Dianggap Remeh Setelah Melahirkan

Dianggap Remeh Setelah Melahirkan
bab 1


" dasar menantu gak tau di untung, gak berguna , masak aja gak becus l, di kiranya Aku ini Kambing apa, di suruh makan hasil dari ngeramban" umpat Lastri mertua riri sambil membolak- balikkan makanan yang terhidang dimeja makan.


"Ririiiii, Ririiiiiii, cepat sini kamu, dasar menantu gak berguna " teriakan Lastri menggelegar seluruh isi rumah,Dia seolah tutup kuping tanpa mau melihat keadaan ,padahal saat ini Salman sedang tidur dan rumah juga bersebelahan dengan tetangga,Dia tak peduli itu semua, persetan dengan omongan tetangga.


sedangkan Riri yang saat ini sedang menyusui bayinya didalam kamar Dia tergopo-gopo kedapur mendengar teriakan dari ibu mertuanya, Dia takut ibu mertuanya marah yang pasti akan berujung pertengkaran hebat dengan Suaminya.


begitu pula Doni suami Riri, Doni segera melangkahkan kakinya dengan cepat kearah sumber suara Ibunya.


"ada apa sih Bu, pelankan suaranya bisa Bu, Salman baru saja tidur, Dia dari semalem rewel ", ucap Riri lembut memberi pengertian pada Mertuanya.


untung saja Salman bayi riri saat ini tidak terpengaruh dengan teriakan ibu mertua riri yang menggelegar.


"ya itu kamu saja yang gak becus ngurus anak mangkanya anakmu rewel" jawabku ketus.


"ibu kenapa sih, masih pagi sudah berteriak seperti itu, malu sama tetangga bu. " ucap doni pada ibunya.


"lihat itu don, kelakuan istrimu, makin lama makin gak bisa becus ngurus keluarga. " fatma sambil menunjukkan tudung saji yang berada diatas meja makan.


doni langsung melangkahkan kakinya ke arah tudung saji dan segera membuka isi tudung saji tersebut seketika doni hanya mampu menghela nafas kasar.


"dek kenapa kamu masak seperti ini, " ucap doni pelan namun penuh penekanan dan juga serta dengan diiingi dengan sorot mata yang tajam,


"maaf mas, kita harus berhemat jadi aku hanya masak seadanya, "


"berhemat katamu, dasar perempuan serakah, kalo mau ngorupsi uang belanja bilang aja, jangan seperti ini, "


"bu, memang keadaannya seperti ini"


pranggg


pranggg


tiba-tiba doni langsung membuka tudung saji dan membanting semua piring yang berisi masakan yang baru saja dibuat oleh riri sedangkan fatma hanya tersenyum sinis melihat semuanya.


"mas jangan dibuang ini rejeki kita mas"ucap riri sambil menangis sesenggukan menyaksikan kelakuan suaminya.


" rejeki katamu, iya ini memang rejeki kamu, jadi kamu makan saja dari pada mubazir, "


"dasar perempuan gak tau diuntung, "


"ayo bu kita makan diluar saja" ucap udin sambil menggandeng tangan ibunya tanpa mau memperdulikan riri yang menangis sesengguka dan belum makan padahal dia sedang menyusui.


.......


pov fatma


Aku adalah seorang janda yang memiliki dua anak, anak pertamaku seorang perempuan dia sudah menikah dan tinggal dirumahnya sendiri yang bersebelahan dengan rumahku, anakku kedua laki-laki, anak yang selalu aku banggakan karena berwajah tampan, walaupun dia tidak mempunyai pekerjaan yang mapan karena dia hanya karyawan biasa disebuah pabrik kecil, namun nasib baik berpihak padanya karena dia bisa menikahi seorang gadis sukses dibidang make up, dengan jam terbang yang sudah tinggi serta aku juga mendapat selentingan kabar jika tarif make upnya sangat mahal sehingg membuatku langsung menyetujui permintaan doni untuk segera melamar gadis tersebut, aku berharap dia mampu membantu perekonomian dikeluarga ini, walaupun sebelumnya aku sempat menjodohkan doni dengan anak dari sahabat baikku namun persetan dengan semuanya karena doni sudh mendapat yang sempurna.


