Arrabella Twice Lives

Arrabella Twice Lives
Bab 85 Agreement


Hari itu tidak ada yang berani bertanya pada Aiden apa yang terjadi padanya dan mata panda nya itu, karena wajahnya yang terlihat suram membuat orang-orang di sekitarnya merinding ketakutan melihatnya.


Sementara itu Arrabella sedang bersiap-siap untuk kelas etika nya, ia berjalan di lorong dan ditemani kedua dayang nya, Daisy dan Mina .


Mereka melihat Philips dan Raja Caesar sedang duduk di kursi tak jauh dari lorong itu.


" Ohok ohok "


Arrabella segera menghampiri Raja yang terlihat tidak baik, dan menanyakan keadaannya.


" Yang mulia Raja, apa anda baik-baik saja?" tanya Arrabella cemas


" Oh.. putri mahkota, aku baik-baik saja. Aku akan pergi ke aula pertemuan. " jawab Raja sambil tersenyum


" Seperti nya anda kurang sehat yang mulia, wajah anda pucat. Saya akan panggilkan dokter kerajaan. " kata Arrabella dengan wajah cemas


" Tidak perlu putri mahkota, ini hanya batuk biasa. Dan ini sudah sering terjadi " Raja tersenyum


" Tapi... Baginda Raja "


" Kau mau pergi ke kelas mu kan? pergilah nanti terlambat " kata Raja mengalihkan pembicaraan


" Kalau begitu, jaga kesehatan yang mulia baik-baik . Saya akan pergi, saya pamit undur diri " kata Arrabella


Wanita itu merasa ada yang salah dengan Raja, ia merasa kalau yang mulia Raja menyembunyikan sesuatu.


***


Di kediaman Benedict, Megan sedang melamun di kamarnya dan wajahnya terlihat sedih. Ia mengingat pembicaraan nya dan Dominic.


Kilas balik---


" Jadi apa benar kau hamil?" tanya Dominic


" Iya, saya hamil " jawab Megan memalingkan wajahnya dari pria itu


" Itu anakku?" tanya Dominic datar


" Apa maksud yang mulia? apa yang mulia berfikir kalau saya wanita murahan yang akan tidur dengan siapa saja?!" tanya Megan marah


" Aku tidak bilang begitu, maaf jika kau tersinggung dengan pertanyaan ku. Aku yakin kok kalau itu anakku " kata Dominic menyesal


" Lalu, apa yang anda ingin katakan ?" tanya Megan


" Karena itu anakku, tentu saja kau harus melahirkan nya. Aku akan bertanggungjawab untuk mu " kata Dominic sambil menyerahkan sebuah kertas ke meja yang ada di depan Megan.


" Bertanggungjawab seperti apa?" tanya Megan


" Mari kita menikah, menikah dengan kesepakatan. Menikah kontrak " jawab Dominic tegas


" Apa maksud yang mulia? menikah kontrak?" tanya Megan kaget


" Bayi yang kau kandung adalah keturunan ku, penerus dari kerajaan Vanders, dan kau adalah ibunya. Tentu saja kita harus menikah, tapi menikah kontrak "


Megan terpana mendengar Dominic mengatakan tentang pernikahan kontrak padanya, ia merasa tidak dihargai.


" Katakan yang jelas yang mulia ! apa maksud nya pernikahan kontrak?!" tanya Megan menahan emosi nya


" Kita akan menikah hanya sampai bayi itu lahir, setelah itu kita akan bercerai. Itu intinya " jawab Dominic datar


" Apa?!!"


" Bukankah kau bilang kau tidak mau menikah denganku? atau apa kau ingin bersamaku seumur hidup ? tidak mungkin kan " kata Dominic datar


" Sa.. saya.."


