Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
DIKIRA PACAR


Hari ini, Septian dan Nara survei tempat yang akan mereka jadikan coffee shop. Setelah dipikirkan matang matang, akhirnya Septian mantap menerima modal dari papa. Jadwal lahiran Nara yang kurang 2 bulan lagi menjadi pertimbangan utama. Dia ingin lebih banyak waktu untuk Nara. Apalagi setelah dia melahirkan nanti. Dia ingin membantu Nara mengasuh bayinya dulu. Karena mengasuh bayi baru lahir cukup merepotkan bagi banyak orang terutama ibu baru seperti Nara.


Tempatnya lumayan luas. Dan yang lebih utama lagi, letaknya sangat strategis. Berada dipusat keramaian dan bersebelahan dengan salon dan spa milik mama Tiur. Baru hari ini Septian mengunjungi salon milik mertuanya. Salon dan spa yang baru buka sekitar 3 bulan itu ternyata cukup ramai. Selain banyaknya treatmen yang ditawarkan, juga karena mama Tiur dan papa punya banyak koneksi.


"Gimana, tempatnya cocok?" Tanya mama Tiur saat Nara dan Septian baru memasuki kantor mama.


"Cocok mah." Jawab Septian sambil duduk disofa yang disediakan.


"Sudah menyiapkan konsep?"


"Itu yang masih kita pikirin mah." Jawab Nara.


"Konsep salah satu bagian yang terpenting selain rasa. Jadi usahakan, bikin konsep semenarik mungkin." Ujar mama Tiur.


"Kita usahakan mah." Jawab Septian.


"Tadi Bik Surti bilang, orang orang EO yang mau mendekor rumah sudah datang."


"Beneran mah?" Tanya Nara antusias.


"Iya, vcall mang Dadang aja kalau penasaran."


Nara segera mengambil ponsel dan melakukan panggilan vcall ke mang Dadang. Dia penasaran dengan dekorasi acara tujuh bulananannya besok.


"Gak diangkat." Nara bermonolog.


"Ya udah, nanti pulangkan bisa langsung lihat. Kemarinkan kamu udah lihat contoh fotonya. Pasti ya kayak gitu." Sahut Septian.


Ada notifikasi pesan dari Shaila diponsel Nara. Cewek itu sudah datang dan menunggunya di depan.


"Shaila udah datang bang. Aku perawatan sama dia dulu ya. Biar besok kinclong, cantik maksimal."


"Kamu ngajak Shaila?" Tanya Septian terkejut. Dia tak tahu menahu soal ini.


"Iya, biar gak bosen, ada yang diajak ngobrol. Sebenarnya ngajak Sarah juga. Tapi dia lagi ada kegiatan katanya."


"Abang nunggu Agus di didepan ya kalau gitu." Septian hendak bangkit tapi bahunya ditahan oleh Nara. Wanita itu menggeleng sambil mendorong bahu Septian agar duduk kembali.


"Tunggu disini aja. Kalau dia datang, baru keluar." Ujar Nara yang membuat Septian sedikit bingung.


Septian hendak mengajak temannya yang bernama Agus yang juga seorang barista, untuk bekerja sama.


"Kenapa?"


Bukannya menjawab, Nara malah mencium pipi Septian. Membuat wajah pria itu seketika merah karena malu sama mama Tiur.


"Dada abang." Nara melambaikan tangan sambil berjalan menuju pintu.


"Mah, jagain suami aku ya. Jangan diijinin keluar sebelum temannya datang. Diluar banyak yang bening habis treatmen. Takut oleng." Pesan Nara sambil terkekeh sebelum dia menutup kembali pintu ruangan mamanya


Mamar Tiur hanya bisa geleng geleng melihat kelakuan putrinya. Sedangkan Septian, dia menahan tawa melihat tingkah tak masuk akal istrimya. Jadi itu alasan dia tak boleh menunggu diluar.


"Yang sabar menghadapi Nara. Dia memang kekanak kanakan karena terlalu dimanja papanya. Tapi mama yakin, saat dia menjadi ibu nanti. Dia pasti akan berubah."


