
Di Malam yang sunyi ini, semua keluarga Doni berkumpul di Rumah Lastri, sebab saat ini Mila sedang malas memasak,akhirnya Dia memutuskan untuk mengajak Anton dan anaknya untuk makan di Rumah Ibunya saja, dan kebetulan Lastri juga saat ini sedang masak lumayan banyak, karena baru saja mendapat jatah panen ikan lele dari keponakannya yang berternak lele.
Selesai makan mereka berempat berkumpul di Ruang Keluarga untuk sekedar bersantai setelah makan.
Anak Mila sedang asyik menonton tv.
Mila sedang asyik memainkan ponselnya.
Lastri menemani cucunya menonton tv.
Antok berada di sofa ruang tamu sedang memainkan game kesukaanya.
Sedangkan Doni terlihat sedang merenung di Sofa Ruang Tamu.
Anton yang melihat sikap Doni yang berbeda dengan biasanya akhirnya mulai membuka mulut untuk menyakan kabar Doni, perihal Doni mendapat surat pengadilan agama pun Anton tidak tau, jadi wajar jika saat ini Anton penasaran apa yang telah terjadi pada Adik Iparnya.
"Tumben Don, setelah makan Kamu tidak merokok" ucap Anton sambil menyodorkan bungkus rokok ke hadapan adiknya, mungkin saja saat ini Doni sedang kehabisan Rokok.
Sedangkan saat tau Anton menyodorkan rokok beserta korek apinya, Doni langsung menyambar bungkus rokok tersebut, mengambil satu batang rokok dan mulai menyalakan batang rokok tersebut.
Anton yang melihat respon hanya memicingkan matanya, sebab selama ini tidak pernah sekalipun sang adik sampai kehabisan rokok,lalu Doni menikmati batang rokok tersebut tanpa mau menjawab pertanyaan dari sang kakak.
Memang sebenarnya yang terjadi saat ini adalah Doni sedang kehabisan rokok karena uangnya sudah mulai menipis, bahkan uang dari Riri yang rencanya akan Dia gunakan untuk membayar cicilan motor telah terpakai untuk keperluan Dia sehari-hari.
Setiap hari Doni harus membeli sarapan dan makan siang di Pabrik, tentunya akan menjadi semakin banyak pengeluaran, belum lagi untuk bensin,rokok.
Saat Anton dan Doni sedang diam tidak bersuara dengan pemikirannya masing-masing,tiba-tiba Mila datang ikut duduk di sofa bersebelahan dengan suaminya.
"Oh iya Don, memangnya kapan Kamu sidang pertama" tanya Mila tiba-tiba sehingga membuat Anton melototkan matanya saat mendengar pertanyaan Mila.
"Maksudnya apa"tanya Anton tiba-tiba, Dia tidak menyangkah dengan Riri yang selama ini bucin dengan Doni, ternyata sekarang mengajukan gugatan cerai.
"Itu loh Mas, Doni di gugat cerai Riri, dan surat dari pengadilan agama sudah sampai di tangan Doni" jelas Mila, sehingga membuat Anton melototkan matanya tidak percaya, karena kebodohan Doni, akhirnya kehilangan berlian seperti Riri.
"Dasar Doni bodoh, bisa-bisanya Dia membuang berlian seperti Riri, entah di taruh dimana letak otak Doni" guman Anton dalam hati, karena Dia menyayangkan sikap Doni yang kurang dewasa dan terlalu menurut apa yang di kata oleh Ibunya.
"Don, Kamu kapan sidangnya, dari tadi di tanya diam saja Kamu,Kamu lagi mikirin apa sih" tanya Mila sekali lagi dengan nada naik beberapa oktav sehingga membuat Lastri mendengar ucapan Mila dan meninggalkan cucunya yang sedang menonton tv untuk bergabung bersama Mila untuk membicarakan perceraian Doni.
"Besok Mbak sidangnya,jam sembilan pagi" jawab Doni dengan lemas.
"Apa besok, pokoknya Ibu harus ikut dalam sidang Kamu nanti, " ucap Lastri tiba-tiba dan langsung ikut mendudukkan dirinya di sofa ikut bergabung dalam pembicaraan ini.
"Iya Don, Mbak Mila besok harus ikut, supaya Kamu tidak di anggap lemah oleh keluarga Riri, lagian perempuan saja sok-sokan acara pengajuan cerai, kalau sudah jadi janda dan di hujat warga kampung, baru tau rasa itu si Riri."ucap Mila dengan sangat antusias, sebab kehidupan di desa sangatlah keras, status janda adalah status yang terhina bagi sebagian masyarakat, padahal sebenarnya tidak ada ada seorang yang menginginkan menyandang status tersebut.
