
Seseorang menyewa cafe untuk acara lamaran. Karena itu, cafe yang harusnya buka jam 10, hari ini dibuka untuk umum jam 12 siang.
Beberapa orang pekerja terlihat sibuk mendekorasi cafe. Sedangkan didapur, Shaila dan Mila berkutat dengan bahan bahan kue dan puding.
"Kira kira, siapa ya Mil yang mau bikin acara lamaran disini?" Tanya Shaila sambil menimbang tepung.
"Siapapun dia, pastinya beruntung banget tuh cewek." Jawab Mila.
"Kenapa?"
"Ya iyalah. Wanita mana yang tak bahagia kalau dibuatin acara lamaran spesial. Pakai boking cafe segala. Terus dekorasinya bagus banget. Kurang beruntung darimana lagi coba?"
"Tapi kalau yang ngelamar jelek gimana? masih mau bilang beruntung?" Cibir Shaila sambil menyebikkan bibir.
"Gak mungkin jelek. Secara dia kaya. Orang banyak duit mah gampang buat cakep. Jaman sekarang duit bisa merubah segalanya." Jawab Mila dengan penuh keyakinan.
"Sok tahu kamu."
"Andai aja, gue yang dilamar Sha." Mila menatap langit langit cafe sambil membayangkan jika dia yang dilamar.
"Dih, mulai halu nih anak." Ledek Shaila sambil geleng geleng. Dia kemudia menepuk bahu Mila agar berhenti menghalu.
"Ya Elah Sha. Orang baru ngehalu udah lo udah aja." Omel Mila.
"Kerja kerja, jangan halu mulu."
"Gak bisa lihat gue seneng bentar sih Sha." Cicit Mila sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Gimana kalau nanti ditolak? kasian banget dong. Udah capek capek nyiapin segalanya, tapi ditolak." Shaila menghembuskan nafas kasar. Padahal bukan urusan dia, tapi entah kenapa, rasanya kasihan kalau melihat orang ngelamar tapi ditolak.
"Kalau lo jadi cewek itu, lo terima apa tolak?"
Shaila mengedikkan bahu. "Mana aku tahu, kan bukan aku." Jawabnya sambil mulai memixer adonan cake.
"Kalau, ngerti kalau gak sih?" Tekan Mila sambil memelototi Shaila.
"Hahaha... udah deh gak usah pakai kalau. Kareja gak mungkin juga aku yang dilamar." Kekeh Shaila.
Disaat mereka berdua sedang sibuk, Agus tiba tiba datang sambil membawa sebuah paper bag berwarna hitam.
"Sha, buat kamu." Ujar Agus sambil menyodorkan paper bag pada Shaila.
"Apaan ini?" Tanyanya sambil meraih paper bag dari tangan Agus.
"Buka aja."
Shaila membuka paper bag berwarna hitam itu. Ternyata isinya gamis berwarna pink dengan motif bunga bunga beserta hijabnya.
Mila yang kepo ikutan melihat isi paperbag.
"Dari siapa?" Tanya Shaila.
"Dari orang yang mau ngadain acara."
"Loh, terus kenapa dikasih aku?" Shaila mengernyit bingung. Dia menoleh pada Mila, tapi cewek itu hanya mengedikkan bahu.
"Kamu yang disuruh bawain cincinnya."
"Aku?" Shaila terkejut sambil menunjuk dirinya sendiri. "Kenapa harus aku? kenapa gak yang lain?"
"Dia milih kamu." Jawab Agus.
"Tapi kenapa? lagian kenapa pakai dibawain segala sih cincinnya? Kenapa gak ditaruh didalam kue atau apa gitu?" Shaila makin bingung. Siapakah sebenarnya orang itu. Kenapa harus dia yang disuruh bawain cincin.
"Ya gak tahu Sha. Orangnya minta kayak gitu. Mungkin cincin yang tersembunyi didalam cake udah terlalu biasa. Dia butuh yang luar biasa."
"Siapa sih bang orangnya?" Mila ikut bertanya. Dia juga sangat penasaran dengan sosok yang hendak melakukan lamaran.
"Entar juga tahu."
"Udah deh gak usah banyak nanya. Buruan ganti Sha, terus keluar. Waktunya udah mepet."
"Cincin mana?" Tanya Shaila.
