Dianggap Remeh Setelah Melahirkan

Dianggap Remeh Setelah Melahirkan
bab 36


Sungguh hari ini adalah hari yang sangat menguras banyak tenaga dan pikiran, sehingga membuat doni merasakan lapar yang teramat sangat, setelah membersihkan badan, dia segera melangkahkan kakinya ke arah meja majan untuk mengisi perutnya yang mulai keroncongan sejak tadi.


Namun saat dia membuka tudung saji alangkah terkejutnya dia saat melihat pemandangan di depannya, tidak tersedia makanan sama sekali,bagaimana mungkin saat dia kecapean pulang bekerja namun tidak ada yang melayani kebutuhannya,  membuat dia teringat pada sosok Riri istrinya yang selama ini selalu menyediakan kebutuhannya, bahkan makanan saja riri yang mengambilkan, baju yang selalu terlipat rapi, sepatu yang selalu kinclong membuat dia merindukan sosok istrinya.


"Apakah aku jemput saja riri, lama- lama aku juga capek kalau seperti ini terus , di kejar lesing, kebutuhan diriku terbengkalai, makan jadi gak teratur" guman doni lirih saat dia duduk di meja makan sambil kepala berpangku pada tangannya meratapi kejadian demi kejadian saat Riri sudah tidak ada.


"Apa aku jemput riri sekarang ya, lagian jarak antara rumah, dan mertuaku juga deket, paling cuma sekitar satu jam, dan ini juga masih belum  terlalu malam"  ucap doni sambil melihat jam dinding yang menempel di tengah ruangan.


"Lagian Riri juga jadi istri gak becus kayak anak kecil , suami ngomong gitu aja di masukin hati, tanpa berpikir lebih dulu main tinggalin aja " ucap Doni kesal dan semakin menunjukkan sifat egoisnya.


Setelah sekian lama berfikir dan kemudian juga saat ini rumah sedang sepi jadi Doni bisa berfikir jernih dan akhirnya Doni memutuskan untuk menjemput Riri, dia segera bersiap ke kamar untuk mengambil jaket dan helmnya.


Segera Doni memakai perlengkapannya dan mengambil kunci motor, namun belum juga dia menstarter motor kesayangannya tiba- tiba dia di panggil oleh suara yang sangat familiar, yaitu suara ibunya.


"Don, doniiii kamu mau kemana" teriak bu lastri dari arah utara sambil menentang beberapa buah paper bag jadi bisa di pastikan kalau bu lastri baru saja memborong di pusat perbelanjaan.


Doni yang kesal melihat tingkah ibunya hanya mampu beberapa kali membuang nafasnya dengan kasar untuk menetralisir rasa kecewa dan marah di dadanya, bagaimana bisa tadi ibunya mengeluh tidak punya uang eh mala sekarang dia bisa memborong banyak belanjaan sedangkan saat ini hati doni sedang kalut memikirkan uang untuk mmebayar cicilan motor yang sudah jatuh tempo.


"Ibu dari mana aja sih, sudah tau malam mala gak segera pulang" ucap doni dengan kesal.


"Kamu ini jangan durhaka loh don sama orang tua, sudah tau ibunya baru pulang bukannya di bantuin eh mala di marahin"ucap bu lastri tanpa dosa sambil berjalan dengan santai ke arah doni dan segera memberikan doni beberapa paper bag agar doni ikut membantu membawanya.


"Nih cepat ambil, bantuin ibu buat angkat dan bawah masuk ke dalam kamar" ucap bu lastri cepat sebab dia saat ini memang sudah dalam keadaan yang sangat lelah sehabis berkeliling dari pusat perbelanjaan di kota.


Walaupun saat ini hatinya sangat dongkol pada ibunya namun dia juga tidak bisa membiarkan ibunya kesusahan, akhirnya mau tak mau Doni mengambil paper bag pemberian sang ibu lalu berjalan mengikuti langkah bu lastri ke arah kamar bu lastri.


