Arrabella Twice Lives

Arrabella Twice Lives
Bab 107 Aiden yang Protektif


🌷🌷🌷


Setelah melewati semua kemalangan dan kesedihan dalam hubungan mereka.


Hubungan Arrabella dan Aiden kembali seperti semula, romantis, hangat, harmonis. Terlebih lagi sekarang mereka akan segera memiliki seorang anak, meskipun masih berada dalam kandungan.


Aiden sangat protektif terhadap Arrabella, seperti orang yang bucin istri. Setiap tindakan Arrabella diperhatikan olehnya, sekalipun ia sedang sibuk sekalipun, pria itu akan selalu meluangkan waktunya untuk berbicara dengan anak nya dan memanjakan istrinya yang sedang hamil.


Semua keinginan Arrabella dipenuhi oleh Aiden, tanpa terkecuali. Bahkan keinginan yang tidak masuk akal sekalipun.


Pergerakan Arrabella jadi terbatas, setiap Arrabella ingin melakukan sesuatu, Aiden selalu sangat protektif padanya. Bahkan penjagaan istana pun diperketat karena Arrabella yang sedang hamil. Emosi Arrabella selalu berubah-ubah, tergantung suasana hatinya. Kadang wanita hamil itu menyebalkan dan jarang bersikap patuh. Untuk beberapa hal dia sangat keras kepala.


Di suatu sore yang santai..


Arrabella sedang berjalan-jalan di taman bersama Daisy dan beberapa pengawal yang ditugaskan untuk menjaga Arrabella.


" Yang mulia Raja sangat berlebihan, ini hanya berjalan di taman. Apa harus menyuruh para pengawal itu menjaga ku sebegini ketat nya? mereka juga pasti punya pekerjaan lain " gumam Arrabella bingung


" Itu karena Baginda Raja sangat mencemaskan yang mulia Ratu, apa yang mulia tidak senang?" tanya Daisy yang berjalan di belakangnya


" Kecemasan nya itu berlebihan, dia bahkan tidak mengizinkan ku bekerja. Padahal aku sangat bosan " gerutu Arrabella


" Kalau yang mulia bosan, bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar istana?" tanya Daisy menyarankan


" Keluar istana?" Arrabella tersenyum


Beberapa saat kemudian, Arrabella mengunjungi Aiden yang sedang melihat pasukan Black knight berlatih di camp nya. Para kstaria yang ada disana langsung memberi hormat saat Arrabella datang kesana.


Arrabella mengajak Aiden berbicara berdua saja.


" Salam Baginda Raja " Arrabella menyapa suaminya dengan sopan


" Ratu, ada apa kau kesini? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Aiden sambil memegang tangan Arrabella dan terlihat cemas


" Yang mulia, aku merasa tidak nyaman " jawab Arrabella sedih


" Kau tidak nyaman? apa yang membuatmu tidak nyaman? apa si kecil sedang menginginkan sesuatu? atau dia rewel di dalam perutmu? " tanya Aiden cemas


" Tidak ! aku tidak nyaman kalau kau terus-terusan seperti ini. Aku juga bosan, aku ingin pergi "


" Memangnya apa yang aku lakukan sampai kau tidak nyaman?" tanya Aiden polos


" Dari mulai pakaian yang ku kenakan, makanan, pekerjaan, jalan-jalan, sampai para pengawal yang jumlahnya lebih dari 15 orang mengikuti ku kemana-mana. Aku tidak nyaman ! " gerutu Arrabella sebal


" Begitu kah? kau tidak nyaman karena semua itu? aku melakukan ini karena mencemaskan mu dan anak kita "


" Tapi sikapmu ini berlebihan, aku tau kau mencemaskan ku dan anak kita. Namun, aku baik-baik saja. Dokter Henna juga mengatakan kalau aku juga harus bergerak jangan diam terus. Kau membuatku tidak bisa melakukan apapun. Aku sangat bosan.. kau seperti mengurungku disini ! " kata Arrabella sambil menangis. " Hiks hiks "


Kenapa dia malah menangis? astaga, benar kata dokter Henna, ibu hamil itu cenderung sensitif. Apa aku terlalu protektif padanya? aku hanya ingin memberikan perhatian lebih pada istriku yang sedang hamil karena ini masa-masa sulit mereka.


