
Bu Ros saat itu baru saja pulang dari rumah tetangga yang mengadakan hajatan dia terperangah saat melihat kehadiran Riri anaknya di teras rumah, apalagi dia sendirian menggendong cucunya, dia dengan cepat segera melangkahkan kakinya untuk menghampiri sang anak.
"Ririii" panggil Bu ros saat sampai di gerbang rumah, sedangkan Riri sendiri langsung menoleh ke arah sumber suara yang sangat di kenali, dan langsung bangkit untuk menyambut ibunya.
" ibuuu" jawab riri, dia langsung mengambil tangan ibunya dan mencium punggung tangan sang ibu.
"Kamu sama siapa nak, kemana Doni" cecar Bu ros sebab dia saat ini juga kebingungan apalagi saat bola matanya menangkap dua koper besar yang berada di teras rumah.
"Emmm bu, biarlah Riri masuk duluh dan mengistirahatkan salman dan juga riri ingin istirahat bu, nanti saja kalau sudah waktunya pasti akan Riri ceritakan" ucap Riri memohon pada ibunya ,sebenarnya dia belum siap untuk menceritakan kepada sang ibu.
"Ya sudah kamu masuk dulu nak, kasian Salman" ucap Bu ros sambil membuka pintu dan dia segera emmbantu Riri memasukkan koper ke dalam rumahnya.
"Kamu tadi naik apa nak"
" Riri tadi kesini menggunakan taksi online Bu, jadi aman untuk cucu ibu" jawab Riri.
"Ya sudah kamu istirahat dulu nak di kamar, ibu mau masak dulu ya " ucap bu ros lalu segera meninggalkan Riri yang berada di kamarnya, walaupun sebenarnya di hatinya ada rasa penasaran yang cukup mendalam tentang apa yang membuat sang anak pulang sendirian ke rumah ini, namun dia segera menepis rasa itu sebab dia sabar pasti saat ini anaknya sedang ingin sendiri dan tidak ingin diganggu.
Sedangkan pak anto sekarang sedang tidak ada di rumah sebab dia mengurusi salah satu ladangnya yang saat ini sedang panen jagung, jika hanya mengandalkan para pekerja saja pak anto merasa kurang puas sehingga dia selalu ikut turun tangan, sebenarnya tadi Bu ros ingin menemani suaminya ke ladang namun karena terkendala ada undangan hajatan maka dia tidak bisa ikut.
Bu Ros segera melangkahkan kakinya ke arah kamar untuk mengambil dombet sebab dia ingin pergi ke warung bu tuti yang berada di depan gang untuk membeli beberapa keperluan untuk di masak, sebab semenjak Bu ros dan Pak anto hanya tingga berdua saja mereka tidak pernah menyetok bahan makanan takut menjadi basi, dan mereka berdua juga lebih sering makan di luar sebab jika masak ujung- ujungnya banyak makanan yang terbuang , ya begituh Bu ros selalu terbiasa masak banyak.
Dengan hati di rundu banyak rasa penasaran akhirnya dia harus meninggalkan Riri sendirian di kamar, dia segera melangkahkan kakinya keluar rumah , jarak antara rumah dan warung Bu tuti lumayan sekitar lima puluh meter dari rumah, namun Bu ros lebih suka untuk jalan kaki dengan alasan lebih sehat walaupun di rumahnya ada satu unit sepeda motor listrik namun dia lebih suka jalan kaki.
Sekitar kurang lebih sepuluh menit akhirnya Bu ros sampai di warung Bu tuti , walaupun sudah siang tapi warung bu tuti masih sangat ramai, barangnya juga lengkap dan masih fresh semua, sebab Bu tuti mengelolah warungnya dengan metode seperti di supermarket besar , setiap seafood, ayam, dan daging selalu dia timbang dan di kemas dengan cantik menggunakan strerofoam serta sayur yang selalu segar, membuat warung ini selalur ramai.
Bu Ros segera mengambil kerangjang belanja dan mulai memilih bahan apa saja yang di perlukan untuk memasak ,dia berencarana untuk memasak makanan kesukaan Riri anaknya yaitu capcay dan udang tepung , Riri sangat senang jika ibunya memasak itu bahkan dia bisa nambah sampai tiga kali jika memasak capjay dan udang tepung.
Dia segera ke arah tempat rak sayur, dia segera mengambil beberapa buah wortel,kol, brokoli,seladri. Lalu dia berjalan ke arah frezer frozen food untuk mengambil beberapa buah bakso dan sosis, lalu Bu ros berjalan ke arah frezer tempat penyimpanan seafood untuk mengambil udang, dan yang terakhir bu ros berjalan ke arah kasir dimana Bu tuti berada untuk membayar belanjaanya..
"Sudah ini saja bu, kok tumben ibu beli banyak, ada tamu bu" ucap Bu tuti dengan ramah , sebab dia sudah hafal betul dengan Bu ros yang tidak pernah menyetok bahan makanan bahkan dia kebih memilih untuk bolak balik ke warung dari pada stok banyak.
"Iya bu, soalnya anak kesayangan saya datang"jawab bu ros dengan sangat antusias.
"Ya mau bagaimana lagi bu, memang sudah jodohnga bu, kita sebagai orang tua juga gak bisa harus ngintilin anak terus, sebab dia sudah berkeluarga"
"Iya bu, saya juga terkadang sedih karena rindu pada anak saya" ucap bu tuti karena nasib antara bu tuti dan bu ros sama ,dia hanya memiliki satu anak perempuan dan setelah menikah lebih memilih untuk ikut suaminya dari pada menemani orang tuanya.
"Ya mau bagaimana lagi bu, ingat anak kita perempuan, surganya ada di suaminya ,"
"Iya bu, saya juga sadar, tapi ngomong- ngomong katanya Riri sudah punya anak bu"
"Iya bu tuti, cucu saya masih satu laki- laki namanya salman, umur sekitar jalan tiga bulan kalau gak salah bu, "
"Ya ampun kok saya sampai gak tau ya bu kalau riri lahiran"
"Ya kan memang riri tinggal sama mertuanya bu, jauh , jadi ya bu tuti gak tau" jawab bu ros dengan diiringi tawanya.
" jauhan anak saya bu, ibu mah bisa saja "
"Ya sudah ini semua berapa bu, kalau kota ngobrol saja gak kelar- kelar nanti, dan saya gak jadi masak sebab kecapean habis ngobrol sama bu tuti" gurau bu ros sambil menunjuk belanjaannya agar segera di total oleh bu tuti, memang kebetulan saat ini posisi warung gak begitu ramai jadi mereka bisa sedikit bersendah gurau.
" iya iya bu ini saya total" jawab bu tuti sambil menghitung belanjaan bu ros.
" semuanya jadi sembilan puluh ribu bu"
" ini uangnya" ucap bu ros sambil menyerahkan lembaran merah bergambar dua pahlawan pada bu tuti.
" iya bu, ini kembaliannya ," jawab bu tuti dengan menyerahkan lembaran uang berwarna ungu.
"Ya sudah bu, saya pamit dulu ya, permisi" pamit bu ros sambil mengambil keresek belanjaanya.
"Iya bu, terimah kasih telah berbelanja disini"