
CHITTTT
Sebuah mobil sport berwarna putih mengerem mendadak karena hampir saja menabrak seorang penyeberang jalan.
Diego, jantung cowok itu berdetak sangat cepat. Tubuhnya bergetar hebat. Dia membuka matanya perlahan dan melihat kedepan. Beberapa orang mulai berlari kearah mobilnya.
"Keluar hoe... keluar, tanggung jawab." Beberapa orang pria mengetuk kaca mobilnya sambil berteriak teriak.
Tak mau mobilnya dihancurkan massa, dia segera keluar dari mobil meskipun dengan sedikit rasa takut.
"Mbak, mbaknya baik baik sajakan?" Seorang ibu ibu memeluk gadis berseragam putih abu abu yang terduduk diaspal dengan tubuh gemetaran.
"Tanggung jawab mas, bawa kerumah sakit." Ucap seorang pria berseragam coklat. Sepertinya seorang pegawai negeri sipil.
"I, iya pak, saya akan tanggung jawab."
Diego mendekati korban lalu berjongkok disampingnya.
"Saya antar kerumah sakit." Tawarnya.
Gadis itu menatapnya lalu menggeleng.
"Kerumah sakit aja mbak, biar dicek. Takut ada luka dalam atau apa gitu." Ujar seorang ibu ibu.
"Saya baik baik saja bu. Hanya syok saja." Jawab gadis itu sambil memegangi dadanya. Jantungnya berdegup kencang karena kejadian menegangkan barusan.
Tinn Tinn tinnn
Suara klakson terdegar saling bersahutan. Mobil Diego yang berhenti agak ditengah memicu kemacetan. Apalagi ini jam sibuk. Jamnya orang ke kantor dan anak kesekolah.
"Saya pinggiring mobil dulu ya." Pamit Diego.
"Jangan kabur tapi." Bentak seorang bapak bapak.
Diego berdecak kesal. Untuk apa dia kabur, toh korbannya tampak baik baik saja. Tak ada luka sedikitpun.
Setelah menepikan mobilnya. Diego menghampiri gadis yang hampir dia tabrak tadi. Gadis itu terlihat mondar mandir seperti sedang mencari sesuatu.
"Ada apa?" Tanya Diego.
"Laptop, laptop saya hilang." Ucapnya cemas.
"Hah, kok bisa?"
Gadis itu tak menjawab. Dia masih bingung mencari laptopnya yang hilang. Matanya sudah tampak mulai berkaca kaca.
Diego membaca badge name yang tertempel dihijab gadis itu. Tertulis nama Shaila Nur Medina. Ya, dia adalah Shaila, adik Septian.
"Kamu yakin hilang? ada didalam tas ransel kamu kali. Atau tertinggal dirumah mungkin?"
"Enggak." Dia menggeleng cepat. Dia sangat ingat tadi menenteng tas laptop saat berangkat. Tapi karena syok hampir tertabrak, dia reflek melepaskannya. Dan sekarang, benda itu raib.
"Pasti sudah diambil orang. Jaman sekarang banyak oknum yang sering mencari kesempatan dalam kesempitan." Memang seperti itu faktanya. Ada saja oknum yang mengambil kesempatan disaat orang lain sedang kesusahan.
Shaila terduduk lemas ditrotoar. Dia tak memikirkan lagi tentang sekolah yang sudah telat, juga tentang seragamnya yang kotor. Yang dia pikirkan adalah bagaimana bicara pada abangnya. Belum ada sebulan Septian memberikan laptop itu padanya. Dan sekarang, benda itu sudah hilang. Sungguh ceroboh, tak bisa menjaga amanah.
Diego memicingkan matanya melihat Shaila meneteskan air mata. Hanya karena laptop hilang, menangis? astaga, sungguh aneh, batinnya.
"Mahal banget ya sampai kamu tangisin?"
Shaila menggeleng.
"Lalu?"
"Itu pemberian abangku. Dia bekerja mengumpulan uang demi membeli laptop itu, tapi aku malah menghilangkannya."
"Merek apa dan tipenya?"
Shaila menyebutkan merek yang lumayan terkenal, tapi tipe lama. Dan seketika Diego tergelak.
"Kasian banget malingnya, pasti gak laku tuh laptop dijual." Ujar Diego sambil terkekeh. "Sepatu gue aja lebih mahal dari laptop yang lo tangisi itu." Ledeknya tanpa perasaan.
Shaila menatap sinis kearahnya. Tak menyangka jika pria yang sekarang sedang duduk disebelahnya itu adalah sosok yang sangat arogan.
"Tapi sepatu lo gak lebih bermanfaat dari laptop gue. Dasar sombong."
"Serah lo." Diego melihat jam tangan mahal yan bertengger ditangannya. "Gue harus segera kekampus. Kalau lo gak mau dibawa ke rumah sakit. Gue cabut dulu." Pamitnya sambil melenggang pergi.
"Tunggu." Teriak Shaila sambil berjalan menghampirinya. "Gue gak mau kerumah sakit bukan berarti lo bisa bebas dari tanggung jawab. Lo harus ganti laptop gue."
Diego melongo, tapi sedetik kemudia dia tergelak.
"Hei... itu barang hilang karena kecerobohan lo. Kenapa harus gue yang ganti. Otak lo kayaknya geser gara gara tadi."
