
Saat sampai di Rumah,semua anggota keluarga Doni berkumpul di Ruang tamu.
Lastri tentu saja sangat kecewa dengan sikap Doni di pengadilan tadi, padahal di pikiran Lastri, Dia terus saja membayangkan akan hidup enak dan damai kembalo ketika mempunyai menantu yang mapan dari anak teman sosialitanya.
Bahkan nanti Dia bisa memamerkan menantu barunya pada tetangga jika Doni bisa mempunya istri yang lebih baik, namun ternyata sikap Doni saat di pengadilan sangat membuatnya kecewa, andai tadi Doni tidak terlalu berteleh-teleh pasti akan lancar dan saat itu juga sudah ketuk palu dan selesai, pikir Lastri.
"Kamu ini gimana sih, Don, bikin ruet sajah, cepat selesaikan masalah Kamu dengan Riri, dan segera ketuk palu dan selesai, wanita seperti Riri saja mau di pertahanin, ingat kalau Kamu itu cakep dan mapan, tentu Kamu akan mudah mendapatkan pengganti Riri"ucap Lastri dengan sangat menggebu penuh emosi kepada Doni.
"Bahkan Kamu saja belum resmi cerai sudah serong sama Alma, iiiihhh jijik, palingan Kamu juga sudah tidur sama Alma" sambung Mila mengejek Doni.
Doni semakin pusing, berulang kali menjambak rambutnya dengan sangat kencang karena benar-benar saat ini kepalanya terasa mau pecah, apalagi selama ini hidupnya penuh dengan penekanan dari Ibunya, Dia merasa bagaikan burung dalam sangkar, selama ini Dia hanya bisa menuruti apa kemauan Ibunya saja tanpa bisa bebas menentukan pilihannya sendiri.
"Bu cukup Ibu mengatur hidupku, Aku capek Bu, dan Mbak mila cukup Kamu membuat suasana semakin memanas" jawab Doni dengan sesenggukan menahan tangisnya, sebab jujur saja Dia saat ini belum siap kehilangan Riri.
Anton yang saat itu sangat jengah dan malas melihat sikap Lastri dan Mila yang seperti anak kecil, akhirnya Dia memilih untuk pergi saja dari Rumah ini, karena Dia merasa ini adalah masalah Rumah tangga adik iparnya,sedangkan Anton adalah orang lain di keluarga ini, sehingga Dia tidak berhak untuk terlalu ikut campur.
"Kamu mau kemana Mas" ucap Mila saat melihat Anton beranjak dari tempat duduknya.
"Mau keluar" ucap Anton singkat.
"Ya keluar kemana maksudnya, kalau hanya untuk nongkrong di warung kopi, mending Kamu jagain anak Kamu saja, mungkin bentar lagi Dia pulang dari sekolah" jawab Mila.
"Ya gitu deh, kerja gak becus, akal-akalan nongkrong di warung kopi, dasar pemalas,mending Kamu nyari sambian kerja atau gak Kamu sekarang ke Pasar, mungkin saja ada orang yang butuh jasa panggul Kamu"sindir Lastri.
"Ya setidaknya, walaupun Saya hanya kuli panggul, namun semua hasil keringat Saya beri seratus persen pada Istri, dan itu bentuk tanggung jawab Suami, percuma dong kalau katanya sudah mapan tapi masih diatur oleh orang tua" jawab Anton tidak kalah sengit, dan semua keluarga Mila taunya jika Anton adalah seorang kuli panggul, namun bodohnya Mila percaya saja, mana ada seorang kuli panggul setiap hari bisa memberi Mila sehari uang dua ratus ribu.
Dan yang paling mengejutkan lagi Mila membuat drama seolah Anton memberinya uang hanya dua puluh ribu kadang tidak sehingga Doni menjatah Dia setiap bulan.
Lastri merasa sakit hati saat Anton menjawab omongannya, seketika terjadilah keributan antara Anton dan Lastri.
Selama ini anton memendam semua sakit hatinya karena omongan Lastri, kini waktunya Dia bertindak, sebab seseorang pasti merasa capek jika terus-terusan di hina.
