Dianggap Remeh Setelah Melahirkan

Dianggap Remeh Setelah Melahirkan
Cerai


Sedangkan Doni yang saat ini merasa terpojokkan semakin naik pitam sebab di Rumah Riri, kebusukannya sudah terbongkar dan di Rumahnya sendiri yang terjadi mala Mila dan Lastri menyalahkan seolah ini adalah murni kesalahannya.


Brakkkkkkkk


Tiba-tiba Doni menggebrak meja dengan keras lagi.


"Kamu ini apaan sih, kalau mau marah ya jangan ngerusak barang Ibu dong, asal Kamu tau ya Don, Ibu dan Bapak Kau dulu harus nabung selama dua tahun untuk beli sofa ini, ehh sekarang Kamu dengan seenaknya merusak barang punya Ibu" ucap Lastri dengan ketus sambil memeriksa meja yang baru saja di gebrak oleh anaknya tersebut,sebab dulu saat Lastri ingin membeli satu set sofa dan meja harus menyisihkan uang belanja setiap harinya sampai dua tahun baru bisa membeli sofa yang di impikan.


"Terus saja Ibu dan Mbak Mila nyalain Aku, asal Ibu dan Mbak Mila tau kalau Aku seperti ini ya gara-gara kalian"ucap Doni dengan nada membentak dan tatapan melotot kepada kedua wanita di hadapannya.


"Loh,Kamu kok nyalain Mbak sih, yang berulah Kamu juga, eh nyalain Kita berdua." Jawab Mila tidak kala sinis sebab Dia tidak terimah dengan sikap sang adik yang seenaknya menyalahkan Dia dan Ibunya, begitu juga dengan Lastri, Dia juga tidak habis pikir tentang pemikiran anaknya saat ini.


"Memang benar ya apa yang sudah di gosipkan oleh para warga, bahkan sebelumnya Ibu sempat berfikir jika Kamu tidak mungkin melakukan semua ini, namun saat melihat sikap Kamu tadi, sekarang Ibu mengerti jika selama ini Kamu telah selingkuh dengan Alma" sahut Lastri dengan nada pelan dan raut wajah penuh kekecewaan.


"Lah ini juga bukan salah Doni dong Bu, ya ini salah Ibu juga yang tidak mengizinkan Doni untuk mendekati Riri,jadi ya jangan salahkan Doni kalau Doni harus mendekati yang lain" ucap Doni dengan cepat karena dia tetep kekeuh dengan pemikirannya dan tidak mau di salahkan,ya begitulah kalau orang yang terlalu menurut apa kata orang tua tanpa mau memikirkan terlebih dahulu.


"Ehh Doni, ya memang ini sudah seharusnya di lakukan oleh laki-laki sebagai suami yang istrinya baru saja melahirkan, abang Kamu Anton dulu juga gitu, " jawab Mila 


"Memangnya Mas Anton kuat harus menahan hasrat sampai empat bulan lamanya," 


" ya harus kuat, memang itu sudah konsekuensinya"jawab Mila dengan nada tinggi.


Setelah percakapan terakhir mereka bertiga diam di dalam ruang tamu dengan pemikiran masing-masing, Lastri yang kecewa karena perilaku Doni yang memalukan,


Setelah cukup lama Diam akhirnya Mila membuka suara sebab di rasa saat ini emosi Doni sudah mulai reda.


"Terus tadi Kamu ke Rumah Riri bagaimana kelanjutannya, Kamu kan belum cerita sama kita berdua , dateng-dateng ngomel gak jelas, bagaimana kita bisa memberi pendapat kalau masalahnya gak jelas"sambung Mila dengan nada pelan mencoba menetralkan rasa emosinya yang belum stabil, karena sedari tadi Dia sudah menunggu cerita dari adiknya tentang gugatan cerai dari Riri,namun adiknya menanggapi dengan emosi.


Sebenarnya di dalam hati kedua wanita tersebut sangat senang dengan apa yang telah terjadi saat ini, tentunya saat Riri mengajukan perceraian akan membawa keuntungan bagi mereka, sebab Doni tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk biaya perceraian.


