Dianggap Remeh Setelah Melahirkan

Dianggap Remeh Setelah Melahirkan
Rencana


Sedangkan Di lain tempat saat ini Pak Anto dan keluarganya sedang menikmati liburan, mereka sangan menikmati suasana di puncak, begitu pula salman Dia seolah ikut menikmati suasana,sebab sedari tadi bisa terlihat raut wajah salman yang riang, seolah Dia ikut serta menikmati kebahagiaan.


Setelah menikmati makan siang bersama, akhirnya dengan penuh keperceyaan dan keyakinan Pak Anto  mengajak Riri,Bu Ros, dan Husni untuk membicarakan sesuatu penting pada anaknya tersebut.


"Ibu, dan kamu Riri tolong selepas makan nanti kami tunggu di ruang tv ya, Bapak ingin berbicara dengan Kamu, begitu pula dengan kamu Bu, Bapak tunggu di ruang tv ya," ucap Pak Anto sambil menatap keduanya dengan bergantian,sedangkan yang di tatap mala mengkerutkan keningnya kebingungan, jangankan Riri, Bu Ros sebagais istri dari Pak Anto saja tidak tau suaminya ingin membicarakan apa.


"Iya Pak, ibu sama Riri mau cuci piring dulu"jawab Bu Ros sambil mengambil piring yang kotor untuk di pindahkan ke wastafel, begitu pula dengan Riri mengikuti gerak ibunya memindahkan piring kotor ke wastafel dan mereka berdua mulai saling membantu untuk membersihkan piring kotor,sedangkan salman saat ini kebetulan sedang tidur siang.


"Bu, sebenarnya Bapak mau bicara apa ya Bu, kok seperti serius banget gitu" ucap Riri sambil membilas piring.


"Ibu juga penasaran nak, sebenarnya apa yang mau di bicarakan sama Bapak kamu itu, wong Ibu saja gak tau"jawab Bu Ros.


"Ya sudah kita cepet selesaikan pekerjaan ini agar cepat menemui Bapak dan tidak penasaran lagi"sambung Bu Ros, dan akhirnya mereka berdua fokus dengan mencuci piring.


Dan setelah selesai mencuci piring mereka berdua langsung melangkahkan kakinya ke arah ruang tv yang saat itu terlihat Pak Anto dan Husni, membuat Bu Ros semakin penasaran mengapa harus ada Husni di sini.


"Sini duduk di sebelah Bu,dan kamu Riri duduk di kursi itu"ucap Pak Anto sambil menunjuk kursi di hadapannya, dan Riri langsung menuruti apa kata Bapaknya begitu juga dengan Bu Ros langsung mendudukkan bokongnya di kursi kosong sebelah Pak Anto.


"Bapak mau bicara apa, kok sepertinya sangat serius sekali" ucap Bu Ros yang sudah mulai penasaran.


Setelah lama terdiam Pak Anto hanya bisa berulang kali menghembuskan nafas kasar seolah ini adalah sesuatu yang sangat berat bagi dirinya.


"Ri, bagaimana kelanjutan rumah tangga kamu ini" ucap Pak Anto memulai pembicaraanya sambil menatap lekat pada putrinya.


"Pak, jangan bicara tentang ini dong, malu ada Husni, ini masalah keluarga kita Pak"bisik Bu Ros kepada Pak Anto namun masih tetap bisa terdengar oleh telinga Riri dan Husni.


"Biarlah bu, justru karena Husni Bapak tau semuanya" jawab Pak Anto sambil berulang kali menghembuskan nafas kasar.


"Maksud Bapak apa"tanya Bu Ros penasaran sambil menggoyangkan tangan suaminya.


"Sudahlah Bu,nanti juga Ibu tau sendiri, sekarang biarkan Bapak menanyai putri kita terlebih dahulu, ibu tolong diam, agar semuanya cepat selesai"jawab Pak Anto dengan tegas sehingga mampu membuat Bu Ros menjado ciut nyalinya dan menuruti ucapan suaminya agar diam terlebih dahulu.


