
Sebagai seorang istri, jelas Nara tak terima suaminya dijelek jelekkan. Kalau memamg Shaila hamil, kenapa pula harus dihubung hubungkan dengan Septian.
"Jangan menjelek jelekkan suami saya." Bentak Nara. Dia sampai tak ingat lagi sopan santun saat bicara dengan orang yang lebih tua. Menurutnya orang tua yang berkelakuan mirip anak kecil tak bisa dianggap orang tua.
Didalam rumah, Septian yang baru turun dari lantai dua terkejut mendengar suara Nara. Nada suaranya seperti orang marah. Tapi dengan siapa Nara bertengkar. Tak ingin menebak nebak, dia segera keluar.
"Ada apa ini?" Tanya Septian saat melihat Nara sedang memeluk ibunya yang sedang menangis.
"Udah tahu belum, adik kamu Shaila itu hamil." Ujar Bu Vira lantang.
Reaksi pertama Septian jelas syok. Tapi dia yakin, ini berita hoaks. Dia sangat mengenal Shaila, tak mungkin adiknya itu berbuat diluar batas hingga hamil.
"Kakak sama adik, kelakuan sama aja." Cibir Bu Retno sambil tersenyum miring.
"Omongan anda bisa jadi fitnah kalau tanpa bukti." Geram Septian.
"Saya sudah lihat buktinya. Ada foto Shaila sama laki laki di toko perlengkapan bayi. Dan juga, ada vidio saat laki laki itu mengakui jika Shaila hamil anaknya. Bahkan dia bilang Shaila istrinya."
Deg
Jantung Bu Lastri seperti mau copot mendengarnya. Dia memegangi dadanya yang terasa sesak. Tapi dia masih menyimpan keyakinan, jika putrinya Shaila, tak mungkin seperti yang mereka tuduhkan. Dia Mungkin pernah kecolongan dengan Septian. Tapi Shaila, rasanya tak mungkin dia berbuat sejauh itu.
Mendengar kata toko perlengkapan bayi, Septian seketika kepikiran Diego. Ya, kemarin Shaila ke tempat itu dengan Diego. Apakah gara gara itu mereka kena fitnah? batinnya.
"Masak sih Bu ada Vidionya?" Tanya Bu Nia penasaran.
"Benar Bu. Lakinya seorang seleb....seleb apa ya, saya lupa." Bu Vira tampak mengingat ingat. Dia memang kurang familiar dengan istilah istilah anak muda jaman sekarang.
"Saya kok masih gak percaya ya. Shaila itu anaknya sholehah, gak mungkin sampai hamil diluar nikah." Lanjut Bu Nia.
"Ibu gak tahu sih, lakinya itu ganteng banget, makanya Shaila mau aja di Wik Wik."
"Tutup mulut ibu." Teriak Septian yang telinganya terasa panas mendengar mereka merendahkan Shaila. "Adik saya bukan wanita seperti itu."
" Sabar bang, sabar." Nara memegangi lengan Septian.
Oek oek oek
Baby Ay sampai terbangun karena keributan diluar. Papa Satrio sejak tadi sudah berusaha untuk menahan diri agar tak ikut campur. Tapi melihat cucunya terganggu, jelas dia tak bisa tinggal diam lagi. Dia menyerahkan baby Ay pada mama Tiur lalu keluar.
"Abang gak terima mereka memfitnah Shaila Ra." Wajah Septian tampak tegang.
Nara manggut manggut, dia bisa paham apa yang dirasakan suaminya. Tapi sebagai istri, sebisa mungkin dia meredam amarah Septian.
Kalau saja mereka bukan ibu ibu, sudah pasti Septian akan menghajarnya. Sedangkan Bu Lastri, dia terdiam sambil sesekali menyeka air mata. Setelah dulu dia malu karena Septian menghamili anak orang. Kenapa sekarang masih ada satu lagi anaknya yang terkena masalah yang hampir sama.
"Lebih baik kalian bubar." Teriak papa Satrio yang baru keluar dari dalam rumah.
