
Semenjak kejadian kemarin sore sampai dua hari pun Mas Doni tidak pernah lagi bertegur sapa denganku, aku di sini sama sekali tidak keberatan karena semenjak aku melahirkan aku sudah kehilangan sosok suami , aku berasa janda anak satu, ahhh kenapa aku mala memikirkan yang tidak tidak bisa nanti mala jadi kenyataan.
Sampai saat ini aku menjadi istri dari Mas Doni aku tidak pernah tau sama sekali tentang penghasilan dari seorang Mas Doni , yang aku tahu hanya aku setiap bulan di beri jatah 2,5 jt, eiits tunggu dulu 2,5jt itu banyak sekali anggaran di dalam nya seperti cicilan motor, biaya listrik, biaya dapur,semua masuk anggaran 2,5jt , awalnya aku tidak terlalu mempermasalahkan soal nafkah dari suamiku karena aku juga mempunyai pekerjaan yang hasilnya sangat besar , jadi ketika uang belanja habis aku akan menggunakan uang hasil bekerja untuk memenuhi kebutuhan dapur .
Namun semenjak aku hamil dan tidak bisa bekerja lagi maka otomatis aku tidak berpenghasilan dan tidak ada pemasukan sama sekali maka aku harus menekan semaksimal mungkin pengeluaran apalagi sekarang sudah ada salman tentunya juga ada keperluan salman, semakin hari tabunganku semakin menipis , belum lagi jika ada keperluan mendadak seperti salman saat sakit, aku harus sangat berhemat, gaji Mas Doni pun tidak cukup ,untuk kebutuhan sebelum Salman saja kurang apalagi saat ini anggotanya bertambah satu, beruntungnya saat lahiran aku sama sekali tidak memotong uang tabunganku sebab semua keperluan di rumah sakit sudah ditanggung orang tuaku walaupun aku sempat kecewa pada sikap Mas Doni yang tidak ada terimah kasih pada kedua orang tuaku padahal seharusnya ini adalah tanggung jawabnya.
Pasca melahirkan aku merasa diriku ini bukan seperti diriku sendiri sebab aku yang sekarang ini lebih sensitiv terhadap segala hal yang terjadi apa mungkin karena perubahan hormon pasca melahirkan.
Setiap hari harus memutar otak bagaimana cara masak sederhana dan nikmat dengan budget yang minim,
Namun aku kecewa dengan sikap ibu mertua ku yang setiap hari di meja makan selalu ingin ada ikan, daging, ayam dan setiap mau makan harus selali fress, seharusnya dia mengerti pada kondisi anaknya saat ini, namun dia mala sering menambah masalah..
....
....
....
"Punya mantu gak berguna, sudah melahirkan secar ninggalin banyak hutang sekarang masaknya tiap hari tempe tahu mulu gimana dapat gizi, " ucap Bu fatmah sinis sambil tangannya membuka tudung saji.
Aku yang saat itu sedang mencuci piring di wastafel hanya menoleh sebentar dan kembali menyelesaikan pekerjaan ini sebba bagiku percuma jika meladeni ucapan ibu mertua karena semakin membuat sakit hati.
" Ri kamu itu denger gak sih kalo ibu lagi bicara, apa kamu pura-pura budek , ibu doaian ya biar kamu beneran budek" ucap Bu fatmah lagi.
" Bu, riri gak budek dan dengar apa yang ibu ucapkan," jawabku berusaha selembut mungkin.
"Terus kalo kamu gak budek apa, kamu bisu mangkanya gak bisa jawab apa yang ibu ucapkan, apa jangan-jangan dugaan ibu benar Ri kalau kamu sengaja makan masakan ini setiap karena kamu mengkorupsi uang belanja yang diberikan Doni untukmu ,padahal disitu juga ada jatah ibu untuk makan Ri, kamu benar- benar tega ya, kamu membiarkan ibu makan makanan gak bergizi di usia yang sudah tua ini" ucap ibu mertuaku yang mampu membuat diriku naik pitam dengan emosi yang menggebu bagaimana bisa dia menyimpulkan aku melakukan ini semua karena aku sengaja mengkorupsi uang dari mas doni,bagaimana bisa menyimpulkan aku mengkorupsi sedangkan uangnya saja kurang.
"Bu, kita harus berhemat sebab keperluan Riri semakin banyak, sekarang juga ada keperluan untuk salman" jawabku masih berusaha berbicara sangat lembut.
"Halaaa Ri keperluan apa kalau anak kecil itu, kamu aja kayak orang tuamu yang terlalu berlebihan"
"Ya mangkanya Ri, kamu itu harusnya mbok ya mikir jadi istri, bekerja sana kalau gak mau duitmu kekurangan" ucap ibu mertuaku dengan santainya sebab saat ini sudah terbuka sudak kedok mertuaku, dulu saat aku masih menghasilkan uang aku selalu di nomor satukan namun sekarang saat aku tak berpenghasilan selalu saja disalahkan bahkan setiap yang aku kerjakan dirumah ini senha tidak ada yang pernah benar di depan mata ibu mertuaku.
"Bu, apa ibu saat ini lupa kalau Riri sudah punya anak, Bu riri gak bekerja itu juga ada alasannya, kalau riri bekerja siapa yang akan mengasuh salman sedangkan saat ini salman masih membutuhkan asi dari Riri" ucapku menggebu saat ini karena disisi lain aku ingin meladeni sang ibu mertua.
"Mangkanya jadi ibu itu yang pinter Ri, inisiatif dong, anaknya di belajarin minum sufor jangan melulu Asi kamu ini kayak orang susah aja"
"Oooo trus selama ini beranggapan kita bukan orang susah dan selalu kecukupan bahkan kita sangat kaya raya iya begitu bu"
"Ya iyalah jelas selama ini ibu sangat amat berkecukupan, buktinya ibu punya geng arisan sosialita, semua teman ibu kaya raya , tapi ini semua gara-gara anakmu itu yang pembawa sial, sebab dia hadir ibu mala jarang berkumpul sama geng sosialita ibu" ucap ibu mertua dengan oenuh amarah sehingga membuat suasana didapur ini semakin memanas.
"Ingat bu, salman itu cucu ibu bagaimana bisa ibu dengan mudahnya menyebut cucu ibu dengan sebutan pembawa sial"
"Ya memang gara-gara kamu dan salman ibu jadi gak bisa ikut kumpul geng ibu sosialita"
" memang salahku sama salman dimana bu, sehingga bisa menghalangi ibu untuk berkumpul dengan geng sosialita ibu, sedangkan aku dan salman apa pernah merepotkan ibu setiap harinya sehingga mampu menghalangi ibu" ucapku sedikit memancing ibu mertuaku karena aku ingin dia jujur, walaupun sebenarnya aku tau apa alasan dia sehingga tidak bisa kumpul dengan para anggotanya apalagi coba kalau bukan karena kekurangan cuan, karena aku tau saat perkumpulan mereka sering pergi ke tempat wisata sehingga bisa dipastikan pasti akan banyak merogoh kocek sangat dalam.
Seketika ibu mertua ku gelagapan mendengar pertanyaan dariku.
"Pokoknya ini semua karena kamu dan salman penyebab ibu tidak bisa berkumpul dengan geng sosialita ibu" jawabnya dengan gelagapan.
"Iya terus apa alasannya sehingga ibu mengkambing hitamkan antara aku dan salman, jelasin dong bu agar aku mengerti dan berusaha memperbaiki diri"
"Mangkanya kamu ini k..."
Belum selesai ibu berbicara namun
"Assalamualaikum"