
Karena di rasa tidak afdol untuk membahas tentang Riri saat ada Lastri dan Mila, Akhirnya Anton berinisiatif untuk mengajak Doni ngopi di warung depan saja, sebab Anton saat ini sudah sangat gedek melihat sikap adiknya tersebut dan jika membicarakan disini Mila dan Lastri akan ikut campur mempengaruhi pikiran Doni dan jadinya semakin labil.Masalah pun tidak akan ketemu ujungnya.
"Don ngopi yuk di warung depan sambil nobar liga dunia" ucap Anton saat Lastri dan Mila mau ngajak ngobrol.
Doni pun hanya mengangguk patuh apa yang di kata oleh kakaknya.
"Eh Mas, Kita baru ingin ngobrol bersama loh, sudah lama kita gak kumpul seperti ini, " ucap Mila kepada suaminya memang sebenarnya jarang sekali bisa duduk bersama di teras Rumah.
"Tapi nanggung Mil, liga bola ini gak datang dua kali, sudah lima tahun aku menunggunya" ucap Anton sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Udahlah Mil biarin saja suami Kamu itu pergi, lagian ada Dia juga gak ngaruh sama sekali disini,Bahkan masalah dompet juga" jawab Lastri sambil menatap sinis ke arah Anton ,dan setelah tau tadi dari cerita Doni, Anton bisa menyimpulkan jika selama ini Mila pasti menjelekkan dirinya di depan ibunya dan menutupi kenyataan yang ada.
"Iya Bu memang gak ngaruh kehadiran saya ini, bahkan Dompet Mila saja selalu full tanpa Duit Saya" ucap Anton sambil menatap tajam ke arah Mila sedangkan Mila yang di tatap menjadi sangat kikuk dan salah tingkah, memang sebenarnya selama ini Mila selalu berkata pada Ibunya jika nafkah dari Anton hanya sedikit dan tidak cukup untuk jajan kedua anaknya, sehingga membuat Lastri ibah hingga Dia menyuruh Doni untuk memberi jatah tiap bulan pada Kakaknya agar bisa di buat keperluan jajan kedua cucunya dan Lastri sangat membenci menantunya tersebut dan selalu melontarkan kata kasar kepada Anton.
Anton yang sudah muak dengan sikap mertuanya tersebut lebih memilih untuk melangkahkan kakinya ke arah istrinya untuk membisikkan sesuatu pada istrinya.
"Nanti Aku pulang larut malam, tolong jangan tidur dulu, ada yang ingin Aku bicarakan, ingat Aku sudah muak dengan sikap ibumu" bisik Anton lirih sehingga tidak ada orang lain yang mendengar bisikan Anton.
"Ngapain Kamu masih di sini, sudah pergi sana, katanya mau pergi, muak lihatnya" ucap Lastri terus mengejek menantunya tersebut.
Anton tanpa menghiraukan perkataan Lastri langsung pergi melangkahkan kakinya ke motor.
"Ayo Don cepetan nanti keburu tayang sepak bolanya"
"Iya Mas "
"Eh Doni ngapain Kamu ikut-ikutan Anton lihat bola segala, sejak kapan Kamu suka nonton pertandingan sepak bola, sudah di rumah saja, jangan ikutan jadi lelaki gak bener macam Masmu itu" ucap Lastri melarang anaknya untuk bergabung dengan Anton ,sedangkan Anton hanya berdiam diri sebab jika debat dengan mertuanya pun sangat percuma membuang banyak tenaga.
"Sudahlah Bu, sekali-kali juga apa salahnya" ucap Doni menghibah.
"Gak, Kamu di rumah saja besok kerja"
"Buuuuu, cukup Bu, Doni ingin keluar sebentar, Doni suntuk di rumah terus, lagian apa salahnya, Doni sudah besar Bu" bentak Doni , sedangkan Anton dan Mila tidak percaya melihat adiknya yang biasanya menurut mala sekarang menjadi pembangkang.