" Aku tidak bisa membiarkan keturunanku tanpa ibu dan ayahnya. Bukankah kau juga akan malu kalau kau melahirkan bayi ini tanpa ayah?" tanya Dominic


" Jadi.. bayi ini dan saya hanyalah bagian dari kesepakatan?" tanya Megan sedih


" Iya, benar. Aku tidak mau membohongi diriku " jawab Dominic dingin


" Kenapa hatiku sakit mendengarnya? padahal dia hanyalah pria yang menjalin cinta satu malam denganku. Dia orang asing, tapi kenapa ini menggangguku? apa ini karena bayinya?" batin Megan sakit hati


" Baik, mari kita menikah. Tapi saya punya beberapa syarat yang akan saya tambahkan kedalam surat perjanjian itu. " kata Megan setuju


" Bagus, kau boleh menambahkan nya. Aku tunggu jawaban mu, besok pengawal ku akan kemari dan menemui mu " kata Dominic datar


" Pria ini begitu dingin pada wanita lain, tapi dia menatap putri mahkota dengan kelembutan, kehangatan dan penuh cinta.. " batin Megan


" Ya, saya akan menyerahkan suratnya besok. Yang mulia Raja, tolong rahasiakan ini dari ayah saya. " kata Megan serius


" Baik " jawab Dominic dengan cepat


" Begini lebih baik, setelah bayinya lahir, aku bisa bercerai dengan wanita ini dan membawa bayinya. " batin Dominic


" Jaga bayinya baik-baik.. dan.. jaga dirimu baik-baik " kata Dominic mengingatkan


Deg


Deg


Mendengar ucapan seperti itu dari Dominic, Megan merasa jantungnya berdegup kencang, dan tubuhnya bergetar karena mendengar kata-kata dari Dominic yang seolah memperhatikan nya.


Setelah itu Dominic menghilang secepat kilat dari hadapan wanita itu. Megan terlihat patah hati dan tidak nyaman saat Dominic bersikap dingin padanya, tapi ia merasa senang dengan perhatian dari Dominic. Apakah mungkin ini hatinya sendiri? ataukah ia menjadi emosional karena bayi yang ada di perutnya yang baru berusia 2 minggu lebih?


Megan menulis persyaratan nya di surat perjanjian itu, ia membulatkan tekad nya bahwa ia setuju menikah hanya demi bayi nya. Hanya agar bayinya memiliki keluarga lengkap, tanpa cinta pun akan baik-baik saja. Itulah pikir nya ! Tapi, apa yang terjadi selanjutnya tidak ada yang tau?


" Benar, pernikahan ini demi bayiku ! nama baik keluarga Benedict ! setelah melahirkan bayi ini, aku bisa menjalani hidup yang ku mau. Tanpa cinta, semuanya akan baik-baik saja " kata Megan sambil meneteskan air matanya


****


Putri mahkota kerajaan Clarines itu melakukan kewajiban nya sebagai putri mahkota dengan baik di hari pertamanya. Setelah selesai kelas ia membawa kotak makanan yang ia bawa untuk diberikan pada suaminya.


" Demian, apa putra mahkota ada didalam?" tanya Arrabella


" Eh.. itu . yang mulia sedang tidak ada di tempat " jawab Demian


" benarkah? lalu kenapa kau berjaga disini?" tanya Arrabella curiga


" saya hanya sedang lewat saja, yang mulia " jawab Demian


" kenapa yang mulia putra mahkota menyuruhku berbohong ya? apa putra mahkota dan putri mahkota bertengkar? Apa jangan jangan semalam yang mulia putra mahkota tidak berhasil.. " batin Demian berfikir


" Dalam sehari ini sudah 3 kali aku ingin menemuinya, tapi dia selalu menghindar. Apa dia marah padaku karena kejadian tadi malam?" batin Arrabella sedih


" Ya sudah kalau yang mulia tidak ada, tolong berikan ini padanya. " kata Arrabella sambil menyerahkan kotak bekal nya pada Demian


" Baik yang mulia" kata Demian


" Dan katakan padanya, jangan lupa makan " kata Arrabella dengan nada yang malas


" Dari nada bicaranya sih, yang mulia putri mahkota terdengar marah. Dia pasti salah paham " batin Demian


Demian segera masuk ke ruang kerja Aiden, dan memberikan kotak bekal itu padanya. Ia mengatakan semua yang terjadi di depan pintu tadi.