"Apa Kita sewa pengacara saja ya Bu" sambung Mila.
"Ishh, Kamu ini gak usahlah, lagian sewa pengacara itu mahal Mil, buang-buang duit saja" jawab Lastri menolak keras apa yang telah Mila usulkan.
Sedangkan Doni sedari tadi hanya diam saja tanpa mau menyahuti percakapam antara kedua wanita tersebut,sebab Dia saat ini sudah pusing sekali, memang sebenarnya di lubuk hati yang terdalam Doni masih menginginkan Riri untuk bersamanya.
"Tapi Bu, kalau kita nyewa pengacara Kita bisa menuntut uang yamg telah Riri pakai untuk biaya lahiran dulu, lumayan loh Bu, puluhan jutah, " ucap Mila dengan menggebu dan membuat mata Lastri seketika berbinar, memang kalau soal urusan uang Lastri nomer satu.
Berbeda dengan Doni, Dia langsung melototkan matanya tidak percaya dengan apa yang telah Mila katakan,kalau sampai itu terjadi dan yang ada keluarga Riri mala membongkar semua kebenaran, mau di taruh dimana muka Doni nanti.
Sedangkan Anton yang mendengar percakapan keduanya hanya mampu tersenyum sinis, karena bagi Anton yang sudah tau tabiat asli mertua dan istrinya, hanya bisa menonton tanpa mau ikut campur, sebab jika Mila di larang pun nantinya pasti akan terjadi perang besar di antara Dia dan Mila,sehingga membuat Anton lebih memilih Diam saja , kecuali jika nanti Mila sudah kelewat batas maka Anton akan bertindak.
"Benar Kamu Mil, mending Kita sewa pengacara saja, enak saja Riri habis enaknya, sekarang minta cerai" ucap Lastri dengan menggebu.
"Kalian ini ngapain sih pake acara sewa pengacara segala, lagian hanya masalah percerain, bukan tuntutan pembagian warisan" jawab Doni kesal melihat tingkah keduanya, bukannya meringankan pikiran Doni, yang ada menambah beban pikiran Doni saat ini.
"Iya yang di ucapkan Doni benar Mil, tidak usahlah pake acara pengacara segala, lagian ini juga masalah percerain, mending kita nanti saat di pengadilan agama lebih kekeluargaan saja, Riri juga masih keluarga kita "ucap Anton menengahi perdebatan diantara Mereka.
"Gak, gak, gak bisa, lagian Riri juga buka keluarga Kita Mas, Dia itu orang lain" jawab Mila tidak terima saat Anton menganggap Riri adalah keluarga,sehingga membuat Anton semakin geram dengan pemikiran dangkal yang di miliki oleh istrinya tersebut.
"Kalau Riri orang lain, berarti Aku saat ini juga orang lain bagi Kamu Mil"tantang Anton berharap pemikiran Mila lebih terbuka.
"Bu-bukan gitu maksudku Mas, "jawab Mila gelagapan.
"Lalu maksud Kamu apa, Aku tersinggung loh Mil"ucap Anton sambil menatap istrinya dengan tatapan tajam.
Sedangkan Mila yang di tatap semakin gugup dan mulutnya tidak mampu untuk berkata apa-apa.
"Sudahlah kalian berdua kenapa mala ribut disini sih, sudah tau keadaanya sekarang lagi genting, pokoknya Ibu gak mau tau,besok Kita harus bawah pengacara , Tiiitikk" ucap Lastri dengan penuh penekanan, yang membuat Doni berulang kali menjambak rambutnya sebab saat ini pikirannya benar-benar buntu.
"Gak usahlah Bu, lagian waktunya juga mepet, Kita juga tidak punya kenala pengacara yang berbakat" jawab Doni berusaha bernegosiasi supaya Ibunya tidak lagi membahas soal pengacara.
"Sudahlah Doni, Kamu tidak usah mikirin soal pengacara, apa Kamu lupa kalau Ibu ini adalah anggota dari grup arisan sosialita, yang di dalamnya banyak terdapat istri pejabat,tentunya mereka semua pasti punya kenalan banyak pengacara handal" ucap Lastri dengan bangganya, namun berbeda dengan Doni, Dia semakin ciut nyalinya, bahkan saat ini di pikiran Doni, Dia merasa bahwa besok tidak usah datang saja saat sidang.
