Arrabella Twice Lives

Arrabella Twice Lives
Bab 92 Regret


.


.


Tamparan yang di layangkan oleh Aiden pada istrinya itu, membuat Arrabella kecewa dan sakit hati dengan sikap Aiden. Kemana Aiden yang lembut itu? kemana Aiden yang selalu pengertian dan selalu berkepala dingin setiap menghadapi masalah? kemana hilangnya akal sehat Aiden? Seperti nya hilang karena amarah dan cemburu yang menggebu.


" Naomi.. aku sungguh tidak .." Aiden melihat tangannya yang menampar Arrabella dengan sedih dan bingung.


" Sepertinya kita perlu terpisah dulu sementara waktu, yang mulia butuh waktu untuk mendinginkan pikiran yang mulia " kata Arrabella sambil memegang pipi kiri nya yang ditampar oleh Aiden.


" Tidak.. Naomi aku tidak bermaksud melakukan itu " kata Aiden


" Ya, saya tau anda tidak bermaksud begitu. Tenang saja, aku akan menyelesaikan masalah rumor ini dan tidak akan menganggu kedamaian istana. " kata Arrabella sambil memalingkan wajahnya


" Naomi.. biar aku lihat.." Aiden berniat memegang pipi Arrabella, tapi wanita itu menepis tangan Aiden dengan kesal. Penolakan itu melukai hati Aiden.


" Saya minta maaf, karena saya memang sudah berbohong pada yang mulia tentang Felix, saya kecewa pada yang mulia karena anda tidak mau mendengarkan saya dulu dan mempercayai omongan orang lain. Tapi, saya lebih kecewa dengan pertanyaan yang mulia yang menuduh saya berbuat sesuatu dengan pria lain. " kata Arrabella sakit hati


Aiden terpaku dan tidak bisa bicara apa apa, ia merasa bersalah pada istrinya karena sudah melukai hatinya, disisi lain ia masih marah karena percaya dengan perkataan orang-orang tentang istrinya dan Raja Vanders itu. Sebenarnya, Aiden juga terluka karena ketidakjujuran istrinya itu.


Wanita itu keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar lain untuk menenangkan dirinya. Daisy, Layla, Marine ( pelayan di istana ) dan Grace, melihat Arrabella menangis saat keluar dari kamar nya.


" Sepertinya terjadi pertengkaran besar " gumam Layla sedih


" Ini pertama kalinya saya melihat mereka bertengkar " kata Grace tak percaya


" Sepertinya kita harus membiarkan yang mulia sendiri dulu, nona Grace saya mohon bantuannya agar tidak ada gosip yang menyebar keluar dan merusak reputasi yang mulia " kata Daisy memohon


" Itu memang sudah jadi tugas saya, nyonya Daisy " kata Grace patuh


" Nyonya Daisy tidak usah cemas, kami juga akan menjaga rahasia, dan mencegah rumor ini agar tidak menyebar kemana-mana. Kami percaya pada yang mulia putri mahkota " kata Layla dengan wajah memelas


" Iya saya juga percaya pada yang mulia putri mahkota " kata Marine


" Terimakasih kalian sudah mendukung yang mulia putri mahkota. Aku percaya kan ini pada kalian " kata Daisy lega


" Sekarang pasti yang mulia sedang sedih, aku tidak tau bagaimana menghibur nya karena sepertinya yang mulia ingin sendirian " batin Daisy merasa sedih


" Bagus, ini sesuai rencana. Tidak sia sia aku menyebarkan rumor itu " batin Layla senang


Arrabella menangis sedih di kamarnya. Begitu pula dengan Aiden yang tampak sedih dan menyesal sudah memukul Arrabella.


Malam itu mereka tidur di kamar yang terpisah, tapi mereka sama sekali tidak bisa tidur. Yang satu nya menangis dan yang satunya sedang berfikir keras.


***


Keesokan harinya..


Di Fostiarus..


Pagi itu diawali Megan dengan muntah-muntah di kamar mandi.


" HUwekkk HUwekkk "


Terdengar suara Megan dari kamar mandi, sementara itu Wen terlihat kebingungan, pria itu berdiri di depan kamar mandi. Tak lama kemudian Dominic yang semalaman tidur di perpustakaan, masuk ke kamar itu.


" kenapa kau berdiri disana, Wen?" tanya Dominic


" Yang mulia ! syukurlah anda disini.. tolong yang mulia Ratu " kata Wen bingung


" Ada apa dengan Ratu?" tanya Dominic datar


" Huwekk huweekk."


