Dianggap Remeh Setelah Melahirkan

Dianggap Remeh Setelah Melahirkan
bab 23


"Plaaaaaak" seketika riri menangis dengan air mata sangat deras. 


"Sudahlah ri kamu jangan kebanyakan mengeluh di depan suami itu gak baik, sekarang mas tanya sekali lagi, mas ingin minjam uang" 


"Gak ada mas"ucap riri sambil memegang pipi yang saat ini terasa nyeri dan panas menggunakan tangannya 


"Kamu jangan bohong, bilang aja kamu pelit sama suami sendiri, ingat ri surgamu di bawah kaki ku" 


"Sudahlah mas, percuma juga aku ngomong sama kamu, memang saat ini kenyataanya tidak ada, mau kamu tanya sampai besok pun tetap gak ada " ucap riri sambil menangis dan dia segera meninggalkan doni di dapur sendirian . 


Riri segera melangkahkan kakinya ke arah kamar tidur ingin menumpahkan semua keluh kesa saat ini, bagaimana bisa Doni laki- laki yang selama ini dia cintai tega melakukan kekerasan padanya, di tambah lagi dia cukup kecewa sebab diam- diam Doni selama ini ternyata membohonginya dari segi keuangan.


Riri menangis dengan sesenggukan di sisi pojok ranjang menumpahkan semua kekesalan hatinya, dia langsung berbaring dan merangkul tubuh salman sang penguat hatinya, sampai tidak terasa dia tertidur menjelang shubuh.


Sayub- sayub terdengar suara adzan shubuh yang mampu membangunkam riri dari tidurnya.


Dia segera bangkit dari ranjangnya dan pergi  ke kamar mandi untuk melakukan wudhu dan melaksanakan kewajibannya. 


.....


Selesai bermunajat kepada sang khalik gegas ku kemasi mukena dan sajadah ku , kulihat salman masih tertidur pulas  ,segera kucium pipinya aku bangga mempunyai seorang anak yang pengertian. 


"Alhamdulillah ya Allah kau beri aku putra yang sangat pengertian akan keadaan ibunya ,kaulah penguat dan penyemangat bagi ibumu nak  " guman ku dalam hati. 


Lalu ku langkahkan kaki ini menuju dapur , perlahan ku buka pintu kulkas tenyata tidak ada sama sekali bahan persediaan makanan hanya tersisa dua butir telur , dan tidak ada sayuran pun sama sekali , ku lihat di laci ada banyak tepung terigu. 


" apa aku masak telur dadar campur tepung aja ya , kalo pun belanja aku takut nanti uang gak cukup sampai akhir bulan , perihal sayurnya nanti biar aku memetiĺ daun kelor di belakang rumah saja " gumanku  dalam hati , segera aku  menuju belakang rumah untuk memetik daun kelor untuk di jadikan sayur , dengan lihainya tangan ku memotong bawang diiris tipis sebagai campuran penyedap untuk telur dadar dan sayur bening , setelah semua masakan siap segera ku sajikan di meja makan dan tak lupa membuat sambal sebagai pelengkap makanan. 


" akhirnya ya allah selesai juga " guman ku dalam hati. 


Aku yang saat ini tengah menyusui dan sangat lapar di memutuskan untuk makan dahulu dan membawa makanan tersebut ke kamar sambil mengecek ponsel kali aja ada pesan yang membawa rezeki. 


Saat aku melangkah menuju ke arah kamar ku lihat mas doni yang masih memainkan ponselnya dia sesekali dia tersenyum gak jelas saat menatap ponsel , sebenarnya hati ku sakit namun aku segera menepis semua rasa itu karena sekarang tidak cukup penting yang penting sekarang adalah bagaimana caraku agar tetap waras dalam mengasuh salman. entah apa yang membuatnya seakan menjauhiku dan menjaga jarak denganku, aku tidak terlalu memperdulikan sikapnya yang penting aku sudah melakukan tugasku menjadi istri yang baik, urusan sikapnya aku gak mau tau. 


