Dianggap Remeh Setelah Melahirkan

Dianggap Remeh Setelah Melahirkan
bab 16


"Kok kamu ngomong seperti itu sih mas , ini juga kan demi kebaikan salman anak kita, kata mu jangan terlalu nurut omongan bidan la sekarang kalo ada apa apa sama anak kita kan kita juga lari lagi ke bidan" ucap ku sedikit kesal karena pemikiran suami ku ternyata sedangkal itu.


"Kamu memang sekarang pinter ngomong ya dan selalu saja ngajak berdebat, gak bisa apa nurut gitu kalo di bilangin ibu" balas nya membuatku semakin dilema karena aku merasa setiap langkah dan ucapanku selalu salah dimata suami dan keluarganya.


"Aku harus bagaimana ya Allah entah la seolah hambamu ini selalu salah langkah, tuntun hamba agar benar dimata mereka" guman ku dalam hati.


Perjalanan menuju rumah aku lebih banyak diam sampai dirumah pun aku segera memberikan salman obat dan mengayunnya agar segera tertidur , karena reaksi obat akhirnya salman langsung tertidur dengan pulas karena batuk semalaman salman tidak bisa tidur nyenyak,


Aku langsung membaringkan salman ditempat tidur karena saat ini salman sudah pulas , ku ambil smartphone ku sekedar untuk membuka sosmed agar aku bisa sedikit menghilangkan rasa sesak didada, namun baru 15 menit salman tiduran tiba- tiba kakak ipar ku langsung nyelonong masuk kedalam kamar  dan mengambil salman untuk diajak bermain, sebenarnya aku kesal seolah aku dirumah ini tidak ada privasi semua seenak jidatnya saja .


"Eh mbak salman baru saja tidur lo , semalaman tidak bisa tidur" ucap ku  memberi pengertian.


"Masak anak kamu suruh tidur terus ngomong aja kalo kamu males ngajak dia main" ucapnya sambil berlalu kedepan,


"Ya Allah anak dari semalaman rewel sekarang mala aku yang di fitnah karena males ngajak dia" gumanku dalam hati aku terus istighfar agar tidak kebablasan dalam bicara.


"Bener mbak salman semalam batuk terus gak bisa tidur" ucap ku karena aku melihat mbak ipar yang terus mencoba membangunkan salman, kalo mau marah tentu aku ingin marah sekali tapi percuma pasti aku yang salah.


"Ya itu karena kamu kebanyakan minum es dan kalo minum air berlebihan" ucapnya .


Aku langsung berlalu kedalam kamar karena aku tidak ingin kebablasan , kuluapkan semua emosi ku didalam kamar dengan menangis menatapi karena aku ini ibu yang tidak becus mengurus anak .


Terdengar suara tangisan salman yang semakin menjadi karena dia memang butuh istirahat namun aku biarkan dan tidak mau tau karena aku sudah memberi pengertian namun mala diomelin.


Tiba- tiba kakak ipar ku langsung masuk kedalam kamar.


"Sudah tau anak nangis kayak gini mbok ya inisiatif anaknya diambil bukan mala diam dikamar"  ucapnya langsung memberikan salman kepada ku.


"Kan dari tadi sudah tak bilangin mbak salman dari semalem rewel dan gak bisa tidur, eh baru tidur udah diambil aja ya pantes kalo salman rewel terus" ucap ku tidak mau kalah karena ini juga mengenai anak ku.


"Ya mangkanya jadi ibu yang becus dong udah tau menyusui mala banyak tingkah " ucap nya lagi namun aku tidak mau membalas semua ucapannya lagi karena mungkin dia pikir dialah ibu yang paling pintar di dunia ini wong anaknya saja ingus sampai kering belepotan dibiarin wkwkwk.


Ku mulai lagi untuk menimang salman agar dia kembali tertidur setelah hampir 15 menit aku menimang salman akhirnya dia tertidur juga dan aku juga ikut merebahkan diri karena sudah capek sejak semalam hampir tidak tidur sama sekali..


........


40 hari setelah  aku melahirkan dan masa nifas ku selesai, aku memutuskan untuk langsung mengikuti program KB saja karena banyak pengalaman di sosmed yang tidak langsung KB anak umur 2 bulan tapi di dalam perut sudah 1 bulan, aku tidak mau sampai kejadian itu terjadi padaku, ini juga demi kebaikan salman karena aku ingin salman mendapat kasih sayang dengan sepenuh hati saat masa kecilnya.


