Dianggap Remeh Setelah Melahirkan

Dianggap Remeh Setelah Melahirkan
bab 10


"Tapi maaf bu, anak ibu sementara harus dirawat disini dulu untuk pemulihan tubuhnya " ucap sang dokter seketika membuat seleruh badan lemas bagai tak bertulang mendengar pernyataan dari sang dokter.


"Apa saya boleh melihat keadaan anak saya bu dokter "


"Boleh bu, nanti ibu bilang saja pada perawat, biar diantar sama perawat bu"


"Iya dokter, terimah kasih"


"Sama-sama bu, sudah tidak ada yang ditanyakan" ucap dokter kepada ku dan aku hanya menjawab dengan menggelengkan kepala saja.


"Iya sudah mari bu, saya pamit dulu untuk memeriksa pasien lainnya" ucap dokter pamit sambil berlalu pergi dan diikuti perawat dibelakangnya.


"Don, mbak laper nih, bagi duit dong mau makan dikantin, mbak lupa gak bawah dompet" ucap mbak mila kepada mas doni sambil mengadahkan tangannya kearah mas doni,entah terbuat dari apa perut mbak iparku ini, padahal terlihat dari sini dia menghabiskan empat buah apel dan dan tiga buah jeruk masih saja merasa lapar.


"Kamu ini Mil kebiasaan, kemana- mana gak bawah dompet gak bawah ponsel, " gerutu ibu mertua namun matanya masih tetap fokus pada ponselnya.


"Ya kan Mila saat ini gak bawah tas bu, jadi ya otomatis Mila gak bawah semuanya"ucap mbak mila santai.


"Mana Don uangnya, mbak beneran laper nih,makan buah saja gak cukup kalau buat ganjal perut."


"Tapi mbak, uang Doni tinggal sedikit,mbak tau kan kita harus berhemat, karena doni harus membayar tagihan rumah sakit" ucap mas doni seketika mampu membuat ku mencebikkan bibir sebab dia sangat pintar dalam berakting.


"Yaelah Don pelit amat sama saudara sendiri, sedangkan sama Riri yang jelas orang lain kamu mala royal banget" ucap mbak mila tanpa sadar jika memang istri adalah sepenuhnya tanggung jawab suami, apalagi sesama perempuan ,apa dia gak mikir jika suami harus memenuhi semua kebutuhan istrinya, Mas Doni yang saat itu malas berdebat akhirnya mau tak mau dia harus mengeluarkan selembar uang berwarna biru yang tersisah didalam sakunya.


"Nih mbak mila pergi ke kantin untuk beli makanan" ucap mas doni sambil menyodorkan selembar uang berwarna biru.


"Gitu dong dari tadi, jadi kan kita gak perlu drama dulu Don" ucap mbak mila sambil tangannya menyambar uang yang berada ditangan mas doni,dan langsung beranjak dari tempat duduknya lalu segera melangkahkan kakinya ke arah pintu.


"Eh mila mau kemana kamu" ucap ibu mertua saat Mbak Mila mau membuka gagang pintu, memang sedari tadi ibu mertua terus saja fokus pada ponselnya, jadi dia sepertinya tidak tau kejadian saat Mas doni memberi uang pada Mbak mila.


"Mau ke kantin bu, ibu mau nitip"


"Memang kamu dikasih uang berapa sama Doni"


"Mila dikasi limah puluh ribu rupiah" jawab Mbak mila sambil menunjukkan selembar uang limah puluh ribuan.


"Enak saja kamu, mau kamu makan sendiri, ya sudah ibu ikut kamu ke kantin, " ucap ibu mertuaku sambil melangkah keluar mengikuti langkah mbak mila.


......


Setelah Mbak mila dan ibu mertua ku pergi, kini tinggallah aku dan mas doni saja, ini adalah waktu yang tepat untuk mengutarakan niatku untuk berada dirumah orang tuaku sementara waktu,


"Mas " panggilku pelan, saat ini mas doni sedang berada di sofa sambil berbaring dengan memainkan ponselnya.


