
Sedangkan dilain tempat saat ini Fatma dan Mila sedang kebingungan karena dia takut disalahkan dari penyebab operasi secar Riri, kedua orang itu dari tadi terus saja mondar mandir tidak jelas.
"Mil ibu takut, semua ini gara-gara kamu ,andai saja kamu tidak menghalangi Doni untuk membawa Riri kebidan pasti gak akan kejadian seperti ini" ucap ibu mertuaku kepada mbak iparku yanh sedari tadi juga merasakan gugup teramat dalam sebab terlihat dengan jelas jika saat ini dia terus saja mengeluarkan keringat dengan bercucuran sangat deras.
"Ibu kok mala nyalahin Mila sih, ibu juga tadi yang nyuruh Riri untuk terus saja berada dirumah"
"Ya ibu juga nurut apa katamu Mil kalau itu hanya kontraksi palsu"
"Yaelah bu, ibu seperti orang tidak pernah melahirkan saja"
"Ibu takut Mil,kalau nanti kedua orang tua Riri mala menyalahkan ibu karena semua ini"
"Ya biarlah bu, ibu bisa diam gak sih,mila ikut pusing nih"
" kalian dari tadi debat aja, bisa diam gak, pusing aku dengarnya"ucap suami mila kepada istri dan mertuanya karena dia dari tadi pusing mendengar perdebatan kedua orang yang tidak berfaedah menurutnya.
"Lagian semua juga sudah kejadian, kalian mala saling menyalahkan,seharusnya disini kalian sebagai perempuan harus lebih sadar dan peka terhadap keadaan Riri bukan mala iku mengkompromi Doni untuk tidak tegas pada suaminya"ucap mas anton suami mbak mila karena dari tadi dia sangat gemas dengan sikap mereka berdua apalagi dengan sikap suamiku yang seolah tidak peka terhadap keadaan istrinya yang akan melahirkan.
"Jadi kamu membela Riri mas, ingat mas aku ini Istrimu" sela kakak iparku karena dia tidak terima jika disalahkan oleh suaminya sendiri.
"Aku gak bilang loh kalau aku menyalahkan kamu, aku hanya bilang kalian jangan saling menyalahkan, intropeksi diri saja, lagian sudah kejadian mau diapakan lagi," jawab suami mbak mila.
"Sudahlah mas kamu diem jangan makin memperkeruh keadaan" jawab mbak mila ketus.
"Ya terserah kamu saja mil, kamu kalau dibilangin suami ya pasti dari dulu selalu bantah,ingat kalian bisa saja dituntut oleh kedua orang tua Riri atas kasus pencobaan pembunuhan" ucap mas anton lalu berdiri meninggalkan mereka berdua, dan ucapan mas anton mampu membuat ibu dan kakak iparku menjadi semakin ketar ketir hatinya.
"Gimana ini Mil, Ibu takut kalau orang tua Riri mala melaporkan ibu mil" ucap bu fatma semakin gugup.
"Sudahlah bu gak usah dipikirin, emang mereka punya bukti, kalaupun Riri memang gak lemah pasti dia mau berusaha untuk melahirkan normal,bukan mala milih jalan secar, bilang saja kalo Riri orangnya lemah malas berjuang"
"Iya ya Mil, kenapa dari tadi ibu harus pusing mikiran Riri ya,memang dasarnya saja Riri sendiri yang lemah, biarpun nanti kalau mereka menyalahkan kita karena penyebab Riri ditindak lanjuti secar biar saja nanti kita yang akan mengancam Riri kalau dia berani macam-macam maka ibu tidak akan segan untuk menyuruh doni menceraikan dia, biar saja dia jadi janda muda" ucap ibu mertuaku dengan penuh luapan emosi, memang sejak aku tidak pernah memberikan dia, dia mala berencana untuk mencoba membujuk mas doni untuk menceraikan aku dan ingin menjodohkan suamiku dengan anak teman sosialitanya, tentu aku tau karena aku mendengar sendiri saat ibu sedang telvonan dengan seseorang dan aku mendengar sedikit dari percakapan mereka.