Dalam pernikahan mereka berdua memang sudah sepakat jika dirumah pihak laki-laki tidak ada acara apapun karena mengingat kondisi diriku yang janda tidak ada yang mendampingi jadi aku putuskan untuk tidak ada acara apapun dan keluarga perempuan juga menyetujui usulanku.


Pesta mereka diadakan sangat meriah karena mengingat riri juga kerja dalam dunia perweddingan.


Setelah menikah riri langsung diboyong kerumah tentu saja aku sangat antusias menyambut kedatangannya, setiap hari selalu aku masakkan makanan yang enak-enak karena aku sadar dia pekerja keras jadi perlu makanan yang bergizi, riri juga tak kuperboleh untuk melakukan pekerjaan rumah sekalipun, aku tidak ingin dia capek mengingat pekerjaannya memakan waktu yang sangat lama, berangkat dini hari dan pulang larut malam.


Benar saja dugaanku, selama menikah aku sering diberi uang oleh riri dengan nominal yang sangat banyak, membuatku bisa membeli apa yang aku mau, termasuk baju, perhiasan, dan barang lainnya yang telah lama aku incar, kalau mengandalkan dari gaji doni saja itu tak mungkin bisa kulakukan karena gaji doni kecil nilainya setara dengan pemberian riri satu minggu.


Riri sangat lama tidak kunjung hamil hampir usia pernikahan menginjak kedua tahun dia tak kunjung hamil juga mungkin juga karena faktor riri yang terlalu kecapean, namun ini sangat menguntungkan bagiku karena riri terus bekerja dan aku sering mendapat uang dari riri.


Dari sini kehidupanku berubah, aku yang dulunya sangat kumal, baju sobek masih kupake, muka banyak flek sehingga banyak tetangga yang mencemooh diriku,kini berubah menjadi seorang janda glowing dengan baju yang selalu bagus,setiap bulan aku juga mengikuti arisan sosialita sebagai ajang pamer, dan aku sangat menikmati hidup dengan penuh materi ini.


Ditambah lagi dengan saat ini doni sudah naik jabatan dipabriknya membuatku semakin berkecukupan, aku dan doni memang sengaja merahasiakan ini semua dengan riri karena kami merasa ini tak sebanding dengan penghasilan riri dan doni juga aku suruh untuk menafkahi kakak perempunnya naya karena aku kasian melihat suaminya tidak bekerja apalagi dia mempunyai dua orang anak aku tidak ingin kedua cucuku tidak bisa jajan seperti teman seusianya.


Aku semakin dibuat terlena dengan semua ini, uang dari riri ditambah lagi uang dari doni, membuatku menjadi lebih sering keluar rumah untuk berbelanja dan sekedar berkumpul dengan geng sosialitaku, memang kehidupan inilah yang aku idamkan sejak dulu, apalagi aku terkenal orang yang suka bergonta ganti perhiasan dikalangang geng sosialita, namun ini semua tak berjalan lama dan aku harus memutar lagi otak untuk menghidupi gayaku yang elit ini.


Ini semua berubah semenjak riri sering drop dan sakit membuanya tidak bisa bekerja dan ini pun terus berlanjut hingga dua bulan lamanya sehingga membuat jatah uangku berkurang dan hanya mengandalkan uang dari doni saja yang cukup untuk membayar nominal arisan saja tanpa bisa belanja seperti biasanya, sehingga aku harus merelakan perhiasanku untuk ku jual demi memenuhi kebutuhan dapur, entah riri itu punya penyakit apa dia sering drop membuat tidak bisa menghasilkan uang dan mala hanya menghabiskan uang.


setelah dua bulan riri sakit dan perhiasanku banyak yang terjual aku diberi kabar yang mengejutkan ternyata di sedang hamil membuatku sangat bahagia mempunyai cucu dari anakku doni.


semasa kehamilan sama saja riri sering sakit entah bayi apa yang dikandung oleh riri , selama sembilan bulan riri tidak bekerja dan ku juga tidak mendapatkan uang dari riri hingga perhiasanku banyak yang terjual karena aku tidak ingin mendapat olokan dari teman arisan sosialitaku jika setiap pertemuan aku tidak ganti perhiasan.


dulu setiap bulan selalu beli namun kali ini setiap bulan harus menjual dan mala membeli perhiasan imitasi.


karena faktor inilah aku yang dulu sangat menyayangi riri sekarang mala sangat membencinya, bahkan aku setiap hari tak segan membentaknya, apalagi saat dia melahirkan mala dengan cara secar yang membutuhkan banyak biaya karena dia tidak mempunyai kartu jaminan kesehatan membuatku semakin benci pada riri.