Aku mengajak mas doni untuk bersiap mengantarkan ku ke bu bidan karena aku juga gak mungkin kalo mau berangkat sendiri karena jarak rumah ku dan bu bidan sekitar 2 kilometer aku juga masih belum berani mengendarai motor sendiri.


"Mas ayuk anterin rina ke bu bidan" jawab ku sambil membenahi hijab.


" ngapain lagi kamu ke bidan " ucapnya sambil terus memainkan smart phone tanpa harus mau menoleh ke arah ku.


"Ya kan sesuai anjuran dokter aku mau mengikuti program KB aku tidak mau kebobolan" ucap ku.


Tanpa aku ketahui dari mana asalnya tiba- tiba kakak iparku langsung berada di ambang pintu kamar dan ngikut dalam pembicaraan kami.


"Baru juga 40 hari udah mau KB emang kamu uda kegatelan apa gimana" ucap nya sewot seolah langkahku paling salah dan paling hina .


"Ya kan sesuai anjuran dokter mbak ,selesai masa nifas segera pasang KB " ucap ku menjelaskan memang ya dia itu udah punya anak dua apa dia tidak pernah di beri pengarahan sehingga bodoh.


"Ya gak bisa lah kalo KB itu ya kalo anak umur 4 bulan karena dapat membuat asi seret" ucap nya seolah paling paham padahal ada KB yang dianjurkan untuk ibu menyusui.


"Udah cepet ganti baju gak ada acara pasang KB KB segala mending kamu sekarang ikut mbak bantuin buat jajan karena ntar mbak dapat  arisan" ucapnya seolah tanpa dosa menyuruh orang seenaknya sambil berlalu pergi meninggalkan kami.


"Mas tolong dong kamu jelaskan beri sedikit pengertian pada mbak mu " ucap ku


"Udah nurut aja sama yang pengalaman " ucap suami ku dengan enteng nya .


Bukan aku tidak nurut karena menurut ilmu dokter seorang laki- laki hanya 2 minggu mampu menahan hasratnya , dan ini disuruh puasa 4 bulan aku juga gak mau dong kejadian seperti rumah tangganya kalo suaminya sering jajan diluar.


Sebenarnya aku juga tidak mau ikut campur masalah rumah tangga kakak ipar ku namun aku sering dapat selentingan kabar saat aku sedang berbelanja di warung banyak ibu ibu yang menggosipkan suami kakak ipar ku yang suak ngandok dirumah janda desa sebelah, walau perlakuan suami dan keluarganya sangat buruk kepada ku namun disisi lain aku masih ingin menjaga keutuhan rumah tangga ku , aku yakin suatu saat semuanya akan berubah.


Aku sebenarnya aku juga merasa ada yang aneh pada suami ku ,dia seolah enggan berdekat dengan ku dan menjaga jarak ,tentu sebagai seorang istri aku merasa berbeda dan sepertu diabaikan, karena dulu dia adalah sosok yang pengertian dan selalu perhatian kepadaku walaupun terkadang hal hal kecil namun sejauh itu selama 3 tahun berumah tangga kami tidak pernah ada perselisihan namun semuanya berubah semenjak aku melahirkan.


......


Entah kenapa hari ini tiba tiba kepalaku terasa berat dan semakin aku mencoba untuk kuat menahan rasa sakit tapi semakin sakit tanpa sadar akhirnya aku pingsan tak sadarkan diri .


Suamiku memanggil bu bidan dan setelah diperiksa ternyata tensi darah ku sangat rendah itu karena aku kecapean dan suka begadang, selesai diperiksa bu bidan memberika obat dan vitamin lalu pamit untuk pulang karena ada pekerjaan lain,selepas kepergian bu bidan aku kira bisa istirahat sebentar dan suami ku mau bergantian menjaga salman namun aku mala mendapat hinaan dari keluarga suamiku dan parahnya lagi diposisi ku yang seperti ini suami ku tak pernah sedikit berbicara untuk membela diriku.


