Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
MENGENANG MASA LALU


Nara terseyum miring melihat Arumi yang tampak murka. Sungguh, sebenarnya dia ingin melihat Arumi meledak. Tapi sayangnya, wanita itu masih bisa menahan diri. Diantara empat bersahabat, Arumi memang yang paling tenang dan paling tertutup.


Melihat sang istri Abimana megantara sudah berdiri didepan mata. Mungkin susah saatnya Nara pergi. Dia berjalan melewati Arumi begitu saja. Berharap Arumi akan memanggilnya untuk sekedar memaki atau memohon agar menjauhi Abi. Tapi sayangnya, Arumi sungguh wanita tangguh. Dia sama sekali tak menggubris Nara. Hingga membuat Nara menghentikan jalannya dan mundur beberapa langkah untuk mensejajarkan diri dengan Arumi.


"Suami lo bilang, dia rela ninggalin elo demi bisa balikan sama gue." Lirih Nara didekat telinga Arumi. Membuat Arumi memejamkan mata dengan kedua telapak tangan mengepal menahan emosi.


"Tapi tenang." Nara memegang tangan Arumi dan menguraikan kepalan tangannya. "Gue gak minat bekas lo. Karena gue udah dapet yang lebih baik dari dia. Pengkhianat berjodoh dengan pengkhianatan, sempurna bukan." Nara menepuk bahu Arumi beberapa kali lalu melenggang pergi.


Arumi merasakan dadanya sesak. Sangat sesak hingga dia rasanya tak bisa bernafas. Ucapan Nara seperti tamparan keras baginya.


"Ayo pulang." Ujar Abi yang datang menghampirinya.


Arumi sangat paham jika ini tempat umum. Tak pantas jika masalah rumah tangga diumbar disini. Jadi dia mengikuti langkah Abi menuju mobil lalu segera masuk.


Sepanjang perjalanan, tak ada yang bersuara diantara keduanya. Abi fokus pada jalan. Sedangkan Arumi, dia terus menatap kearah jendela sambil beberapa kali menyeka air mata dan menyusut hidungnya. Hingga mobil yang mereka tumpangi sampai dikediaman mereka.


"Apa tujuan kamu bertemu Nara mas?" Tanya Arumi saat mereka baru memasuki rumah.


"Aku cuma ingin tahu, apa benar dia sudah menikah dan hamil?" Jawab Abi sambil melepaskan jas dan dasinya lalu melemparkan ke atas sofa.


"Untuk apa?"


"Hanya ingin tahu, apakah dia dulu berselingkuh atau tidak?"


"Yakin karena itu? bukan karena ingin mengajak Nara balikan?" Tanyanya sambil tersenyum getir.


"Kalau iya emangnya kenapa?"


Kalimat to the point yang langsung terasa Jleb dihati Arumi.


"Dulu karena kamu, aku ninggalin Nara. Dan sekarang, adil kan jika karena Nara, aku ninggalin kamu."


"Tega kamu ngomong seperti itu mas." Teriak Arumi. "Aku sedang hamil anak kamu. Bisa bisanya kamu bilang seperti itu."


"Hamil." Abi tersenyum miring. "Hamil anak cacat maksud kamu?"


PLAKKK


Terhitung dua kali dalam sehari, Abi mendapatkan tamparan.


"Jangan pernah menyebut anak kita seperti itu." Ujar Arumi sambil berlinang air mata. Hatinya terasa amat sakit saat ada yang menghina anaknya. Terlebih lagi, jika ayahnya sendiri.


"Anak kamu, bukan anak kita. Karena aku tak pernah menginginkan anak itu. Aku tak pernah menginginkan anak cacat."


"Cukup mas cukup." Arumi berteriak histeris. Ibu mana yang rela anaknya terus diteriaki cacat.


"Anak ini ciptaan Allah, tak pantas kamu menghinanya seperti itu." Arumi mengelus perutnya. Berharap anak dalam kandungannya itu tidak sedih karena ucapan sang ayah.


Abi duduk disofa sambil memijit kepalanya yang terasa mau Pecah. Ya, kalau sudah membahas soal anak, rasanya dia sudah berada dititik terendah.


Arumi menghampiri Abi lalu memeluknya dari samping. Berharap hati suaminya itu bisa sedikit melunak.


"Tak apa jika kamu tidak mencintai aku mas. Aku akan tetap mencintai kamu. Tapi aku mohon, terima anak ini. Dia anak kita. Dia darah daging kamu. Dan dia ada karena kesalahan kita, bukan kemauannya. Mungkin jika dia bisa memilih, dia juga tak mau lahir dari pasangan pezina seperti kita."


Bagi Arumi, ini juga ujian berat. Dia butuh Abi sebagai sandaran, dia butuh suami yang bisa menguatkannya. Bagaimanapun keadaannya, bukankah sudah kewajiban orang tua untuk merawat dan menyayangi anaknya.


Abi teringat perkataan Septian. Pemuda yang dulu pernah menolongnya.


"Mungkin mempunyai anak down syndrome dianggap sebagai cobaan. Tapi dibalik cobaan itu, ada surga yang menanti."


Abi merengkuh bahu Arumi sambil mengusap perutnya.


"Maaf."


Arumi makin tergugu. Rasanya seperti mimpi mendengar Abi mengucapkan kata itu. Sejak tahu janin dalam kandungan Arumi mengidap down syndrome. Inilah untuk pertama kalinya Abi menyentuh perutnya.