"Iya ,ibu juga gak rela kalau sampai Doni mengeluarkan uang untuk biaya rumah sakit Riri, biarlah ditanggung sama orang tuanya yang miskin itu,"
" ya gak bayar bu, pake jaminan kesehatan"
" ngaco kamu Mil, Riri itu tidak punya kartu jaminan kesehatan, memang dasar menantu bodoh,kalau sudah kejadian seperti ini pasti dia menyusahkan anakku," gerutu ibu mertuaku, memang selama ini mereka hanya tau jika orang tuaku hanya seorang petani desa yang mengelolah sawah keci yang dipastikan hasilnya tidak seberapa, serta rumah orang tuaku yang kecil dan mempunyai mobil itupun hanya mobil butuh cerri dahulu membuat keluarga suamiku menganggap kalau orang tuaku orang miskin, padahal sebenarnya kami mempunyai banyak lahan sawah dan ladang yang dikelolah oleh orang suruhan orang tuaku yang hasilnya mampu membuat rekening menjadi gendut setiap bulannya, namun karena pola hidup mereka yang sederhanalah yang membuat kekayaan orang tuaku tidak terlihat.
Bedah dengan pola hidup ibu mertua dan kakak iparku yang gayanya bagaikan ibu-ibu pejabat yang mampu membuat kantong menjadi jebol.
"Terus bu bagaimana kalau Doni disuruh bayar seluruh tagihan rumah sakit, dapat dari mana doni uang sebanyak itu bu, pasti menghabiskan uang hampir puluhan juta bu" jawab mbak mila panik.
" mangkanya tadi ibu melarang doni untuk pergi menemui Riri pasti nanti ujung-ujungnya dia yang disuruh bayar oleh kedua orang tua Riri"
" ayo kita temui Doni bu, Mila gak ridho kalau sampai uang Doni mala dipakai buat lahiran Riri yang gak berguna itu, bisa-bisanya jadi perempuan kok mala malas berjuang" ucap mila langsung menarik ibunya untuk pergi kerumah sakit dengan mengendarai motor bututnya yang sudah siap terparkir rapi didepan rumah.
----,,,,....
Sedangkan dirumah sakit saat ini ibu dan suamiku terjadi percecokan yang mampu membuat ibuku menjadi semarah ini melihat sikap suamiku.
"Ingat bu, aku disini tidak akan mau membayar semua tagihan rumah sakit ini sepeser pun, karena ini murni salah Riri yang malas berjuang untuk melahirkan normal"
" biadap mulutmu itu Don, bisa-bisanya kamu ngomong seperti itu, dasar lelaki gak guna " ucap ibuku sakit hati terhadap ucapan dari suamiku.
"Coba ibu fikir deh bu, kalau saja Riri mampu menahan rasa sakitnya pasti dia sekarang lahiran dibidan terdekat dan tidak mengeluarkan uang banyak, "
" apa kamu fikir melahirkan secara secar itu tidak butuh perjuangan, enak saja mulutmu kalau ngomong, ini semua karena kamu penyebabnya, andai kamu cepat sigap menolong Riri pasti tidka akan ada kejadian seperti ini, asal kamu tau Riri hampir saja meregang nyawa bersama anakmu gara-gara keteledoran kamu sebagai suami" ucap ibuku dengan nada naik beberapa oktaf.
"Jadi ibu menyalahkan aku, oke tapi ingat bu, aku tidak akan membayar biaya rumah sakit sepeserpun"ancam suamiku kepada ibu namun ibu dan bapak hanya terkekeh mendengar ucapan suamiku.
"Memang kamu punya uang buat bayar tagihan rumah sakit"tanya bapakku, memang sedari tadi bapak hanya diam mendengar perdebatan antara ibu dan mas doni.