"Mungkin dia hanya manja sama orang terdekat aja mah. Buktinya menurut anak anak dikampus, Nara termasuk dosen yang tegas. Tak bisa mentolelir kesalahan sekecil apapun termasuk datang terlambat. Dan satu lagi, dia termasuk dosen yang jarang senyum saat mengajar. Padalah dirumahkan gak kayak gitu."


"Persis papanya kalau gitu. Dulu saat masih jadi dosen, papanya termasuk dosen killer. Mama tahu sendiri karena mama salah satu mahasiswanya."


Septian seketika melongo. Dia tak pernah tahu jika dulu mama Tiur adalah mahasiswi papa.


...****...


Shaila agak canggung saat diajak masuk keruangan treatmen VIP. Maklum, ini pertama kalinya dia menjalani treatmen. Semuanya terasa asing baginya. Saat disuruh ganti baju, Shaila tampak ragu.


"Santai aja Sha. Disini cuma perempuan yang boleh masuk ruangan treatmen, jadi gak usah ragu." Ujar Nara.


Shaila mengangguk lalu masuk keruang ganti.


Mereka berdua menjalani treatmen lengkap. Mulai dari tubuh hingga wajah. Besok, sebelum acara tujuh bulanan, Nara akan melakukan maternity shot lebih dulu. Acara yang benar benar ditunggunya. Dia ingin menciptakan momen seindah mungkin besok.


"Udah ada pandangan belum, dessert apa yang akan kamu bikin untuk dijual dicafe?" Tanya Nara disela sela body treatmen.


"Udah kepikiran sih kak. Makanya sekarang aku lagi terus uji coba resep, biar dapat rasa dan tekstur yang bener bener pas. Beruntung guru aku baik banget, mau ngasih saran saran dan ide yang menurut aku bermanfaat banget." Jawab Shaila.


"Semoga aja nanti dilancarin semuanya ya Sha. Aku pengen lihat abang jadi pengusaha sukses. Kamu juga tentunya."


"Amin... aku juga berharap demikian kak. Sejak dulu, cita cita aku jadi pengusaha. Makanya pengen punya toko kue. Dan alhamdulillah kalau abang buka cafe kayak gini. Jadinya, aku bisa menyalurkan hobi dan bakat aku."


Setelah keduanya selesai treatmen, Nara kembali keruangan mamanya karena masih harus menunggu Septian yang sedang membahas rencana coffee shop bersama Agus.


Sedangkan Shaila, dia langsung pamit pulang. Tapi didepan salon, dia dibuat naik darah mendadak karena melihat seorang cowok menyebalkan yang sedang berdiri bersandarkan bodi mobil. Dengan gaya sok cool sambil bermain ponsel, Diego tak tahu jika Shaila sedang menuju arahnya.


"Damn.... "Umpat Diego saat ada yang tiba tiba menginjak kakinya dengan keras.


"Dasar penipu." Seru Shaila sambil berkacak pinggang dan memelototi Diego. Dia kesal karena minggu kemarin, Diego tak datang saat mereka janjian ditoko laptop.


Shaila yang merasa ditatap berlebihan jadi salah tingkah.


"Nga, ngapain lo lihatin gue kayak gitu?"


"Lo makin cantik." Gumam Diego.


"Apa, cantik?" Seru Shaila yang mendengar samar samar..


Diego yang merasa keceplosan jadi salah tingkah. Malu ketahuan memuji, tapi gengsi untuk mengakui.


"Jangan ge er dulu. Cantik yang gue maksud, bukan cantik terus gue suka gitu. Bukan, bukan gitu. Ini... ini... "Diego bingung bagaimana menjelaskan. Jantungnya tiba tiba berdegup kencang, mendadak grogi.


"Ah... iya iya.. ini karena efek treatmen. Lo baru treatmen didalamkan? Pantesan mama gue langganan disini. Bisa bikin cantik. Kalau kemarin nilai cantik lo 5 dari 10, sekarang, habis treatmen, 8 dari 10. Iya, iya itu maksud gue." Diego lega saat berhasil menyelesaikan kalimatnya yang mungkin terdengar sedikit berbelit belit.


Shaila mendengus kesal mendengar pemaparan yang tidak penting itu. Apalagi sampai menilai. Emang siapa dia?


