
Setelah sampai di rumah, bu ros segera melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk mengeksekusi bahan belanjaan yang baru saja dia beli di warung Bu tuti.
Dengan lihainya tangan Bu ros mulai memotong wortel, kol, brokoli , meracik bumbu , dia sendiri yang melakukan di dapur sebab Riri belum saja keluar dari kamar.
Hampir satu jam lebih berkutat di dapur akhirnya masakan cap jay dan udang tepung selesai juga, dia segera menata masakannya di meja makan, dan di lanjutkan dengan mencuci piring kotor yang baru saja di gunakan untuk memasak.
Setelah semuanya selesai Bu ros ingin ke kamarnya untuk mandi, sebab dia rasa sekarang badannya sangat lengket, dan kurang afdol jika ingin menikmati makanan tapi badannya tidak nyaman, namun belum sempat Bu ros melangkahkan kakinya dia segera di kejutkan oleh kedatangan pak anto suaminya entah kapan beliau masuk ke dalam rumah.
"Masya Allah bapak ngagetin ibu saja sih, ibu hampir saja jantungan karena ulah bapak" ucap Bu ros dengan terkaget kedua tangan memegang dadanya, sebab saat Bu ros ingin keluar dari dapur tiba- tiba saja Pak anto muncul di pintu.
"Ngagetin apanya sih bu, bapak juga sudah ngucap salam dari tadi tapi gak ada sahutan" jawab Pak anto dengan santai lalu dia menarik salah satu kursi di meja makan untuk dia duduki dan menyenderkan tubuhnya.
"Salam dari mananya Pak, wong ibu sedari tadi gak denger kok" jawab Bu ros dengan kesal.
" sudahlah bu ,ibu ini masalah sepeleh saja kok di besarin, suami pulang gak di sambut kok mala ngomel ibu ini" jawab pak anto sambil mengipasi badannya menggunakan topi yang dia kenakan.
"Iya pak maaf, Bapak mau ibu buatin minum apa"
"Gitu dong bu, di tawarin, bapak mau air putih saja bu" jawab Pak anto sedangkan Bu ros langsung mengambil air yang berada di dispenser lalu menyerahkan pada suaminya.
"Ini pak airnya" ucap Bu ros, dan segera di terimah oleh pak anto lalu dia mulai mengamati keadaan meja makan yang sudah penuh dengan makanan sebab tak biasanya jam segini sudah penuh makanan.
" Bu, kok tumben ibu masak banyak sekali, apa kita berdua sanggup untuk menghabiskan semua ini, "
"Ya pasti sanggup dong pak, kita sekarang gak berdua pak tapi bertiga jadi pasti habis makanan ini" jawab Bu ros dengan sangat antusias karena kedatangan sang putri kesayangannya, walaupun sebenarnya banyak tanda tanya di dalam hatinya.
"Maksud ibu bertiga dengan siapa bu" tanya Pak anto dengan kebingungan.
"Iya pak ,asal Bapak tau anak kesayangan kita Riri sekarang pulang pak, itu dia ada di kamar dengan cucu kita"
" kapan kedatangan riri bu, terus Doni dimana Bu"
"Sudahlah bu, mungkin Riri perlu waktu bu, biarkan dia menenangkan dirinya terlebih dahulu, nanti kalau sudah tenang juga pasti dia akan cerita sendiri Bu, sudahlah ibu jangan terlalu khawatir" ucap pak anto mencoba menenangkan istrinya yang sedari tadi terlihat sangat cemas.
" iya pak, tapi ya gimana lagi ibu dari tadi kepikiran terus."
"Sudahlah bu, mending ibu sekarang mandi di kamar dan bapak juga akan membersihkan diri supaya nanto fresh saat bapak akan menggendong cucu bapak" ucap pak anto dengan antusias dan dia segera melangkahkan kakinya untuk mengambil handuk dan segera masuk ke kamar mandi belakang sedangkan Bu ros lebih terbiasa mandi di kamar mandi yang berada di dalam kamar.
*****(
Sedangkan saat ini di dalam kamar Riri sedang merenungi nasibnya, dia selama ini berusaha sabar menghadapi sikap keluarganya, berusaha menerima dengan lapang dada atas semua perlakuan keluarga suaminta walaupun dia sempat mau meregang nyawa atas keteledoran sang suami, dia berusaha untuk berhemat agar bisa makan setiap harinya namun apa yang dia dapat, hanya kecewa yang Riri dapatkan.
Selama ini Riri berusaha menutupi setiap kekurangan uang belanjanya menggunakan uang pribadinya dengan alasan gaji sang suami dikit namun apa yang dia dapatkan kebohongan besar terungkap, bagaimana bisa saat sang suami naik jabatan dan naik gaji tapi mala dia tidak di beritau berita bahagia ini dan yang parahnya lagi Riri hanya menerima sebagian uang gaji Donu bahkan tidak sampai separo itupun untuk kebutuhan seisi rumah selama satu bulan sedangkan sang ibu mertua mendapatkan banyak dan itu hanya untuk keperluan pribadinya sendiri.
Sebenarnya Riri sama sekali tidak keberatan jika sang suami memberi uang untuk sang ibu bahkan riri tidak melarangnya, namun disini yang membuat riri kecewa adalah karena ketidak jujuran doni selama ini, bahkan doni berulang kali hanya bilang bahwa gajinya hanya sekotar tiga juta satu bulan, dan bodohnya Riri selalu percaya omongan laki- laki.
Riri juga sangat kecewa saat melihat sikap suaminya seolah sangat merelakan akan kepergian diriny dari rumahnya, sebenarnya tadi Riri sangat berharap sekali sang suami mau mencegah kepergiannya namun apa daya semua itu hanya angan-angan riri saja.
Selama di dalam kamar pribadinya saat dia masih gadis dulu ,Riri segera bangkit dari tempat dimana dia meluapkan semua amara ,emosi yang dia pendam di dalam hatinya, ya riri saat ini berada di dalam kamar mandi dengan baju masih sama apa yang dia pakai saat ingin ke sini, Riri duduk dengan kaki dia tekuk sebagai sandaran gucuran air shower yang teramat deras.
Saat dia mulai merasa kedinginan Riri segera bangkit dan dengan langkah gontai dia segera mengambil handuk dan mulai mengeringkan badan dan rambutnya .
Belum selesai dia mengeringkan rambutnya terdengar ada ketukan pintu di kamarnya sangat pelan sekali , dia segera bangkit dan mulai melangkahkan kakinya ke arah pintu.
" ada apa bu" ucap riiri sambil tangannya masih mengeringkan rambut dengan handuk.
"Kamu gak lapar nak, ayolah keluar kamar, mari kita makan sama- sama lagian kita sudah lama gak makan bareng dan kebetulan salman juga masih tidur, kamu sudah di tunggu bapak di meja makan dan katanya ada yang akan bapak bicarakan penting"
Deg
Deg