Dianggap Remeh Setelah Melahirkan

Dianggap Remeh Setelah Melahirkan
bab 32


Di meja makan tidak ada obrolan sama sekali selama mereka makan, bahkan raut wajah pak anto dan Bu ros terlihat amat santai, sehingga membuat Riri nyaman di antara kedua orang tuanya, setelah semua menghabiskan makanan masing- masing barulah pak anto membuka obrolan diantara mereka.


"Kamu mau nambah nak, harusnya kamu makan yang banyak sebab posisi kamu sekarang lagi menyusui" ucap pak anto selalu bersikap lembut dalam memperlakukan putrinya.


"Tidak pak, nanti saja , ini sudah cukup kok" jawab riri.


"Memangnya kenapa nak, apa masakan ibu tidak enak sehingga kamu makannya hanya sedikit" ucap bu ros menyahuti perkataan riri sambil membereskan piring bekas suaminya di meja makan sebab tidak biasanya anaknya tidak nambah saat ibunya masak makanan kesukaan sang anak.


"Tidak bu, bahkan masakan ibu sangat  enak rasanya pun tidak pernah berubah selalu saja menggugah selerah" jawab riri sambil tersenyum namun masih terlihat jelas gurat kesedihan di wajahnya.


"Kamu menyusui loh nak, harus makan banyak, kasian bayimu kalau sampai gara- gara kamu makannya dikit nanti dia mala kurang nutrisi sebab asimu kurang" ucap  Bu ros memandang lekat manik wajah riri sedangkan riri selalu saja berusaha berpaling dari tatapan ibunya.


"Sudahlah Bu, mungkin saja saat ini Riri memang benar sangat kenyang, " ucap pak anto menengahi sedangkan Bu ros langsung mengangguk patuh dan segera membereskan piring bekas makanan tadi untuk di taruh di wastafel.


"Kamu kesini tadi diantar siapa nak " tanya pak anto ketika Riri akan bangkit dari duduknya ingin pergi ke kamar karena sebenarnya Riri ingin menjauh dari pertanyaan orang tuanya, namun akhirnya mau tak mau riri harus duduk kembali sebab bapaknya sudah bertanya lebih dulu.


"Tadi riri naik taksi online pak" jawab riri singkat sambil menunduk ke bawah arah meja sebab dia takut untuk menatap wajah bapaknya.


"Terus suamimu ikut nak" tanya pak anto namun Riri mala sangat lama dalam menjawab pertanyaan dari bapaknya sehingga membuat pak anto mengulang pertanyaannya sekali lagi.


"Terus suamimu kemana nak, apa tadi suamimu ikut mengantarkan kamu kesini" tanya pak anto sekali lagi, begitu pula dengan Bu ros dia mencuci piring di wastafel sambil memasang telinga dengan tajam agar bisa terdengar pembicaraan antara bapak dan anaknya.


"Tidak pak, Riri tadi kesini sendirian tanpa di antar oleh Mas Doni" ucap Riri gugup, sebab dia sangat takut bapaknya marah padanya karena orang tua Riri selalu mengajarkan anak perempuannya untuk selalu patuh pada suaminya.


"Apa kamu tadi sudah izin nak pada suamimu jika kamu ingin pergi kesini"


"Sudah pak, bahkan tadi Mas Doni yang menyuruh Riri untuk kesini" jawab riri.


"Apa rumah tanggamu baik- baik saja nak"tanya pak Anto namun tanpa terasa tiba- tiba air mata Riri mengalir dengan derasnya sehingga membuat dia terisak dan Bu ros langsung menyudahi aktivitas mencuci piringnya untuk ke meja makan menenangkan sang anak.


"Menangislah nak, jika itu bisa membuat hatimu lega, nanti jika kamu sudah siap ceritakanlah pada kami"ucap pak anto.


Akhirnya Riri menceritakan semua kejadian yang dia alami selama berada di rumah sang suami, mulai dari Doni yang tidak pernah ikut serta mengurus salman, Doni yang tidak jujur perihal keuangan dan masalah gaji, ibu mertua yang selalu menuntut makan enak walaupun pada Riri tanpa mau peduli kondisi keuangan Riri yang pas- pasan , sehingga membuat Pak anto dan Bu ros hanya mampu menghela napas kasar sebenarnya dia kecewa pada Doni karena telah memperlakukan anaknya tidak baik namun apa boleh buat dia tidak bisa berbuat jauh walaupun sebenarnya orang tua Riri sangat menginginkan Riri tinggal bersama mereka.


"Kecewa bapak sama suami kamu itu Ri, sebagai suami kok gak ada tanggung jawabnya padahal dulu dia tidak mau membayar tagihan rumah sakit dengan alasan gajinya kecil namun ternyata dia mala membohongi kita sekeluarga" ucap pak anto dengan kecewa sambil mengertakkan giginya.


" itu juga pak yang Riri sangat kecewa pada Mas Doni, dia bilang pada ibunya bahwa dialah yang membayar semua tagihan rumah sakit dengan cara mengambil pinjaman di pabrik dan Riri disuruh merahasiakan itu semua dan yang lebih menyakitkan lagi ibu mertua selalu saja memojokkan riri untuk cepat- cepat bekerja kembali agar bisa melunasi hutang anaknya, "ucap Riri menceritakan semua kejadian di dalam rumah tangganya dan tak lupa riri juga menceritakan sikap ibunya selama ini kepada Riri semenjak dia melahirkan dan menghabiskan banyak sekali biaya sehingga membuat pak anto dan Bu ros sangat marah dan kecewa terhadap menantu dan besannya tersebut.


"Keterlaluan Doni pak, ibu sangat kecewa pada dia , enak saja kita yang bayar malah dia yang mengaku yang bayar dan ujung- ujungnya sekarang mala anak kita yang jadi korban pelampiasan ibunya," ucap bu ros sambil mengeratkan genggaman tangannya menahan rasa amarah di dadanya..


"Mungkin mertua kamu itu gak ridho nak jika uang anaknya di berikan pada istrinya yang jelas lebih berhak " 


"Terus kamu nak selama ini perbulan di beri uang berapa sama suami kamu" tanya Bu ros.


Dan akhirnya juga Riri menceritakan semua yang telah terjadi dan semua kebutuhan hidupnya membuat Bu ros dan pak anto semakin naik pitam.


"Haduhhh Ri ibu mala greget lihat suami kamu itu, dia gak bisa tegas , sekarang ternyata dia juga membohongi kita, " ucap Bu ros.


"Ya sudah nak, sementara waktu kamu ada di sini dulu bersama kita, jangan pulang dulu sebelum suami kamu menjemputmu, biarlah dia merenungi kesalahannya , semoga suami kamu segera sadar nak" ucap pak anto bijak walau sebenarnya dia juga sangat marah pada menantunya tersebut.


"Ibu juga gitu, gak akan pernah mengizinkan Riri untuk pulang ke rumah suaminya, wong suaminya sendiri kok yang telah mengusir anak kita, enak saja biarlah dia yang akan menjemputmu di sini ri, ingat kamu sudah di usir jangan mau kembali kalau tidak di jemput" ucap Bu ros mengultimatum sang anak sebab dia juga paham sebenarnya sang anak sangat bucin pada suaminya dia takut tiba- tiba Riri berubah pikiran dan akan kembali lagi ke rumah suaminya.


"Iya bu, riri janji gak akan kembali lagi " ucap riri agar ibunya tidak emosi terus -terusan.


Notes: 


Maaf ya sahabat setia membaca di novel iki, karena kecerobohan saya yang salah apluod di karenakan kondisi saya yang kurang enak badan.