" Dari tadi yang mulia Ratu terus muntah-muntah, dan beliau mengeluh kalau kepala nya pusing. Saya takut terjadi sesuatu di dalam sana " kata Wen cemas


" Kenapa kau tidak temani Ratu dan malah berdiri disini seperti orang bodoh?!" tanya Dominic dingin


" Yang mulia Ratu bilang dia tidak nyaman dengan pelayan pria, dan masa saya masuk ke kamar mandi berduaan dengan yang mulia Ratu. Itu kan tidak benar " kata Wen menjelaskan


" benar juga? kenapa mendadak aku jadi bodoh begini? mana mungkin kubiarkan pelayan pria masuk ke dalam kamar mandi dan berduaan dengan istriku? apa istri..kenapa terdengar aneh?" batin Dominic berfikir


" Kau pergilah ke dapur dan ambilkan teh hangat dengan madu, aku dengar dari Cane itu bisa mengurangi mual-mual nya " kata Dominic


" Siap laksanakan yang mulia !"


Wen berlari terburu-buru setelah disuruh Dominic pergi ke dapur. Sementara itu Dominic merasa cemas karena Megan tidak kunjung keluar dari kamar mandi dan terus muntah-muntah.


" Ratu Megan, apa kau baik-baik saja?" tanya Dominic sambil mengetuk pintu kamar mandi dengan pelan


" Sa.. saya tidak apa apa Baginda Raja.. sebentar lagi saya keluar kok " jawab Megan


" Ternyata hamil itu seperti ini ya?" batin Megan lelah


" Kau sudah terlalu lama dikamar mandi, kau akan kedinginan. Keluarlah " kata Dominic


Deg


Deg


" Meskipun aku tau ini demi bayinya, tapi aku tetap saja berdebar debar seperti ini. Ada apa denganku?" batin Megan bingung


KLAK


Megan terpana melihat Dominic dengan setelan baju tidurnya, pria itu terlihat telanjang dada. Hatinya semakin berdebar-debar saat melihat Dominic yang sangat tampan.


" Kenapa saat bangun tidur saja dia bisa terlihat tampan begitu? bukankah dia sering dijuluki raja iblis? mana ada raja iblis tampan begini" batin Megan terpesona oleh Dominic.


" wajahmu pucat, aku akan panggil dokter kemari untuk memeriksa mu " kata Dominic cemas


" Tidak perlu yang mulia, saya baik-baik saja. "


" Tapi.. ah ya sudahlah, apa kau merasa tidak enak badan? dimana sakitnya?" tanya Dominic


" Saya.. saya .. "


" aku kan sudah bilang jangan sungkan, kalau bayinya kenapa napa, aku tidak akan membiarkan mu begitu saja " kata Dominic dingin


" Dia masih saja dingin, tapi aku senang dia menanyakan keadaan ku " batin Megan senang


" Iya baiklah, saya sebenarnya ingin makan buah mangga " jawab Megan malu-malu


" Buah mangga? baiklah, akan ku suruh Cane mencarinya " kata Dominic


" meskipun buah mangga tidak ada di wilayah bersalju ini, tapi apa boleh buat. " batin Dominic


" Tidak.. tidak mau, saya ingin mencari mangga nya sendiri !" seru Megan


" A..Apa? tapi di daerah sini tidak ada buah mangga, jika kau mencarinya sendiri, maka kita harus pergi ke perbatasan atau bahkan ke wilayah Clariness " terang Dominic


" Benarkah? ya sudah, tidak usah " kata Megan cemberut


" Padahal aku sangat ingin " batin Megan sedih


" Astaga.. Baiklah kita pergi cari buah mangga, bersama " kata Dominic yang luluh melihat wajah Megan yang sedih


Ternyata Dominic begadang semalaman di perpustakaan tidak hanya untuk tidur saja, ia dan Cane membaca buku buku tentang ibu hamil, kelahiran dan yang berkaitan dengan bayi.


Hari itu Dominic mencurahkan seluruh perhatian nya pada Megan yang terus muntah-muntah dan wajah wanita hamil terlihat sangat pucat. Makanan yang sudah dimakan oleh wanita itu terus keluar, tapi saat Dominic menyuapi nya, wanita itu merasa senang dan tidak memuntahkan makanannya lagi. Setelah itu mereka berdua pergi ke perbatasan Vanders dan Clariness untuk mencari buah mangga yang diinginkan oleh Megan.


***


Pagi itu Aiden sudah pergi ke luar istana untuk mengerjakan tugas nya, padahal Arrabella ingin menjelaskan semuanya. Namun, pria itu malah menghindari nya dan bersikap dingin padanya. Sikap kerasa kepala pria itu membuat Arrabella semakin marah dan kecewa padanya, rasa sakit tamparan itu masih terasa di pipi nya, tapi kenapa tidak ada satupun kata maaf dari suaminya?