" Jadi menurutmu, putri mahkota marah padaku?" tanya Aiden


" Bukan begitu yang mulia, saya khawatir kalau yang mulia putri mahkota akan salah paham dengan sikap anda yang menghindarinya seperti ini " kata Demian memberitahu


" Kali ini saya setuju dengan Demian, yang mulia. Lagian kenapa sih anda menghindari seharian ini? apa kalian ada masalah?" tanya Lorenzo penasaran


" Itu bukan sesuatu yang bisa diceritakan, sudahlah.. " kata Aiden menutup pembicaraan


" Apa tindakan ku salah ya? aku hanya takut tidak bisa menahan diri saat aku melihatnya. " batin Aiden


" Dimana putri mahkota sekarang?" tanya Aiden


" Seharusnya putri mahkota sedang berada perpustakaan " jawab Demian yang tadi melihat Arrabella berjalan menuju ke perpustakaan


" Lorenzo apa pekerjaan ku masih banyak?" tanya Aiden


" Tinggal sedikit lagi yang mulia " jawab Lorenzo


" Kalau begitu aku tinggal dulu sebentar, aku mau makan siang bersama istriku " kata Aiden dengan wajah yang cerah


" Baik yang mulia "


" Jangan mengikuti ku Demian !" seru Aiden


Beberapa menit kemudian, di perpustakaan kerajaan..


Drap


Drap


Drap


Arrabella yang sedang fokus membaca buku, mulai terganggu dengan suara langkah kaki yang terburu-buru itu. Tiba-tiba saja seseorang menutup mata Arrabella dengan kedua tangannya.


" Siapa ini? jangan bercanda ya ?!" tanya Arrabella


Wanita itu mengendus bau pria yang menutup matanya itu, lalu membalikkan badannya.


" yang mulia.. kenapa kau ada disini?" tanya Arrabella cuek


" Kenapa kau bertanya begitu putri mahkota? bukankah wajar kalau seorang suami menemui istrinya ?" tanya Aiden


" Seharian kau menghindari ku, masih berani bicara seperti ini? huh.. " gerutu Arrabella cuek


" Aku tidak bermaksud menghindari mu, bukan begitu "


" Kau salah paham Naomi, aku tidak marah padamu " kata Aiden memelas


" Jangan memasang wajah seperti itu ! aku tidak suka " kata Arrabella sebal


" Aku benar-benar tidak marah "


" Terus kenapa kau menghindari ku?" tanya Arrabella


" Itu karena aku takut.. " jawab pria itu bingung


" Takut kenapa?" tanya Arrabella penasaran


" Takut akan ini.. " Aiden mencium bibir wanita itu, dengan lembut dan penuh perasaan. Wanita itu kaget sampai menjatuhkan buku yang dipegangnya. Ia belum siap dengan ciuman dari suaminya yang begitu tiba-tiba.


TAK


" Hmph... ah.. yang mulia.. "


Aiden melepaskan ciuman nya, dan mendudukkan wanita itu ke pangkuannya.


" Ini yang aku takutkan, ketika aku melihatmu aku tidak bisa menahan diri. Aku takut kelepasan, melakukan hal yang lebih dari ini. Jadi jangan marah lagi, istriku " kata Aiden lembut


" Aku tidak marah hanya sebal saja. Seharusnya kau bilang dari awal agar aku tidak salah paham. Terlebih lagi ini perpustakaan ! bagaimana jika ada orang yang datang kemari dan melihat kita sedang berciuman?!!" kata Arrabella marah marah


" Tidak apa apa, lagipula kita suami istri. Sah sah saja bukan?" kata Aiden santai


" Itu benar sih, tapi kan tidak baik pamer kemesraan di depan umum " jawab Arrabella


" Kalau tidak ada yang melihat kan bukan pamer namanya " kata Aiden sambil menunjukkan senyum genitnya


Lagi lagi Aiden mencium Arrabella, dengan mesra dan penuh gairah. Pria itu seperti nya memang selalu kehilangan kendali di depan istrinya. Arrabella heran karena sekarang Aiden sangat agresif kepadanya, tapi ia tau kalau sikapnya ini adalah tanda cinta suaminya itu kepada nya. Wanita itu menikmati ciuman yang diawali oleh Aiden, ia mengikuti alurnya. Lambat laun Aiden mulai kehilangan kendalinya lagi.