Serta rencana Lastri ingin menjodohkan Doni dengan anak teman arisan sosialitanya akan segera terwujud,bayangan demi bayangan hidup mewah karena calon seorang perawat dan berasal dari keluarga kaya raya akan segera tercapai.


Namun sayangnya rencana ini ternyata harus Dia lalui dengan berita perselingkuhan Doni dengan mantan kekasihnya dulu, sebenarnya Lastri bukan hanya malu pada masyarakat, namun yang lebih Lastri takutkan adalah takut jika sang calon besan mengetahui kebobrokan anaknya dan membatalkan rencana mereka untuk menjodohkan kedua insan.


"Doni, Kamu kalau di tanya itu mbok ya di jawab, jangan diam saja,ayo ceritakan sama Kita, Kita pikirkan bersama jangan menggunakan emosi nanti yang ada tidak ada ujungnya"ucap Mila lagi.


"Iya Don, ceritakan apa yang telah terjadi di Rumah Riri, "sahut Lasti menatap anaknya.


Dengan berulang kali menghembuskan nafas berat, akhirnya Doni mau membuka mulutnya dan menceritakan apa yang telah terjadi di Rumah Riri, serta Doni juga menceritakan perihal mengambil kembali uang cicilan motor.


"Apa Mungkin Riri juga di kirimi oleh si Rere vidio perselingkuhan Kamu Don" ucap Mila dengan serius, sebab Dia tau kabar perselingkuhan Doni juga dari Rere.


"Itu bisa jadi Mil, " sahut Lastri.


"Eh Doni, walau pun Ibu senang saat Riri mengajukan percerain, namun Ibu juga malu, karena keluarga kita yang dapat jeleknya,andai Kamu gak pake acara selingkuh sama Alma ,pasti warga sini percaya sama omongan Ibu tentang keburukan Riri, lah sekarang ternyata Kamu yang berulah, tentu bukannya warga percaya mala yang ada keluarga Kita yang di hujat oleh warga karena kelakuan Kamu itu." Ucap Lastri panjang lebar mengeluarkan semua unek-unek yang ada di dalam hatinya.


"Sudahlah Don, jangan Kamu pikirkan Riri lagi, semua ini juga sudah terjadi mau di apakan lagi, tentunya Kamu bisa dong lupain Riri begitu saja, sudahlah jangan di angga pusing, memangnya panggilan sidangnya kapan" ucap Mila agar adiknya sedikit tenang dan tidak lagi mengingat sosok Riri, untuk Alma biarlah nanti di urus belakangan.


"Panggilan sidangnya senin besok mbak" 


"Jadi kurang lima hari lagi " jawab Mila sambil tangannya menghitung jari-jarinya untuk mengetahui berapa lama lagi waktu sidang.


"Ya sudah nanti saat sidang Mbak akan  temenin Kamu,Kamu tenang saja"


"Terus Don, bagaimana soal uang cicilan motor, apa Riri mau mengembalikan" sahut Lastri dengan cepat sebab kalau sudah urusan dengan uang, Lastri lah orang yang pertama maju.


"Ya di beri ganti sama Riri Bu, tapi hanya lima ratus ribu" jawab Doni sambil merogoh saku di celananya dan menyodorkan gulungan lembaran uang merah tersebut dan Lastri langsung meraihnya.


"Loh, kok cuma ada limah ratus ribu, bukannya satu juta ya" ucap Lastri sambil menghitung uang.


"Lah kan sudah Doni bilang Bu kalau cuma lima ratus ribu"


"Enak saja istri Kamu Don, dengan seenaknya memakai uang cicilan motor setengahnya, Kamu juga mau saja di bodohi Riri" 


"Katanya kepakai Bu untuk keperluan kita sehari-hari" ucap Doni berusaha membela Riri.


"Terus saja Kamu belain istri Kamu itu, Kamu itu di bodohi mau saja, " 


"Iya itu Don, mungkin juga uangnya di korupsi oleh Riri" sahut Mila mengompori keadaan.