"Tunggu tunggu. Lo bilang apa? lapor polisi? silakan, gue gak takut." Sahut Diego sambil tersenyum sinis. "Orang lo gak kenapa napa. Gue bisa bayar pengacara buat ngurusin hal sepele ini. Dan bisa dipastikan, lo yang kena masalah. Karena bisa aja lo pura pura ketabrak terus meras gue."
Shaila geram sekali dituduh seperti itu. Disini dia korban. Kenapa malah difitnah?
"Hanya untuk mengganti laptop yang lo bilang gak laku dijual itu, lo gak bisa? Benaran kaya apa pura pura aja sih?"
Diego melotot mendengar tuduhan kejam itu. Bisa bisanya cewek itu bilang dia cuma pura pura kaya.
"Look at me." Desis Diego sambil melotot dan menunjuk dirinya sendiri. "Dilihat dari sisi mananya gue pura pura kaya? lo gak lihat ini." Diego memperlihatkan jam tangan mahalnya. "Dan ini, dan ini." Dia terus menunjukkan baju, celana, sepatu hingga dompetnya. "Semua barang branded."
"Siapa tahu KW." celetuk Shaila.
"Njirrr..... dasar cewek udik. Gak ngerti barang mahal." Diego memperhatikan penampilan Shaila dari atas kebawah. "Cantik sih, tapi kampungan." Cibirnya sambil tertawa meremehkan.
"Daripada lo, udah tampang pas pasan, belagak jadi orang kaya."
Diego mengepalkan tangannya. Kalau saja bukan cewek, udah pasti dia hajar. Tapi dia bukan banci yang beraninya sama cewek.
"Ikut gue." Diego menarik tangan Shaila menuju mobilnya.
"Lepas, lepasin gue." Teriak Shaila sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Diego. Dia ketakutan saat cowok itu hendak memasukkannya kedalam mobil.
"Tolong...., tolong... " Teriak Shaila yang mulai parno.
Seketika Diego melepaskannya. Takut dikira penculik dan dihajar masa.
"Ngapain lo teriak minta tolong?"
"Lo mau apa? lo mau merkosa gue?" Shaila menutupi dadanya dengan kedua tangan.
Diego menepuk jidatnya sendiri. Sumpah, baru kali ini bertemu cewek aneh seperti itu. Biasanya cewek cewek justru minta diajakin naik mobilnya. Eh... ini malah ketakutan dan teriak minta tolong.
"Tunggu bentar." Diego mengambil sesuatu dari dalam mobilnya. Lalu menyerahkan pada Shaila. "Hari minggu gue tunggu disini." Diego memberikan brosur toko laptop miliknya pada Shaila.
"Kalo mau gue ganti, silakan datang. Permisi, gue sibuk."
...*****...
Nara membantu mengancingkan kemeja putih yang dikenakan Septian. Hari ini, suaminya itu akan menjalani sidang skripsi. Harapannya sangat besar untuk lulus. Ingin sekali melihat suaminya itu segera mendapatkan gelar sarjana.
"Doain abang yang sayang. Semoga sidang hari ini berjalan lancar dan abang bisa lulus."
"Pasti bang. Doa terbaik selalu buat kamu." Jawab Nara sambil merapikan rambut Septian.
"Abang nervous Ra."
"Wajar bang. Aku dulu juga kayak gitu. Tapi kembali lagi pada kesiapan kita. Aku yakin abang udah sangat siap. Dan aku juga sangat yakin, jika suamiku ini, akan lulus hari ini."
"Amin....."
Septian membungkuk sambil mengelus perut Nara dan menciumnya. "Doain ayah ya nak. Semoga ayah lulus."
Seperti paham, janin dalam kandungan itu langsung bergerak dan menendang nendang. Membuat Nara seketika tersenyum. Septian memang kerap mengajak bicara anaknya. Bahkan mau kemanapun, tak pernah absen untuk pamit pada sang jabang bayi. Jadi mungkin kedekatan mereka sudah mulai terbentuk.
"Abang udah minta doa sama ibu?" tanya Nara.
"Udah, semalam abang nelpon ibu. Minta doa agar hari ini diberi kelancaran."
Septian kembali mengecek kelengkapannya. Tak mau sampai ada yang ketinggalan dan berakhir fatal.
Setelah semuanya siap. Septian dan Nara turun untuk sarapan. Tak lupa Septian meminta doa pada orang tua Nara agar hari ini dilancarkan.
"Usahakan jangan terlalu tegang. Kadang tegang yang membuat otak tiba tiba blank dan berakhir lupa segalanya. Persiapan yang sudah disusun matang jadi percuma." Pesan papa Satrio.
"Iya Pah."
"Papa yakin kamu lulus. Kemarin saat kita bikin simulasi sidang bertiga, kayaknya kamu sudah sangat mengusai materi. Rileks, yakin pada diri sendiri."
Septian mengangguk paham.
"Jangan lupa berdoa." Mama Tiur menambahi.
"Iya mah."
Nara mengantarkan Septian hingga pria itu menaiki motornya. Seperti biasa, mereka memang selalu berangkat sendiri sendiri walau tujuannya sama.
"Good luck abang." Ucap Nara sambil mencium bibir Septian sekilas saat.
"Makasih sayang." Septian mengenakan helmnya dan langsung berangkat memuju kampus.