Aiden tercengang dan merasa bersalah saat melihat Arrabella menangis hanya karena hal ini. Padahal sebelum nya Arrabella tidak pernah menangis untuk hal hal kecil seperti ini.


" Maafkan aku.. istriku. Ratuku sayang.. baiklah, apa yang harus aku lakukan agar kau dan si kecil merasa nyaman? " tanya Aiden sambil menyeka air mata yang membasahi pipi istrinya itu dengan lembut.


" Aku ingin pergi keluar istana hari i.."


" tidak boleh !" Aiden langsung memotong perkataan Arrabella dan menolaknya


Wanita hamil itu langsung cemberut dan memalingkan wajahnya. Ia terlihat kesal.


" Kenapa tidak bisa? kenapa tidak boleh?!!" teriak Arrabella marah-marah


" Karena aku tidak bisa ikut denganmu kalau hari ini, jadi besok saja ya. Jadi, aku bisa ikut denganmu juga. " Aiden berusaha membujuk istrinya


" Aku maunya hari ini. Katanya kau akan menuruti keinginan anak kita, ternyata kau berbohong " Arrabella mendelik sinis pada Aiden


" Haa.. baiklah, kau boleh pergi.." Aiden menghela napas, ia memang tidak bisa menang kalau melawan istrinya.


Arrabella terlihat senang, wanita itu merubah ekspresi nya dengan cepat.


Dia merubah ekspresi nya dengan cepat, seperti nya dia sangat senang.


" Tapi ada syaratnya. Kau tidak boleh pulang lebih dari jam 5, jalan-jalan harus selalu ditemani para pengawal. Kau juga tidak boleh kecapean, kalau kau capek, kau harus segera pulang. Kalau kau ingin membeli sesuatu, kau bisa menyuruh sir Demian, Felix, atau bibi Daisy. "


Arrabella hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan patuh saat mendengar peringatan dari suaminya itu.


" Ah ya, besok kita akan mengadakan pesta untuk mu dan bayi kita. Dan juga memberikan penghargaan untuk Saint Lucia. "


" Ah iya , aku baru ingat. Itu berarti aku harus mempersiapkan semuanya dari sekarang. Aku harus menunda jalan-jalan ku" kata Arrabella semangat


" Tidak perlu, pergilah jalan-jalan. Aku yang akan mengurus nya disini, banyak orang yang akan mengurus nya. Kau nikmatilah waktu mu bersama anak kita " Aiden tersenyum sambil mengelus perut Arrabella dengan lembut


" Huu.. aku ingin segera bertemu denganmu nak, atau setidaknya mendengar suaramu. Ayah dan ibu menantikan mu, kau baik-baik di dalam sini "


Aku merasa senang dan nyaman setiap kali Aiden menyentuh perutku. Hatiku merasa tenang, itu artinya bayiku juga senang di sentuh oleh ayahnya. Aku bahagia semuanya telah kembali seperti semula, ditambah lagi dengan kehadiran anggota keluarga baru yang akan melengkapi Aiden dan aku.


Wanita itu tersenyum lembut dan menatap suaminya.


Tanpa mereka sadari, Peter, Camille dan Duke Reese melihat mereka dari kejauhan. Mereka tampak senang melihat kebahagiaan terpancar dari Arrabella dan Aiden.


" Syukurlah, putri ayah bisa kembali tersenyum. Percuma saja ayah khawatir " kata Duke Reese merasa lega


" Iya ayah, aku juga merasa lega. Ratu dan Raja terlihat harmonis dan bahagia. " kata Peter senang


" Ayah mertua.. maksudku, tuan Duke tenang saja. Aku juga akan menjaga Baginda Ratu dan keponakan ku dengan baik " kata Camille ceria


" Terimakasih banyak tuan putri.." Duke Reese tersenyum ramah, tapi terlihat bingung.


Tadi, aku dengar tuan putri memanggilku ayah mertua?


Camille memberi salam pada Duke Reese dengan sopan, dan berkata bahwa ia harus segera pergi untuk menemani Arrabella jalan-jalan keluar istana. Gadis itu juga mendoakan dengan tulus agar Duke Reese selalu dalam keadaan sehat.


Camille menghampiri Arrabella dan Aiden yang sedang duduk di kursi.


Duke Reese melihat Camille dengan seksama, ia tersenyum pada Peter.


