
***
Arrabella tercengang mendengar kata kata Eugene yang terdengar santai tapi menusuk ke dalam hati dan pikirannya.
" Kenapa aku harus melakukan itu? benar.. kau sudah gila, kau psikopat sekarang. Apa yang kau pikirkan tentang merebut tunangan orang lain?" tanya wanita itu murka
" Kalau kau ingin bebas lakukan itu, kalau tidak mau jangan harap bisa lepas dariku " kata Eugene mengancam
" Kau sedang mengancam ku?" tanya Arrabella
" Oh sayang, apa aku kedengaran sedang mengancam mu? mana mungkin aku begitu, aku ini sedang membujuk mu " kata Eugene sambil tersenyum
" Itu bukan bujukan! tapi ancaman dan pemaksaan !" ujar wanita itu marah
" Lalu aku harus bagaimana? semuanya sudah di rebut dariku, kalau aku tidak mendapatkan mu juga, maka aku akan menjadi benar benar gila " Eugene tersenyum pahit.
" Kenapa wajahnya begitu? dia memasang ekspresi terluka .." batin Arrabella luluh.
" Tidak ada yang di rebut dari mu yang mulia, karena sejak awal mungkin sesuatu itu memang bukan milikmu. " kata Arrabella berusaha meredakan kemarahan pria itu
" Tidak ! itu semua milikku, pada awalnya. Dan seharusnya sampai akhir pun semua itu adalah milikku, tahta, kasih sayang ayahanda Raja, bahkan dirimu. Semuanya adalah milikku ! bukan milik kakak ku yang berdarah rakyat jelata itu ! " ujar Eugene emosional
" Tidak ada gunanya membujuknya. Dia malah semakin keras kepala " batin Arrabella
" Yang mulia, aku bisa memaafkan mu sekarang. Kalau kau membebaskan ku dari sini, pangeran Aiden juga akan memaafkan mu. Aku akan meminta nya memaafkan mu, hiduplah dengan baik, hiduplah dengan bahagia, jangan seperti ini...relakan hal yang memang bukan milik mu yang mulia " jelas Arrabella
" Relakan apanya?!! Pernahkah kau berusaha keras, demi meraih sesuatu atau mempertahankan sesuatu? aku! dari kecil selalu berusaha keras mati matian untuk menjadi putra mahkota yang baik, sampai sakit sakitan, sampai aku tidak peduli dengan diriku dan kehilangan masa kecilku dengan belajar. Tapi, aku malah kehilangan jabatan itu hanya karena seseorang berdarah rakyat jelata datang merebut semuanya dariku, termasuk dirimu ! "
Wanita itu terhenyak melihat Eugene yang begitu emosional, memang yang dikatakannya sebagian adalah kebenaran, dan sebagiannya lagi adalah pendapatnya sendiri. Hati Arrabella terusik saat pria itu memasang wajah terluka, ia merasa iba. Ia seperti melihat dirinya sendiri pada Eugene, karena ia juga pernah merasakan bagaimana rasanya di pojokan oleh seluruh dunia dan kehilangan sesuatu yang berharga. Dan itu terjadi di kehidupannya yang lalu, ia kehilangan ayah dan kedua kakaknya, Daisy dan Layla. Juga kehilangan kepercayaan dari Eugene yang saat itu adalah orang yang sangat ia cintai.
Tapi waktu sudah lama berlalu, masa depan berubah seiring waktu berjalan. Untuk meninggalkan rasa sakit itu, dan penderitaan nya di masa lalu, ia berusaha memaafkan orang orang yang sudah melukainya. Dan di lubuk hatinya yang paling dalam ia sudah memaafkan Eugene.Ia akan mencoba hal yang sama pada Eugene dan membujuknya lagi dengan kata-kata.