Saat aku tau riri melahirkan dengan cata secar, aku semakin terkejut, apalagi ditambah biaya yang harus dikeluarkan tidak main-main membuatku semakin membenci riri, sudah hamil sakit-sakitan ditambah lagi lahiran dengan cara secar, duuhh dasar wanita tak berguna dan tidak mau berjuang, melahirkan saja gak mau.


Selama riri hamil dan tidak bekerja dia aku suruh melakukan semua pekerjaan rumah, enak saja sudah gak bisa ngasih uang eh mala mau enak enakan ada dirumah ini,mulai memasak dan membersihkan seluru isi rumah.


Selama ini aku tidak pernah protes akan masakan apapun yang dimasak oleh riri karena semuanya cocok dilidahku dan sesuai dengan selerahku, setiap hari tak pernah ketinggalan menu ikan,ayam, dan daging,entah dia menggunakan uang pribadi atau uang jatah dari doni aku tidak mau tau karena itu semua menjadi urusannya.


memang dia selama ini juga cekatan dalam melakukan semua pekerjaan rumah namun sama saja dia sering drop dan menghabiskan uang, mala semakin membuatku jengkel.


Hingga setelah melahirkan pun aku masih menyuruh riri untuk tetap melakukan tugasnya dirumah ini, aku tidak peduli meskipun dia baru saja melahirkan karena bagiku orang melahirkan dengan cara secar iti tidak merasa sakit jadi tidak ada alasan untuk bermalas-malasan.


Hingga pagi ini aku dibuat naik pitam sama riri bagaimana bisa dia hanya menyiapkan makanan berupa tempe orek dan sayur kelor yang dia ambil dipekarang belakang rumah, aku yang tidak terbiasa memakan makanan seperti ini menjadi naik pitam segala umpatan yang selama ini aku  tahan akhirnya keluar juga dari mulutku, untungnya saat itu juga doni anakku mala membela diriku dan langsung mengajak aku untuk makan diluar, saat kami berdua sudah selesai makan aku memberanikan diri untuk bertanya pada doni.


"Don memang istrimu kamu kasih uang berapa kok mala dia dengan seenaknya masak makanan kambing macam itu, "


"Ya sama bu,seperti yang ibu bilang dia aku beri uang dua juta limah ratus, itupun juga termasuk biaya listrik,air dan cicilan motorku"


Aku hanya mengangguk faham karena setelah mendapat kabar bahwa riri hamil dan besoknya juga mendapat kabar jika doni anakku naik jabatan dengan gaji perbulan mencapai angka enam juta,kami sepakat untuk tidak memberi tahu riri soal ini karena aku tidak ingin riri menguasai gaji doni.


Selama ini yang riri tau gaji doni hanya sekitar tiga juta saja perbulan jadi riri diberi uang doni hanya dua juta , lima ratus untukku dan lima ratus lagi untuk pegangan doni.


Setelah naik jabatan doni memberi riri gaji dua juta limah ratus dia menambah limah ratus ribu dengan alasan gajinya naik dan doni ingin mengkredit motor impiannya, karena dasarnya riri sangat penurut jadi dia tanpa curiga mengiyakan saja permintaan doni, sisa gaji doni di berikan untukku dua juta, untuk kakaknya satu juta dan untuk pegangan dia sendiri tetap sama lima ratus ribu.