"Lo kalau diem, nilai kecakepan lo. 9 dari 10." Ujar Shaila.


Diego seketika tersenyum mendengar nilai yang menurutnya tinggi itu. Walaupun dia berharap, 10 dari 10.


"Tapi saat lo mulai bicara. Nilai lo 3 dari 10. Terjun bebas."


Diego seketika melongo. 3 dari 10, apa nilai itu tidak keterlaluan. Emang seburuk apa tampangnya saat bicara.


"Atas dasar apa lo ngasih gue nilai serendah itu?" Diego tak terima.


"Gak usah bahas hal gak penting. Sekarang gimana kelanjutan laptop gue?" Tanya Shaila.


"Hee... laptop ya?" Diego tersenyum absurd sambil menggaruk garuk tengkuknya. Tiba tiba, muncul ide dikepalanya untuk mengajak Shaila jalan. Jiwa playboy nya meronta saja melihat ada yang bening. "Besok aja gimana? Gue jemput lo. Kita barengan ke toko laptop. Kalau sekarang gue gak bisa."


Shaila memutar kedua bola matanya jengah. Sudah tak bisa lagi percaya pada cowok didepannya itu.


"Gak perlu, ganti uang aja. Biar gue beli sendiri."


"Uang?" Diego garuk garuk kepala. "Gue gak ada uang cash."


Shaila mengedarkan pandangannya. Dan senyumnya merekah saat melihat ada mesin ATM didekat situ.


"Tuh." Shaila menunjuk dagu kearah mesin ATM.


Diego mengeluarkan dompet lalu melihat isinya. "ATM gue ketinggalan dirumah." Ujarnya sambil menyeringai kecil. Tentu saja dia bohong. ATM itu jelas jelas ada didalam dompetnya.


"Mana, gue pengen lihat." Shaila menengadahkan tangannya ingin melihat sendiri isi dompet Diego.


"Gak sopan lihat isi dompet orang." Diego buru buru menyimpan kembali dompetnya.


Shaila berdecak lalu membuang nafas kasar. Dia tahu jika Diego pasti berbohong. Sudah terlihat dari gelagatnya.


"Lo sekolah di SMK Pelita kan? Besok gue jemput pulang sekolah." Diego memutuskan sepihak.


"Diego." Suara panggilan mengagetkan kedua orang itu. Dan keduanya langsung menoleh kearah wanita paruh baya yang berjalan kearah mereka.


"Udah selesai mah?" Tanya Diego.


"Siapa dia?" Mama Diego memperhatikan Shaila dengan seksama.


"Di__"


"Pacar kamu." potong sang mama.


"Buk___" Belum selesai Shaila menyangkal, mama Diego sudah lebih dulu memeluknya.


"Astaga, jadi kamu pacaranya Diego." Ujarnya dibalik punggung Shaila.


Diego tercengang melihatnya. Sebelum ini, mamanya selalu mengomel saat melihat dia bersama wanita. Tapi kali ini, kenapa responnya sangat berbeda.


"Akhirnya, setelah sekian lama, kamu bisa juga milih pacar yang bener." Ucap mama sambil menatap Diego. "Selama ini selalu cewek begajulan gak jelas yang kamu pacarin. Kalau yang ini, udah kelihatan beda, mama suka."


Diego menelan ludahnya susah payah. Sedangkan Shaila, dia hanya tersenyum absurd.


"Siapa nama kamu sayang?"


"Sha, Shaila tante." Jawab Shaila gugup.


"Kalau gak salah, tante tadi ngelihat kamu masuk ruangan VIP. Kamu member VIP disini? Patut cantik banget. Masih muda udah pandai ngerawat diri. Udah gitu pakaiannya sopan, berhijab. Ini sih calon mantu idaman banget."


Member vip? yang benar saja. Aku bahkan member gratisan disini, batin Shaila.


"Pengen ngobrol lebih lama. Tapi sayangnya, tante ada acara keluarga setelah ini. Jadi maaf ya, tante dan Diego harus pergi dulu. Kapan kapan main kerumah."


Bukannya meluruskan kesalah pahaman, Diego hanya diam saja. Sedangkan Shaila, dengan bodohnya malah mengangguk saat mama Diego menyuruhnya main kerumah.