" Lepaskan lah semuanya ! hatimu dari penderitaan itu, maafkan semua orang yang sudah melukaimu, dengan begitu kau akan bahagia " kata Arrabella
" Tidak, aku tidak bisa. Inilah jalan yang ku ambil, aku akan merebut mu dan tahta dari pangeran Aiden " kata Eugene tegas dan lugas
" Yang mulia.. "
" Bahkan kau pun tidak mendukungku, setidaknya aku ingin saat ini kau menjadi satu satunya orang yang mendukungku dan berpihak padaku " kata Eugene pahit
" Bagaimana bisa aku mendukung orang yang berbuat kesalahan? itu tidak dibenarkan, yang mulia " kata Arrabella
" Kalau begitu pilihanmu, maka jangan salahkan aku karena sudah memaksamu. " kata Eugene sambil tersenyum pahit
" Tolong jangan seperti ini.. " kata Arrabella memohon
" Aku akan memberimu kesempatan sampai besok, mengenai keputusan mu. Hidup bersamaku, dan putus dengannya, atau hidup dengannya tapi kau tidak bahagia karena ada aku. Aku akan kembali lagi besok, jangan lupa untuk memakan makanan mu. "kata Eugene mengancam Arrabella
Pria itu meninggalkan Arrabella sendirian lagi di ruangan itu, ia mengunci kamarnya dan menyuruh para penjaga menjaga Arrabella dengan baik jangan sampai ia kabur, karena nyawa adalah taruhannya.
" Jika aku tidak bisa mempertahankan tahtaku atau mengambilnya kembali, setidaknya biarkan aku memiliki salah satunya "kata Hati Eugene
Wanita itu terpana dengan sikap Eugene yang berbeda dari ingatan masa lalu nya, seingatnya Eugene bukanlah orang yang akan terobsesi akan suatu hal. Dia cenderung memiliki sikap yang bebas, lembut dan tidak tempramental, itulah yang membuat Arrabella jatuh hati padanya di masa lalu.
Tapi, itu adalah Eugene di dalam ingatan masa lalu nya. Sekarang pria dihadapannya itu sudah berbeda dari sosoknya di masa lalu, ia menjadi obsesif, temperamental, bahkan sensitif. Sifat ini tak pernah ia temui di masa lalu, ia berharap pria itu akan berubah setelah dimaafkan kesalahan nya, akan tetapi tidak seperti itu pada kenyataannya. Apa yang membuat Eugene yang dulu dan sekarang sangat berbeda? apakah karena kehadiran Aiden yang mendominasi? ataukah karena perasaan Arrabella yang sudah berpaling darinya?
Arrabella sendiri mengerti perasaan Eugene, semuanya berubah karena masa depan juga sudah berubah. Kematian ratu, penurunan putra mahkota, dan kehilangan cinta nya membuat pria itu gelap mata !
****
Eugene kembali ke istana nya, dan melihat pria yang tidak ia benci ada disana sedang menunggunya. Eugene tak ragu menunjukkan wajah dingin dan sinis nya pada pria itu, Aiden menatap adik tirinya itu dengan penuh kecurigaan.
" Kenapa dia ada disini?" batin Eugene kesal
" kau dari mana saja pangeran Eugene, aku mencari mu kemana mana, dan kau baru datang sekarang " kata Aiden
" Dia pasti sengaja mengucapkan kata kata pangeran Eugene itu untuk mengejekku " batin Eugene berfikir negatif
Memang memalukan bagi seseorang yang jabatannya diturunkan, dan itu lah yang dirasakan Eugene. Karena hal itu ia menjadi lebih sensitif bahkan berfikiran negatif kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.
" Liam, bukankah sudah kubilang aku tidak menerima tamu hari ini?" tanya Eugene pada Liam
" Maafkan saya yang mulia, tapi pangeran Aiden..." Liam berusaha menjelaskan
" Tidak usah memarahinya, ini salahku karena menerobos masuk ke ruang kerja mu. " kata Aiden
" Lalu? mau apa pangeran kemari?" tanya Eugene sinis
" Aku ingin menanyakan beberapa hal pada yang mulia pangeran, bisakah kita duduk dan berbincang sebentar?" tanya Aiden sambil menunjukkan senyuman ramahnya
" Baiklah, Liam kau tunggu saja diluar dan suruh pelayan menyajikan teh " ujar Eugene
" Baik, Saya permisi yang mulia pangeran Aiden, yang mulia pangeran Eugene " kata Liam sambil membungkuk hormat pada kedua pangeran itu dan pergi keluar dari ruangan kerja Eugene.
Eugene dan Aiden duduk di sofa yang ada di ruang kerja itu. Seorang pelayan datang dan membawa teh lalu pergi dari ruangan itu.
