Dianggap Remeh Setelah Melahirkan

Dianggap Remeh Setelah Melahirkan
PENGADILAN AGAMA


Seluruh badan Doni seketika lemas tak berdaya bagaikan tanpa tulang, bagaimana tidak, bisa-bisanya sang Ibu mala tidak membayarkan cicilan motornya, dan didalam hatinya Doni terus mengumpati istrinya yang juga tidak amanah dalam mengatur keuangan.


Apalagi pihak leasing telah mengultimatum dirinya jika telat lagi maka akibatnya motor kesangannya harus di ambil.


Dengan cepat Doni langsung menarik tangan Ibunya untuk masuk ke dalam Rumah untuk berbicara pada Ibunya.


"Ayo ikut denganku kedalam" ucap Doni berbisik sambil menarik tangam Ibunya dengan kencang.


Sedangkan Lastri yang saat itu kalah kuat antara tenaganya dan anaknya hanya bisa pasrah menuruti kemauan Doni.


"Sebentar Pak, Saya permisi dulu ingin berbicara pada Ibu Saya" pamit Doni pada kedua pegawai leasing tersebut.


Sedangkan kedua pegawai tersebut hanya menjawab dengan anggukan kepala saja.


Dan Doni langsung membawa Lastri ke dalam dapur sekiranya kedua pegawai tersebut tidak dapat mendengar pembicaraan antara mereka berdua.


"Kamu ini apa gak bisa pelan-pelan Don, kurang ajar banget sama orang tua" ucap Lastri sambil menahan emosi dan melihat pergelangan tangannya yang terlihat memerah bekas cengkeraman dari Doni.


"Sudahlah Bu, jangan drama ,apa Ibu gak lihat kalau saat ini posisinya sangat genting" 


"Tapi ya gak kayak gini juga Don"


"Sudahlah Bu, sekarang Doni tanya, kemana perginya uang yang akan di gunakan untuk membayar cicilan motor, kalau sampai itu motor diambil bagaimana dengan Doni Bu, mau naik apa Doni ke Pabrik" tanya Doni dengan beruntun sebab saat ini juga Dia tidak bisa menahan kesabarannya dalam menghadapi Ibunya.


"Lahkan tadi sudah Ibu bilang sama Kamu Don, kalau uangnya habis ikut kepakai Ibu untuk berbelanja Tas, dan kebetulan kemarin juga ada tas diskon jadi ya lumayan Ibu beli juga, lagian ya Don , Ibu  malu  sama teman-teman Ibu yang lainnya, semua belanja banyak sedangkan Ibu hanya sedikit, gengsi Lah Don, Kamu ini bagaimana sih"jawab Lastri dengan santainya tanpa memikirkan saat ini keadaan Doni yang sedang pusing tujuh keliling dan berulang kali Doni menjambak rambutnya dengan sangat kuat menggunakan kedua tangannya sebagai bahan pelampiasan dirinya saat ini.


"IBUUUUU" bentak Doni seketika.


"Kurang ajar, berani Kamu bentak Ibu sekarang" ucap Lastri sambil menatap tajam Doni dan melototkan kedua matanya seolah ingin menghabisi Doni saat itu juga.


"Apa Ibu gak bisa mikir hah, kurang apa Doni sama Ibu selama ini sampai Ibu tega menyiksa Doni seperti ini, " ucap Doni sambil diiringi dengan linangan air mata.


"Ya itu memang menjadi kewajiban Kamu untuk selalu membahagiakan Ibu, apa Kamu selama ini tidak Ikhlas uangmu Ibu gunakan" jawab Lastri tak kalah sengit seolah Dia saat ini adalah makhluk yang tersakiti.


"Bukan itu maksud Doni Bu, apa Ibu gak mikir bahwa selama dua bulan ini uang untuk cicilan motor selalu habis untuk Ibu gunakan keperluan yang tidak berguna, kalau sampai motor Doni diambil bagaimana Bu" ucap Doni menghibah pada Ibunya berharap mata hati Ibunya bisa terbuka agar kedepannya saat ingin bertindak lebih memikirkan dengan matang terdahulu.


"Kamu bilang keperluan Ibu tidak berguna ,IYaaaa"bentak Bu Lastri.


"Asal Kamu tau Don,ini bagi Ibu sangat berguna sekali, ingat Ibu sudah tua, sudah saatnya Ibu menikmati hari tua Ibu dengan bersenang-senang, bukan mala harus selalu Kamu bebankan dengan biaya cicilan motormu itu" 


"Bu, Doni tidak membebankan pada Ibu lohh, Doni hanya menitip agar Ibu membayarkan biaya cicilan motor mala sekarang apa, Ibu habiskan juga "ucap doni sambil beberapa kali menghembuskan nafas kasar seolah ini adalah beban paling berat di hidupnya.