"Ibu heran deh don sama riri akhir-akhir ini, dia semakin lama semakin tidak becus mengurus keluarga"


"Sudahlah bu, mungkin riri saat ini sedang capek karena kan juga riri ngurus salman sendirian ibu mana mau ikut serta membantu riri mengurus salman"


" ya memang itu tugasnya dia doni, kamu ini gimana sih kok mala nyalahin ibu, asal kamu tau ya don riri itu enak ngelahirin gak susah dan gak sakit jadi gak ada alasan untuk gak bisa ngurus anak sendiri, ibu saja dulu baru melahirkan langsung melakukan semua pekerjaan rumah sendiri, padahal ibu melahirkan normal bisa dibayangkan betapa sakitnya " keluhku berharap doni bisa menjadi lebih tegas kepada istrinya agar tidak manja karena aku sering melihat riri selalu saja merengek dan mengeluh pada doni saat salman sedang rewel.


....


Dilain tempat saat ini riri menangis melihat sikap asli suaminya, dia  seolah tidak memperdulikan perasaan riri sama sekali, melihat sikap ibu mertuanya dan suaminya sekarang riri menyadari bahwa sekarang  sudah waktunya untuk suami dan mertuanya membuka asli kedok wajahnya, riri sadar jika selama ini perlakuan manis dari mereka hanyalah karena perkara uang bukan tulus dari hati.


Riri menerawang jauh kejadian saat dulu sewaktu dia masih bisa bekerja menghasilkan pundi-pundi rupiah semua keluarga suaminya bersikap manis padanya seolah dia adalah ratu yang  harus diagungkan, Riri tersenyum sinis mengingat kejadian itu semua.


"Sekarang terbuka sudah topeng dari keluargamu mas, sepicik itu ternyata," guman riri dalam hati.


Hari ini riri memang sengaja hanya memasak makanan orek tempe dan sayur bening sebab bagaimanapun juga riri harus berhemat karena dia tidak lagi bekerja, dulu setiap hari riri harus menombok banyak kebutuhan dapur karena permintaan masakan dari ibu mertuanya ,sedangkan nafkah dari sang suami hanya pas-pasan, namun itu dulu, sekarang Riri sudah tidak mau lagi menombok banyak uang pribadinya karena dia merasa ada yang janggal pada sifat suaminya akhir-akhir ini semenjak sang suami memutuskan untuk mengkredit motor, namanya seorang istri kalau suaminya sedikit saja berbohong pasti dia akan kerasa juga, entah kebohongan apa yang telah Doni sembunyikan.


Memang selama riri menikah riri tidak pernah dituntut mertuanya untuk memasak dan membersihkan rumah karena riri juga harus bekerja berangkat dini hari dan pulang malam hari.


Namun riri tak tinggal diam, setiap minggu riri memberikan uang yang tak main-main pada ibunya,bahkan dua kali lipat dari jatah sang anak selama sebulan, pantas saja ibu mertuanya selalu bersikap manis padanya saat itu.


Namun semuanya berubah saat Riri sedang hamil mudah, dia menjadi sering drop sehingga membuat riri tidak bisa menerima tawaran job make up, bahkan job yang sudah masuk harus rela dibatalkan karena kondisinya yang tidak memungkinkan, selama dua bulan lamanya riri mengalami morning sicknes yang teramat parah dan selama itu pula dia hanya bisa berbaring ditempat tidur sebab tidak kuat melakukan aktivitas.


Dan mulai saat itu Riri sudah tidak lagi memberi uang mingguan pada ibu mertuanya,


Satu bulan masih belum terlihat sifat aslinya, mertuanya masih sama selalu menyiapkan kebutuhan riri dan selalu memasak makanan enak.


Dua bulan masih sama perlakuannya, namun saat menginjak bulan ke lima ibu mertua riri hanya ngedumel saja tanpa bisa ngomel langsung pada riri.


Hingga saat Riri melahirkan anak pertamanya dengan secar, duaaarrrr, terbongkar sudah kedok asli mertuanya, membuat riri menjadi sering menangis sendiri didalam kamarnya.


Flash back on....." dasar menantu gak tau diuntung , gak berguna , masak aja gak becus , dikiranya aku ini kambing apa , disuruh makan hasil dari ngeramban" umpat fatma mertua riri sambil membolak- balikkan makanan yang terhidang dimeja makan.