" Apa yang ingin kakak bicara kan denganku?" tanya Eugene
" Apa kau sudah tau tentang penculikan tunangan ku?" tanya Aiden sambil memperhatikan gerak gerik Eugene
" Iya, aku sudah mendengar nya dari Camille. Bagaimana ini bisa terjadi? seharusnya kau menjaga putri Arrabella dengan baik " kata Eugene tanpa ekspresi
" Seperti nya memang benar ini ada hubungannya dengan nya " batin Aiden menerka dan menebak dari raut wajah Eugene yang terlihat biasa saja
" Tapi sepertinya yang mulia biasa saja mendengar hal ini " kata Aiden heran
" Aku juga kaget dan khawatir, tapi kan dia mempunyai tunangan yang sangat berkompeten untuk melindunginya. Harusnya aku tenang " kata Eugene sambil tersenyum sinis
" Iya benar, aku tidak berkompeten dalam menjaganya. Karena itu aku kemari ingin meminta bantuan dari adikku untuk menemukan nya " kata Aiden sambil tersenyum santai
" Jadi kau belum menemukannya kakak?" tanya Eugene
" Benar. Maka dari itu aku kemari menemui mu, mungkin saja kau bisa membantuku, atau bahkan mengetahui keberadaan nya ?" tanya Aiden tajam, matanya menatap curiga kepada Eugene.
" Omong kosong apa yang kakak katakan? bagaimana bisa aku mengetahui keberadaan tunangan kakak? bukankah harusnya itu tugasmu untuk tahu dimana dia berada?" kata Eugene sambil melirik sinis pada pria yang ada di depannya itu.
" Benar juga. Mana mungkin adikku ini mengetahui keberadaan tunangan kakak nya? oh ya, aku ingin meminjam kekuatan mu untuk menemukan nya " kata Aiden
" Kekuatan? maksud mu kstaria white knight? atau kstaria kekaisaran?" tanya Eugene
" Bukan, tapi kstaria bayangan " jawab Aiden tegas
Eugene tersentak mendengar Aiden mengetahui tentang kstaria bayangan, yang hanya diketahui oleh nya, Ratu, dan Ethan yang pernah ia ceritakan waktu mereka sering bersama.
" Kstaria bayangan? tidak ada kstaria seperti itu " kata Eugene mengelak dengan tenang
" Jangan berdalih lagi, aku sudah tau kalau kau mempunyai kstaria bayangan yang hebat, miliki mendiang Ratu. Otoritas nya sekarang pasti ada padamu, tenang saja aku hanya akan meminjam nya untuk menemukan tunangan ku, aku tidak akan membicarakan tentang ini kepada siapapun " kata Aiden menerangkan
" Kau sedang mengancam ku?" tanya Eugene
" Kau berfikir berlebihan, aku hanya mengajukan sebuah permintaan dan kau menganggap nya ancaman?" tanya Aiden keheranan
" Apa dia sudah curiga bahwa Arrabella ada padaku? makanya dia menyatakan hal ini?" batin Eugene resah
" Aku tidak bisa meminjamkan nya " jawab Eugene tegas
" Kenapa tidak bisa?" tanya Aiden penasaran
" Hem.. begitu ya? aku kesini bukan untuk menerima ejekan mu tapi meminta bantuan mu. Seperti nya aku melakukan kesalahan dengan datang kemari, pangeran Eugene ternyata tidak cemas sama sekali pada tunangan ku, melihatmu tenang seperti ini, sekarang aku mengerti kalau ini ada sangkut pautnya dengan mu " kata Aiden sinis
Pria itu tak merespon perkataan Aiden, sekarang Aiden semakin yakin kalau Eugene memang ada hubungannya dengan penculikan Arrabella.