"Oooohh jadi Kamu sekarang mulai hitung-hitungan ya sama Ibu, ehhh ingat Doni kalau Ibu ini yang melahirkan Kamu, tinggal masalah sepele saja Kamu besarin seperti ini, " 


"Bu, Doni gak besarin masalah, Doni hanya ingin Ibu bisa mengerti posisi Doni saat ini"


"Sudahlah Don, percuma juga Kamu marah-marah sedari tadi, uangnya saja sudah gak ada, mending sekarang Kamu cari solusi harusnya, pinjam ke teman atau apalah terserah Ibu gak mau tau,lagian ya Don, ini juga bukan salah Ibu, Ibu seperti ini hanya menikmati masa tua saja, dan membalas dendam karena bulan-bulan lalu Ibu tidak bisa menikmati hidup seperti ini." ucap Bu Lastri seolah baginya ini bukan kesalahan fatal dan langsung pergi dari dapur meninggalkan Doni sendirian dengan keadaan sedang frustasi.


Dengan reflek Doni langsung menyambar gelas kaca yang berada di atas meja dan langsung menghempaskannya ke sembarang arah.


"Pyarrrrrrr" 


"Pyarrrrrrr"


"Ahhhhhhhhh, andai saat ini masih ada Riri disini, pasti sekarang Aku tidak perlu memikirkan masalah serumit ini" ucap Doni dengan lantang.


"Siallllll, apa susahnya sih Kamu itu Riri tinggal balik lagi kesini pasti Aku akan menerima Kamu lagi," ucap Doni mulai menghayal tanpa mau mengoreksi dirinya sendiri.


Tokk 


Tokkk


Tokk


Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu yang sangat keras dan  mampu menghentikan Doni dari lamunannya.


"Siapa sih ganggu orang lagi pusing saja." Unpat Doni sambil beranjak dari tempat duduknya untuk pergi ke depan melihat tamu yang datang.


Dengan langkah gontai Doni pergi ke depan untuk menemui sang Tamu, namun alangkah terkejutnya Dia ternyata orang yang Dia anggap sebagai Tamu adalah pihak leasing yang sedari tadi masih setia menunggunya di teras Rumah.


"Ehhh Bapak, maaf ya, Saya lupa kalau Bapak masih ada di sini"ucap Doni sambil nyengir kuda dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Sedangkan kedua pihak lesing hanya sama tatapannya dingin dengan ekspresi datar, karena bagi mereka berdua orang macam Doni adalah santapan bagi dirinya setiap hari.


"Bagaimana Bapak Doni, apakah sekarang Bapak bersedia untuk membayar atau Kita mengambil alih motor Bapak" ucap salah satunya.


"Apa tidak ada keringanan sama sekali Pak" 


"Tidak ada Pak Doni, bahkan karena kecerobohan Bapak ini masih ada bunga yang harus di bayarkan, apa Pak Doni lupa dengan konsekuensi sebelum mengambil cicilan motor" 


"Iya pak saya mengerti, beri saya waktu untuk membayarnya" ucap Doni memghibah sedangkan saat itu pihak leasing yang sudah merasa kecapean karena menunggu Doni terlalu lama membuat Mereka semakin geram.


"Baik, saya beri waktu satu hari, besok Saya kembali lagi, kalau Bapak tidak sanggup membayar dengan terpaksa Kami mengambil alih Motor Bapak, Permisi" jawab pihak leasing sambil berlalu meninggalkan Doni.


Setelah kepergian Mereka, Doni segera mendudukkan bokongnya ke kursi yang tersedia di Teras, namun belum sempat Doni bersantai tiba-tiba kedatangan kurir paket yang mengantarkan paket untuk Doni.


"Assalamualaikum, Paakettt"ucap sang kurir.


"Waalaikum salam"jawab Doni lirih tak bersemangat namun masih bisa terdengar oleh sang kurir.


"Apa benar ini dengan Rumah Bapak Doni prastio" 


"Iya dengan saya sendiri" 


"Ini ada paket untuk Anda, dan ini tolong di tanda tangani"ucap kurir sambil memberikan amplop pada Doni dan secarik kertas untuk di tanda tangani, dan Doni yang merasa kebingungan akhirnya menuruti saja apa yang di kata oleh sang kurir dan segera menandatangani kertas tersebut.


Setelah kepergian kurir, Doni segera membuka map coklat dan membukanya, namun alangkah terkejutnya saat melihat isi bertuliskan.


...


"PENGADILAN AGAMA"