"Mas aku mintah tolong untuk kita gantian jagain salman ya ,nanti kalo salman lapar kamu tinggal ngambil stok asi di frezer dan semua botol susu salman juga sudah bersih, aku mau istirahat sebentar saja" ucap ku sambil menahan sakit kepala kebetulan salman saat ini tidak rewel .


"Iya kamu istirahat saja biar aku yang jagain salman lagian dia sekarang lagi tidur " jawab mas doni terus memainkan smart phone miliknya.


Baru 30 menit aku terlelap dari tidur ku namun aku mendengar suara keributan yanh terjadi di ruang keluarga,karena aku juga penasaran akhirnya aku bersembunyi di balik tembok kamar , samar- samar aku mendengar perdebatan mereka.


"Mangkanya kamu tu cari istri jangan asal asalan,udah gak mau susah untuk melahirkan, baru momong anak satu aja sudah sakit- sakitan, gimana kalo nanti sudah punya anak banyak" ucap kakak iparku,


"Tuh denger apa kata kakak mu din istri kalo melahirkan saja tidak mau berjuang gimana nanti mau berjuang demi keluarga yang remeh saja menolak " balas ibu mertua ku dengan terus mengompori suami ku.


"Dimana mana ya din kalo momong anak bayi ya susah tapi gak boleh manja karena sudah kewajiban sebagai seorang perempuan , kamu sih terlalu lembek sama istrimu" balas kakak iapt yang entah aku sala apa sehingga kakak ipar terus mengompori suamiku.


"Udah gak mau berjuang melahirkan , dikit dikit sakit, lemah banget istri mu itu don belum lagi kalo kamu tidak ada dirumah , malesnya itulo kebangetan ,rumah berantakan dibiarin ntar kalo ibu tegur alasannya anak dan anak, ibu lama lama pusing lihat istrimu " ibu terus berkata kebohongan tentang diriku padahal ketika belum shubuh aku langsung memasak dan membereskan rumah ini mala katanya aku gak ngapa ngapain dan yang membuat rumah berantakan adalah anak kakak ipar dan disitu juga ada kakak ipar yang selalu membawa cemilan kerumah lalu meninggalkan sampah begitu saja,


"Udah lah bu mungkin rini capek biar kali ini udin bantuin" ucap suamiku.


"Gak gak boleh, disini tidak ada kodratnya anak laki laki melakukan pekerjaan perempuan apalagi sampai momong bayi bisa turun drajatmu sebagai laki laki" ucap ibu mertua.


"Iya nih kamu don, mbak aja anak sampai dua tidak pernah merepotkab mas mu sama sekali" balas kakak mertua


"Apa salah nya sih ini pun hanya sekali dan dalam keadaan darurat" balas suami ku"


" pokoknya gak boleh titik, kamu mau jadi anak durhaka din karena tidak mau menuruti apa kata ibumu , ingat surga berada di telapak kaki ibu" ucap ibu dengan nada tinggi.


"Sana cepat bangunkan istrimu ,ibu tidak mau tau kalo kamu mau jadi anak durhaka ya silahkan itu keputusanmu " sambung ibu


Aku yang mendengar perdebatan mereka dibalik dinding kamar aku langsung meremas dada ku dengan kuat , apa yang salah dalam diri perempuan ketika melahirkan secar, hinah kah di mata masyarakat, apakah salah jika aku meminta bantuan pada suami ku karena saat ini aku memang lagi sakit, toh ini anak juga anak suamiku, mengapa semua seolah olah dibebankan pada perempuan.


Aku menangis meluapkan semua sakit hati , aki tidak menyangkah ternyata begini kelakuan mereka dibelakang ku pantas saja suami ku akhir- akhir ini seolah menjauhi diriku , samar - samar aku terdengar langkah kaki yang menuju kamar, aku segera pura pura tidur dan ingin tau apa respon suamiku apakah dia menurut pada ibunya atau sebaliknya,


Aku dibalik selimut sengaja memejamkan mata ku tiba- tiba tanpa aku duga mas doni membangunkan ku dengan teramat kasar.


" dek cepat bangun kamu masak dari tadi belum juga sembuh" dia langsung menyibak selimut yang  ku pakai dan menghempaskan dengan kasar ke sembarang arah, untung nya aku sudah terbangun kalo aku masih tidur mungkin aku semakin pusinh di buatnya , seumur pernikahan dia tidak pernah bersikap kasar kepada ku.