Dianggap Remeh Setelah Melahirkan

Dianggap Remeh Setelah Melahirkan
Tertangkap Basah


"Sudahlah Doni, percuma saja Kamu berusaha untuk mengelak apa yang telah Ibu ucapkan, Kami tau kalau Kamu itu berbohong"ucap Mila sambil menatap tajam sang adik, begitu juga Lastri, Dia semakin pusing dan banyak pikiran berkecamuk di dalam otaknya, apalagi saat ini Mila ternyata sudah mengetahui masalah Doni, tentu saja pastinya berita ini sudah tersebar ke penjuru kampung.


"Mbak ini bicara apa sih, Mbak Mila tolong deh jangan tambah mengompori Ibu agar semakin memojokkanku, lain kali kalau gak ada bukti jangan asal fitnah."ucap Doni dengan nada sinis, walaupun sebenarnya di hati dan fikirannya sangat tidak karuan.


"Ooohh Kamu mintah bukti ya Don, nihhh Kamu lihat vidio ini siapa yang ada didalam vidio ini, bisa-bisanya ya Kamu ini melemper kotoran di keluarga kita, masalah rumah tangganya gak di selesaikan dulu, mala main sama cewek lain, apalagi ceweknya masih jauh di atas Riri, gak tau malu, dan kalau sampai ini ketahuan dengan Riri bisa-bisa Dia mala bahagia karena melihat selera suaminya ternyata rendahhh"ucap Mila sangat kesal, walaupun sebenarnya Dia tidak menyukai Riri tapi Dia juga tidak bisa membenarkan sikap adiknya yang tidak mau menyelesaikan masalah keluarganya terlebih dahulu, mala mau cari masalah lagi.


Sedangkan Doni langsung mengambil ponsel milik Mila dengan kasar dan mulai terfokus dengan apa yang ada di layar ponsel tersebut, sebuah vidio singkat dirinya dan Alma saat berada di kedai Bakso ,dan seketika itu juga Doni langsung lemas lunglai, Dia takut menghadapi ocehan Ibunya dan Kakaknya saat ini yang pastinya akan berujung panjang.


Begitu pula dengan Lastri, Dia semakin marah saat anaknya mempunyai vidio milik Doni, dan yang pasti saat ini seluruh kampung mengetahui perilaku Doni, sebab Lastri berfikir jika saat ini tentunya Mila tau dari uanggahan grup watsap.


"Terus sekarang Kamu mau ngelak Don, kurang jelas apa itu bukti" ucap Mila sambil menatap tajam ke arah adiknya yang saat ini sedang di landa ketakutan.


"Mbak, mbak jangan asal nuduh deh, itu bisa saja editan loh,jangan sembarang asal nuduh" Doni berusaha mengelak membela dirinya, sedangkan Lastri yang sedari tadi hanya Diam saat ada ketangan Mila, Dia ingin tau respon kejujuran Doni.


"Eh Doni,bisa-bisanya Kamu dengan entengnya bilang kalau ini hanya editan, bahkan Marni dan Rere yang melihat Kamu secara langsung,"Lastri langsung bersuara karena terlalu geram melihat Doni.


"Bu,bisa saja kalau mereka iseng ngedit"


"Sudahlah Doni, mending sekarang Kamu ngaku saja, percuma buktinya sudah ada dan nyata, asal Kamu tau ya, Ibu sangat Malu melihat kelakuan Kamu, bahkan Ibu sampai di gunjing seluruh Ibu kampung"ucap Lastri dengan menggebu sedangkan Dia hanya bisa membelalakkan matanya, tidak menyangka jika ternyata sang Ibu telah di perlakukan sejauh ini.


"Kamu ini malu-maluin banget, urusan rumah tangganya belum selesai,mala main api sama wanita lain"ucap Mila dengan kesal, walaupun Dia tidak menyukai Riri namun Mila juga sangat membenci yang namanya perselingkuhan.


"Don, Kamu kalau mau nyari wanita lain selesaikan dulu rumah tangga kamu" ucap Lastri menimpali perkataan Mila.


"Iya nih, malu-maluin saja, selingkuhannya juga dibawah Riri jauh diiiiihhhhh" Mila berkata sambil mencebik dan menatap sinis pada Doni, sedangkan Doni hanya mampu menunduk tidak mau lagi berbicara sebab saat ini Dia memang sudah tertangkap basah.