"Pokoknya besok Kamu anterin Ibu untuk ke Rumah Riri, Ibu gak rela di korupsi Riri" .Di lain tempat saat ini Riri berada di  Ruang Tamu sendirian, Dia merenungi kejadian demi kejadian yang telah Dia alami selama berumah tangga, harapan untuk hidup bahagia kini sirnah sudah.


Riri yang dulunya sangat bucin taramat akut pada Doni, kini berubah menjadi rasa benci pada sosok suaminya tersebut.


Dulu dengan percayanya Riri mau membantu dalam segi perekonomian, bahkan sampai uang tabungan Riri sangat menipis.


Di awal pernikahan sang mertua selalu memperlakukannya bak seorang Putri Raja, namun setelah Dia tidak lagi bisa menghasilkan uang, yang ada Riri di perlakukan bak seorang Babu di Rumahnya.


Setiap hari Riri rela menombok kekurangan untuk membeli kebutuhan setiap hari dengan tabungannya sendiri, sehingga membuat Doni dan keliarganya terlena dengan kenikmatan yang di berikan Riri, sampai yang terjadi Doni lupa akan kewajibannya menjadi seorang Suami untuk memenuhi kebutuhan, Doni mengira Riri selalu cukup dengan jatah bulanan yang di berikannya, bahkan sampai Doni naik jabatan dan otomatis naik gaji pula Doni enggan memberikan pada Riri, melainkan yang ada Dia ternyata memberikan uang tersebut untuk Ibu dan Kakaknya lebih banyak, padahal adanya jabatan Doni saat ini adalah murni dari campur tangan sang mertua.


Berulang kali Riri meneteskan air matanya terlalu kecewa dengan orang yang sangat Dia cintai.


Teringat saat Riri mau melahirkan, Doni tidak peduli sama sekali dengan keadaanya, Saat melahirkan sama saja yang ada Doni mengancam ingin menceraikannya ketika Dia tidak bisa tutup mulut, kini Riri semakin sadar, bahwa tidak ada lagi alasan anak untuk bertahan dan memilih tetap berada dalam rumah tangga yang toxid dan tidak sehat, kini  saatnya Dia bangkit  dan menata hidup mulai dari nol lagi.


Berulang kali Riri mengusap wajahnya dengan kasar, bahkan sampai sesak nafasnya mengingat kejadian demi kejadian yang telah Dia alami belakangan ini.


Dan yang lebih sangat menyakitkan saat ini adalah Doni yang sama sekali tidak menanyakan perihal putranya,bahkan menengok putranya saja tidak, padahal tadi saat di Teras ada Salman, dan saat mengetahui sikap Doni inilah yang membuat Riri semakin yakin jika jalan perceraian adalah jalan yang terbaik, Dia tidak lagi takut akan anaknya yang akan tumbuh tanpa seorang Ayah,karena saat Salman mempunyai sosok Ayah pun, Ayahnya tidak mau menengoknya sama sekali jadi Buat Riri saat ini sudah tidak di perlukan lagi sosok Ayah untuk anaknya.


Dan bisa-bisanya yang ada Doni memelas untuk membatalkan perceraian dengan alasan Salman butuh kasih sayang seorang Ayah, sedangkan Dia tidak pernah memberikan itu semua pada Anaknya.


Riri yang menangis sesenggukan di ruang tamu terpantau oleh kedua orang tuanya.


Awalnya mereka berdua ingin menegur Riri langsung, namun Mereka urungkan dan hanya memantau dari belakang saja, sebab Mereka sadar saat ini Riri ingin menumpahkan semua emosinya.


"Pak, apa Kita samperin saja Riri ya Pak, kasian anak itu sampai menangis sesenggukan seperti itu, Ibu makin gedek deh Pak sama si Doni, datang-datang buat nangis anak orang"ucap Bu Ros pada suaminya.


"Jangan Bu, biarlah Riri menangis terlebih dahulu, nanti saja kalau sudah agak tenang Kita mulai menanyakan Riri " jawab Pak Anto,


"Tapi Pak, Ibu gak sabar, Ibu yakin kalau Riri itu kuat, jadi gak mungkin kalau Dia saat ini nangis karena Doni, pasti Dia juga nangis karena perkara lain" 


"Perkara lain bagaimana Bu"


"Ya bisa saja Pak, kalau tadi Riri sedang debat dengan Doni, dan Doni mau mengambil Salman" ucap Bu Ros sembarangan karena Dia juga tidak sabar untuk menanyakan pembicaraan mereka berdua tadi.