"Tapi Bu, sewa pengacara itu tidak murah loh"
"Halahh Doni, paling juga berapa gak sampai sepuluh juta, dan nantinya pasti Kita juga mendapat bayaran dari biaya persalinan Riri yang puluhan juta, dan tentunya pasti Kita ini ya untung Don, sudahlah mending Kamu itu nurut saja" sahut Mila dengan sangat antusias meyakinkan adiknya, supaya tidak ragu-ragu untuk menyewa pengacara.
"Sudahlah Mil, kalau menyewa pengacara hanya untuk mengambil biaya persalinan Riri sih mending gak usah, dari pada nanti Kamu Malu seumur hidup di pengadilan,bukannya biaya persalinan adalah tanggung jawab suami,Kamu jangan aneh-aneh deh Mil" ucap Anton mulai terpancing emosi melihat tingkah konyol istrinya.
"Ya gak bisa gitulah Anton,Kamu ini enak saja kalau bicara, iya Kamu modalin lahiran Mila juga berapa juta sih, di bidan saja paling banyak juga cuma dua juta, ya jelas Kamu tidak merasa kehilangan uang, lah ini Doni sudah habis puluhan juta, ternyata anaknya di bawah Riri kabur, jadi ya sudah seharusnya kalau Riri harus mengembalikan biaya persalinan" sahut Lastri tidak terimah jika melihat sikap Anton saat ini yang membela Riri.
"Ahhhh sudahlah, kalau Aku bilang tidak usah pakai pengacara ya tidak, kalian semua ngapain sih dari tadi debat mulu, pusing Aku dengarnya," ucap Doni dengan nada tinggi sehingga membuat Lastri ketakutan, sebab jika Doni sudah marah maka Lastri akan sulit untuk mengendalikan anaknya.
"Awas saja kalau sampai besok ada pengacara di persidangan" ucap Doni sambil menatap tajam diantara Mila dan Lastri secara bergantian sehingga membuat keduanya tidak bisa berkata apa-apa.
UHingga tiba di hari persidangan, semua anggota keluarga, Riri, Pak Anto, Bu Ros, dan Pak Jamal pengacara Riri sudah berkumpul di Rumah Pak Anto, mereka rencananya akan berangkat bersama-sama.
Sedangkan Salman sudah di amankan oleh Bu Ros, untuk saat ini Salman di berikan pada Nanik,sepupu Riri,agar saat persidangan nanti, Riri tidak kepikiran tentang anaknya, yang kebetulan Nanik juga telah lama menikah namun belum di karuniai anak, sehingga saat Bu Ros menitipkan Salman padanya, tentu Dia menerimanya dengan senanh hati.
"Bagaimana Kamu nak, apa Kamu sudah siap menghadapi persidangan nanti, kalau Kamu tidak siap mending Kamu tidak ikut, biar semuanya di urus oleh Pak Jamal saja"ucap Pak Anto sambil melihat wajah anaknya secara intens, meski saat ini wajah sang anak terlihat baik-baik saja, namun namanya juga orang tua pasti ada rasa khawatir di hatinya.
"Bapak ini apa-apaan sih, kalau Riri tidak datang yang ada masalahnya tidak akan cepat selesai,nanti yang ada mulut lemes Lastri itu yang akan menghalangi proses sidang"jawab Bu Ros sudah menampilkan sikap geram.
"Ya-kan Bapak hanya khawatir tentang keadaan Riri Bu, jadi apa salahnya kalau Bapak menawari Riri agar Dia tidak datang saja"
"Riri baik-baik saja loh Pak,bahkan Riri sekarang sangat siap sekali dan tidak sabar untuk segera melaksanakan sidang percerain, capek Pak kelamaan di gantung dengan status yang tidak jelas seperti ini, hahaha"jawab Riri dengan diiringi dengan candaan agar orang tuanya tidak mengkhawatirkan keadaanya saat ini, walaupun di hati Riri sangat gerogi, namun Dia berusaha untuk menepis rasa itu di depan semua orang.
"Itu Bapak sudah tau sendiri, kalau anak kita sangat baik-baik saja"
"Iya iya Bu, ya sudah mari Kita berangkat, kalau terus debat yang ada Kita gak akan cepat sampainya, yang ada nanti mala telat saat sampai di sana."
