Dianggap Remeh Setelah Melahirkan

Dianggap Remeh Setelah Melahirkan
bab 19


"Waalaikum salam" jawabku dan ibu mertua dengan serentak lalu menoleh ke arah sumber suara ternyata Mas doni sudah pulang kerja. 


"Tumben kamu don jam segini sudah pulang "tanya ibu dengan sedikit menghilangkan rasa kegundahan takut mas doni mendengar pembicaraan kita tadi. 


"Mesin rusak bu, jadi semua karyawan pulang"jawab suamiku sambil merebahkan tubunya di kursi kayu.


Gegas ku ke dapur untuk membuat teh panas untuk Mas Doni.... 


.... 


"Ri, memang kamu gak ada niatan gitu untuk bekerja lagi seperti dulu" ucap ibu mertuaku seketika mampu mengagetkan diriku yang saat ini sedang menuangkan air panas ke dalam gelas. 


"Huuuuusssh, baru saja aku pikir bisa bebas dari ibu eh mala dia ngikutin aku ke dapur"gumanku dalam hati. 


"Ibu apa gak bisa kalau gak ngagetin Riri" ucapky dengan malas,sebab aku saat ini sedang tidak igin berdebat. 


"Ibu gak ngagetim Ri, ibu hanya tanya dan melanjutkan pembicaraan tadi, memang kamu gak pernah gitu punya niatan buat bekerja, mana janji kamu dulu Ri, yang katanya kalau sudah selesai masa nifas maka kamu akan kembali bekerja, lah ini kamu sudah dua bulan loh, masak belum sehat juga kamu" ucap ibu mertua yang mampu membuatku mengernyitkan kening, memang kapan aku berjanji jika selesai masa nifas aku akan kembali bekerja sedangkan ada salman yang saat ini membutuhkan diriku. 


"Bu,kalau Riri bekerja yang ngasuh salman siapa, ibu kan tau sendiri kalau pekerjaan riri hampir memakan waktu dua puluh jam" ucapku. 


"Ya biar ibu Ri yang ngasuh salman, ibu sanggup kok" ucap ibu sangat antusias entah sekarang apa yang ada di pikirannya.


"Memangnya kamu gak bosen apa ri, setiap hari hidup kekurangan" sambungnya. 


"Bu, kita kekurangan dari segi apanya, setiap hari kita bisa makan, kebutuhan kita semua terpenuhi" 


"Terpenuhi apanya Ri, kekurangan yang ada, ibu bosen setiap hari harus makan tempe tahu" 


"Ya kita kan harus berhemat bu" 


"Bilang aja kamu males kerja Ri, keenakan dirumah, maunya ongkang- ongkang kaki terus" 


"Sudahlah bu, nanti Riri pikirin lagi" ucapku sambil meninggalkan ibu mertua untuk pergi menghampiri suamiku.


"Mas ini tehnya kamu minum dulu mumpung masih anget"ucapku pada suamiku sambil menyodorkan gelas teh, namun seperti biasanya sehabis pulang kerja dia lebih fokus pada ponselnya dari pada menengok sang anak membuat diriku semakin benci pada sikap mas doni seolah salman tidak ada artinya bagi dirinya. 


"Kamu taruh saja di meja Ri" jawab dia masih tetap fokus pada ponselnya, aku yang saat itu juga kesal akhirnya memilih untuk pergi ke kamar saja untuk menemani salman tidur. 


Ku rebahkan tubuh ini di atas ranjang, ku ambil ponsel pintarku dan menscrol sosial media sambil mengenang masa masa saat aku menjadi mua, setiap hari walau capek tapi pikiran happy tidak pernah tertekan seperti sekarang ini, setiap hari hanya berkutat pada pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya, belum lagi melihat sikap ibu mertua, di tambah lagi dengan sikap suamiku yang semakin lama semakin cuek kepadaku dan tidak mau menengok anaknya sama sekali membuatku muak dengan kehidupan ini.


Saat aku sedang menikmati rebahan sambil main ponsel dan memikirkan masa depan tiba-tiba terdengar suara omelan  yang amat melengking dan keras sehingga bisa membuat kuping ini terasa nyeri. 


"Doni, kamu lihat ini perkerjaan istrimu makin lama makin gak bener" 


"Doniiii, cepat kesini kamu biar ibu tunjukin" 


"Donii cepat" teriak ibu tak mau tau keadaan disekitarnya padahal rumah ini sangat berdempetan dengan tetangga, belum lagi saat ini salman yang sedang tidur dia seolah tak peduli. 


Sedangkan mas doni yang saat itu mendengar teriakan dari belakang segera menghampiri ibu. 


"Ibu apa sih teriak seperti itu, apa ibu lupa kalau rumah kita berdempetan sama tetangga lain" ucap mas udin kesal.


"Biarin don, biar semua tetangga tau kalau pekerjaan istrimu gak ada yang becus" suara ibu semakin tinggi naik banyak oktaf. 


Aku yang saat itu berada di balik dinding pembatas dapur hanya bisa mengelus dada dan ingin mendengar apa saja yang akan ibu mertuaku adukan pada Mas doni. 


"Memang apa yang telah di buat Riri sehingga ibu semarah ini" 


"Ya Riri istrimu itu gak becus, tiap hari ibu diberi makan tempe dan tahu, lama-lama ibu muak don, apa kamu lupa kalau ibu tidak terbiasa makan seperti ini namun semua gara-gara istrimu yang bisanya habisin duit itu ibu jadinya seperti ini" 


"Sudahlah bu, kita seharusnya bersyukur masih bisa makan, ya mau bagaimana lagi bu, kita harus berhemat dan ibu dulu juga seperti ini kan" jawab mas doni memang setau aku dulu selepas bapak mas doni meninggal  dan banyak meninggalkan hutang karena kebiasaan bapak mas doni yang suka berjudi membuat ibu dan kedua anaknya susah bahkan bisa makan sekali dalam sehari itu pun sangat bersyukur. 


"Ngapain kamu ungkit-ungkit dulu don, kalau dulu iya keadaan yang membuat kita susah, kalau sekarang kita sudah bedah don" jawab ibu. 


"Sama saja bu, kita sekarang seperti ini memang karena keadaan,memang ada yang salah bu dari masakan riri" jawab mas doni berusaha dengan lembut.


"Ya salah banget don, ibu bosen tiap hari makan seperti ini, ini coba kamu lihat bisa- bisanya dia masak perkedel tempe yang jelas-jelas tempenya sisa kemarin" ucap ibu sambil menggebu.


"Mangkanya kamu jadi suami harus tegas dong sama istri, jangan maunya diperdaya istri, bilang sama istrimu jangan terlalu beli kebutuhan yang gak penting macam orang tuanya saja , gini kan jadinya mala kita yang jadi korban harus makan makanan seperti ini tiap hari,sudah tau uang belanja mala di korupsi"jawab ibu dengan nada yang sangat menggebu, 


Aku yang saat itu juga sudah panas mendengar ocehan ibu akhirnya dengan hati panas muncul dibalik dinding tempat persembuanyianku.


"Bu, sudah cukup puas ibu menuduh riri, apa ibu pikir jatah uang dua juta limah ratus setiap bulan itu mampu untuk kebutuhan kita"tanya ku memancing ingin tau seberapa pandainya ibu mertuaku.


"Ya seharusnya cukup kalau kamu itu pintar mengelolah uang"


"Ya sudah bulan depan ibu yang mengatur semuanya'