" Jadi kapan kau akan mengenalkan nya secara resmi pada ayah? " tanya Duke Reese


" Apa maksud ayah?" tanya Peter gugup


" Apa kau belum melamarnya? atau kau masih tidak serius dengan perasaan mu? adik dan kakak mu sudah menikah ! kenapa kau begitu lambat??!" ujar Duke Reese kesal


" Aku belum kepikiran sampai sana ayah, lagipula aku masih muda " kata Peter


" Kalau kau terus seperti ini, yang ada tuan putri akan memilih pria lain yang lebih baik darimu. Yang ada, kau hanya akan menyesal. Bagaimana bisa anak laki-laki ku begitu lambat seperti ini? Ahh.. atau kau masih berfikir mencari wanita lain ?" tanya Duke Reese menebak-nebak


" Tidak ayah, bukan begitu. Sungguh, aku hanya menyukai nya. Tapi, aku masih ragu " jawab Peter menyangkal


" Apa yang membuatmu ragu ? kau takut dia tidak menerima mu? itu alasan yang pengecut, kau bahkan belum mencoba. " kata Duke Reese heran


" Ayah benar juga "


" Seperti nya putri Camille juga sedang menunggumu, jangan lama-lama Peter. Cinta itu tidak datang dengan mudah, dan akan pergi dengan sendirinya kalau kau tidak cepat. Kau harus takut nak, karena pasti banyak para pria yang mengantri di luar sana untuk melamar nya. " terang Duke Reese


" Itu tidak akan terjadi ayah!" ujar Peter tiba-tiba ada kesal sendiri


" Kalau begitu semangat!"


🌹🌹🌹


Sebuah kereta dalam perjalanan ke Clariness, seperti nya milik seorang bangsawan dari kerajaan lain. Di dalam kereta itu ada seorang pria tampan dengan rambut peraknya yang tidak pernah ada di kerajaan Clariness.


" Yang mulia, lebih baik kita kembali saja ke Manjin. Baginda Ratu pasti akan khawatir dengan yang mulia " kata Lumiere memohon


Apa yang akan terjadi kalau Baginda Ratu tau kepergian putra mahkota? bisa-bisa aku yang kena imbasnya.


" Khawatir apanya? aku hanya melakukan tugas ku sebagai putra mahkota yang baik. Kau tau kan aku kemari bukan untuk berbuat macam macam " kata Raphael santai dengan merentangkan tangannya


Ya, saya tau tujuan anda kemari. Yaitu ingin menemui Ratu Arrabella. Dan menggunakan alasan menghadiri undangan agar bisa bertemu dengannya.


" Iya saya tau, tapi bukankah undangan nya itu untuk Baginda Ratu. Yang mulia putra mahkota, tidak usah menghadiri nya "Lumiere membujuk


" Kau sudah mulai keterlaluan ya Lumiere ! Kalau aku ingin pergi aku pasti pergi ! " ujar Raphael marah


" Ampuni saya yang mulia, saya hanya cemas." kata Lumiere menunduk


Yang mulia benar-benar keras kepala. Kalau dia sudah menginginkan sesuatu, dia pasti akan mengejarnya. Ini tidak bagus, semoga yang mulia tidak membuat masalah saat ada di acara Raja dan Ratu Clariness nanti.


Ratu Arrabella? namanya cantik, secantik orangnya. Tunggu aku Ratu Arrabella..


Pria itu seperti pertama kali jatuh cinta saja, ia bahkan memerintahkan orang orang yang datang bersamanya untuk membawa hadiah yang banyak berupa barang-barang perempuan seperti seserahan. Untuk siapa lagi kalau bukan untuk Arrabella. Meskipun sudah dilarang oleh Lumiere dan Kainer, pria itu tetap keras kepala.


🍂🍂🍂


Arrabella, Camille , Daisy dan beberapa pengawal yang mengikuti Arrabella sedang berada di pusat kota.


Saat Arrabella turun dari kereta nya, semua orang yang ada disana di suruh menyingkir dari jalanan.


Tap


Tap


" Yang mulia, tolong hati-hati " kata Felix sambil mengulurkan tangannya pada Arrabella.


Wanita itu meraih tangan Felix dan turun dari tangga keretanya.