"Maaf ya Mal, karena Kamu harus menyaksikan perdebatan di keluarga ini, memang kebiasaan istriku kalau sudah geram sama seseorang pasti mulutnya nyerocos terus, haha" ucap Pak Anto kepada temannya Jamal,
"Hahaha,Kamu ini kayak belum ngerti saja kalau urusan perempuan, semua perempuan itu ya gitu suka nyerocos saja mulutnya, begitu juga dengan istriku, sampai ini kepala rasanya mau copot sendiri, hahaha" jawab Pak Jamal dengan kekehan kecil, sebab yang terjadi pada istrinya juga begitu, suka nyerocos saja mulutnya seperti mercon kalau ada sesuatu yang tidak cocok di hatinya.
"Terus saja ngomongin perempuan, kalau gak ada perempuan, ya tentunya kalian semua gak akan lahir di dunia ini, Dasar Kacang lupa kulitnya" ucap Bu Ros dengan kesal karena Dia merasa harga dirinya di rendahkan saat melihat Pak Anto dan Pak Jamal menertawakan seorang perempuan.
"Iya iyaa Ibu,istri Bapak tersayang, maafkan Bapak yang telah menertawakan Kamu" jawab Pak Anto tiba-tiba lalu merentangakan tangannya ke arah Bu Ros dan merangkulnya lalu mencium kening istrinya sehingga membuat Pak Jamal hanya geleng-geleng kepala, sebab bagi Pak Jamal yang telah mengetahui seluk beluk bagaiman cara Anto dulu mendapatkan Ros, membuat Jamal bangga pada sahabatnya tersebut, walaupun pernikahan mereka sudah lama namun rasa cinta dan bucin Anto pada Ros masih tetap sama tidak berkurang sedikit pun.
Begitu pula dengan Riri, Pemandangan di hadapannya adalah hal biasa bagi dirinya, bahkan setiap saat sang Bapak selalu bucin pada Ibunya,sehingga membuat Riri menjadi iri akan kisah cinta yang terjadi pada orang tuanya, semakin lama cinta mereka semakin besar,berbeda dengan nasip percintaannya yang harus kandas di umur jagung.
"Kalau Aku terus menonton adegan bucin Kamu sama Ros, kapan Kita berangkat ke pengadilannya, yang ada nanti dua tahun lagi kita berangkat kalau nunggu Kamu, itu lihat si Riri ,mukanya mulai cemberut" ucap Pak Jamal, memang yang ada Riri iri pada kedua orang tuanya sehingga menampilkan wajah masam.
Pak Anto yang menyadari akan hal itu segera Dia bangkit dari tempat duduknya untuk mengambil kunci di atas nakas.
"Ya sudah ayukk Kita berangkat, nanti keburu telat loh" ucap Pak Anto sambil nyengir kuda dan tangannya memainkan kunci mobil.
"Ya sudah ayukkkk" ucap Pak Jamal lalu bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Pak Anto ke arah mobil.
Begitu pula dengan Bu Ros dan Riri, Dia ikut bangkit dari duduknya lalu melangkahkan kakinya ke arah mobil.
........
Sedangkan di tempat lain saat ini Lastri dan Mila sedang sibuk penyiapkan penampilannya untuk pergi menemani Doni ke pengadilan, namun penampilan mereka bak seseorang yang ingin pergi ke acara hajatan, sangat heboh.
Mila menggunakan dress ketat selutut berwarna merah jambu dengan hiasan full payet di dadanya,serta tiap jari menggunakan dua cincin dan tiga buah gelang besar di pergelangan tangannya, tidak lupa kalung rantai besar melingkar di lehernya, make up yang begitu menor dan rambut di curly, membuat Mila seakan ingin menjadi biduan saja.
Begitu pula dengan tampilan Lastri, Dia menggunakan gamis full peyet, dua buah gelang di setiap pergelangan tangannya, dan kalung rantai besar, tidak lupa dandan yang menor,bagaikan seseorang yanh ingin pergi ke acara hajatan.
Sedangkan saat ini Anton sengaja untuk tidak pergi kemana saja, bahkan Dia dengan sengaja membatalkan jadwalnya untuk mengontrol peternakan sapinya karena ingin melihat langsung proses sidang perceraian Doni, karena Anton sangat kepo sekali tentang sikap Doni nanti saat berada di pengadilan, akankah adiknya akan bersikap dewasa atau nanti di pengadilan yang ada takutnya Dia bersembunyi di ketiak sang Ibu.