" Ah.. Aiden sudah cukup.. "


" Sebentar lagi.. sedikit lagi . "


Cup


Cup


Aiden mencium leher wanita itu, dan ia kegelian. " Geli .. geli...Ah " Arrabella tersenyum kegelian


" Apa wanita ini tidak sadar? suara nya membuatku semakin bergairah " batin Aiden


" Harusnya kau sudah terbiasa, tadi malam aku kan sudah melakukan ini. " kata Aiden


" Tapi.. ini geli.. haha.. "


" Ternyata kau sensitif di bagian ini, bagaimana kalau ini?" Aiden sengaja menyentuh punggung dan bahu istrinya secara perlahan, dan benar saja wanita itu kegelian. Pria itu sengaja membuat istrinya kegelian.


" Ah.. sudah cukup ! yang mulia, jangan lupa, aku sedang berhalangan " kata Arrabella mengingatkan


Aiden menghentikan aksinya itu dan mengajak istrinya itu makan siang, sebelum ia kelewat batas. Hampir saja ia lupa kalau istrinya sedang berhalangan, ia harus menahan lagi hasratnya untuk bercinta dengan istrinya itu, mungkin untuk 1 minggu atau lebih.


Mereka saling menyuapi satu sama lain dengan mesra, begitulah harusnya suasana pengantin baru.


" Yang mulia, setelah ini apa yang akan kau lakukan?" tanya Arrabella


" Aku masih ada pekerjaan di ruang kerja ku, banyak dokumen yang harus aku teliti dan tanda tangani " jawab Aiden menjelaskan


" Baiklah kalau begitu semangat !" kata Arrabella menyemangati


" Mana penambah semangat nya?" tanya Aiden manja


" ternyata kau tidak lupa hal itu " jawab Arrabella


Cup


Wanita itu mencium Aiden di pipinya, wajah Aiden terlihat ceria.


" Sekarang aku tambah semangat ! oh ya, apa kau tidak ada kelas lagi?" tanya Aiden


" Tidak ada, tapi hari ini aku mau berkunjung ke rumah nona Megan. Boleh kan?" tanya Arrabella


" Baiklah, bawa Demian juga bersamamu " jawab Aiden


" Tidak perlu, ada Felix saja cukup kok " kata Arrabella


" Haa..baiklah, kalau begitu, berhati-hati lah " kata Aiden mengingatkan


" Iya, yang mulia juga. "


" Sayang sekali kita belum bisa berbulan madu " kata Aiden menggerutu


" Kita bisa melakukannya nanti setelah halangan ku selesai dan pekerjaan selesai " kata Arrabella


" Kau tidak boleh menghindar lagi ya?"


" Hehe.. mana mungkin. " jawab Arrabella sambil tertawa


Arrabella pergi ditemani Felix, ke mansion Benedict. Setelah kepergian istrinya itu, Aiden kembali ke ruang kerjanya dengan wajah berseri-seri. Kedua pengawal setianya melihat itu dan ikutan senang.


" Mungkin karena ini lah orang orang menikah " gumam Aiden tenggelam dalam lamunannya sendiri


" Baguslah kalau yang mulia sudah membaik mood nya. Tadi pagi dia terlihat suram " batin Lorenzo merasa senang


***


Beberapa menit kemudian, di depan kediaman Benedict. Arrabella disambut oleh pelayan dan pengurus rumah di kediaman Benedict dengan penuh rasa hormat. Tentu saja, karena gadis itu sekarang bukan hanya seorang nona, tapi putri mahkota alias calon ratu dari negeri itu.


" Selamat datang di kediaman Benedict yang mulia putri mahkota " kata kepala pelayan di kediaman Benedict


" Tuan Ben, apakah nona Megan ada?" tanya Arrabella


" Nona Megan sedang ada di taman, akan saya panggilkan.. yang mulia putri mahkota, silahkan tunggu di ruang tamu kami " kata Tuan Ben berhati-hati


" Tidak perlu, aku akan menemuinya sendiri tuan Ben " kata Arrabella ramah


" Baiklah, saya akan mengantar yang mulia " kata Ben patuh


Ben dan Arrabella pergi ke taman belakang kediaman Benedict, mereka melihat Megan sedang duduk di kursi dan terlihat sedang melamun. Wajahnya pucat dan kelihatan tidak semangat. Ben menceraikan kepada Arrabella bahwa dalam berhari-hari ini, nona nya itu terlihat lesu, melamun dan tidak bersemangat. Kepala pelayan itu tidak mengerti apa yang membuat Megan seperti itu.