Ia pun tak mau ambil pusing lagi, mungkin belum waktunya mereka bicara. Grace sudah menyelesaikan masalah rumor yang beredar dan menekankan agar rumor itu tidak tersebar keluar. Namun, hal ini malah diketahui oleh Duke Reese dan kedua kakak Arrabella.


" Yang mulia putri mahkota, tuan Duke, dan tuan Duke muda datang untuk menemui yang mulia " kata Daisy dari balik pintu ruang kerja


" Ayah dan kak Peter? ada apa ya?" batin Arrabella


" Persilahkan mereka masuk " jawab Arrabella tegas


KLAK


Pintu ruang kerja putri mahkota terbuka, Arrabella mengisyaratkan pada Grace akan menunggu diluar ruangan. Secepatnya Grace meninggalkan ruangan itu. Dan tinggallah Arrabella, ayah dan kakak nya disana.


" Ada apa ayah, kakak? kalian tiba-tiba kemari tanpa pemberitahuan, apa ada masalah?" tanya Arrabella


" Ya ada masalah ! kami sudah dengar semuanya, apa kau baik-baik saja?" tanya Peter cemas


" Kami tau kau bertengkar dengan putra mahkota, seperti nya itu benar ya?" tanya Duke Reese sambil melihat pipi Arrabella yang masih bengkak habis ditampar Aiden dan juga mata wanita itu yang bengkak karena menangis semalaman.


" A.. ayah.. kakak.. apa yang kalian maksud ?" tanya Arrabella hati hati


" Tidak mungkin mereka tau tentang masalah rumor, bukankah orang luar istana tidak tau tentang ini? dan semua orang juga sudah tutup mulut " batin Arrabella berfikir


" Jangan sembunyikan ini dari kami ! syukurlah ada yang mengirim kami surat dan mengatakan semua keadaan mu, jika tidak ada surat itu kau akan terus menyembunyikan nya kan? baiklah, sekarang katakan apa yang sebenarnya terjadi? benarkah kau berselingkuh dengan Raja Dominic?" tanya Peter berapi api


" Jangan bicara sembarangan begitu , kau ini adalah seorang Duke , sekarang. " kata Duke Reese mengingatkan Peter tentang statusnya


" Tidak terjadi apa apa, dan aku tidak berselingkuh dengan Raja Dominic " kata Arrabella singkat, tangannya mengepal dengan sendirinya, ia tampak menahan sesuatu di dalam hatinya.


" Yang mulia putri mahkota, katakan pada kami, ceritakan semuanya jika itu memang tidak benar. Agar kami bisa membantumu menjelaskan pada putra mahkota " kata Duke Reese membujuk


" Kalau perlu, kakak akan menyeret Raja Dominic kemari " kata Peter serius


" Semua masalahnya sudah jadi seperti ini, kalau aku cerita Raja Dominic mencium ku, apa yang akan terjadi? bukankah masalah nya akan semakin besar, tapi jika ditutupi terus, masalah ini tidak akan selesai " batin Arrabella bingung


" Apa yang mulia putra mahkota memukulmu? dia marah padamu kan?" tanya Peter tajam


" Jangan salah paham kak, dia tidak pernah memukulku meski dia sangat marah sekalipun " jawab Arrabella menyangkal, wanita itu menggigit bibirnya.


Pada akhirnya atas desakan dari ayah dan kakak nya, ia menceritakan semua yang terjadi di dalam kamarnya saat bersama Dominic. Bahwa ia dan Dominic berciuman, lebih tepatnya ia dicium paksa oleh Dominic, selain itu mereka tidak melakukan apa apa lagi karena Arrabella keburu mengusir nya.


" Lalu, apa putra mahkota percaya padamu? kau sudah menjelaskan ini padanya?" tanya Duke Reese


Aku sungguh tidak bisa menjawab pertanyaan ayah, itu adalah pertanyaan yang sulit untukku. Aku tidak bisa jujur dan mengatakan kalau aku dan Aiden sedang berada dalam perang dingin, bagaimana dia mau percaya padaku, kalau mendengarkan ku saja dia tidak mau?


Setelah pembicaraan ketiga orang itu selesai, Arrabella mengantar Duke Reese dan Peter sampai ke depan gerbang istana.


" Kalau ada apa apa kau harus cerita pada kami, jangan di pendam sendiri. Meskipun kau sudah menikah, kita tetap keluarga yang akan selalu berbagi suka duka denganmu. " kata Peter bijak


" Tumben kakak sangat bijak " kata Arrabella terharu. Peter tersenyum bangga dengan pujian adiknya itu.