"Hussh,Kamu ini ngomong apa sih Bu, kalau Salman di ambil Doni beneran memangnya Kamu mau, " 


"Ya gak mau lah, enak saja Mereka mau enaknya saja,sudah gak mau momong Salman, ini dengan seenaknya mau mengambil Salman, ya langkahin dulu dong utinya Salman "ucap Bu Ros ketus.


"Lagian Kamu ini, ada-ada saja yang di bicarakan"ucap Pak Anto.


"Lagian Bapak sih pake acara ngajak Ibu ke belakang segala, apa salahnya sih kalau kita ikut nimbrung pada pembicaraan mereka tadi,kita juga orang tuanya loh"


"Tapi ini masalah rumah tangga Mereka Bu ,Ibu ini kenapa sih" 


"Sudahlah Pak, itu Riri juga mulai redah nangisnya,Ibu mau nyamperin Riri saja,nunggu Bapak kelamaan"ucap Bu Ros tanpa memperdulikan suaminya,Dia langsung melangkahkan kakinya  ke arah Riri berada sedangkan Pak Anto langsung ikut menyusul langkah kaki sang istri.


Sebenarnya Riri saat ini menangis bukan perihal Doni, melainkan Dia saat ini menangis perihal kecewa terlalu percaya pada cinta, dan menyesali setiap apa yang terjadi.


"Sudahlah Nak,tidak usah di pikirkan lagi, ini sudah jalan dari Tuhan"ucap Bu Ros sambil berulang kali mengelus bahu sang anak, karena saat ini Riri masih sesenggukan.


Lalu Riri mengusap air matanya dengan kasar yang ada di pipi dan mulai berkata dalam hati untuk menguatkan dirinya sendiri.


"Riri Kamu kuat,Kamu tidak lemah, janganlah menangis hanya karena laki-laki badjingan macam Doni,ingat hukum tabur tuai itu ada,Kamu harus kuat tidak boleh terpuruk, ada Salman yang membutuhkan Kamu"ucap Riri dalam hati dan Dia berulang kali menghembuskan nafas panjang untuk menstabilkan emosinya.


.....


"Kamu sudah tenang nak" tanya Bu Ros.


Sedangkan Riri hanya menjawab dengan anggukan pelan.


"Kamu sudah siap untuk menceritakan apa yang telah terjadi tadi saat ada Doni disini" tanya Bu Ros dengan lembut sambil merapikan rambut Riri yang berangtakan menggunakan sisir dan menyisir dengan lembut.


"Siap Bu" ucap Riri, lalu Dia membalikkan badannya  berhadapan dengan sang Ibu.


Riri mulai membuka mulutnya dan menceritakan  kejadian yang ada di Rumahnya tanpa terlewat sedikit pun,begitu pula perihal Doni yang meminta uang padanya karena harus menggati uang cicilan Motor, membuat Bu Ros dan Pak Anto mengepalkan tangannya dengan kuat sehingga terlihat buku jari di tangannya.


Begitu pula dengan Pak Anto, Dia bersumpah akan membuat hidup Doni seperti dulu lagi sebelum Dia menikah dengan Riri,niat Dia sudah bulat untuk membuat Doni menyesal, seperti Doni akan di turunkam jabatan di pabrik seperti sedia kala, karena percuma juga jabatan tinggi tapi anaknya tidak menikmati.


"Ketika Kamu tau yang akan terjadi seperti ini, Apa Kamu siap untuk menyandang status janda"tanya Pak Anto sambil menatap bola mata Riri dengan tajam.


"Bahkan Riri saat ini sangat siap""Bahkan saat ini Riri sangat yakin untuk vercerai dengan Mas Doni dan memulai lembaran baru lagi"ucap Riri dengan sangat mantab sehingga membuat lega hati kedua orang tuanya.


