Dianggap Remeh Setelah Melahirkan

Dianggap Remeh Setelah Melahirkan
Debat


Bu Ros sedari tadi terus saja ngedumel saat melihat adanya kedatangan Doni di Rumahnya, bahkan setiap gerak-gerik Doni tidak luput dari pandangannya.


Begitu juga Doni, Dia merasa salting, bahkan emosi yang sedaro tadi sudah memuncak kini berganto dengan sikap yang tidak karuan, antara takut, emosi, geram semuanya campur aduk menjadi satu.


Bahkan Doni berusaha memperlambat setiap gerak-geriknya dalam memarkirkan Motor dengab tujuan untuk mengulur waktu saat ingin berhadapan dengan mertua dan istrinya.


Dengan langkah tegap dan hati yang rasanya tidak karuan serta berulang kali Doni menghembuskan nafas panjang untuk mengurangi rasa gugupnya.


"Assalamualaikum" ucap Doni berusaha tegas di depan Mertua dan Istrinya.


"Walaikum salam" ucap mereka bersamaan dan Doni segera meraih tangan mertuanya, namun saat menatap wajah diantara keduanya hanya wajah Pak Anto yang bersahabat, berbeda dengan wajah sang Ibu Mertua yang terlihat ketus dan tidak bersahabat, sedangkan istrinya hanya menampilkan wajah datar entah apa saat ini yang berada di dalam pikiran Riri.


Bahkan setelah Doni bersalaman pun suasana hanya diam satu sama lain,sedangkan Riri tidak mau menerima uluran tangan Doni, yang membuat Doni semakin muak melihat sikap Riri yang seperti anak kecil, sedangkan Riri bukan tanpa alasan Dia tidak mau menerima uluran tangan Doni, Dia hanya jijik saat membayangkan tangan kotor Doni menyentuh tubuh gundiknya sehingga membuat Riri menjauhi tangan tersebut.


"Baru pulang kerja ya Nak" ucap Pak Anto berusaha menetralkan suasana sebab suasana saat ini terlihat sangat tegang sekali.


"Eh iya Pak" jawab Doni singkat. Sedangkan Pak Anto yang melihat gerak-gerik Doni segera menyuruh sang menantu untuk masuk ke dalam Rumah.


"Ayo masuk dulu Nak, jangan di depan Rumah gak enak kalau di lihat tetangga masak ada Tamu tidak di persilahkan masuk ke dalam" ucap Pak Anto lembut namun mampu menusuk hati, sebab Dia saat ini menyebut Doni bukan lagi menantu yang seharusnya dianggap sebagai anak sendiri melainkan Dia saat ini menganggap Doni hanya Tamu semata.


Doni langsung mengikuti langkah Pak Anto di belakangnya, begitu juga dengan Bu Ros dan Riri mereka segera masuk ke dalam Rumah.


"Bu, taruh Salman di dalam kamar, dan Kamu Riri segera buatkan Doni minum, " ucap Pak Anto memerintahkan kedua wanita tersebut memang kebetulan Salman baru saja tidur di pangkuan Neneknya.


"Bagaimana pekerjaan Kamu saat ini Nak"


"Alhamdulillah Pak semuanya lancar"


"Apa Kamu betah berada di sana"


"Alhamdulillah sangat betah sekali"


"Alhamdulillah  kalau seperti itu"


Belum kelar Mereka berdua berbasa-basi akhirnya Riri datang membawa secangkir teh panas dan saat Riri datang Pak Anto segera berpamitan undur diri untuk memberi waktu pada mereka berdua dan berharap mereka bisa menyelesaikan masalah dengan jalur damai.


"Ya sudah sekarang Riri sudah selesai, Bapak pamit mau ke Belakang dulu, mau ngisis"ucap Pak Anto sambil beranjak dari tempat duduknya dan saat sampai di sekat ruang tamu Pak Anto mala di hadang oleh istrinya.


Bu Ros menatap Pak Anto dengan tatapan sulit diartikan sehingga membuat Pak Anto bingung melihat gelagat istrinya tersebut.


"Ibu ini kenapa sih kok mala menatap Bapak seperti itu"


"Lagian Bapak ini ngapain sih pake acara ninggalin anak kita segala, kalau sampai Riri terpengaruh oleh rayuan mulut busuk Doni bagaimana" jawab Bu Ros dengan geram menatap Pak Anto dengan mata yang melotot.


"Loh memangnya kenapa sih Ibu ini, biarlah Bu anak kita menyelesaikan masalahnya, kalau terus menghindar dari masalah yang ada pastinya gak akan selesai, Ibu tenang saja, Riri pasti bisa menghadapi Doni" ucap Pak Anto sambil mengelus bahu Bu Ros agar istrinya merasa sedikit tenang hatinya.