"Ibu dari mana aja sih sudah tau aku baru pulang kerja , eh mala ibu gak ada, sudah gitu gak ada makanan lagi, Doni kan capek dan laper bu sehabis kerja" ucap doni mengeluh pada ibunya.


"Halaaa don, kamu ini apa- apain sih kayak bocah cilik saja, lah kamu kan sudah besar seharusnya tau dong kalau gak ada makanan ya inisiatif kek, beli makan di luar atau buat mie instan pake telur lagian di dalam kulkas juga banyak stok makanan instan kok don, kamu aja yang manja " gerutu bu lastri kesal sebab bari datang anaknya sudah memberondong dengan banyak pertanyaan padahal saat ini dia sangat kecapean.


"Memangnya ibu barusan dari mana katanya gak punya uang kok mala belanja seginu banyaknya" ucap doni sambil matanya menatap manik mata ibunya dengan tajam sebab dia sedari dulu paling tidak suka jika di bohongi.


"Memang salah  kalau ibumu ini bersenang- senang untuk sekedar menikmati hari tua ibu,ap kamu tidak ridho don jika uang kamu ibu pakai untuk sedikit bersenang- senang " ucap bu lastri dengan tajam yang mampu menusuk hati doni karena dia di anggap tidak becus dalam mengurus ibunya.


Doni langsung salah tingkah saat ibunya mala berfikir tidak baik pada dirinya.


"Ya bukan gitu bu, ibu tau sendiri kan kalau saat ini kondisi keuangan doni tidak stabil bahkan pihak lesing sudah berulang kali menelvon doni menanyakan kapan cicilan motor di bayarkan" ucap doni dengan nada rendah berharap ibunya mau mengerti dan kalau bisa ibunya mala membantu sebab dia mempunyai filing kalau ibunya saat ini mempunyai banyak uang atau tabungan yang bjsa membantunya saat ini.


"Lagian kamu sih don, sudah tau ibunya baru saja pulang bukannya di sambut dengan baik mala kamu berondong dengan berbagai macam pertanyaan" ucap bu lastri ketus.


"Iya iya bu maafin doni,ibu bisa belanja segini banyaknya dapat uang dari mana , apakah ibu baru saja menang arisan " tanya doni antusias.


"Menang arisan gondolmu itua don, ya beginilah kalau seorang perempuan sudah lama tidak memanjakan matanya , jadinya kalap deh." Ucap bu lastri dengan bangganya sambil membuka satu persatu paper bag yang baru saja dia beli.


"Terus ibu dapat uang dari mana, apakah ibu mempunyai banyak tabungan, terus sisa uangnya masih ada" tanya doni selembut mungkin pada ibunya sebab saat ini dia juga sadar bahwa barang belanjaan ibunya bukanlah barang murah jadi tentu dia mempunyai fikiran jika ibunya mempunyai banyak tabungan.


"Ters tabungan mana yang kamu maksud don, wong ibu saja kamu beri uang pas bahkan kurang kok kamu mala nanyain tabungan, dasar kamu don gak bisa mikir"


"Lah terus ibu dapat uang dari mana"


"Ibu membayar semua ini dari uang yang kamu beri kemaren dan  sisanya ibu menggunakan kartu kreditmu, percuma punya kartu kredit gak di gunakan" ucap bu lastri santai tapi berbeda dengan ekspresi  doni yang mendadak lemas sebab selama ini dia tidak berani pake kartu kredit takut biaya cicilan .


Deg deg deg seakan jantung doni berhenti berdetak.


"Terus tadi kamu mau kemana kok pake jaket dan helm, lah terus sekarang kamu ngapain masih disini kalau mau pergi" tanya bu lastri keheranan sebab tidak biasanya anaknya kalau sehabis pulang kerja bepergian jauh kalau pun ingin krlhaf rumah pastinya hanya je mini market terdekat saja tanpa harus memakai perlengkapan jaket dan helm.


"Doni tadi berniat ingin menjemput Riri bu"