" Kau sangat takut bukan aku mengambil posisi putra mahkota? kalau begitu bagaimana kalau aku menjadi putra mahkota saja?" tanya Aiden
" Jangan bicara sembarangan, rakyat jelata seperti mu bagaimana bisa menjadi putra mahkota dan calon Raja negeri ini!" seru Eugene membantah
" Kau yang tau sendiri aku bisa atau tidak menjadi putra mahkota ! Jika memang ini ada hubungannya denganmu, aku tidak akan tinggal diam meskipun kau adalah anak ayahku juga " kata Aiden mengancam
" Sial, dia berani mengancam ku" batin Eugene kesal
" Jika untuk melindungi orang yang kucintai, aku harus menjadi Raja. Maka aku akan melakukan nya " batin Aiden yakin
Setelah keyakinan nya bahwa Eugene memang berhubungan dengan penculikan Arrabella, Aiden keluar dari ruang kerja Eugene dengan wajah dingin nya. Ia pergi menemui Lorenzo dan Demian, Pangeran itu memerintahkan agar Lorenzo mengawasi gerak gerik Pangeran Eugene karena Lorenzo ahlinya dalam mengintai seseorang tanpa ketahuan.
" Lorenzo, aku ingin kau mengawasi gerak gerik Pangeran Eugene. Laporkan setiap kegiatan nya padaku, dengan rinci " kata Aiden tegas
" Baik yang mulia " Lorenzo patuh
" Dan untuk mu Demian, atur pertemuan para bangsawan pendukung ku, aku ingin berbincang dengan mereka " kata Aiden tegas
Lorenzo dan Demian kaget mendengar perintah dari Aiden. Padahal selama ini Aiden selalu menolak permintaan para bangsawan pendukungnya untuk bertemu, tapi sekarang kenapa pria itu ingin Demian mengatur pertemuan dengan para bangsawan? ada apa sebenarnya? kedua pengawal itu benar-benar keheranan dengan pangeran Aiden.
" Kenapa wajah kalian seperti itu? " tanya Aiden heran melihat kedua pengawal setia nya kelihatan kaget
" Maaf yang mulia pangeran, tapi kenapa tiba-tiba anda ingin bertemu mereka?" tanya Demian bingung
" Jadi kalian kaget karena ini? aku ingin menunjukkan pedang ku kepada seseorang untuk mengancamnya " Aiden tersenyum sinis seperti memikirkan sebuah rencana besar.
" Mungkinkah yang mulia .. ingin.." Lorenzo terbata-bata
" Kalian kan pernah bilang padaku, jika untuk melindungi orang yang kucintai dan ku sayangi, aku harus memiliki kekuatan yang besar.Aku akan mengambil kekuatan yang besar itu, dan tidak akan ada orang yang menyakiti orang yang ku cintai " terang Aiden yakin
" Akhirnya pikiran yang mulia terbuka ! saya mendukung yang mulia, dan Lorenzo juga... " kata Demian senang
" Itu pilihan yang bagus yang mulia " kata Lorenzo sambil tersenyum
" Kalau begitu, kalian akan lebih sibuk lagi kedepannya. Apa kalian siap?" tanya Aiden
" Siap yang mulia !" seru Lorenzo dan Demian semangat
Setelah itu Aiden mengunjungi Raja dan berbicara empat mata dengan Raja. Sepertinya pembicaraan mereka sangat serius sehingga mereka berdua pergi ke ruang rahasia.
****
Malam itu, di istana Vanders, Dominic sedang menunggu kedatangan Cane sambil mondar-mandir kesana kemari dengan hati yang gelisah.
"kenapa dia lama sekali? mencari berita saja sampai seharian " gerutu Dominic kesal
CLING
Wush
Baru saja dibicarakan oleh Dominic, Cane sudah ada di depannya, memakai gulungan teleportasi, membawa wajah cemas pada dirinya.
" Melihatmu menggunakan gulungan sihir ku, seperti nya berita ini darurat, bukan?" tanya Dominic
" benar yang mulia, bagi saya ini keadaan yang darurat " jawab Cane
" Ada apa? katakan dengan jelas dan rinci!" ujar Dominic
Cane memberitahukan semua yang ia ketahui saat di Clariness, tentang banyak petugas yang berjaga dan seperti sedang mencari cari seseorang. Cane juga menemukan selebaran gambar Arrabella yang dilaporkan sebagai orang hilang, dan diculik seseorang.
" APA ? diculik?" tanya Dominic kaget
" Saya dengar dari para petugas disana, kalau sudah 2 hari putri Arrabella menghilang, pangeran Aiden bahkan sampai menyerahkan semua prajurit kerajaan, bahkan detektif terhebat untuk mencarinya, tapi tuan putri belum di temukan juga. " Cane menjelaskan
" Ini buruk, di saat seperti ini bahkan dia bisa diculik? dia itu sedang sakit , dan keadaannya mulai memburuk. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya? Penjagaan di Clariness benar-benar sampah !" gumam Dominic dipenuhi kecemasan
" Lalu,apa yang harus kita lakukan sekarang yang mulia?" tanya Cane
" Aku akan menemui pangeran Aiden sekarang !" seru Dominic terlihat buru-buru.