"Benar, yakin ,seratus persen yakin"ucap Pak Anto dengan diiringi dengan candaan, sebab Dia takut anaknya nanti ternyata berubah pikiran, namun ketakutannya salah, Riri tidak berubah pikiran sama sekali setelah bertemu dengan Doni, bahkan menjadi semakin mantab keputusannya.


"Ishh, Bapak ini apaan sih" ucap Riri dengan memanyunkan bibirnya layaknya anak kecil.


"Terus tadi pas Doni meminta Kamu uang, lalu Kamu kasih"tanya Bu Ros sebab Riri belum sempat menceritakan dengan detail perihal uang yang di minta Doni.


"Ya Riri berikan Bu, lagian uangnya juga sudah teŕpakai hampir separuh untuk keperluan di Rumah Mas Doni" ucap Riri jujur, sebab memang nyatanya uang untuk pembayaran cicilan motor terpakai untuk biaya sehari-hari,kebetulan bebarengan dengan itu juga terpakai untuk berobat Salman, serta kebetulan diapers juga habis.


"Kamu yang kuat ya Ri, InsyaAllah akan ada pelangi setelah hujan badai" ucap Bu Ros sambil merangkul anaknya.


"Iya Bu, Insya Allah Riri kuat," jawab Riri.


"Riri janji, ini adalah hal terbodoh yang pernah Riri lakuin" 


"Iya Ri, Kamu harus kuat,ingat ada Salman yang membutuhkan Kamu,Insya Allah Salman tidak akan kekurangan kasih sayang,Bapak dan Ibu selalu ada untuknya"ucap Bu Ros sambil terus merangkul anaknya.


..........


"Bapak makin gedek deh Bu,lihat Doni itu, lagian gaji Dia juga nominalnya gede,masih saja kurang"ucap Pak Anto sambil menggelengkan kepalanya menerawang jauh saat Dia meminta bantuan pada temannya agar Doni di beri jabatan lebih tinggi, supaya perekonomian anaknya semakin baik,nyatanya Doni mengecewakan Pak Anto.


"Kalau menurut Ibu Sih, mending Bapak hubungi saja teman Bapak, agar Dia mau menurunkan jabatan Doni, cari dong kesalahan Dia apa, kalau bisa pecat saja sekalian, lagian ngapain juga dulu Bapak susah-susah untuk meminta tolong,kalau kenyataannya saat sudah enak, anak Kita tidak menikmati sama sekali"sahut Bu Ros semakin benci pada sosok Doni tersebut,andai tadi Dia di beri izin oleh sang suami untuk menemani Riri kala tadi, pasti saat ini Doni akan habis di tangan Bu Ros.


"Ya tidak semudah itu Bu, lagian kinerja Doni juga bagus di perusahaan,bahkan Dia menjadi karyawan teladan di perusahaan" jelas Pak Anto, memang kenyataannya Doni sangat teladan di perusahaan.


"Ya kali Pak,sekarang Doni sudah tidak teladan lagi" jawab Bu Ros,sedangkan Riri sedari tadi hanya Diam menyimak pembicaraan antara kedua orang tuanya.


"Oh iya Pak, tadi pas Ibu belanja di warung depan,Ibu ketemu sama Bu Sari," ucap Bu Ros ingin menceritakan pengalamannya saat berbelanja do warung tadi.


"Bu Sari istri Kepala Desa sebelah" ucap Pak Anto sambil mengingat-ingat nama itu.


"Iya Pak,langganan kita sayur organik"


"Oooh, terus kenapa Bu" tanya Pak Anto,sebab tidak biasanya Dia membicarakan soal orang lain, karena Pak Anto dan Bu Ros paling anti bergosip.


"Ya tadi Pak, saat Ibu sedang Asyik memilih sayur, Bu Sari bercerita pada Ibu tentang Bu Lastri ,besan kita" 


"Memangnya kenapa Bu"jawab Pak Anto sambil mengernyitkan dahinya, sebab tidak biasanya Bu ros sangat antusias seperti ini.