Dengan perasaan gunda dan kegugupan, membuat jantung Doni berdecak dengan kencang, sebab di sisi lain Dia tidak siap untuk kehilangan Riri.
Saat ini Doni dan Anton sedang berada di teras Rumah untuk menunggu Lastri dan Mila yang sedang bersiap-siap.
Anton lebih memilih untuk menikmati batang rokoknya dengan santai tanpa memperdulikan Doni yang saat ini sedang melamun, karena bagi Anton ini semua juga salah Doni karena Dia tidak bisa mengambil sikap.
Setelah Anton menghabiskan dua batang rokoknya barulah muncul sang istri dan juga Ibu Mertuanya secara bersamaan.
Anton seketika melotokan matanya tidak percaya saat melihat dandanan sang istri yang lebih seperti biduan tersebut,Dia menatap sang istri dengan seksama mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, membuat Doni berulang kali menggelengkan kepalanya tidak percaya, melihat tingkah laku sang istri yang di luar nurul tersebut. padahal ini acara ke pengadilan, bukan mau undangan ke hajatan.
Mila yang merasa di tatap sangat aneh oleh sang suami hanya berdecak kesal tidak terimah, padahal Dia sudah susah-susah untuk menampilkan dandanan seperti ini, mala yang terjadi sang suami seolah bergidik ngeri melihatnya.
"Kamu ini apa-apaan sih Mas, seperti gak pernah lihat istri sendiri yang lagi cantik ini," ucap Mila dengan nada kesal kepada suaminya.
"Kamu ini gak papa Mil" ucap Anton balik bertanya.
"Ya gak papa Mas, memangnya Aku ini kenapa, apa jelek"ucap Mila sambil menghentakkan sepatu hillsnya yang panjang sekitaran sepuluh senti tersebut,sehingga menambah kesan seolah Mila ini adalah biduan beneran.
"Cantik sih ya cantik Mil,tapi mbok ya melihat situasi Kamu itu, apa Kamu gak ingat apa kalau kita sekarang ini mau pergi ke pengadilan, bukan mau pergi ke hajatan, Kamu ini ada-ada saja, ayo ganti baju Mil"
"Gak-gak, tidak ada pake acara ganti baju segala,asal Kamu tau ya Mas, aku ini mempersiapkan penampilan seperti ini membutuhkan waktu yang lama, jadi gak bisa dong Kamu dengan seenaknya menyuruh Aku untuk ganti baju"ucap Mila tidak terima dan sangat marah saat suaminya menyuruh Mila ganti baju.
"Tapi Kita ini mau ke Pengadilan Agama Mil,bukan mau hajatan" ucap Anton sekali lagi memberi pengertian pada istrinya.
"Iya Aku tau kok,dan Aku tidak mau ganti baju lagi, Aku tidak ingin nanti penampilanku kalah sama Riri saat si pengadilan"ucap Mila dengan jujur,memang sebenarnya Mila sengaja berdandan seperti ini karena Dia takut saat di persidangan nanti kalah cantik dengan calon mantan adik iparnya tersebut.
"Ya ampun Mila, Mila, sejak kapan Riri berpenampilan heboh seperti itu, yang ada Riri selalu berpempilam sederhana dan sopan,kamu ini ada-ada saja" jawab Anton sambil tertawa. Dan mampu membuat Mila semakin kesal, sudah tampil cantik bak artis paripurna dan papan atas berharap mendapat pujian, mala yang ada Dia mendapatkan hinaan dari suaminya sendiri.
Doni yang mendengar perdebatan hanya bisa diam saja tanpa mau ikut berkata,karena di dalam pikirannya saat ini sedang kacau, beruntungnya Doni kemarin di beri kemudahan saat mengurus surat izin cuti.
"Halaa kalian berdua ini apa-apaan sih, kalau mau ribut itu ya mbok lihat situasi dong, sudahlah, Ayo kita berangkat, kalau terus nungguin kalian berantem yang ada nanti kita telat jadwal sidangnya" ucap Lastri dengan garang.sedangkan Anton dan Mila hanya diam saja.
"Ya sudah Kita berangkat sekatang, Kamu bonceng suami Kamu Mil dan Kamu don bonceng Ibu"ucap Lastri.
"Mending Ibu bonceng Mbak Mila saja, nanti biar Mas Anton bonceng Doni, Doni lagi gak konsen Bu"ucap doni tiba-tiba dengan nada yang sangat lemas.