"ririiiii, ririiiiiii, cepat sini kamu, dasar menantu gak berguna " teriakanku menggelegar seluruh isi rumah , aku seolah tutup kuping tanpa mau melihat keadaan ,padahal saat ini bayi riri sedang tidur dan rumahku juga bersebelahan dengan tetangga, akutk peduli itu semua, persetan dengan omongan tetangga.


sedangkan riri yang saat ini sedang menyusui bayinya didalam kamar dia tergopo-gopo kedapur mendengar teriakan dari ibu mertuanya, dia takut ibu mertuanya marah yang pasti akan berujung pertengkaran hebat dengan suaminya.


begitu pula doni suami riri dia segera melangkahkn kakinya dengan cepat kearah sumber suara ibunya.


"ada apa sih bu, pelankan suaranya bisa bu, salman baru saja tidur,dia dari semalem rewel bu" ucap riri lembut memberi pengertian pada ibunya.


untung saja salman bayi riri saat ini tidak terpengaruh dengan teriakan ibu mertua riri yang menggelegar.


"ya itu kamu saja yang gak becus ngurus anak mangkanya anakmu rewel" jawabku ketus.


"ibu kenapa sih, masih pagi sudah berteriak seperti itu, malu sama tetangga bu. " ucap doni pada ibunya.


"lihat itu don, kelakuan istrimu, makin lama makin gak bisa becus ngurus keluarga. " fatma sambil menunjukkan tudung saji yang berada diatas meja makan.


doni langsung melangkahkan kakinya ke arah tudung saji dan segera membuka isi tudung saji tersebut seketika doni hanya mampu menghela nafas kasar.


"dek kenapa kamu masak seperti ini, " ucap doni pelan namun penuh penekanan dan juga serta dengan diiingi dengan sorot mata yang tajam,


"maaf mas, kita harus berhemat jadi aku hanya masak seadanya, "


"berhemat katamu, dasar perempuan serakah, kalo mau ngorupsi uang belanja bilang aja, jangan seperti ini, "


"bu, memang keadaannya seperti ini"


pranggg


pranggg


tiba-tiba doni langsung membuka tudung saji dan membanting semua piring yang berisi masakan yang baru saja dibuat oleh riri sedangkan fatma hanya tersenyum sinis melihat semuanya.


"mas jangan dibuang ini rejeki kita mas"ucap riri sambil menangis sesenggukan menyaksikan kelakuan suaminya.


" rejeki katamu, iya ini memang rejeki kamu, jadi kamu makan saja dari pada mubazir, "


"dasar perempuan gak tau diuntung, "


"ayo bu kita makan diluar saja" ucap udin sambil menggandeng tangan ibunya tanpa mau memperdulikan riri yang menangis sesengguka dan belum makan padahal dia sedang menyusui.


.......


pov fatma


Aku adalah seorang janda yang memiliki dua anak, anak pertamaku seorang perempuan dia sudah menikah dan tinggal dirumahnya sendiri yang bersebelahan dengan rumahku, anakku kedua laki-laki, anak yang selalu aku banggakan karena berwajah tampan, walaupun dia tidak mempunyai pekerjaan yang mapan karena dia hanya karyawan biasa disebuah pabrik kecil, namun nasib baik berpihak padanya karena dia bisa menikahi seorang gadis sukses dibidang make up, dengan jam terbang yang sudah tinggi serta aku juga mendapat selentingan kabar jika tarif make upnya sangat mahal sehingg membuatku langsung menyetujui permintaan doni untuk segera melamar gadis tersebut, aku berharap dia mampu membantu perekonomian dikeluarga ini, walaupun sebelumnya aku sempat menjodohkan doni dengan anak dari sahabat baikku namun persetan dengan semuanya karena doni sudh mendapat yang sempurna.


Dalam pernikahan mereka berdua memang sudah sepakat jika dirumah pihak laki-laki tidak ada acara apapun karena mengingat kondisi diriku yang janda tidak ada yang mendampingi jadi aku putuskan untuk tidak ada acara apapun dan keluarga perempuan juga menyetujui usulanku.


Pesta mereka diadakan sangat meriah karena mengingat riri juga kerja dalam dunia perweddingan.