"Kamu bentak Ibu Don, berani Kamu ya, eh Anton habis Kamu ajari apa anakku sehingga Dia bisa membentak "ucap Lastri sambil menunjuk Anton.
"Bu cukup, Doni hanya ingin pergi sebentar, gak lama kok, ini juga bukan salah Mas Anton kok, "ucap Doni sambil berlalu pergi melangkahkan kakinya ke arah Anton.
"Ayo mas kita berangkat, pusing aku lihatnya" ucap Doni langsung menaiki motor dan menepuk pundak Anton dan Anton langsung melajukan motornya tanpa peduli teriakan dari Lastri.
Akhinya Anton mengalah dan mulai membicarakan topik apa yang telah terhenti tadinya saat berada di rumah.
"Terus rencana Kamu kapan untuk menemui istrimu, gak baik loh kalau menyelesaikan masalah terlalu lama, apalagi masalah perselingkuhan Kamu dan Alma sekarang menjadi berita hangat di masyarakat, kalau Kamu gak segera nyusul Riri, nanti takutnya mala Riri mendengar cerita sari orang lain yang pastinya sudah di bumbui dengan berbagai bumbu di setiap cerita" ucap Anton sambil menghembuskan asab rokoknya ke udara.
"Entahlah Mas, seperti berat sekali jika Aku pergi menemui Riri, apalagi sudah di larang keras oleh Ibu, membuat ciut nyaliku untuk pergi bertemu dengan Riri" jawab Doni dengan berulang kali menghembuskan nafas kasar seolah ini sangat berat bagi dirinya.
"Jika memang itu yang Kamu mau, memangnya Kamu saat ini sudah siap untuk kehilangan Riri, ingat Don sulit untuk mendapatkan wanita seperti Riri, Mas saja yang hanya sesama ipar mengagumi istrimu,"ucap Anton yang sebenarnya pada Doni, memang Dia selama ini juga diam-diam mengagumi istri dari adik iparnya tersebut, namun bukan tanpa sebab, melainkan juga karena kagum melihat seorang wanita pekerja keras seperti Riri.
Sedangkan Doni mala menatap tajam kepada kakak iparnya tersebut tidak terima jika lelaki lain memuji Riri.
"Mas, kenapa mala berbicara seperti itu, ingat Mas, Riri masih istriku"
"Memang, bahkan semua orang tau kalau Riri itu istrimu, Mas hanya berkata jujur sesuai apa yang ada, jarang loh Don wanita yang mau bekerja keras seperti Riri"
"Ya itukan dulu Mas,tapi akhir-akhir ini Dia hanya nganggur di rumah saja, kurang enak apa coba Dia mala lebih memilih pergi" ucap Doni dengan entengnya sehingga membuat Anton sangat geram melihat sikap Adiknya yang dirasa labil seperti perempuan.
"Doni, doni, apa Kamu lupa atau hilang ingatan, ingat Don, Riri dirumah juga karena adanya anakmu"
"Sekarang Kamu jujur deh, apa memang Kamu saat ini sudah siap untuk kehilangan Riri di dalam hidupmu"
"Aku gak bisa Mas hidup tanpa Riri,baru satu bulan saja sudah keteteran hidupku"
"Keteteran dalam segi apa maksud Kamu itu"
"Dalam segi keuangan dan segalanya, sampai saat ini pun Aku belum membayar cicilan motor, belum lagi Ibu yang selalu minta uang padahal jatah Riri mala kuberikan semuanya"
"Terus Kamu maunya apa"
"Riri balik lagi Mas "
"Untuk mengatur keuanganmu yang konyol itu,"
"Ya mau bagaimana lagi Mas, aku tidak bisa hidup tanpa dirinya"
"Tidak bisa tanpa Riri tapi kamu mala ada jalan dengan Alma, hussh pikiranmu ini sakit apa gimana sih Don, Mas bingung lihat Kamu"
"Ya kalau bisa Aku ingin memiliki duaduanya."