"Kamu ini apa-apaan sih Don, ingat Kamu ini laki-laki,jangan lembek gitu dong, masak mau sidang percerain Kamu mala seperti ini, yang ada nanti Riri akan bertepuk tangan melihat sikap kelembekan Kamu ini" ucap Lastri dengan geram.
"Ya biarlah saja Bu, nanti biar Doni, Anton yang bonceng, mungkin Doni saat ini sedang syok dan pikirannya kacau" ucap Anton berusaha memberi pengertian pada Ibu mertuanya agar tidak terus memaksa Doni.
"Gak,gak boleh, anak ibu gak boleh lembek seperti itu" ucap Lastri masih kekeuh dengan pendiriannya.
Membuat Doni dan Anton akhirnya mau tidak mau harus menuruti perkataan Lastri.
Sepanjang perjalanan Lastri terus saja mengomel tidak jelas karena Dia di ribetkan oleh lebar gamis yang sangat panjang sehingga membjat Dia kesusahan saat berbonceng motor.
Kebetulan saat rombongan Doni sampai di Parkiran , rombongan keluarga Riri juga baru saja masuk di area parkiran,serta kebetulan melewati keluarga Doni.
Awalnya keluarga Doni sempat tidak menyadari jika yang mengemudikan Mobil brio keluaran terbaru itu adalah keluarga Riri, namun alangkah terkagetnya Lastri saat Mobil Brio tersebut lewat di hadapannya dan dengan sengaja juga keluarga Riri membuka kaca Mobil sehingga membuat Lastri dan Mila hanya mengangakan mulutnya saja tidak percaya jika besannya mengemudika mobil terbaru.
"Halaa,gak usah kagetlah Bu, palingan juga itu hanya mobil rentalan,sekarang sudah banyak Bu,gaya elit, pake mobil mewah ternyata cuma merental, "ucap Mila dengan sinis.
"Iya, palingan juga rental, kalau beli ya mana mungkin Mereka punya uang, kerjanya juga cuma petani"sahut Lastri berdecak sinis sambil melipatkan kedua tangannya di dada.
"Memang sedari dulukan Bu, kalau gaya keluarga Riri itu selangit, bahkan Ibu juga tau sendiri" ucap Mila memanasi keadaan.
"Tapi Mil, kalau memang itu mobil punya mereka bagaimana" tanya Lastri tiba-tiba, sebab Dia saat ini juga ketakutan kalah saing.
"Hussh ,mulut Kamu ituloh Mil, di jaga sebentar saja apa tidak bisa, ini tempat umum bukan Rumah sendiri" ucap Anton yang tidak suka dengan sikap Mila yang terlalu norak menurutnya.
"Kamu ini kenapa sih Mas, dari tadi sewot mulu,tau gitu mending tadi Kamu kerja saja, dari pada di sini juga gak bantuin, yang ada mala ngomen mulu" jawab Mila kesal.
Namun alangkah kagetnya Lastri saat melihat Riri sedang turun dari mobil lalu menatap dirinya dengan tatapan seolah mengejek padahal Riri saat itu hanya melihat saja tidak menampilkan ekspresi sama sekali, namun karena mereka berdua yang terlalu benci sehingga membutakan mata mereka, apalagi saat itu penampilan Riri sangat fashionable,dengan kemeja putih di padu dengan kulot jeans dan hijab bercorak,serta tas branded yang di tantingnya membuat Riri terlihat semakin cantik, dan mampu membuat Mila semakin ilfill melihat Riri,
Begitu pula Doni,saat melihat Riri, hatinya semakin tidak karuan, Dia sangat ingin berlari menghampiri Riri saat itu juga, namun sakit hati karena merasa terhina sebab Riri mengajukan percerain membuat Doni membatalkan niatnya untuk menghampiri Riri.
Anton yang melihat sikap Doni yang tidak ada perubahan pun hanya mampu diam saja.
Di luar dugaan, ternyata Lastri tiba-tiba melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri keluarga Riri,
Dengan kecepatan kilat Lastri langsung menarik hijab Riri dan menjambak rambutnya sehingga membuat Riri menjerit kesakitan.
Bu Ros langsung dengan sikap berusaha melepaskan cengkraman tangan Lastri dari rambut anaknya.
Begitu pula dengan Mila,Anton dan Doni, mereka langsung menyusul Lastri.
"Kamu ini apa-apaan sih,datang-datang langsung menjambak anak saya"ucap Bu Ros sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Lastri.
"Dasar menantu gak tai diri, kembalikan uang anakku"