Dominic pergi menemui pangeran Aiden malam itu ke istana Clarines, akan tetapi ia tidak menemukan Aiden. Karena Aiden sedang mengadakan pertemuan dengan para bangsawan dan mendukungnya.
" Kami sangat senang pangeran akhirnya menerima permintaan kami untuk bertemu " kata Duke Zena ramah
" Seperti nya pangeran Aiden sudah mengambil keputusan besar " batin Duke Zena
" Iya benar, padahal yang mulia selalu menolak permintaan kami untuk bertemu " kata Duke Zillon
" Maafkan aku karena sebelumnya selalu menolak kalian, itu karena ketidak yakinan diriku pada diriku sendiri. Bukannya aku tidak tau dengan apa yang kalian bicarakan. Namun, awalnya aku tidak ingin memilih pilihan ini. " kata Aiden kepada para bangsawan yang jumlahnya lebih dari 30 orang didepannya itu.
" Kami akan selalu mendukung yang mulia pangeran " kata Duke Zena
" Baiklah, karena kalian masih mendukungku. Aku punya alasan kenapa aku memanggil kalian kemari, apa tawaran kalian masih berlaku untukku?" tanya Aiden
" Tawaran apa itu yang mulia?" tanya bangsawan lainnya
" Menjadi Raja di negeri ini " jawab Aiden tegas
Para bangsawan itu kaget sekaligus senang dengan perkataan Aiden yang ingi menjadi Raja. Mereka mengatakan bahwa mereka akan selalu mendukung Aiden sampai ke tahta Raja, terutama Duke Zena.
Disisi lain, Eugene tau dari Liam jika Aiden mengadakan pertemuan dengan para bangsawan, dan ia terlihat marah karena ketakutannya akan segera terjadi.
" Dasar munafik! bukankah dia bilang tidak ingin menjadi Raja ! jadi ini maksud perkataan nya tadi sore? dia ingin menantang ku ?!!" teriak Eugene marah marah
" Aku tidak tau bagaimana menenangkan yang mulia sekarang, tidak bisa disangkal lagi, karena cepat atau lambat pangeran Aiden pasti akan mengambil tahta. " batin Liam bingung
" Baiklah kalau begitu pertarungan kita sedang dimulai ! aku masih punya Arrabella ditangan ku " batin Eugene sambil menunjukkan sorot mata yang tajam
" Dia ingin menjadi putra mahkota? ingin menjadi Raja? kita lihat saja nanti, apa dia bisa melakukannya. Harta nya yang paling berharga ada di tanganku " kata Eugene sambil mengepal tangannya dengan kesal
****--------
Keesokan harinya, Eugene menemui Arrabella di ruang rahasia itu. Beberapa kstaria bayangan terlihat disana sedang menjaga Arrabella. Kali ini mata wanita itu tidak ditutupi oleh kain dan mulutnya juga tidak disumpal seperti sebelumnya.
" Mau apa kau kesini?!!" seru Arrabella marah marah
" Aku kesini untuk mendengar jawaban mu" kata Eugene tegas
"Aku kan sudah bilang tidak, aku tidak akan meninggalkan pangeran Aiden " kata Arrabella menolak tegas
" Sayang sekali, bukan ini yang ingin aku dengar " kata Eugene sambil mendekati wanita itu, Arrabella panik melihat sorot mata Eugene yang tajam seperti ingin melakukan sesuatu yang buruk padanya.
" Apa yang mau kau lakukan?!!!" teriak Arrabella
" Apa yang terjadi pada hubungan kalian jika aku meniduri mu sekarang? apakah pangeran Aiden masih akan menerimamu?!!" tanya Eugene tajam
" kau jangan gila !" teriak Arrabella
Pria itu mulai menyentuh pipi Arrabella sambil tersenyum, ia bersiap siap mencium wanita di depannya itu. Sementara Arrabella hanya bisa menangis.
...---***----...