"Tapi Pak, Doni itu sudah kelewatan, kalau sudah dpaat surat panggilan agama saja baru itu Dia datang kemari, lah kemarin-kemarin Dia kemana saja Pak, "


"Sudahlah Bu, Ibu tenang saja, InsyaAllah semuanya pasti baik-baik saja"


"Tapi Pak, Ibu gak rela kalau sampai nantinya yang ada Riri Mala termakan lagi dengan tipu muslihat Doni ,Ibu gak rela Pak, Ibu sakit hati"ucap Bu Ros dengan penuh kekecewaan sambil menepuk nepuk dadanya.


"Sudahlah Bu, Ibu percaya sama Bapak,semuanya pasti akan baik-baik saja"ucap Pak Anto dengan lembut sambil mengusap-usap bahu Bu Ros agar istrinya merasa tenang, wajarlah jika saat ini Bu Ros merasa hatinya gunda, sebab Dia adalah seorang Ibu dan tentu Dia adalah orang yang pertama merasa sakit hati saat mengetahui anaknya di hianati oleh lelaki yang sangat dicintai, begitu pula dengan Pak Anto , Dia juga sangat sakit hati saat mengetahui anaknya di sakiti, namun sebagai orang tua apalagi sebagai kepala keluarga membuat Dia dituntut untuk menjadi seorang yang bijaksana.


....


...


Sedangkan saat ini di Ruang Tamu terjadi perdebatan yang sangat seruh antara Doni dan Riri, Doni yang merasa tidak mempunyai salah sama sekali pada Riri membuat Dia tidak terimah saat Riri menggugat Dia tanpa alasan yang jelas,


"Apa maksud Kamu pergi dari Rumah dan tidak kembali, dan ujung-unjungnya mala menggugat perceraian ,Kamu kira bercerai itu mudah, apa Kamu gak mikiran nantinya bagaimana nasib anak Kita Salman saat Dia tumbuh tanpa adanya sosok orang tua yang lengkap" cerocos mulut Doni dengan banyaknya pertanyaan saat Pak Anto sudah pergi meninggalkan Ruang Tamu.


"Kamu bisa gak sih kalau nanya sama seseorang itu mbok ya satu persatu, pusing nih yang mau jawab" jawab Riri dengan sinis dan menatap Doni dengan tatapan yang tidak bersahabat membuat Doni merasa saat ini istrinya bukanlah sosok Riri yang selama ini Dia kenal, sebab Riri memang sebelumnya tidak pernah membanta omongan Doni.


"Apa maksud Kamu meninggalkan Rumah dan gak kembali, Kamu mau di sebut sebagai istri durhaka"


Sedangkan Doni langsung kikuk saat mendengar jawaban dari istrinya,sebab kepergian Riri juga karenanya namun maksud Doni bukanlah untuk meninggalkan selamanya jadi Doni merasa Riri saja yang salah pengartian.


"Tapi bukan maksudKu untuk meninggalkan Rumah selamanya, dasar Kamu saja yang salah pengartian"


"Halaaa Mas pinter ya Kamu ngelesnya, kalau pun memang Aku yang salah pengartian seharusnya saat Aku mengemasi semua barangKu ya Kamu cegah dong bukannya Kamu diam saja, terus kalau memang sebenarnya Kamu hanya ngizinan Aku untuk pergi sesaat dan gak ngusir Aku serta Salman untuk selamanya, lah ngapain saja Kamu selama ini kok mala biarin Kami berada di Rumah orang tuaKu" jawab Riri mengeluarkan semua unek-unek yang telah lama Dia pendam sedangkan Doni tergagap tidak bisa menjawab apa yang telah Riri bicarakan.


"Terus mau Kamu seperti apa"


"Ya mau Ku sih seperti ini Mas, bukankah ini juga kemauan Kamu, Kamu senangkan jika Aku pergi dari hidupmu"


"Eh Riri, Kamu kalau ngomong jangan kurang ajar ya, ingat Kamu saat ini masih sah menjadi  istriku, jadi kalau ngomong jangan kurang ajar apa Kamu mau jadi istri durhaka." bentak Doni kepada Riri karena tidak tahan dengan ucapan demi ucapan yang Riri ucapkan.


"Iya Mas Doni suamiKu ,bahkan sampai saat ini Aku sadar diri kok kalau saat ini statusKu memang masih istri Kamu, terus kalau Kamu saat inii menganggap Aku adalah istri durhaka, lantas Aku harus menganggap Kamu sebagai Suami apa yang dengan mudahnya membiarkan anak istrinya pergi," jawab Riri sambil menatap sinis dan tersenyum mengejek pada Doni.