"Nanti dikasih pas kamu udah keluar."
Malas diberondong berbagai pertanyaan lagi. Akhirnya Agus memilih segera cabut.
Mau tak mau, akhirnya Shaila ganti baju. Dan yang bikin dia merasa lebih aneh, bajunya pas banget dengan ukurannya. Bahkan sesuai banget dengan seleranya.
Setelah berganti baju di toilet dekat dapur, Shaila mematut diri didepan cermin toilet untuk mengenakan hijab. Dia juga mengambil bedak dan lipstik dari dalam tas lalu memakainya. Bagaimanapun, dia tak boleh terlihat memalukan dan terkesan apa adanya. Orang itu sudah membelikan baju untuknya. Dan sudah sepantasnya, dia merias diri agar terlihat pantas. Apalagi baju itu tampak sangat malah.
Sesuai perintah Agus, selesai ganti, Shaila segera keluar. Ternyata diluar lebih ramai daripada tadi.
Wow, Shaila berdecak kagum melihat suasana cafe yang benar benar berubah 180 derajat. Dekorasinya sangat bagus, karena memang orang orang profesional yang mengerjakannya.
"Udah siap Sha?" Tanya Agus yang tiba tiba muncul.
"Udah kak. Mana cincinnya?" Shaila menengadahkan telapak tangan didepan Agus.
"Kesana aja, tanya mereka." Agus menunjuk seseorang yang berdiri didekat tempat yang akan digunakan untuk lamaran. Tempat itu dipenuhi bunga serta balon berbentuk love.
Shaila mengangguk dan langsung menghampiri orang tersebut.
"Permisi mas." Ucap Shaila pada orang tersebut.
"Oh, udah siap ya mbak?" Tanya orang tersebut.
"Udah, mana cincinnya?"
"Itu mbak." Orang tersebut menunjuk sebuah kotak beludru berwarna merah, yang terletak di atas lantai yang sudah dihiasi kelopak bunga yang dibentuk menjadi love. "Ambil aja."
"Mas nya aja deh. Saya takut ngerusak tatanan kalau ambil disana."
"Gak papa, mbak nya aja." Titah orang tersebut.
"Bener nih?"
"Iya mbak."
Shaila menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Dia berjalan menuju lantai yang dihiasi kelopak bunga mawar yang dibentuk love...
Shaila mengangkat sedikit gamisnya saat hendak memasuki tempat utama itu. Dia tak mau kalau ujung gamisnya sampai merusak tatanan bunga yang sudah disusun sedemikian rupa hingga terlihat sangat cantik.
Kotak cincin itu terletak Ditengah tengah lantai berbentuk love..Dengan sedikit menunduk, Shaila meraih kotak tersebut. Tapi ternyata kotak itu susah diambil. Sepertinya melekat dilantai. Beberapa kali dia mencoba menarik, tapi nihil, kotak itu melekat kuat pada lantai.
Saat Shaila masih berusaha menarik kotak tersebut, seseorang ikut masuk kedalam lingkaran love tersebut. Pria itu tiba tiba ikut menunduk didepan Shaila.
"Diego." Lirih Shaila saat melihat sosok yang ada didepannya.
Shaila segera menegakkan kepala. Sedangkan Diego, dia justru berlutut sambil membuka kotak tersebut. Sebuah cincin berlian yang sangat indah langsung tampak begitu penutup kotak dibuka.
Bersamaan dengan itu, Sebuah back drop disamping mereka yang awalnya tergulung, tiba tiba terbuka. Terlihatlah tulisan Shaila, Will U Marry Me
Shaila seketika menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua telapak tangan. Dia shock saat membaca tulisan itu.
Dan dihadapannya, Diego sudah berlutut sambil memegang sebuah cincin berlian.
"WILL U MARRY ME?"
Jantung Shaila terasa mau copot mendengarnya. Dia sungguh gugup saat ini. Dia tak tahu sama sekali tentang lamaran ini.
Shaila masih speechless. Dia seperti tak bisa percaya, jika acara lamaran ini untuknya.
"TERIMA , TERIMA, TERIMA." Teriak orang orang yang ada disana.
Shaila masih bingung harus menjawab apa. Matanya nyalang mencari keberadaan sang kakak. Dia perlu melihat ekspresi Pria itu sebelum memberi jawaban.