Flash back on


Saat Bu Ros sedang asyik memilih sayur dan beberapa cabe yang masih segar untuk di jadikan sambal, sebab walaupun sang suami di ladang sering memanen cabe atau sayur lainnya, bahkan jarang Bu Ros di bawakan pulang sayur oleh sang suami, itulah sebabnya Dia  sering berbelanja sayur di warung.


"Eh Bu Ros ,milih cabe Bu" ucap Bu Sari saat berpapasan dengan Bu ros.


"Eh iya Bu, ini kebetulan Suami sedang ingin makan sambal hijau Bu, pake ikan asin" jawab Bu Ros tetap memilih cabai tapi sesekali Dia menatap lawan bicara.


"Emmm enak Itu Bu,itu juga kesukaan suami saya, Bahkan sangat lahap jika saya memasak itu"


"Oh ya Bu, apa lagi Pake nasi anget Bu" jawab Bu Ros.


"Bagaimana usaha Ibu di kota"


"Alhamdulillah Bu Ros,usaha saya berkembang pesat,bahkan suami Ibu sampai kuwalahan Loh dalam mengirim stok sayur organik,biasanya yang ngirim anaknya itu si Husni"


"Alhamdulillah Bu, saya ikut senang, Kalau si Husni itu anak angkat Saya Bu, karena Ketekunan Dia dan lamanya ikut kerja sama Suami ,bahkan Saya lupa kalau Husni itu anak orang lain Bu,saking sayangnya Saya sama Dia"


"Ooohhh,lagian Husni sangat cocok Bu jadi anaknya Ibu dan Pak Anto"


"Iihhh,Bu Sari ini bisa saja"


"Loh benar Bu,Saya gak mengada-ada sama sekali,"


"Jadi anak Bu Ros ini cuma satu yang jadi menantu Bu Lastri itu"sambung Bu Sari.


"Iya Bu, hanya Riri anak Saya."


"Eh Bu Ros,dengar-dengar Rumah tangga Riri dan Doni bermasalah ya, maaf ya Bu,tapi sering menjadi gosip diantara Ibu arisan,apalagi mengenai Lastri,bahkan Ibu-ibu arisan selalu mencari kesalahannya"


"Maksud Bu Sari apa,Ibu kenal dekat dengan Bu Lastri"ucap Bu Ros mencoba mencari tau tentang besannya,sedangkan perihal Rumah tangga Riri kini sudah menjadi rahasia umum di kalangan Masyarakat.


"Halahhh Bu Ros,kalau cuma Lastri saja bahkan Aku sudah kenal sampai dalamnya,orang yang gayanya selangit itu,seolah tidak ada yang bisa menandinginya,padahal Dia hanya rempeyek bagi kalangan Ibu-ibu seperti Saya"


"Maksud Bu Sari,Saya tidak mengerti"sahut Bu Ros memang Dia tidak pernah tau tabiat sang besan.


"Iya Bu,besan Ibu itu gayanya selangit, Dia tidak mau kala kalau soal penampilan dan perhiasan,bahkan setiap belanja di Mall bareng grup Saya Bu,Dia selalu membeli apa saja yang dia inginkan, entah Dia pakai uang siapa,Saya bukannya iri ya Bu Ros,tapi Saya kasihan sebab yang kerja di rumahnya hanya menantu Bu ros saja"


"Ya bukan salah Riri kalau Dia sampai meninggalkan Rumah,paling juga karena uang belanja kurang karena selalu di ambil Lastri"sambung Bu sari.


Sedangkan Bu Ros hanya menganga tidak percaya apa yang telah di ceritakan oleh Bu Sari, sebab selama ini saat bersamanya tampilan Lastri layaknya seperti orang biasa, namun Dia juga sempat dengar selentingan kabar jika besannya sering ikut arisan sosialita para pejabat yang tidak sepadan dengannya.


"Entahlah Bu sari,Saya juga tidak bisa menjelaskan,Biarlah Ini menjadi masalah anak-anak,Saya sebagai orang tua hanya mengawasi saja, tanpa mau ikut campur"ucap Bu Ros dengan santun.


"Tapi Bu,Saya beritahu sebaiknya Ibu hati-hati dengan Lastri,Dia sangat Licik"


Flash back off.