" Kakak mu benar nak, jika kau ada apa apa jangan sungkan pergi ke rumah kita " kata Duke Reese lembut


" Iya ayah, terimakasih. Aku ingin minta satu hal pada ayah, bolehkan?" tanya Arrabella ragu-ragu


" Tentu saja, untuk putriku apa saja akan ayah lakukan "


" Bolehkah aku memeluk ayah?" tanya Arrabella dengan mata berkaca-kaca


GREP


Tanpa berkata apa apa, Duke Reese memeluk Arrabella. Seperti dugaan wanita itu, pelukan ayahnya memang yang terbaik, ia merasakan kehangatan dan kenyamanan, seakan semua masalah hilang di dalam pelukan pria berhati lembut itu.


" Ayah ... terimakasih " Arrabella memeluk ayahnya semakin erat


" tidak usah malu dan sungkan untuk memeluk ayah hanya karena sekarang kau adalah putri mahkota. Bagiku kau masih lah putri kecilku " kata Duke Reese


" Ayah jangan bilang begitu, aku malu " kata Arrabella sambil menahan air matanya


" Terimakasih ayah, aku bisa kuat karena dukungan dari ayah. Pelukan ayah memberi ku semangat " batin Arrabella lega


****


Sementara itu Aiden terlihat tidak fokus saat pergi mengecek wilayah di pusat kota. Ia terus kepikiran dengan Arrabella dan tindakannya kemarin. Demian dan Lorenzo bahkan sampai tidak berani berbicara pada Aiden yang sedang tidak dalam mood yang baik. Kadang marah-marah, kadang diam, dan kadang pria itu terlihat sedih.


" Yang mulia maafkan saya, saya tidak bermaksud menyinggung perasaan anda. Tapi, anda terlihat tidak fokus " kata Lorenzo berhati-hati


" Maaf aku membuat mu dan Demian ketakutan. Aku memang tidak fokus " kata Aiden sambil duduk di sebuah kursi, wajahnya terlihat penuh kebimbangan


" Anda bisa mengatakan nya pada kami, siapa tau kami bisa memberikan saran kepada yang mulia " kata Demian menyarankan


" Benar juga, aku kan punya kalian. Kenapa aku bisa lupa? aku akan cerita pada kalian " kata Aiden sambil menghela napas


Pria itu menceritakan pertengkaran nya dengan istrinya dan soal ia yang sudah memukul Arrabella karena marah dan terbakar api cemburu.


" Yang mulia ! anda bukan orang yang seperti ini sebelumnya, kenapa anda melalukan itu?" tanya Demian kaget dan tak percaya


" Aku juga tidak percaya aku bisa memukulnya, aku merasa aku ini bukan seorang pria.." kata Aiden sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, ia tampak frustasi. " Aku bahkan menghindari nya dan tidak mau mendengar kan penjelasan nya, hanya karena aku malu atas perbuatan ku .."


" Saya menyarankan agar yang mulia mendengar kan penjelasan putri mahkota, apa yang sebenarnya terjadi agar semua nya menjadi jelas. Dan yang mulia harus meminta maaf pada putri mahkota " kata Lorenzo memberi saran


" Bagaimana kalau kita undang yang mulia Raja Dominic untuk mengkonfirmasi semuanya? " tanya Demian


" Benar, semuanya harus diperjelas. Aku tidak boleh seperti ini menghindar seperti pengecut..aku harusnya percaya padanya.." tanpa sadar Aiden menangis karena merasa bersalah. " Demian, kirim pesan pada Raja Dominic agar segera kemari, biar cepat pakai burung pengantar surat saja " kata Aiden tegas


" Baik yang mulia " kata Demian patuh


" Lorenzo, aku minta bantuan mu mengurus hal disini. Aku harus kembali ke istana !" seru Aiden


" Yang mulia tenang saja, pikirkan saja putri mahkota " kata Lorenzo patuh


" Terimakasih, kalian memang selalu bisa diandalkan " Aiden tersenyum


Pria itu pergi ke pia Bakery untuk membelikan istrinya itu kue kesukaan nya dan ia mampir untuk membeli bunga mawar ungu untuk Arrabella. Ia berharap agar Arrabella bisa memaafkan nya.


***


Di Fostiarus, Dominic sudah menerima surat burung itu. Ia tampak kaget saat melihat isi suratnya. Wajahnya tampak cemas.


" Arrabella? apa dia baik-baik saja? pasti dia terkena masalah karena ku, aku harus menemuinya.. " gumam Dominic cemas


...---****---...


Hai para readers ku, makasih ya buat dukungannya buat karya ini..terus dukung karyaku ya, caranya like, vote, komen ❤️😗 jangan lupa juga mampir ke novel ku yang lain


" Aku menjadi tawanan sang tiran "