Segera aku masuk kamar dan mengambil ponsel di atas nakas lalu duduk di samping ranjang sambil menyuapkan makanan kedalam mulut dan memainkan ponsel, ku buka aplikasi berlogo telepon warna hijau , tak lupa ku aktifkan data seluler ,sebab semenjak aku tak lagi bekerja aku hanya mengaktifkan data seluler di saat tertentu saja untuk penghematan paket internet.


.....


Di lain tempat saat ini bu fatmah terus saja menggerutu karena ula sang menantu yang terus saja makan makanan tak bermutu menurutnya.


Bu fatmah sama seperti biasanya selalu saja mengeluh dan mengadu pada doni anaknya sehingga terjadilah konflik yang mampu membuat riri marah dan pergi meninggalkan rumah doni.


Saat berada di dapur terlihat ibu mertua dengan ekspresi geramnya dan  melihat riri dengan tajam seolah ingin menerkam, begitu juga dengan Doni.


"Ri, maksud kamu itu bagaimana sih, aku ini kerja capek, tiap hari kamu masak gak becus"ucap doni dengan penuh emosi


"Mangkanya jadi istri yang bener jangan korupsi uang suami aja " timpal bu fatmah berusaha mengompori doni.


" mas aku juga inging masak seperti dulu lagi, tapi apa boleh buat keadaan tak memungkinkan, uang kita gak cukup mas" jawan Riri memberi pengertian pada suaminya.


"Kamu bilang gak cukup Ri, iya" ucap doni dengan penuh emosi dan nada tinggi.


"Harusnya kamu jadi istri yang pintar mengatur keuangan agar kita selalu bisa hidup sehat, gak seperti ini tiap hari makan gak bergizi" 


"Mas, apa kamu pernah menanyakan cukupkah aku uang segitu untuk kebutuhan sebulan, belum lagi cicilan motor kamu,bayar listrik,air ,kebutuhan salman,kebutuhan dapur" jawab riri.


"Sudahlah ri kamu jangan ngeles bilang aja uangnya kamu pakai untuk kirim ke orang tuamu"ucap bu fatmah yang mampu membuat riri naik pitam. 


"Jangan bawah- bawah nama orang tuaku dalam permasalahan sepele ini" ketus riri pada ibunya.


"Ya itulah lkamu lihat sendiri kan don kelakuan istrimu bisa aja jawab" 


"Riri hanya membela bu, " 


"Ya karena orang tuamu mangkanya kamu bela, mangkanya jangan sok sokan pake fasilitas nomer satu di rumah sakit , toh ujung- ujungnya juga pasti menyusahkan anakku, miskin saja belagu , " 


Sedangkan doni saat ini diam saja karena sudah menyangkut rumah sakit dan membuat riri semakin geram terhadap suaminya dan disisi lain Doni juga takut kedoknya akan terbongkar jika ikutan bersuara.


"Bu, cukup ibu hina keluarga ku, "bentak riri karena dia tak sanggup jika mendengar keluargany dihina.


Riri langsung menoleh ke arah suaminya dengan tatapan tajam jujur saja dia geram, dia ingin mengungkap semua kebenaran namum dia masih berbaik hati untuk menutupi suaminya.


"Plaaaakkk" seketika tamparan mendarat di pipi riri untuk kedua kalinya setelah kejadian tadi malam membuat riri semakin muak pada suaminya.


"Ri, berani kamu membentak ibuku ri, apa kamu lupa jika dia orang tuaku, jika kamu mulai besok masih terus memasak seperti ini , mas akan memotong jatah bulanan untukmu" ucap doni dengan penuh amarah, namun riri hanya tersenyum sinis mendengar ucapan suaminya.


" terserah kamu mas, mau kamu potong atau gak kamu nafkahin pun gak papa"ucap riri karena jujur hatinya saat ini sangat capek.


"Sok- sokan gamau dinafkahi padahal butuh banget, emang kamu mau dinafkahin orang tuamu" sindir bu fatmah yang membuat riri semakin marah