
Pak Anto hatinya sangat sakit dan kecewa melihat sikap Doni, awalnya Dia berusaha sabar saat Doni tidak mau membayar biaya persalinan Riri, yang kedua Pak Anto berusaha untuk membujuk Riri agar mmepertahankan rumah tangganya sebab setiap rumah tangga pasti ada yang namanya selisi faham dan di anggap sebagai bumbu dalam rumah tangga, namun kali ini Pak Anto tidak dapat membiarkan Doni untuk terus menyakita anaknya, apalagi saat ini ketahuan sedang berselingkuh dengan wanita lain, sebab Dia juga paling benci dan anti pada penghianatan.
Kurang baik apa Pak Anto selama ini pada menantunya, saat Doni belum menjadi menantunya masih pengangguran Pak Anto lah yang merekomendasikan Doni untuk bekerja di perusahaan bersama teman baiknya, melalui teman baik Pak Anto yang menjabat personalia membuat Doni mudah masuk di perusahaan bonafit, namun tentu semua itu di lakukan Pak Anto tanpa sepengetahuan Doni sebab Dia tidak mau mala nanti membuat Doni merasa berhutang budi padanya sehingga menimbulkan sikap canggung di antara keduanya.
Saat Riri hamil muda dan Dia tidak bisa lagi bekerja dan otomatis tidak bisa membatu perekonomian keluarga, apalagi Pak Anto faham betul berapa gaji Doni saat itu yang hanya cukup untuk makan sehari- hari mereka berdua sebab Dia hanya staf biasa,sehingga tanpa sepengetahuan Doni pula Pak Anto menyuruh teman baiknya lagi untuk menaikkan jabatan Doni agar gajinya bertambah dan bisa membantu perekonomian keluarga.
Namun rencana Pak Anto gagal total, Doni mala membohingi Riri perihal Dia yang naik jabatan dan mala semakin memberatkan Riri perihal biaya hidup dan membayar cicilan motor dengan jatah uang yang pas- pasan.
Dan yang terakhir yang membuat Pak Anto semakin naik pitam melihat kelakuan Doni adalah saat Dia melihat gambar Doni dan seorang wanita lain yang sedang bermesraan, padahal posisi saat ini rumah tangganya sedang berada di ujung tanduk mala Doni tidak berusaha untuk menyelamatkan rumah tangganya eh mala memilih untuk bersama wanita lain.
"Pak, apa bapak baik-baik saja saat ini" ucap Husni memecah keheningan sebab Pak Anto sedari tadi kelihatan melamun sambil memakan bakso hingga tanpa terasa bakso di hadapannya sudah tandas.
"Bapak gak apa apa nak, kamu tenang saja,bapak hanya kecewa nak "jawab Pak Anto dengan tatapan kosong.
Sedangkan Husni hanya menghembuskan nafas kasar melihat sikap bosnya tersebut, jangankan sang bos yang statusnya adalah ayah kandung dari Riri sendiri, wong Dia saja yang statusnya orang lain bagi Riri sangat kecewa pada sikap suami Riri tersebut,
"Dasar lelaki banci gak tau diri"umpat Husni dalam hati.
"Terus sekarang apa Bapak punya rencana untuk membalas kelakuan bejat Doni"tanya Husni sambil menatap kedua bola mata Pak Anto dengan lekat sebab Husni juga mau kalau Doni mendapat balasan yang setimpal dengan penderitaan yang telah Riri alami selama ini.
"Rencananya Bapak akan menyewa seseorang untuk mengawasi gerak gerik Doni jadi jika Dia berulah ingin bertemu dengan selingkuhannya lagi ada yang membuntuti dan bisa menjadi bukti untuk memberatkan Doni saat berada di pengadilan nanti sehingga memudahkan Riri untuk segera bercerai dengan Doni." Ucap Pak Anto sambil menatap Husni.
"Dan sekarang Bapak memberi kamu tugas nak, kamu bisa kan menyadap ponsel Doni, sehingga kita muda mendapat banyak bukti perselingkuhan mereka melalui bukti chat mereka berdua"sambung Pak Anto sebab di sisi lain seorang Husni mempunyai kemampuan yang sangat bagus do bidang IT , karena keterbatan biaya saat itu mengharuskan Husni untuk tidak bisa melanjutkan untuk bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi, namun kemampuan dan kepintaran Husni di bidang ini tentu saja tidak bisa di ragukan lagi.
"Apa kamu keberatan Nak" ucap Pak Anto sebab saat iti Husni terlihat melamun diam seribu bahasa entah apa yang telah dia pikirkan.
........
Sedangkan Di lain tempat saat ini Bu Lastri sedang uring-uringan karena saat ini Dia tak memegang uang sepeser pun, perutnya sangat keroncongan, stok bahan di kulkas pun tidak ada bahkan hanya sebungkus mie instan pun tidak ada di dalam kulkasnya, saat ini kulkasnya sangat kosong mlompong, untuk pergi ke rumah mila pun tak mungkin sebab sedari pagi mila sudah pergi dengan suami dan anaknya mengunjungi mertuanya yang otomatis maka rumah pasti sudah di kunci sejak pagi tadi, sedangkan Doni sampai mau menjelang sore tidak pulang juga apalagi Doni sudah keluar rumah sejak tadi malam
Berulang kali Bu Lastri mondar mandir di ruang tamu sambil memegangi perutnya yang melilit.
"Doni ini kemana sih, dari kemaren malem juga gak pulang- pulang apa dia sudah lupa sama rumahnya sendiri, sih Mila juga gitu sama saja, kok seneng kalau berkunjung ke mertuanya, sudah tau kalau ke rumah mertuanya pulangnya gak pernah bawa apa apa, masih saja setiap minggu di jenguk,bukannya untung yang ada mala buntung Dia," ucap Bu Lastri mengumpati kedua anaknya yang mencari kesenangan masing- masing yang seolah lupa akan adanya dirinya yang telah bersusah payah membesarkan mereka berdua.
Setelah hampir satu jam terus berjalan mondar mandir di ruang tamu akhirnya terdengar deru suara motor Doni yang memasuki halaman rumahnya.
Bu Lastri segera bergegas ke depan untuk menyambut Doni anaknya, bukan menyambut lebih tepatnya sih menyidang anaknya yanh abfu saja pulang.
Saat telah tiba di depan rumahnya Doni segera membuka helmnya dan melangkahkan kakinya ke arah dalam rumah,namun belum juga Doni sampai di pintu rumah mala di hadang oelh keberadaan sang ibu.
"Dari mana saja kamu Don, bisa bisanya semalaman membuat ibu khawatir gak bisa tidur, kamu sih enak, yang nungguin kamu ini loh hatinya ketar ketir"cerocos Bu lastri saat Doni mau memasuki rumahnya, bu lastri seolah tutup telinga tanpa mau memperhatikankeadaan sekitar yang banyak tetangga sedang berkumpul di depan rumah warga, namun Bu lastri tak memperdulikan tetangga yang sedang memperhatikannya.
"Bu ngomongnya di dalam saja ya bu, jangan disini, malu bu di liat banyak orang" ucap Doni pelan namun lebih tepatnya sih berbisik pada sang ibu, sebab Dia tidak mau menjadi pusat perhatian warga.
"Halaaa kamu ini kebanyakan bacot, namanya orang nanya itu ya di jawab gak perlu bingung sama omongan orang lain, lagian kamu dari mana saja haaa" ucap Bu lastri mengulangi perkataannya lagi tanpa memperdulikan bisikan dari sang anak barusan.
"Bu.uuuu"