
Riri yang mendengar derap kaki dia segera berlari ke arah kamar supaya suaminya tidak curiga jika dia habis menguping semua pembicaraan dia dengan ibunya.
Terdengar suara tangisan salman dari dalam kamar , karena tadi setelah di mandikan salman langsung tertidur , untungnya salman bukanlah tipe bayi yang rewel jadi Riri selalu bisa mengerjakan pekerjaan rumah dengan tepat waktu , mungkin sudah di gariskan oleh takdir yang kuasa , jika dia di beri bayi yang rewel pasti menguras tenaga banyak sebab setres karena sudah bayinya rewel, keluarga suami nya rewel pula.wkwkwk
Segera kulangkahkan kaki menuju kamar tidur dan segera kususui salman agar dia terlelap lagi, alhamdulillah sepuluh menit salman kususui akhirnya dia bisa tidur terlelap lagi dan aku bisa melayani kebutuhan suamiku yang saat ini baru pulang kerja ,segera aku beranjak dari kamar tidur menuju ke arah dapur dan benar saja terlihat saat ini mas Doni yang sedang terduduk lesu di meja makan, aku yang saat ini tau permasalahannya mencoba untuk cuek seolah tidak tau apa - apa karena ingin tau langkah apa yang akan di ambil oleh suamiku untuk ibunya .
" mas , kamu mau aku siapkan sarapan dulu apa mas mau langsung mandi" ucap ku lembut
" Mas malas mandi Ri, mending kamu buatin mas kopi entah mengapa mas ingin sekali minum kopi " jawabnya dan aku hanya mengangguk patuh padahal tadi mas doni baru saja minum teh manis buatanku.
Segera ku panaskan air di kompor sambil menyiapkan seduhan kopi sesekali ku lirik suamiku yang saat ini terlihat amat gelisa memikirkan semuanya .
" ahhh kenapa sih ibu mintanya aneh- aneh , sudah tau semua jatah dia lebih besar dari pada rina, mengapa harus dihabiskan , pake acara besok ke wisata lagi, terus aku dapat uang dari mana coba , minjam riri juga gak mungkin " guman doni dalam hati karena saat ini dia memang benar bingung dan takut akan ancaman anak durhaka yang diberikan oleh ibunya .
" mas ini kopinya " ucap riri pelan namun tak terlihat reaksi dari doni, dia hanya sama lesu dan memandang depan dengan tatapan kosong.
"Mas ini kopinya " ucap riri kedua kali namun nihil masih tidak ada respon dari suaminya .
" massss ini kopinya " ucap riri ke tiga kali dengan nada yang agak tinggi sehingga membuat udin tersentak kaget dan berjingkat di atas kursi .
" kamu ini apa- apaan sih rin, ngomong pelan gak bisa , kalem dikit napa sama suamimu" ketus doni.
" eh mas aku sudah tiga kali loh panggil kamu tapi kamu masih tetap sama melamun gak jelas , memang kamu mikirin apa sih" jawab riri karena di sini dia ingin memancing respon sang suami apakah dia kan jujur atau sebaliknya.
"Enggak kok Ri. gak ada masalah, cuma ada sedikit masalah saja kok di tempat kerja mas , kamu gak usah khawatir " ucapnya dengan ragu dan gugup .
" masalah dikit kok sampai kamu melamun sih mas , " ucap riri masih saja terus memancing suaminya .
" udah lah ri gak usah di bahas , kamu masak gih mas laper" ucapnya mengalihkan lembicaraan sambil menyesap kopi buatan istrinya.
"Aku sudah masak kali mas , apa kamu gak lihat itu di bawah tudung saji, kamu mau makan sekarang mas " tawar riri sekali lagi sambil menunjuk tudung saji .
" enggak dek , mas masih capek ,nanti saja " ucapnya namun istrinya masih setia menemani suaminya di meja makan kali saja ada yang akan Doni bicarakan .
