
Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa sudah satu minggu sudah Pak Anto telah melakukan misi untuk menyelidiki tentang Doni, berbagai macam fakta telah Dia kantongi, namun ingin memberi tau Riri Dia tidak tega, sebab Dia tidak mau anaknya menjadi kepikiran tentang Doni, bahkan akhir-akhir ini Riri terlihat lebih sering melamun, akhirnya dengan persiapan yang serba mendadak dan kebetulan dua hari ke depan tidak ada kegiatan untuk mengirim barang dan panen, Pak Anto memutuskan untuk membawa satu keluarga mereka untuk menginap di puncak, agar pikiran mereka lebih fresh, terutama untuk Riri anaknya, Pak Anto tidak tega melihat Riri terus-terusan tersiksa dengan masalahnya.
Hari ini Pak Anto berangkat ke puncak dengan satu mobil yang di kendarai oleh Husni, sebab Pak Anto tidak berani untuk menyupir jarak jauh karena kondisi faktor umur yang sudah di bilang tidak muda lagi.
Pak Anto menyewa sebuah villa dengan pemandangan yang sangat indah, membentang luas area perkebunan teh, selain perkebunan teh villa tersebut juga bisa melihat pancuran air terjun yang berada di tebing, serta pemandangan gunung yang indah dan hawa yang sejuk membuat para pengunjung sangat betah untuk berlama lama liburan di puncak.
Selain itu villa yang di sewa Pak Anto saat ini tersedia banyak fasilitas seperti kolam renang, alat olah raga ,taman bermain, dan area untuk berolah raga.
Kebetulan saat ini tidak berada di hari weekend ,jadi suasana di sini sangat tenang dan tidak terlalu ramai oleh aktivitas pengunjung.
Semua keluarga Pak Anto sangat menikmati liburan tersebut bahkan Riri terlihat begitu riangnya dan terlihat bisa tertawa lepas membuat Pak Anto dan Bu Ros tersenyum bahagia sebab putrinya bisa tertawa kembali, begitu juga perubahan Riri tak luput dari pandang Husni, Dia juga bisa merasakan kebahagiaan di hatinya, namun saat mengingat sosok Doni yang telah menyakiti Riri membuat Dia ingim sekali membunuh Doni saat ini juga.
Namun tanpa kedua orang tua Riri ketahui, Diamnya Riri akhir-akhir ini bukan tanpa sebab, Dia bersikap seperti itu sebab Dia tak sengaja sedang memergoki Doni suaminya sedang makan bakso di pinggir jalan bersama Alma mantan kekasihnya dulu, hati seorang istri mana coba yang tidak sakit hati saat melihat suaminya berdua dengan mantannya bahkan mereka berdua sangat mesra, padahal saat ini kondisi rumah tangganya sedang di ujung tanduk namun Doni seolah melupakan itu semua.
Saat Doni sedang makan bakso dengan Alma ini juga tak luput dari pengawasan orang suruhan Pak Anto, namun mereka tidak menyadari jika anak dari bos mereka mala sudah memergoki suaminya duluan.
Flash back on
Di hari rabu sore, Aku baru saja menyelesaikan job akad nikah yang berada di desa kali putih, kebetulan saat itu aku sedang bersama orang suruhan paman aku yang di tugaskan untuk menjadi asistenku.
Karena selama waktu hamil Aku sudah tidak pernah lagi keluar rumah untuk sekedar mencari angin Sore atau pun mencari makan malam itu tak pernah ku lakukan karena kondisi ekonomi yang tak memungkinkan, hingga penyebabnya Aku tidak tau kuliner apa saja yang baru di area kota tempat tinggalku.
Hingga saat job akad nikah saat ini sudah selesai, kebetulan saat ini juga masih jam lima sore karena pengatin akan melaksanakan akad nikah setelah ba'dal magrib, seperti biasanya setelah tugas kami selesai, kami lebih memilih pulang tidak menunggu acara selesai, sebab kebetulan juga acaranya juga sederhana dan pakaiannya pengantinnya simple tidak banyak menggunakan asesoris.
Karena Aku dan Mbak Rini (asistenku) saat ingi sangat lapar karena di rumah clien tadi tidak sempat makan, Akhirnya memutuskan untuk singgah dulu di warung bakso yang sedang viral dan kebetulan letaknya searah dengan arah jalan pulang.
"Mbak Riri ini kita sudah sampai di tempat kedai baksonya kok mala bengong aja gak turun dari motor" ucap Mbak Rini mengagetkanku sebab aku merasa tercengang melihat bangunan kedai bakso itu, ya memang kedai itu dulunya kantor pos yang sekarang di sulap menjadi kedai bakso bahkan logo orennya saja masih terpampang jelas.
"Eh iya mbak , habisnya saya gagal fokus mbak, kedainya rame ya mbak" jawabku.
"Iya mbak, gimana gak ramai coba bakso tetelannya ituloh mbak josss sekali" ucap Mbak Rini dengan antusias sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Ohh " ucapku singkat sambil melepas helm yang berada di kepalaku.
"Ayo atuh mbak cepetan saya sudah ngiler nih gak sabar pengen makan bakso"ucap Mbak Riri sambil menarik tanganku, memperlihatkan Dia yang sangat gak sabar untuk menikmati bakso.
Saat aku sudah masuk di kedai bakso tanpa sengaja bola mata ini menangkap sosok yang aku kenali sedang berada di pojok tempat makan, berulang kali aku mengerjapkan bola mataku, memang tidak ada yang salah aku sangat kenal bahkan sangat hafal pada sosok tersebut, ya Dia adalah Doni suamiku dan lebih menyakitkan lagi ternyata Mas Doni sedang asyik berduaan dengan Alma mantan kekasihnya, seketika hati ini bagaikan di sayat sayat tipis menggunakan belati melihat kelakuan Mas Doni, ternyata Dia tidak mau menjemput dirinya dan anaknya karena ada Alma yang sudah menggantikan dirinya.
"Eh mbak Riri gimana sih, dari tadi Rini tanyain kok mala bengong aja,mbak sedang lihat apasih, kok serius amat " ucap Mbak Rini mengagetkanku sebab tanpa aku sadari ternyata sedari tadi Dia telah berulang kali menanyakan aku tentang menu bakso apa yang aku pesan.
"Eh maaf mbak, saya gak fokus ngliat para pengunjung, habisnya mereka sangat menikmati bakso sekali" jawabku berbohong. Dan kebetulan aku saat ini memakai baju agak gamis dan kerudung syar i panjang serta masker sehingga bisa menutupi diriku agar tidak di kenali oleh mas Doni.
"Oalah ya itu memang enak mbak, mbak mau pesan bakso apa"
"Saya baksonya samain saja sama pesanan Mbak Riri pasti saya suka, sebab saya gak paham mbak mana yang enak"
"Ya sudah, Pak saya pesan bakso tetalan jumbo dua ya sama es jeruk dua makan sini" ucap Mbak Rini kepada pedagang bakso dan kebetulan saat ini bangku yang kosong berada di ujung utara sedangkan Mas Doni dan Alma berada di ujung selatan jadi aku bisa leluasa melihat kelakuan dua manusia laknat di hadapanku serta tak lupa aku abadikan kemesraan mereka dengan ponselnya karena ini bisa menjadi senjata untuk memudahkan proses perceraianku di pengadilan nanti.
Flash back off