Setelah menikah riri langsung diboyong kerumah tentu saja aku sangat antusias menyambut kedatangannya, setiap hari selalu aku masakkan makanan yang enak-enak karena aku sadar dia pekerja keras jadi perlu makanan yang bergizi, riri juga tak kuperboleh untuk melakukan pekerjaan rumah sekalipun, aku tidak ingin dia capek mengingat pekerjaannya memakan waktu yang sangat lama, berangkat dini hari dan pulang larut malam.


Benar saja dugaanku, selama menikah aku sering diberi uang oleh riri dengan nominal yang sangat banyak, membuatku bisa membeli apa yang aku mau, termasuk baju, perhiasan, dan barang lainnya yang telah lama aku incar, kalau mengandalkan dari gaji doni saja itu tak mungkin bisa kulakukan karena gaji doni kecil nilainya setara dengan pemberian riri satu minggu.


Riri sangat lama tidak kunjung hamil hampir usia pernikahan menginjak kedua tahun dia tak kunjung hamil juga mungkin juga karena faktor riri yang terlalu kecapean, namun ini sangat menguntungkan bagiku karena riri terus bekerja dan aku sering mendapat uang dari riri.


Dari sini kehidupanku berubah, aku yang dulunya sangat kumal, baju sobek masih kupake, muka banyak flek sehingga banyak tetangga yang mencemooh diriku,kini berubah menjadi seorang janda glowing dengan baju yang selalu bagus,setiap bulan aku juga mengikuti arisan sosialita sebagai ajang pamer, dan aku sangat menikmati hidup dengan penuh materi ini.


Ditambah lagi dengan saat ini doni sudah naik jabatan dipabriknya membuatku semakin berkecukupan, aku dan doni memang sengaja merahasiakan ini semua dengan riri karena kami merasa ini tak sebanding dengan penghasilan riri dan doni juga aku suruh untuk menafkahi kakak perempunnya naya karena aku kasian melihat suaminya tidak bekerja apalagi dia mempunyai dua orang anak aku tidak ingin kedua cucuku tidak bisa jajan seperti teman seusianya.


Aku semakin dibuat terlena dengan semua ini, uang dari riri ditambah lagi uang dari doni, membuatku menjadi lebih sering keluar rumah untuk berbelanja dan sekedar berkumpul dengan geng sosialitaku, memang kehidupan inilah yang aku idamkan sejak dulu, apalagi aku terkenal orang yang suka bergonta ganti perhiasan dikalangang geng sosialita, namun ini semua tak berjalan lama dan aku harus memutar lagi otak untuk menghidupi gayaku yang elit ini.


Ini semua berubah semenjak riri sering drop dan sakit membuanya tidak bisa bekerja dan ini pun terus berlanjut hingga dua bulan lamanya sehingga membuat jatah uangku berkurang dan hanya mengandalkan uang dari doni saja yang cukup untuk membayar nominal arisan saja tanpa bisa belanja seperti biasanya, sehingga aku harus merelakan perhiasanku untuk ku jual demi memenuhi kebutuhan dapur, entah riri itu punya penyakit apa dia sering drop membuat tidak bisa menghasilkan uang dan mala hanya menghabiskan uang.


setelah dua bulan riri sakit dan perhiasanku banyak yang terjual aku diberi kabar yang mengejutkan ternyata di sedang hamil membuatku sangat bahagia mempunyai cucu dari anakku doni.


semasa kehamilan sama saja riri sering sakit entah bayi apa yang dikandung oleh riri , selama sembilan bulan riri tidak bekerja dan ku juga tidak mendapatkan uang dari riri hingga perhiasanku banyak yang terjual karena aku tidak ingin mendapat olokan dari teman arisan sosialitaku jika setiap pertemuan aku tidak ganti perhiasan.


dulu setiap bulan selalu beli namun kali ini setiap bulan harus menjual dan mala membeli perhiasan imitasi.


karena faktor inilah aku yang dulu sangat menyayangi riri sekarang mala sangat membencinya, bahkan aku setiap hari tak segan membentaknya, apalagi saat dia melahirkan mala dengan cara secar yang membutuhkan banyak biaya karena dia tidak mempunyai kartu jaminan kesehatan membuatku semakin benci pada riri.