" apa aku ngomong aja ya sama Riri untuk minjam duitnya dengan alasan lain untuk menservis motor, ahhh kalau belum di coba mah gak ada hasil ,bismillah berhasil" guman doni dalam hati,
Sebab sedari dulu doni paling gak bisa kalau dia menolak permintaan ibunya takut menjadi anak durhaka, disinilah letak kelemahan Doni sehingga mudah dimanfaatkan oleh ibunya.
" emmm dek " ucap doni tiba-tiba
" apa mas ,ada yang mau riri bantu" ucap riri basa basi.
" udahlah mas ngomong aja kayak sama siapa , sama istri sendiri masak gitu" jawab riri.
" mas mau pinjam uang kamu sedikit "ucap doni terbata-bata.
"Kamu mau minjam uang untuk apa mas , sedangkan kamu tau sendiri kalau aku gak bekerja"
"Walaupun kamu gak bekerja tapi kamu selalu dapat uang dari aku ri" ucap doni yang seketika membuat riri jengkel karena dia merasa pasti suaminya akan mengungkit uang pemberiannya.
"Mas, uang yang kamu beri pun untuk kebutuhan kita sehari- hari dan keperluan salman" jawab riri lembut.
"Iya dek mas faham, apa kamu selama mas nafkahi ini gak punya tabungan sedikit pun" tanya doni yang seketika mampu membuat riri tersenyum sinis,
"Mas, apa kamu pernah tanya padaku bagaimana mahalnya kebutuhan hidup" tanya riri balik.
"Ya itu memang sudah kewajibanmu dek untuk mengatur keuangan rumah tangga"
"Iya mas riri faham, memang ini sudah kewajiban riri , terus sekarang riri tanya apa mas sudah berhasil untuk memenuhi kewajiban mas sebagai suami"
"Kamu kok bilang gitu sih ri, seolah mas selama ini gak ngasih kamu nafkah saja"
"Iya mas, tapi apa mas sadar kalau nafkah mas itu sebenarnya kurang untuk kebutuhan kita sehari-hari"
"Ya itu memang dasar dari kamu saja yang terlalu boros, coba saja kalau kamu pintar mengatur pasti akan cukup , bahkan sisanya bisa ditabung"
"Mas apa kamu gak mikir kebutuhan salman, belum lagi cicilan motor mu, bahan pokok, kebutuhan dapur"jawab riri mulai emosi
"Halahhh ri kamu jangan bertele-tele, atau mungkin selama ini kamu diam- diam mengirim uang kepada orang tuamu yang miskin tapi gaya selangit itu, tau sendiri sekarang ladang orang tuamu sudah dijual jadi otomatis mereka tidak berpenghasilan" ucap doni dengan tatapan tajam dan diakhiri dengan senyum mengejek membuat riri naik pitam sebab doni sudah membawa nama orang tuanya.
"Cukup ,cukup ucapan tak bermutu mu itu mas, bisa- bisanya kamu menuduh orang tuaku, apa kamu kira uang yang kamu berikan kepadaku sangat banyak, untuk setiap harinya saja aku harus menombok pake uangku sendiri, seharusnya kamu itu malu mas sebagai seorang suami, bisa- bisanya istrinya melahirkan yang bayar mala orang tua, " jawab riri dengan menggebuh dan penuh amarah yang memuncak sedangkan doni yang merasa harga dirinya saat ini di injak injak dengam reflek dia menampar wajah riri dengan lumayan keras
"Plaaaaaak" seketika riri menangis dengan air mata sangat deras.
"Sudahlah ri kamu jangan kebanyakan mengeluh di depan suami itu gak baik, sekarang mas tanya sekali lagi, mas ingin minjam uang"
"Gak ada mas"
"Kamu jangan bohong, bilang aja kamu pelit sama suami sendiri, ingat ri surgamu di bawah kaki ku"
"