Atensi semua orang seketika beralih pada pria paruh baya itu.
"Urusi anak anak kalian sendiri sebelum mengurusi anak orang. Sudah benarkah kelakuan anak kalian hah?" Bentak papa Satrio. "Pencemaran nama baik dan fitnah, bisa dilaporkan ke pihak berwajib. Dan kalian bisa masuk bui karena itu."
Mereka langsung kicep mendengar ancaman papa Satrio. Jujur mareka takut, papa Satrio bukan orang sembarangan. Dia orang kaya dan perpendidikan tinggi. Mereka jelas tak berani melawannya.
Satu persatu dari mereka segera bubar. Nara menuntun Bu Lastri masuk kedalam rumah. Begitu pula dengan Septian, dia segera masuk lalu mengambil ponsel. Dia harus mendapatkan kejelasan dari Shaila sekarang juga.
"Kenapa gak diangkat sih." Gerutu Septian setelah beberapa kali menelepon Shaila tapi tak diangkat.
"Jangan langsung marah marah Sep. Tanyakan dulu baik baik. Ibu yakin Shaila tak mungkin seperti itu." Ujar Bu Lastri.
Mama Tiur menyerahkan baby Ay pada Nara untuk di susu i. Sementara dia mendekati Bu Lastri untuk menguatkannya. Mama Tiur pernah berada diposisi ini, dia jelas tahu perasaan Bu Lastri sekarang. Terlebih semua tetangga menggunjingnya. Beruntung mama Tiur tinggal di kompleks perumahan elit. Dimana para tetangga tak terlalu mengurusi kehidupannya. Jadi saat Nara hamil diluar nikah, tak begitu ada yang mempermasalahkannya.
"Yang sabar Bu." Ujar Mama Tiur sambil menggenggam tangan Bu Lastri.
"Maafkan saya bu, maafkan saya."
"Kenapa ibu harus minta maaf."
"Maafkan perbuatan Septian pada Nara Bu. Sekarang saya merasakannya. Walaupun belum pasti, tapi saya seperti bisa merasakan, apa yang ibu rasakan dulu. Maafkan Septian Bu, maafkan saya yang tidak bisa mendidik anak saya dengan baik." Bu Lastri terus saja menangis.
"Sudahlah Bu, yang lalu tak perlu dibahas lagi. Nara dan Septian sudah bahagia. Mungkin memang seperti itulah jalan jodoh mereka." Mama Tiur merangkul pundak Bu Lastri.
Septian mondar mandir gak jelas dengan masih berusaha menghubungi Shaila.
"Bang, sabar, duduk dulu." Panggil Nara.
Septian mengusap wajahnya dengann kedua telapak tangan. Berkali kali dia menarik nafas dan membuanganya perlahan dari mulut.
"Aku harus cari Shaila Bu." Septian mengambil jaket diatas sofa dan segera memakainya.
"Gak usah Bu."
"Emang abang tahu dimana Shaila?" Tanya Nara.
"Dia pasti dirumah Diego."
"Emang abang tahu alamatnya?"
"Abang tanya anak anak pasti tahu. Diego itu terkenal gak susah nyari alamatnya."
Saat Septian hendak keluar dia melihat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Mobil tersebut tak bisa masuk kehalaman karena ada mobil papa Satrio.
Ternyata Shaila yang keluar dari mobil itu. Tapi dia tak sendiri, dia bersama Diego dan mama Eva. Septian masih ingat dengan mama Eva karena hari itu datang di acara tujuh bulanan Nara.
"Ada apa bang?" Tanya Nara.
"Shaila pulang, dia bersama Diego dan mamanya. Masuk Ra, nenenin dikamar ibu saja." Nara mengangguk dan segera masuk kedalam kamar Bu Lastri yang berada didekat ruang tamu.
Bu Lastri kian lemas mendengar mama Diego ikut datang. Jangan jangan Shaila benar benar hamil?