"Kalau Kamu Mas kesini hanya ingin membicaran persoalan yang Kamu sendiri tidak bisa mengintropeksi diri, mending Kamu sekarang pergi deh," sambung Riri sambil menunjuk pintu keluar.


"Lalu apa maksud Kamu menggugat cerai, apa Kamu gak kasihan kalau Salman hidup tanpa kasih sayang dari seorang Ayah"ucap Doni berusaha menepis sikap egonya, karena sebenarnya di lubuk yang terdalam Dia tidak ingin kehilangan Riri dihidupnya, walaupun di sisi lain Doni juga menginginkan Alma juga hiduo berdampingan dengannya.


"cuiiihhh," jawab Riri sambil mengejek Doni.


"Apa Kamu gak malu Mas saat berbicara seperti tadi, bahkan apa Kamu pernah memberi Salman kasih sayang layaknya seorang Ayah pada Anaknya, jadi jangan pernah menjadikan Salman sebagai alasan tidak masuk akal Kamu itu"


"Tapi Ri, Mas mohon , saat ini Mas memang mengaku salah pada Kamu, Mas janji gak akan mengulangi kesalahan ini lagi, Mas ingin hidup bersama dengan kalian lagi" ucap Doni menghibah berharap pintu hati Riri terbuka kembali untuk dirinya.


"Sudahlah Mas, biarkan aku dan anak Kamu itu bahagia , Aku bisa jamin kalau Salman di sini tidak akan kekurangan kasih sayang, "


"Tapi Riri, Mas ingin memulai semuanya dari nol"


"tidak Mas, Aku sudah capek"


"jangan karena masalah seperti ini Kamu mala dengan mudahnya menggugat cerai Mas"


"Iya memang masalah saat ini memang sepele kalau menurut Kamu Mas, tapi bagiku tidak bahkan sangat fatal, sehingga bercerai adalah pilihan terbaik saat ini"


"Riri, ini bukan masalah fatal, ini masalah sepele dan  kesalapahaman saja sehingga bisa membuat Kamu pergi"


"hanya kesalafahaman saja maksud Kamu Mas, Lalu apakah perselingkuhan termasuk masalah yang sepeleh" ucap Alma mampu membuat Doni merasa tersentak hatinya sebab Dia tidak menyangkah jika berita perselingkuhannya sudah menyebar ke telinga sang istri.


"dari mana Kamu dapat gosip murahan itu, tolong jangan percaya dengan apa yang orang lain gosipkan pada Mas"


"halaaa Mas ngaku saja"


"Dek Mas mohon Kamu jangan percaya dengn gosip murahan seperti itu" Jawab Doni berusaha menyangkal tentang apa yang telah di tuduhkan oleh Riri.


"Mas, Aku gak nuduh Loh, bahkan Aku punya banyak bukti perselingkuhan Kamu"


"Mana Mas mau lihat, atau jangan-jangan yang ada itu hanya editan semata ulah usil seseorang yang berusaha ingin menjatuhkan Mas" Jawab Doni semakin gugup saat Riri berkata mempunyai banyak bukti.


"Gak usah mas, nanti saja Riri tunjukkan di pengadilan agama" Jawab Riri yang semakin membuat Doni gugup.


"Tapi Ri, Mas sangat yakin kalau itu hany editan semata"


"Kamu kenapa sih Mas kok gugup seperti itu,apa yang Kamu memang beneran selingkuh" Ucap Riri memancing reaksi suaminya.


"Enggak kok " Jawab Doni singkat yang semakin membuat Riri gedek melihat Doni.


"Kalau apa yang ingin Kamu bicarakan sudah selesai mending Kamu pulang sekarang" Ucap Riri dengan sinis sambil menunjuk kembali pintu keluar.


Doni yang kekeuh dengan sikap egoisnya yang tidak mau mengoreksi dirinya sendiri,bahkan sampai saat ini Dia belum menyadari jika kesalahan yang telah di buatnya saat ini adalah kesalahan yang sangat fatal di dalam pernikahan dan Riri yang terlanjur sakit hati pada suaminya kekeuh ingin segera pisah dari Doni membuat perdebatan di antara keduanya menjadi semakin panas dan tidak ada ujungnya.


Doni segera beranjak dari tempat duduknya dan mulai berjalan ke arah pintu sedangkan Riri dengan senang hati mempersilahkan doni pergi,namun belum saat di ambang pintu Doni kembali menoleh ke arah riri.


"Ri,apakah uang cicilan motor untuk bulan kemaren masih ada"