" Apa sir John sudah mengosongkan jalan?" tanya Demian


" Sudah sir Demian " jawab Sir John


" mengosongkan jalanan? kenapa harus di kosongkan?" tanya Arrabella yang bingung melihat orang-orang tidak ada yang berjalan di pinggir jalan


" Maaf yang mulia, hamba hanya menjalankan perintah Baginda Raja " jawab Sir John


" Aku tanya kenapa harus di kosongkan?" tanya Arrabella yang mulai meninggi


" Baginda Raja mengatakan ini demi keselamatan Ratu, Baginda Raja takut kalau akan banyak orang yang berlalu lalang di pusat kota apalagi di pasar. Dan yang mulia bisa terjatuh karena para pejalan kaki, demi keamanan yang mulia dan bayi yang mulia, jalanan yang akan dilewati yang mulia Ratu dan putri Camille harus dikosongkan.. " terang Sir John menjelaskan


" Apa? Benarkah yang mulia Raja bilang begitu?!" tanya Arrabella terpana mendengar alasan nya dari sir John


" Benar yang mulia " jawab Sir John


Aku kan sudah bilang tadi, agar dia tidak bersikap berlebihan. Ternyata dia masih saja cemas. Ini sungguh tidak bijaksana.


" Buka kembali jalanan nya untuk mereka sir John, sir Demian !" ujar Arrabella tegas


" Ya? yang mulia?" Demian terpana


" Ini jalanan umum, mana bisa menutup jalan seenaknya. Cepat buka kembali, mereka akan kesulitan beraktivitas kalau seperti ini. " kata Arrabella memerintahkan


" tapi yang mulia, maaf.. Baginda Raja.." Demian berusaha menjelaskan


" Baginda Raja adalah urusanku, tugas kalian hanya menjagaku dengan baik kan? kalau begitu kawal aku dan jangan menarik perhatian. Aku ingin kalian tidak berada di bawah radius 10 meter dari ku dan putri Camille, karena aku mau jalan-jalan. Sekian " kata Arrabella sambil berjalan bergandengan tangan dengan putri Camille. Ratu Clariness itu tak mau mendengar apapun lagi dari bawahannya.


Akhirnya jalan pun kembali di buka untuk umum. Arrabella meminta maaf kepada semua orang yang merasa dirugikan karena dirinya.


" Aku sangat malu. Ini semua terjadi karena diriku, aku sebagai Ratu Clariness meminta maaf pada kalian semua karena ketidaknyamanan yang sempat terjadi " kata Arrabella sambil tersenyum ramah pada orang-orang yang ada di jalanan.


Ratu Arrabella sangat baik, tidak salah kakak menikah dengannya. Suatu keberuntungan. batin Camille kagum


" Baginda Ratu tolong jangan meminta maaf seperti ini " kata seorang wanita sambil menunduk hormat


" Kami baik-baik saja Baginda Ratu " seorang pria tersenyum ramah


" Aku tetap merasa tidak enak pada kalian semua, tolong terima permohonan maaf ku. Sebagai permintaan maaf ku yang tulus, aku ingin mengundang kalian ke acara syukuran di istana. Datanglah ke istana..kalian semua " kata Arrabella sambil tersenyum


Semua orang disana berlutut di depan Arrabella dan berterimakasih atas kebaikan hatinya.


" Hidup yang mulia Ratu Arrabella ! Hidup Kerajaan Clariness ! Semoga kebahagiaan selalu menyertai Baginda Raja, Baginda Ratu, sehat selalu dan panjang umur !" teriak rakyat Clariness dengan penuh hormat dan semangat


Arrabella yang baik hati, tidak membiarkan orang yang sudah tua berlutut untuk nya. Ia menyuruh semua orang berdiri.


Rombongan Raphael yang sedari tadi melihat Arrabella dan para rakyat. Terpesona setelah melihat Arrabella, meskipun dari kejauhan.


" Dia.. Apa dia benar-benar manusia? bukan malaikat?" gumam Lumiere terpesona saat melihat Arrabella tersenyum


" Bagindas Ratu Arrabella, cantik seperti rumornya " kata Kainer yang juga mengagumi kecantikan Arrabella


" Bukan hanya itu saja, dia juga bijaksana dan baik hati. " kata Lumiere


Kalau aku disuruh memilih menceraikan istriku dan Ratu Arrabella. Aku lebih memilih menceraikan istriku, perempuan seperti Ratu Arrabella adalah satu dari sejuta. Ah bicara apa aku ini, hilang lah pikiran pikiran dosa. Batin Lumiere


" Kan sudah kubilang pada kalian kalau dia itu sempurna, tipe ku banget kan?" tanya Raphael sambil tersenyum


" Tapi yang mulia, tetap saja tidak bisa. Baginda Ratu Arrabella adalah istri Raja Aiden. Lebih baik anda cari wanita yang lainnya, mungkin Ratu Arrabella punya saudara perempuan " kata Kainer menyarankan dengan tegas


" Ah.. bagaimana kalau gadis yang disebelahnya itu? yang memakai gaun biru? Dia juga cantik kan?" tanya Lumiere sambil menunjuk ke arah Camille.


