
Dua minggu sudah Riri berada di rumah orang tuanya dan selama itu pula Doni tidak pernah menjemputnya bahkan menanyakan kabar dia serta putranya lewat ponsel, sehingga membuat Riri merasa jika selama ini kehadiran dia dan putranya sama sekali tidak ada artinya bagi Doni buktinya saja saat Riri pergi dari rumah suaminya tidak ada menghubunginya sama sekali.
Berbeda dengan Pak anto dan Bu ros, mereka berdua teramat bahagia semenjak kedatangan salman di rumahnya, mereka bisa leluasa bermain dengan salman apalagi ini adalah cucu pertama dari anak satu- satunya tentu sangat di nantikan kehadirannya, walaupun mereka sering mengunjungi cucunya namun berbeda dengan saat berada di rumahnya sendiri, merasa sangat bebas bermain dengan sang cucu kesayangan.
Selama berada di rumah orang tuanya Riri merasa sangat nyaman dan bahagia, sebab dia disini tak lagi kebingungan memikirkan uang belanja yang pas- pasan, cicilan motor, dan keperluan salman, sebab kepergian Riri bertepatan pada tanggal tua jadi Riri biarkan saja biar Doni tau kebutuhannya selama ini,dan tentunya sekarang adalah tanggal muda dimana bertepatan dengan banyaknya tagihan motor,listrik, air, wifi.
Biasanya orang lain sangat senang jika sudah memasuki tanggal gajian namun sangat berbedah jauh dengan Riri yang semakin pusing karena harus pintar membagi uang untuk kebutuhan satu bulan ke depannya.
Sedangkan saat ini dia berada di rumah orang tuanya tidak pusing memikirkan semua printilan kebutuhan hidup, bahkan keperluan untuk salman saja sudah di penuhi oleh orang tua Riri, diapers saja sudah menstok segunung, ya maklum karena cucu pertama dan tersayang.
Bukan maksud Riri untuk menjadi istri durhaka karena sudah meninggalkan tanggung jawabnya sebagai istri, namun itu semua bukan tanpa alasan, dia meninggalkan suaminya juga atas kemauan suami sendiri, bukankah kalau sang suami sudah bilang "pergilah dari rumahku," itu sudah termasuk kata talak, jadi sesuai keinginan suaminya Riri meninggalkan sang suami.
Riri yang merasa hidupnya sangat bahagia berada di rumah orang tuanya namun berbeda dengan Doni saat ini yang merasa pusing tujuh keliling, baru saja seminggu Riri meninggalkan rumah namun rasanya seperti setahun, sebenarnya Doni ingin sekali menjemput istrinya, namun karena besarnya ego di dalam dirinya membuat dia enggan menjemput Riri .
Setiap hari selalu di ributkan oleh perkara seragam kerja yang kotor belum di cuci , sebab biasanya Riri yang melakukannya serta setiap hari seragam dan lerlengkapan Doni untuk bekerja selalu terpasang rapi setiap pagi, berbeda dengan saat ini setiap hari yang ada selalu kusut bahkan jarang di cuci sebab ibunya sendiri lebih suka menghabiskan waktu bersam teman arisan sosialitanya.
Iya memang semenjak Riri pergi keuangan untuk mengatur kebutuhan rumah tangga Doni serahkan pada ibunya, tentu Bu lastri sangat senang saat di beri uang belanja banyak , sehingga dia lupa diri dan mala menghabiskan uang bulanan untuk keperluan pribadinya dan nongkrong gak jelas dengan teman sosialitanya, tentu dia bagaikan dapat angin segar sebab hampir lima bulan dia jarang berkumpul.
Doni yang merasa kesal karena seragam kerjanya belum di cuci ditambah lagi keadaan meja makan tidak ada makanan sama sekali ,padahal saat ini dia akan segera berangkat bekerja dan butuh untuk sarapan.
"Buuuuu, ibuuuuu" teriak Doni.
"Ibuuuuuuu" teriaknya sekali lagi.
"Ibu kemana sih, masih pagi juga keluyuran saja kerjaannya" umpat doni.
Sedangkan Lastri yang baru saja dari rumah mila anaknya tergopoh- gopoh saat mendengar suara teriakan anaknya dari dalam rumah.
"Kamu ini apa- apain sih Don, teriak- teriak malu tau sama tetangga"ucap Bu lastri kesal.
"Ya gimana gak teriak- teriak bu , wong ibu saja dari tadi di panggil gak nyaut, emang ibu kemana"
"Dan ini juga , ibu itu gimana sih bu, sudah baju Doni gak di cuci sekarang ibu gak masak, terus Doni mau makan apa bu, padahal Doni mau berangkat kerja"
"Memangnya ibu gak masak"
"Ya gimana mau masak Don, wong kemarin malam saja ibu sudah bilang sama kamu kalau uang ibu tinggal sedikit dan ini saja hanya cukup untuk beli nasi uduk" jawab lastri dengan cepat.
"Bu, itu uang untuk kebutuhan satu bulan ke depan loh bu, kok sudah di habiskan sih, terus kita nanti makan apa, sedangkan gajian doni masih lama dan ini saja masih di pertengahan bulan"ucap Doni dengan lembut berusaha memberi pengertian pada ibunya.
"Lah kalau sudah terlanjur habis gimana don, kan kamu tau sendiri kebutuhan ibu, ibu perlu berkumpul dan bersenang- senang dengan teman sosialita ibu, ibu suntuk berada di rumah terus," ucap lastri dengan santainya tanpa mau memikirkan sang anak dan nasib rumah tangga sang anak yang berada di ambang kehancuran.
"Terus nanti kebutuhan kita ke depannya kita mau pakai uang apa bu, "
"Ya kamu mikir dikit lah don, kamu ambil lemburan dong yang banyak supaya bisa memenuhi kebutuhan hidup kita"
Bu lastri yang seolah tidak mau peduli apa yang telah doni rasakan, berbeda dengan doni yang sedari tadi terus saja mengumpat tak karuan, sebab selama bersama riri dia tidak pernah merasakan seperti ini, bahkan dia juga tak pernah mau tau kebutuhan rumah tangga.
"Terus bu, uang untuk biaya cicilan motor, tagihan listrik dan air sudah ibu sisihkan " tanya Doni dengan penuh kehati- hatian.
"Memangnya kamu memberi ibu uang untuk membayar cicilan motor serta tagihan listrik dan air " bu lastri mala bertanya balik pada anaknya.
"Loh, ibu gimana sih, kan ibu sudah Doni kasih uang untuk biaya kita ke depannya dan itu juga sudah termasuk biaya cicilan motor doni dan tagihan lainnya bu"jawan doni frustasi
"Ya itu juga sudah salah kamu don, kamu sendiri yang gak ngomong sama ibu, sekarang mala kamu nanyain uang itu, ya jelas habis lah, "
"Bu, ibu gimana sih, terus doni mau bayar motor pake apa, terus nanti kalau motor doni di ambil gimana"
"Ya itu salah kamu sendiri, pokoknya ibu gak mau tau"
Doni yang saat itu sedang pusing maka dia dengan cepat menyambar jaket dan kunci motornya untuk segera meninggalkan sang ibu tanpa memperdulikannya bahkan nasi uduk saja masih belum habis setengahnya.
Doni sangat kecewa pda ibunya,bagaimana bisa semua uang sudah dia habiskan sedangkn untuk seluruh tagihan belum juga dia bayarkan hingga tiba tiba doni mala teringat akan kehadiran Riri.