Dianggap Remeh Setelah Melahirkan

Dianggap Remeh Setelah Melahirkan
bab 35


Doni yang merasa kebingungan dan pusing memikirkan ibunya yang tidak bisa mengatur keuangan, membuat dia tidak bisa berkonsentrasi dalam bekerja,bahkan Doni sering kali melakukan kesalahan sehingga membuat dia di tegur oleh atasan.


Beruntung atasan Doni adalah sahabatnya sendiri jadi dia tidak sampai terkena surat peringatan.


"Don kamu di panggil oleh pak andi ke ruangannya, "ucap aldo saat doni sedang beristirahat di samping gudang.


"Iya do"jawab doni dengan muka lesuh.


"Mangkanya Don yang bener kalau kerja, kamu dari tadi aku perhatiin juga ngelamun saja, bingung kayak orang linglung , seperti orang sudah punya anak sepuluh saja kamu don" ucap aldo dengan canda tawa memang sebab di sini aldo adalah orang yang suka mengguraui temannya.


"Ya gimana lagi do, kamu sih enak belum ngerasain berumah tangga, sana buruan kamu nikah, emang gak keburu karatan punya kamu itu kalau di biarin kelamaan" ejek doni pada aldo.


"Ehhhh gak ah biarin karatan yang penting gua gak mikiran susahnya berumah tangga" jawab aldo dengan santai, memang saat ini usia aldo sudah memasuki usia kepala tiga namun dia entah mengapa alasannya tidak mau berumah tangga.


"Dasar kamu itu do, gak ingat umur apa, ya sudah aku mau temuin pak andi dulu, nanti dia kelamaan nunggu bisa- bisa kena SP (surat peringatan) lagi doh, nanti anak bini makan apa" jawab doni sambil bangkit dari duduknya.


"Iya don, hati- hati banyak- bangak berdua kamu don" teriak aldo saat doni sudah melangkahkan kakinya gak jauh meninggalkan aldo dan mulai mendekati tempat dimana pak andi berada.


Tok 


Tok 


Tok 


"Assalamualaikum" ucap aldo sambil sedikit berteriak.


"Masuk" terdengar teriakan dari dalam ruangan sehingga Doni langsung memutar gagan pintu.


Ceklekkkkkk


"Masuk kamu Don dari tadi aku tungguin juga" ucap pak andi , memang dia adalah atasan Doni namun sikap pak andi sangat baik, dia tidak membedakan mana bawahan dan mana atasan apalagi Doni adalah teman dekatnga sewaktu SMA dulu.


"Eh iya pak andi maaf, soalnya saya tadi ngisis sebentar di belakang" jawab doni gugup sebab dia merasa ada yang aneh pada kelakuan sahabat lamanya tersebut yang tiba- tiba menyuruhnya untuk pergi ke ruangannya.


"Duduk dulu don, ada yang mau saya sampaikan" ucap pak andi mempersilahkan Doni untuk duduk di sofa yang berada di dalam ruangannya, sedangkan Doni langsung melangkahkan kakinya ke arah dimana sofa berada.


"Kamu kenapa Don, ini pekerjaan kamu sangat berantakan, apalagi kamu ini bagian admin lo don, kalau kamu kayak gini terus bisa- bisa pabrik bangkrut karena kelalaian kamu" ucap pak andi sambil menyodorkan kertas bertulisan laporan harian dari Doni, memang pekerjaan Doni sebagai pencatat keluar masuknya barang di gudangnya, namun karena hari ini dia sangat pusinh dan stress membuat dia tidak bisa berkonsentrasi.


Sedangkan Doni sedari tadi hanya terdiam dan tertunduk lesuh memikirkan apa yang telah terjadi di dalam keluarganya.


"Don, kamu ingat kalau gak karena kamu sahabatku mungkin aku sudah memberi kamu Sp don, sekarang cepat ceritakan apa yang telah membuat kamu tidak fokus dalam berkerja" tanya pak andi sekali lagi.


Akhirnya Doni menceritakan semuanya pada sahabatnya tersebut mulai dari Riri yang pergi dari rumah dan uang bulanan yang telah habis walaupun masih dalam pertengahan bulan.


Pak andi yang telah mendengarkan semua cerita dari doni dia tidak bisa ikut campur terlalu dalam dalam masalah rumah tangga Doni namun dia juga geram dengan sikap doni yang membawa masalah rumah tangga di dalam pekerjaannya yang membuat dia terlihat tidak professional.


"Aku harap kamu bijak dalam mengambil keputusan don ,dan aku mohon jangan membawa masalah rumah tanggamu di dalam pekerjaan ini, kamu harus profesional, ini peringatan untuk kamu don, kalau besok kamu mengulangi lagi maka dengan terpaksa aku harus memberi kamu surat peringatan sebagai bentuk keprofesionalan diriku terhadap tim ku" ucap pak andi dengan tegas sedangkan doni hanya bisa mengangguk dengan lemah. 


Doni akhirnya pergi melangkahkan kakinya ke arah tempat dimana dia bekerja , kebetulan waktu istrirahat masih kurang lima belas menit lagi sehingga Doni lebih memilih untuk berada di bawah pohon rindang belakang gudangnya untuk sekedar bersantai dan kalau bisa dia sampai tertidur agar bisa menghilangkan capek di pikirannya.


Namun belum juga Doni bisa memejamkan matanya , tiba- tiba ponselnya berdering menandakan ada panggilan suara, Doni segera mengambil ponselnya yang berada di saku celananya, dan menghidupkan ponsel mencari siapa yang baru saja menghubunginya.


Namun tiba- tiba dia mengerutkan dahinya sebab dia tidak tau itu nomer siapa yang menghubunginya kebetulan nomer baru masuk di ponselnya.


Doni yang saat itu sangat mager dan pusing akhirnya lebih memilih untuk mengabaikan panggilan tersebut sebab dia mengira itu adalah pasti nomer orang nyasar.


Namun baru saja dia meletakkan ponselnga tiba- tiba nomer tersebut menghubunginya lagi membuat doni mengeram kesal dan akhirnya mau tidak mau dia harus mengangkat panggilan tersebut.


"Halooo dengan siapa" ucap doni dengan ketus.


"Halooo bapak atau ibu, selamat siang, saya dari pihak fip group ingin menanyakan perihal tagihan bapak yang tidak kunjung bapak atau ibu yang tidak kunjung anda bayar, padahal ini sudah hampir tiga hari jatuh tempo loh, sesuai kesepakatan jika bapak atau ibu tidak bisa membayar maka motor anda akan kami tarik kembali" ucap seseorang di balik telepon sana.


"Maaf mbak, sebab kami sedang ada musibah" jawab doni memelas.


"Tolong segera di lunasi ya pak, dan tentunya bapak sudah faham dong tentang isi perjanjian saat mengambil motor" 


"Apa tidak ada keringanan sama sekali" ucap doni dengan gugup.


"Tidak ada pak, dan tentunya saat bapak menandatangani kontrak bapak sudah membaca kan konsekuensinya" 


Doni yang merasa sangat pusing sebab karena dia sudah di telvon dari pihak bank, apalagi selama ini dia jarang berurusan dengan rentenir, dan selalu Riri yang mengatur semuanya, dan doni hanya terimah beres saja.