"Setelah Riri pikir dengan matang, Riri ingin mengajukan perceraian saja Pak, "jawab Riri dengan mantab, sehingga membuat Bu Ros tersentak kaget saat mengetahui keputusan sang putri.


"Riri, istighfar nak, gak baik bicara seperti itu, ingat nak kalau ada salman di sisi kalian"ucap Bu ros dengan reflek sehingga membuat Pak Anto jengkel dengan kelakuan istrinya tersebut, baru saja di peringatkan untuk diam namun mala tidak bisa.


"Apa alasan kamu sampai mantab untuk bercerai nak" tanya Pak Anto tanpa memperdulikan istrinya.


"Sebab Riri merasa tidak ada lagi yang bisa di pertahankan dari Mas Doni, sekarang saja walau Riri sudah lama keluar dari rumahnya Dia tidak ada inisiatif untuk  menjemput Aku dan Salman, dan mungkin Mas Doni memang sebenarnya selama ini tidak perna menginginkan kehadiran kami" jawab Riri sambi beruraian air mata di kedua bola matanya.


"Berkasnya semua sudah lengkap nak" 


"Sudah Pak, bahkan sudah Riri susun rapi di map, tinggal mengantarkan ke pengadilan saja, "


"Ya sudah Bapak sangat mendukung keputusan kamu, bahkan nanti saat sidang Bapak akan menyewa pengacara handal agar Doni tidak bisa lagi mengusik hak asu salman, insya Allaj Salman gak akan kurang kasih sayang walaupun hidup dengan kakek dan neneknya" ucap Pak Anto dengan tegas dan sangat mendukung apa yang telah Riri putuskan membuat Bu Ros menjadi tidak terima atas keputusan suaminya, sebab sedari dulu Bu Ros sangat membenci perceraian, Dia tidak mau jika anak dan cucunya memiliki ansib seperti dirinya karena perceraian akhirnya Dia diasuh oleh kakek neneknya.


"Eh Bapak ingat Pak, nyebut eling Pak, kita sebagai orang tua harusnya bisa menuntun anak kita agar tidak salah langkah, bukan mala mendukung hal yang salah seperti ini, gimana nasip salman, kalau ada masalah ya di omongin secara baik baik Pak, bukan seperti ini"ucap Bu Ros sambil menatap tajam ke arah suaminya sebab Dia merasa ini bukanlah jalan keluar yang baik.


"Sudahlah Bu, ini yang terbaik buat anak kita ,mau ngomongin masalah yang bagaimana sih Bu, wong menantu Ibu saja sampai saat ini juga belum menanpakkan batang hidungnya, lagian Bapak paling benci yang namanya penghianatan,Bapak  tidak rela anak semata wayang kita di hianati oleh lelaki gak tau diri seperti Doni" jawab Pak Anto sehingga membuat Bu Roz dan Riri semakin bertanya tanya tentang apa yang telah di ketahui oleh Bapaknya.


"Apa mungkin Bapak juga tau soal Mas Doni dan Alma yang jalan berdua"guman Riri di dalam hatinya.


"Maksud Bapak apa, siapa yang berhianat pak"tanya Bu ros sambil menatap tajam suaminya.sedangkan Husni sedari tadi hanya menyimak percakapan diantara keluarga bosnya tersebut tanpa mengeluarkan sepata kata pun dari mulutnha karena Dia menunggu instruksi dari sang bos tersayang.


"Ya sih Doni menantu kamu itu Bu, Husni sekarang kamu ambil laptop kamu dan beberapa Bukti yang telah kamu kumpulkan selama ini dan tunjukkan pada Riri dan ibu kamu" ucap Pak Anto memberi perintah pada Husni, dan langsung bangkit dari duduknya untuk mengambil laptop di meja yang telah Dia siapkan.


"Bukti, Bukti apa"tanya Bu Ros terbata bata.


"Bukti perselingkuhan doni"ucap Pak anto sehingga membuat mereka berdua menganga.