu menjulurkan lidah kearahnya.
"Kakak lo ini selebgram, punya bisnis sendiri. Jadi cowok most wanted dikampus. Dikejar kejar ratusan cewek. Lo pikir, itu bukan sesuatu yang bisa dibanggakan?" Geram Diego.
Damar menyebikkan bibirnya. "Dikejar ratusan cewek konon. Tapi kenapa Kak Shaila gak ikutan ngejar kakak? Kenapa kakak yang ngejar?"
"Ya.... ya.. " Diego bingung merangkai kata untuk terlepas dari rasa malu. "Ya karena Kak Shaila itu matanya minus. Dia gak Bisa lihat kegantengan kakak. Entar deh dia kakak ajak ke optik buat beli kacamata. Dijamin deh, setelah itu, dia ngejar ngejar kakak."
"Kakak udah mirip ayam yang kabur dari kandang dong, dikejar kejar."
"Sialan lo. Buruan selesaiin PR nya."
Sesuai kesepakatan, setelah selesai mengerjakan PR, Damar membantu kakaknya menghafal surat pendek. Mereka memilih hafalan di gazebo yang ada dihalaman belakang.
Mama Eva yang melihat kedua anaknya tampak kompak, langsung tersenyum. Hatinya damai melihat pemandangan yang menyejukkan.
Mama Eva menelepon Shaila. Dia sengaja membuat panggilan vidio agar Shaila melihat perjuangan Diego.
Shaila dan Mama Eva sama sekali tak bersuara. Mereka konsentrasi mendengar Diego yang belajar. Berkali kali cowok itu dimarahi Damar karena mahrojnya salah, atau panjang pendeknya. Diego tampak kesal, tapi dia menahan diri untuk tidak marah. Kali ini, dia benar benar menempatkan diri sebagai seorang murid. Dia hanya pasrah saat Damar memarahinya.
"Kamu sudah lihat sendirikan Sha, gimana perjuangan Diego?" Tanya mama Eva saat dia sudah menjauh dari kedua anaknya.
"Diego sudah berjuang keras agar bisa menjadi imam untuk kamu. Tante bukan bermaksud memaksa kamu menerima lamaran Diego. Tapi tolong pertimbangankan." Pinta mama Eva.