"Apasih Ri, kamu berisik saja, baru juga aku mau istirahat kamu mala gangguin saja " jawab Mas Doni ketus padahal dari dulu dia tidak pernah  bersikap seperti itu kepadaku, namun semenjak  aku hamil semuanya menjadi berubah.


"Mas kemarilah aku gak bisa ngomong agak keras "ucapku masih berusaha lembut berharap suatu hari nanti sikapnya berubah seperti sedia kala.


"Kamu ini apa-apaan sih Ri, ngomong ya tinggal ngomong aja " jawabnya sambil berdiri dan melangkahkan kakinya kearah tempat tidurku.


"Mas aku ingin ngomong sesuatu dan meminta pendapatmu selaku suamiku"


"Halaa Ri mau ngomong tinggal ngomong saja kamu ini jangan kelamaan basa- basi ,lama amat"


"Massss, aku ini serius, kamu jangan bercanda kok" ucap ku sebab aku kesal melihat sikap Mas doni padahal aku ingin ngomong serius kepadanya eh mala dia seolah gak mau tau , walaupun bersuara tapi tangan dan matanya fokus pada ponselnya seolah aku ini tidak penting untuk didengarkan.


"Apasih Ri, tinggal ngomong saja kamu rewel amat, "


"Mas, aku ingin berbicara, tolong beri aku waktu sebentar saja, taruh ponselmu itu mas "


"Iya, nih aku taruh dan kamu cepetan ngomong, buang- buang waktu saja kamu  dari tadi, sepenting apa sihh" jawab mas danu sambil meletakkan  ponselnya dengan kasar diatas nakas.


"Mas kamu gak ingin melihat anak kita" 


" ya nanti saja Ri, Lagian kamu masih belum bisa berdiri, "


"Ya kamu lihat lah mas ,kamu jadi bapaknya kok gak mau lihat anak sendiri, sampai- sampai yang ngaadzanin anak kita bapakku ,bukan kamu ayahnya, "


"Ya itu karena kamu lahirannya mendadak, nunggu bentar saja gak mau, ya gini kan jadinya "


"Loh mas, kamu kok terus memojokkanku sih , aku juga gak mau mas sebenarnya kalau ngelahirin dengan cara seperti ini, tapi ya memang takdir yang membuatku seperti ini,"


"Halaaa ri dari tadi kamu bahasnya takdir mulu, kamu cuma mau ngomong kayak gini  yasudah aku mau baring lagi"


"Mas, aku ingin setelah pulang dari rumah sakit sementara waktu aku tinggal dirumah orang tuaku dahulu sampai aku benar- benar pulih" ucapku sambil terus menatap matanya berharap dia mau mengerti posisi diriku.


"Terus, aku harus bilang apa sama ibu Ri jika kamu pulang ke rumah orang tuamu, jangan lebay dehh Ri"


"Mas siapa yang lebay, aku ini hanya ingin berada di rumah orang tua ku didalam masa pemulihan saja, iya kamu sebagai suami tolong dong bantu bicara sama ibumu"


"Gak gak ,kamu gak bisa pulang ke rumah orang tuamu ngelahirin gak sakit saja Ri pake acara dirumah orang tua segala, memang benar ya kata ibu kamu perempuan yang lemah, kalau samlai kamu nekat pulang ke rumah orang tuamu bearti kamu sudah siap menerima surat cerai dariku ri"jawab mas doni sambil berlalu meninggalkanku dan berbaring kembali di sofa.


Deg deg deg ,seketa dada ini berdetak cepat dan sakit menusuk ke ulu hati mendengar omongan dari Mas Doni dengan mudahnya bicara jika aku melahirkan ini tidak sakit, apa dia tau rasanya melahirkan secara secar, kuremas-remas dada ini berharap dapat sedikit meredahkan rasa sakit namun sama aja tak dapat mengurangi, apa disini aku yang salah memilih pasangan, aku yang mengagumi sosok orang yang mencintai ibunya namun mala akan menjadi boomerang bagi diriku sendiri, mempunyai pasangan yang hanya mau mendengarkan ucapan dari ibunya saja.