"Ibu malu Don, bagaimana semua orang gak mencebik Ibu, masalah rumah tangga Kamu saja menjadi perbincangan hangat di masyarakat, Kamu mala menambah dengan masalah perselingkuhan"


"Ya terus Doni harus bagaimana Bu, ingin mengejar Riri pun Ibu gak ngizinin, dan sekarang Doni malah di salahkan lagi"ucap Doni frustasi sambil mengacak rambutnya dengan kasar.


Dan Lastri merasa tersentil hatinya,sebab selama ini Dialah yang melarang Doni untuk menemui Riri dan anaknya, karena Lastri merasa jika Riri selama ini bucin dengan Doni pasti juga nantinya Dia akan kembali lagi ke rumah ini, tidak perlu di jemput.


"Terus Doni harus bagaimana Bu, pusing Doni mikirinnya, seolah hidup Doni ini selalu di dalam kendali Ibu"


Tanpa memikirkan Ibu dan Mbaknya, Doni langsung pergi melangkahkan kakinya ke arah belakang rumah, kebetulan di belakang rumah ada tempat duduk di bawah pohon yang rindang sehingga mampu untuk menenangkan diri sesaat.


 Hingga tanpa di sadari sebab pikiran yang sangat kalut, membuat Doni tidak sadar jika dirinya sampai menghabiskan lima batang rokok, sedangkan Antok kakak ipar Doni sedari tadi memperhatikan gerak geriknya yang tak biasa,ingin sekali Anton menghampiri Doni namun Dia takut mengganggu ketenangannya,sebab Anton sempat mendengar percek-cokan di rumah mertuanya, hingga saat dirasa Doni sudah mulai membaik Anton memberanikan diri untuk menghampiri Doni.


"Kamu kenapa Don, ini sudah mau magrib loh, gak baik berada di petarangan menjelang petang" ucap Anton sambil menepuk bahu Doni, sedangkan Doni langsung tersengak kaget.


"Ya ampun Mas, untung saja Doni gak jantungan"


"Kenapa Kamu sedari tadi mas perhatikan kok kayak bingung gitu"


"Ya begitulah mas" jawab Doni dengan menghembuskan nafas kasar.


"Kenapa, ada masalah dengan pekerjaan Kamu, ya mau bagaimana lagi Don, namanya juga kerja ikut orang"jawab Anton berusaha menebak nebak apa masalah dari sang Adik.


"Bukan masalah pekerjaan Mas, ini masalah rumah tanggaku" ucap Doni sambil terus menghisap rokoknya dan memandang lurus ke depan, sedangkan Anton langsung mengerti jika memang ini kesalahan sang Adik yang tidak mau menjemput sang istri.


"Jemputlah istri Kamu itu Don, sudah berapa hari Dia gak mau pulang, kalau ada masalah ya di omongkan baik-baik, namanya juga rumah tangga gak bisa jika keduanya ikut egois"ucap Anton selembut mungkin berharap pemikiran sang Adik bisa terbuka, sebab Dia sangat geram dengan sikap Doni yang tidak punya pendirian.


"Tapi Mas, bagaimana bisa menjemput sedangkan Ibu gak ngizinin Doni untuk menjemput Riri, " 


"Yang berumah tangga itu Ibu atau Kamu Don"tanya Anton dengan geram,sedangkan Doni hanya bisa tak menjawab entah apa yang sedang Dia pikirkan.


"Aku gak bisa bertindak Mas, jika Ibu gak ngizinin"


"Ya itulah kebodohan Kamu, seharusnga sebagai lelaki punya pendirian,bukan selalu ngikut Ibumu, memang sebagai anak sepatutnya untuk nurut pada orang tua, tapi gak selamanya kita harus mengikuti kemauan orang tua itu Don, kalau selamanya seperti ini, maka selamanya kamu gak akan pernah bisa merasakan pilihan hidup, ingat rumah tangga Kamu yang akan jadi taruhannya, apa Kamu gak kasian lihat Salman anak Kamu yang jadi korban, lelaki adalah pemimpin dalam rumah tangga, jika Kamu tidak bisa memimpin ya beginilah jadinya, begitu pula dengan Riri istrimu,sebenarnya Dia bukan tidak mau pulang, tapi karena sang imam sudah mengusirnya dan tidak memintanya untuk kembali jadi ya istrimu gak akan kembali" ucap Anton panjang lebar sedangkan Doni sedari tadi hanya merenung.


"Pikirkan omongan mas barusan jika ingin rumah tangga selamat" ucap Anton sambil pergi berlalu meninggalkan Doni.