Arrabella yang tau tentang masalah Megan, tidak mengatakan apa-apa kepada kepala pelayan itu. Ia hanya mengatakan agar kepala pelayan itu menjaga Megan dengan baik.


" Yang mulia putri mahkota ?!! anda ada disini ?!!" Megan langsung memberi hormat


" Tuan Ben, kau bisa tinggalkan kami berdua saja. " kata Arrabella tegas


" Baik yang mulia, nona. Saya akan bawakan teh untuk yang mulia dan nona Megan.. " kata Ben membungkuk sopan


Pelayan itu pergi meninggalkan Megan dan Arrabella berdua di taman. Arrabella melihat ada kertas di meja itu, seperti surat perjanjian.


" Maaf, aku datang kesini secara tiba-tiba. Itu karena aku cemas kau tidak mengirim kabar. " kata Arrabella


" Saya yang harusnya meminta maaf, karena belum sempat membalas surat yang mulia Putri mahkota" kata Megan


Kedua wanita itu duduk di kursi, tampaknya mereka ingin memulai obrolan yang serius. Setelah teh disajikan di depan mereka, Megan menyuruh semua orang pergi dan meninggalkan mereka berdua.


" Bagaimana keadaan mu? " tanya Arrabella cemas


" Saya baik-baik saja yang mulia " jawab Megan


" Bagaimana pembicaraan mu dengan Raja Dominic? apa berjalan lancar?" tanya Arrabella


Megan menceritakan semua yang ia bicarakan dengan Dominic, termasuk kesepakatan kontrak pernikahan diantara mereka, pada Arrabella. Putri mahkota itu tidak setuju kalau bayi nya harus diserahkan kepada Raja Dominic saja, bagaimana pun juga bayi yang dikandung Megan saat ini adalah bayinya juga.


" Mana bisa begitu, bayi yang kau kandung adalah bayi kalian berdua. Raja Dominic tidak bisa mengambil bayi itu setelah kalian berdua bercerai nantinya, itu tidak adil bagimu. Memangnya kau mau menyerahkan anak mu begitu saja ? kau tidak mau mengasuhnya?" tanya Arrabella heran


" Bukan begitu yang mulia, aku juga menginginkan bayi ku.. "


" Kalau begitu jangan setujui bahwa kau akan menyerahkan bayi ini padanya, kalau bisa aku ingin kalian tetap hidup bersama dan merawat bayinya " kata Arrabella sambil tersenyum sambil melihat perut Megan


" Yang mulia putri mahkota benar, aku berfikiran sempit. Aku akan merevisi surat perjanjian ini, dan mengantarkan nya pada Raja Dominic. Tapi, bagaimana cara aku menghubungi nya? kalau lewat surat pasti lama..." gumam Megan bingung


" Ada cara "


Putri mahkota itu membuka kantong yang ia bawa dan mengeluarkan cermin yang pernah diberikan Alexander padanya.


" Yang mulia, cermin apa ini?" tanya Megan


" Cermin ini bisa kau gunakan untuk menghubungi raja Dominic, kau bercermin saja di cermin ini dan panggil lah namanya 3 kali, Lalu dia akan muncul." kata Arrabella


Setelah perbincangan nya dengan Megan, Arrabella berharap bahwa Megan dan Dominic segera menikah, juga hidup bahagia.


Putri mahkota itu dan rombongannya menuju ke istana, sekilas ia merasa bahwa seseorang sedang memperhatikan nya dan melihatnya dengan tajam.


" Yang mulia ada apa?" tanya Daisy cemas melihat wajah Arrabella yang terlihat resah


" Tidak.. tidak ada apa apa " jawab Arrabella


" Kenapa aku merasa kalau ada yang melihatku dengan tatapan tajam dari luar? dia seperti nya tidak asing " batin Arrabella resah


Benar saja, seseorang mengenakan tudung memang tengah memperhatikannya dari luar keretanya, orang itu wajahnya rusak dan ditutupi oleh tudung dan cadarnya.


" Kau tidak akan bisa hidup bahagia wanita jalang.. tunggu saja pembalasan ku " orang itu mengepal tangannya dengan kesal


...---***---...