...******...


Sesampainya disana, Nova sudah menunggu diruang tamu. Dia segera mengajak Nara naik kekamarnya.


Didinding kamar itu, masih tertempel foto mereka berempat. Nara, Nova, Arumi dan Amel. Foto yang dulu terasa sangat berharga, tapi tak demikian saat ini.


"Lo tadi kesambet apa? bisa bisanya gue lo panggil bang. Emang gue abang lo? udah gitu pakai bilang love you too segala. Wek, jijik gue." Ujar Nova dengan ekspresi ingin muntah.


Nara seketika tergelak mendengarnya. Sebenarnya yang meneleponnya tadi Nova. Tapi dia malah pura pura mendapat telepon dari Septian. Alasannya sudah tentu untuk memanas manasi Abi yang kepo itu.


"Habis gue gedek sama si pecundang itu. Bisa bisanya dia maksa ngajak gue ngomong berdua. Dan lo tahu apa yang dia omongin? Dia tanya tentang status gue dan kehamilan gue. Dan yang lebih parah lagi. Dia bilang mau ninggalin Arumi biar bisa balik sama gue lagi. "


"Busyet....gila tuh laki. Minta dibawa ke asam kumbang kayaknya."


"Asam kumbang?" Nara mengernyit bingung.


"Asam kumbang Medan, tempat penangkaran buaya."


Nara tak bisa menahan tawanya mendengar penjelasan Nova.


"Lo kira Abi buaya?"


"The real buaya darat." Jawab Nova sambil melotot.


Nara merebahkan tubuhnya diatas ranjang Nova sambil menatap langit langit kamar. Dia masih ingat saat SMA. Beberapa kali empat sahabat itu mengadakan pajamas party dikamar ini. Meskipun interior kamar Nova sudah berubah, tapi tetap dikamar ini.


Nova ikut merebahkan tubuhnya disamping Nara. Diapun melakukan hal yang sama, menatap langit langit kamar sambil mengumpulkan memori masa lalu.


"Kamu ingat gak Ra. Dulu, kita dempet dempetan tidur berempat diranjang ini. Hingga terkadang yang paling pinggir pasti jatuh." Nova terseyum mengingat masa itu.


"Dan itu, pasti Arumi. Dia yang selalu mau ngalah buat tidur paling pinggir." Lanjut Nara yang juga masih ingat dengan jelas masa masa itu.


"Arumi, cewek paling tenang dan tertutup diantara kita berempat. Sampai sampai kita tak pernah tahu siapa cowok yang Arumi suka." Ucap Nova sambil menoleh kearah Nara.


"Lo masih inget kan Ra. Permainan kesukaan kita, truth or dare. Dan Arumi, dia selalu memilih dare." lanjut Nova.


"Dan bodohnya, dulu kita gak tahu apa alasannya. Dan sekarang, aku tahu." Ujar Nara sambil menoleh ke arah Nova.


"Abi." Ucap mereka berdua bersamaan.


Sebuah kenyataan yang mampu disimpan sangat rapat oleh Arumi hingga bertahun tahun. Dan ketiga sahabatnya, baru mengetahui fakta itu saat terbongkarnya perselingkuhan antara Abi dan Arumi.


"Dia tak pernah memilih truth karena tak ingin kita tahu jika dia menyukai Abi." Ujar Nara sambil tersenyum getir. Merutuki kebodohannya karena tak pernah tahu jika sahabatnya menyukai pacarnya. Dan yang lebih fatal lagi, dia yang menyuruh Arumi magang dikantor Abi. Yang secara tak langsung, mendekatkan mereka.


"Mungkin lo belum tahu Ra."


"Apa?"


"Sebenarnya....Arumi sudah menyukai Abi jauh sebelum lo kenal dan jadian dengan Abi."


"Apa maksud lo?"


"Arumi dan Abi, berasal dari SMP yang sama. Dan sejak SMP, Arumi sudah menyukai Abi. Dia cinta pertama Arumi."


Nova tak sengaja mengetahui itu dari ponsel Arumi. Arumi yang tiba tiba pingsan membuat Nova terpaksa mengambi ponselnya untuk menghubungi Abi. Tapi dia malah menemukan banyak foto anak laki laki berseragam putih biru. Dia adalah Abi. Tampak sekali itu foto dari ponsel lama yang kameranya belum bangus. Dan disalah satu foto, ada editan tulisan my first love.


"Aku tahu kamu benci Arumi Ra. Dan itu sangat wajar. Tapi kalau bisa, cobalah untuk maafkan dia."


"Gak semudah itu Nov. Ya, mungkin benar jika Arumi lebih dulu menyukai Abi. Tapi faktanya, aku yang pacaranya Abi. Hal itu tak bisa dijadikan pembenaran dia bisa selingkuh dengan Abi. Harusnya dia jujur sejak awal. Salah dia sendiri mengapa memendam cintanya. Sampai aku dan Abi tak tahu."


Nova menghela nafas. Konflik diantara kedua sahabatnya memang berat. Salah Arumi juga kenapa dia memilih memendam perasaannya.


"Benar, itu memang salah Arumi. Salah Arumi juga karena tega selingkuh dengan Abi. Tapi satu hal yang perlu lo tahu juga Ra. Dan semoga saja, hati lo bisa sedikit tersentuh."


"Apa?"


"Janin dalam kandungan Arumi...." Nova menjada ucapannya. "Down syndrome."