
Bu lastri seolah tak memperdulikan anaknya yang saat ini tengah kebingungan memikirkan banyaknya tagihan yang belum dia bayar sedangkan uangnya sudah di habiskan oleh sang ibu,belum lagi yang sekarang ibunya mala menambah beban menggunakan kartu kredit miliknya tanpa dia tau telah habis berapa jika di lihat dari banyaknya barang belanjaan sang ibu, dia yang di beri amanat untuk mengatur segala kebutuhan mala dengan enaknya menghabiskan tanpa memikirkan kebutuhan kedepannya di tambah lagi saat ini bu lastri yang seolah lupa dan kalap saat berbelanja sehingga dengan enaknya menggunakan kartu kredit sang anak tanpa memikirkan kedepannya.
Mala sekarang bu lastri terkejut perihal anaknya yang tadi berniat akan menjemput sang istri, padahal saat ini bagi bu lastri kepergian Riri adalah kemenangan bagi dirinya sebab dia bisa dengan leluasan menggunakan uang sang anak.
Sedangkan Doni yang saat ini sudah di landa oleh kebingungan akhirnya membatalkan niatnya untuk menjemput istrinya, dia dengan segera melepas jaket karena badannya teramat gerah dan segera pergi meninggalkan sang ibu, sebab keadaanya saat ini emosinya sudah mencapai ubun- ubun dan untuk memarahi ibunya dia tidak tega maka dia memutuskan untuk pergi saja meninggalkan sang ibu, namun belum juga doni melangkahkan kakinya, bu lastri sudah mencegah langkah kakinya.
"Kamu mau pergi kemana Don" tanya bu lastri saat doni mulai mengangkat bokongnya dari tempat duduk.
"Doni mau istirahat bu" jawab Doni dengan lemas, sebab dia saat ini belum makan di tambah lagi semakin bingung memikirkan nasibnya saat ini, mau nyari makan pun gak berselera.
" katanya kamu tadi mau menjemput istri kamu, kok gak jadi" tanya bu lastri dengan heran padahal tadi Doni kelihatan sangat bersemangat.
"Sudahlah bu, doni sudah gak mood, Doni mau istirahat." Jawabnya dengan lemas dia langsung melangkahkan kakinya dengan gontai ke arah kamar.
"Kamu mau kemana gak sopan ,sudah tau ibunya mau ngomong mala main pergi saja, cepat kamu kembali duduk ibu mau ngomong" titah bu lastri sambil menunjuk bangku yang tadi telah di duduki oleh Doni.
Dengan perasaan masih dongkol dan emosi yang membara namum dia berusaha menetralkan rasa itu karena berhadapan dengan sang ibu, ya begitulah Doni,dia paling tidak bisa jika harus mengecewakan ibunya, dan mau tidak mau Doni harus mematuhi perintah ibunya untuk kembali duduk di bangku kamar ibunya tadi, namun saat doni sudah mendudukkan bokongnya di bangku tiba- tiba kedatangan mila anak sulung Bu lastri .
"Kamu itu ya mil kebiasaan, lain kali kalau mau masuk rumah itu ya salam dulu kek ini main nylonong saja " ucap bu lastri dengan ketus kepada anak sulungnya sebab dia juga kadang ilfel melihat tingkah laku mila yang seolah tidak punya sopan santun.
"Ihhhh ibu ini apaan sih, lagian mila juga masuk rumah milik ibu sendiri ngapain juga di permasalahin" ucap mila dengan santainya tanpa ada rasa bersala.
"Ibu habis borong nih ceritanya, kok ibu gak ngajak- ngajak mila sih, ibu tega sama anak sendiri" ucap mila merajut.
"Ya tadi memang ibu pergi bersama jeng fita dan jeng nani bertiga ibu pergi ke mall di kota" ucap bu lastri dengan bangga sambil menunjuk paper bag yang tergeletak di kasur.
"Jadi ibu baru saja ngumpul sama teman sosialita ibu" tanya mila.
"Ya gimana lagi bu tadi mila nunggu maya untuk ikut les tambahan di sekolahnya" ucap Mila berbohong sebab dia juga jarang kumpul juga karena alasan malu jika setiap barangnya tidak ada yang di ganti.
"Eh ngomong- ngomong ini pada kenapa kok mala berkumpul di kamaf dan kamu Doni kenapa dari tadi mukamu tekuk aja sih " ucap mila sambil menelisik wajah adiknya tersebut.
"Oiya ya ampun ibu hampir lupa mil gara-gara kedatangan kamu,Ini nih adik kamu mil, dia mau jemput Riri" ucap bu lastri dengan ketus.
"Loh memangnya kenapa bu kalau Doni jemput Riri, apa ibu lupa kalau Riri itu adalah istri Doni"sangkal doni kepada ibunya sebab saat ini dia merasa jika keputusannya benar adanya, ya walaupun sebenarnya Doni ingin menjemput Riri sebab dia merasa kebingungan dan butuh pertolongan dari istrinya karena belum membayar semua tagihan.
"Istri kok mala ninggalin suaminya, apa itu yang namanya istri" cibir mila sambil tersenyum sinis dan mengejek kepada doni adiknya.
"Nah betul apa yang di kata oleh mbakmu iti Don, harusnya kamu itu mikir, kalau istri sudah pergi ninggalin ya jangan di kejar, dimana harga dirimu sebagai lelaki don" ucap lastri dengan menggebu memanasi sang anak.
"Iya don, kalau memang Riri tulus mencintai dan sayang padamu pastinya dia tidak akan meninggalkanmu" timpal mila ikut memanasi adiknya, sebab sampai saat ini walaupun Riri tidak perna ikut campur masalah mila namun tetap saja mila benci pada riri, sehingga saat tau riri pergi dari rumah dia sangat senang sekali.
Sedangkan Doni langsung meremas rambutnya dengan kuat menggunakan kedua tangannya sebab dia saat ini benar- benar keadaan yang sangat kacau.
"Bu,Riri pergi juga karena Doni yang menyuruh, dan itu juga sebab Doni yang emosi melihat ibu yang selalu saja mengeluh terhadap sikap Riri."
"Loh, kok mala kamu nyalahin ibu Don, apa kamu lupa kalau ibu ini yang melahirkanmu , seharusnya Riri yang kamu salahkan, ingat don dia hanya orang lain yang kebetulan kamu nikahin" ucap lastri dengan menggebu sebab dia juga tak terima tiba- tiba di salahkan oleh anaknya.
"Bu,Doni capek tiap hari mendengar kalian berdua berantem," ucap Doni dengan lantang.
"Ya seharusnya kamu bilangin dong don sama istrimu, suruh dia untuk mengalah sama orang tua, dan harusnya Riri juga mengerti, masak sama mertua sendiri gak mau mengalah" timpal mila membela ibunya sebab dia juga tak terima ibunya di salahkan hanya karena demi membela Riri yang jelas jelas hanya orang lain.
"Brakkkkkkkkkkkk