"Iya, asal Kamu tau, gara-gara Kamu yang seorang kuli panggul, uang yang di dapat tidak seberapa, bahkan sering tidak dapat uang karena Kamu sering di Rumah , membuat anak kesayangku harus menjatah kakaknya setiap bulan, padahal itu adalah kewajiban suaminya"ucap Lastri tidak kalah sengit sedangkan Mila mulai gugup, melihat suaminya menjawab omongan Ibunya,sebab biasanya Anton hanya diam saja.
"Satu lagi, asal Kamu tau ya, untung saja Mila ini perempuan baik-baik dan nerimah pasangan dengan apa adanya, coba kalau Dia perempuan matre, pasti sudah lama Kamu di depak dari kehidupannya ,kasihan Aku kalau melihat kehidupan Mila"sambung Lastri sehingga membuat Anton semakin emosi dengan mertuanya tersebut.
"Oh ya, lantas kenapa Ibu malah membiarkan anak Ibu masih bersama Saya, kalau Ibu kasihan dengan anak Ibu" jawab Doni memancing Lastri.
"Ya itu karena anak Ibu anak baik-baik"
"Sudahlah Mil, biar kali ini aku ikut meladeni apa yang telah Ibu Kamu omongkan, sudah cukup capek Aku selama ini diam saja" jawab Anton sambil mengibaskan tangan Mila yang saat ini berada di lengannya.
"Ohh bagus dong, Akhirnya Kamu saat ini sadar juga, punya malu juga Kamu ya" sindir Lastri, sedangkan Doni yang saat itu kepalanya ingin pecah malah di tambah pertengkaran antara Ibu dan kakak iparnya membuat Doni semakin pusing, sehingga Dia lebih memilih diam saja tanpa mau ikut melerai pertikaian mereka.
"Maksud Ibu Apa, cepat jelaskan, tidak usah berteleh-teleh, sehingga Aku bisa mengetahui masalahnya dan mengambil keputusan saat ini juga" ucap Anton membentak Lastri,ssbab semakin lama Dia merasa ucapan Lastri semakin menyakitkan.
"Sudahlah Mas,ibu juga biasanya seperti itu, Kamu jangan ladenin, mungkin saat ini Ibu memang sangat emosi" ucap Mila, karena Dia s7 takut jika rahasianya selama ini terbongkar dan takut jatah bulanan doni menghilang.
Sebab gaya hedon yang menurun dari Lastrilah yang membuat Mila sering berbelanja dan menghamburkan uang tidak jelas, sehingga uang berapapun akan terlihat tidak ada artinya baginya.
"Kamu ini apa-apaan sih Mil, bisa-bisanya belain Anton, sudah jelas kalau Dia itu tidak berguna" ucap Lastri.
"Bu, sudahlah, mending Ibu sekarang masuk Kamar saja" ucap Mila.
"Bu,cepat jelaskan, Apa kesalahanku selama ini sehingga membuat Ibu sangat membenciku"
"Ya, karena Kamu ini hanya seorang benalu di keluarga ini, sudah punya anak bukannya tambah pinter yang ada malah membebani keluarga yang lain, situ gak malu" sindir Lastri.
"Memangnya Aku pernah membebani Ibu, tidakkan"ucap Anton.
"Loh Kamu ini gak sadar apa bagaimana sih ton, sudah jelas kalau Kamu itu sangat membebani, kerja gak becus, ngasih nafkah sedikit, buat jajan anak sendiri saja mana cukup"
"Bu sudahlah ,ibu ngapain sih memperpanjang masalah"
"Mas mending Kamu cepat keluar deh, tidak usah Kamu fikirkan omongan Ibu, mungkin Ibu saat ini pikirannya sangat kacau"
"Sudahlah Mila, Kamu kenapa sih membela Dia terus"
"Bu, sudahlah , Ibu jangan kebanyakan marah-marah terus nanti darah tinggi Ibu kumat dan sakit bagaimana" ucap Mila.
"Sudahlah dek, aku capek di tuduh oleh ibu Kamu terus dan Aku saat ini juga ingin kebenaran, cukup sudah aku bersabar"
Glekk
Seketika Mila langsung menelan ludah dengan kasar, tenggorokannya seketika kering dan terasa tercekat, Dia takut Anton marah padanya.