Shaial, wajah gadis itu pucat pasi saat memasuki rumah. Sarah tadi sempat memberitahu jika kabar kehamilannya menyebar dikampung. Jadi saat abangnya telepon, Shaila tak berani menjawab.
Mata Septian seketika tertuju pada Diego. Rasanya ingin menelan mentah mentah cowok itu. Sialnya, kenapa dia pakai bawa mamanya, bikin tangan Septian gatal saja karena keinginan menghajar tak kesampaian.
Mama Eva dan Diego menyalami semua yang ada disana. Begitu pula dengan Shaila. Setelah itu, dia duduk disebelah ibunya.
"Ada apa ini Sha?" Tanya Bu Lastri yang bingung dengan kedatangan Diego dan mamanya.
Shaila tak bisa menjawab, matanya berkaca kaca melihat wajah sembab sang ibu.
"Bagini Bu." Mama Eva menjelaskan duduk perkaranya. Dia sengaja ikut datang karena tahu Diego tak akan bisa menyelesaikan masalah ini. Apalagi Shaila yang tampak sangat ketakutan, membuat mama Eva tak tega membiarkan dia pulang sendiri.
Semua orang disana bernafas lega terutama Bu Lastri. Dia sangat bersyukur karena ternyata Shaila tidak hamil.
"Maafkan anak saya Bu." Mama Eva mengggenggam tangan Bu Lastri. "Saya sangat menyesal dengan apa yang telah diperbuat Diego. Saya berjanji akan mengclearkan masalah ini secepatnya." Lanjutnya.
Bu Lastri hanya manggut manggut saja. Dia serahkan semua ini pada keluarga Diego.
"Tolong tepati janji ibu. Saya ingin, besok masalah ini sudah selesai. Nama baik adik saya dan keluarga dipertaruhkan disini." Ujar Septian.
"Iya, saya berjanji. Kami juga sudah menemukan cara mengatasi masalah ini. Ini hanya berita hoaks, jadi tak sulit menyelesaikannya." Sahut Mama Eva dengan penuh percaya diri.
Diego hanya diam saja. Karena sejak dimobil, mama Eva sudah mewanti wanti agar dia tak usah ikut bicara. Takut jika nanti ada omongannya yang bikin makin runyam.
"Semoga masalahnya cepat selesai Jeng." Ucap Mama Tiur.
"Amin... "
"Kata Diego, Nara baru saja melahirkan, mana dia?" Mama Eva celingukan.
"Dikamar, lagi nenenin bayinya." Jawab mama Tiur.
"Oh.... "
Shaila mengambilkan minuman untuk mama eva dan Diego. Sekarang, dia sudah bisa lebih lega karena mama Eva berhasil menjelaskan pada keluarganya. Semoga saja, rencana Diego besok berjalan lancar dan nama baiknya kembali.
Beberapa saat kemudian, Nara keluar sambil membawa baby Ay dalam gendongannya.
Mama Eva langsung antusias melihat bayi Nara. Dia memang penyuka anak anak.
"Maaf ya sayang, oma belum bawa hadiah. Kapan kapan oma datang kerumah kamu deh bawain mainan yang banyak." Ucap Mama Eva sambil mengusap usap pipi baby Ay.
"Mas Satrio sama Jeng Tiur pasti seneng banget ini. Akhirnya punya cucu laki laki. Anaknya Kinan kan cewek semua." Lanjut mama Eva.
"Seneng banget saya." Ujar papa Satrio dengan bangga. Sedangkan mama Tiur hanya tersenyum saja.
"Boleh saya gendong?" Tanya mama Eva.
Nara mengangguk lalu menyerahkan baby Ay pada mama Eva.
"Lihat nih Go, anaknya Nara cakep banget kan?" Mama Eva menunjukkan baby Ay pada Diego yang duduk disebelahnya.
"Iya lah mah, orang mama papanya cakep." Sahut Diego.
"Mama jadi pengen buru buru punya cucu. Gimana kalau kamu dan Shaila menikah aja."
"What!" Shaila dan Diego seketika melongo mendengarnya.