" Itu sih kelihatan seperti bocah, kalian jangan ngomong lagi ya. Aku tidak suka " jawab Raphael sambil tersenyum sinis


Lumiere dan Kainer membatu saat melihat senyuman menakutkan dari Raphael.


Kita bertemu nanti ya Ratu Arrabella, sekarang aku harus mencari penginapan terlebih dahulu.


🎉🎉🎉


Aiden menyambut kepulangan Arrabella dari pusat kota. Raja Clariness yang sibuk itu menunggu di depan gerbang istana, Arrabella heran melihatnya yang begitu protektif. Apa ini karena ia sedang hamil? tetap saja wanita itu merasa kalau sikap Aiden berlebihan.


Mereka berdua pergi ke kamar, dan berganti pakaian. Bersiap-siap untuk makan malam.


" Apa kau lelah? apa kau mau aku memijat mu?" tanya Aiden


" Aku sedikit lelah sih dan pegal juga, tapi aku bisa menyuruh bibi Daisy saja yang memijat ku " jawab Arrabella sambil memegang pundaknya yang terasa pegal, wanita itu duduk di ranjang.


Tangan Aiden menyentuh pundak istrinya dan memijatnya dengan lembut.


" Yang mulia, aku bisa menyuruh..


CUP


Aiden mengecup bibir istrinya dengan cepat, ia tersenyum.


" Hal seperti menyentuh tubuhmu, mulai sekarang biarkan aku saja yang melakukan nya. Apalagi untuk kenyamanan istri dan anakku, aku yang akan memastikan nya sendiri " Aiden masih memijat pundak istrinya dengan pelan dan hati-hati.


" Baiklah, kalau kau tidak keberatan. Tapi, jangan lakukan ini dihadapan orang lain. "


" Kenapa?" Aiden tak mengerti


" Masa Raja Clariness yang terhormat dan kuat memijat istrinya di hadapan orang banyak, mau dikemanakan wajahnya nanti? " Arrabella tersenyum senang


" Kau lupa hidupku seperti apa dulu? aku tidak peduli dengan image ku, semua orang sudah tau kalau aku berasal dari darah campuran. Aku bisa mengerjakan pekerjaan kasar, memijat seperti ini juga sudah ahlinya. Kau tidak usah cemas Ratu ku " Aiden mencium pundak istrinya dengan lembut.


MUACH


" Bisakah kita menjadi orang tua yang baik untuk anak kita kelak? apa aku bisa menjadi ibu yang baik untuk anak kita?" tanya Arrabella sambil memegang perutnya dan terlihat ragu


" Kita pasti bisa sayang, kita bersama merawat anak kita dan mengisi nya dengan kasih sayang orang tua nya. Kita bisa belajar menjadi orang tua yang baik "


Aiden memeluk istrinya dengan mesra dan menciumnya dengan lembut.


BRUK


Pasangan suami istri itu terhempas ke ranjang secara bersamaan. Arrabella berada di bawah tubuh suaminya.


Aiden bertumpu pada lutut dan kedua lengannya. Sudah mengetahui itu adalah kode, Arrabella terlihat malu-malu.


" Aiden, jangan. Kita masih harus makan malam " kata Arrabella sambil memegang otot dada suaminya lalu mendorong nya pelan-pelan.


'' Aku akan melakukan nya dengan cepat " kata Aiden sambil melepaskan bajunya.


" Tidak ! kau bilang aku tidak boleh kelelahan untuk acara besok, dan ini tidak baik untuk bayi kita " kata Arrabella mencari alasan


" Tidak apa-apa, dokter Henna bilang boleh kok. Aku akan pelan-pelan " kata Aiden


Tak lama kemudian setelah persetujuan dari Arrabella. Terdengar teriakan dari wanita itu.


" KYAA !! AIDEN !!


" Maaf, aku akan pelan hehe "


...---***---...


Bab selanjutnya 108 : Pesta syukuran