Arrabella Twice Lives

Arrabella Twice Lives
Bab 76 Eksekusi mati


Camille menangis histeris setelah mendengar keputusan raja untuk mengeksekusi mati ibunya. Arrabella dan Ariana merasa kasihan melihat Camille yang bersedih dan berusaha menghiburnya, ia menemani Camille pergi ke kamar nya.


" Kenapa kau mengikuti ku?! aku tidak butuh siapapun juga !" seru Camille marah marah sambil menangis


" Bagaimana pun juga Ratu adalah ibunya, dia pasti terpukul dengan semua ini? jika putri Camille seperti ini, lalu apa yang terjadi dengan putra mahkota?" batin Arrabella cemas


Arrabella memeluk Camille yang histeris itu untuk menenangkan nya.


" Tenanglah, tuan putri.. anda harus tenang.." kata Arrabella


" Benar, kau harus tenang ya " kata Ariana cuek


" Aku sangat kaku kalau dalam menghibur orang, seperti nya ku serahkan saja pada adik ipar ku, aku diam saja deh " batin Ariana


" Bagaimana aku bisa tenang kak? ibu ku akan di eksekusi mati, dia akan mati.. meskipun dia berbuat jahat, tapi dia adalah ibuku dan aku menyayanginya " kata Camille


" Ini semua sudah keputusan semuanya, aku tau putri pasti sulit menerimanya. Tapi putri tenanglah, masih banyak orang yang menyayangi tuan putri. " kata Arrabella


" Menyayangiku? siapa? mereka semua jahat pada ibuku ! dan bukankah kau juga selama ini menginginkan kematian ibuku?" tanya Camille sambil mendorong Arrabella hingga terjatuh, beruntungnya Eugene ada di belakangnya dan menangkap wanita itu agar tidak jatuh.


" akh !"


" Apa kau baik-baik saja?" tanya Eugene cemas


" Wow... seandainya si pangeran pencemburu itu ada disini dan melihatnya. " batin Ariana


Arrabella mendorong Eugene perlahan, dan memalingkan wajahnya dari pria itu.


" Terimakasih yang mulia, saya baik-baik saja " jawab Arrabella dingin


" Camille? apa yang kau lakukan? tindakan macam apa ini?! aku tau kau sedang bersedih, tapi kau tidak boleh bersikap kurang ajar pada orang yang menghibur mu dengan tulus !" kata Eugene menasehati adiknya


" Kakak..maafkan aku.." kata Camille sedih


" Minta maaf pada putri Arrabella, bukan padaku " kata Eugene tegas


" kak Arrabella maafkan aku, aku terlalu emosional. Maafkan ketidak sopanan ku, yang mulia putri Ariana, saya juga minta maaf " kata Camille sambil menunduk sedih


" Tidak apa, saya mengerti. Kalau begitu kami permisi dulu karena sudah ada putra mahkota disini yang menemani tuan putri " kata Arrabella sopan


Arrabella dan Ariana pergi dari istana menuju ke mansion Reese, disepanjang perjalanan mereka mengobrol tentang ratu, putra mahkota dan Camille. Ariana berpendapat bahwa putra mahkota juga akan dipaksa turun dari tahtanya karena ketidakpercayaan rakyat padanya.


" Kau juga berfikir yang sama denganku kan di putri Arrabella?" tanya Ariana


" Aku tidak berfikir sampai kesana yang mulia " kata Arrabella


" Kau terlihat cemas, apa kau tidak mau kalau pangeran Aiden menjadi putra mahkota? atau raja selanjutnya?" tanya Ariana


" tidak, bukan seperti itu..."


" Ya, aku memang cemas jika suatu saat nanti dia menjadi raja, karena raja memiliki tanggungjawab yang besar. Dan jika pangeran Aiden menjadi raja, bukankah artinya aku akan menjadi Ratu? ah tidak, aku tidak bisa mengemban tanggung jawab sebesar itu " batin Arrabella berfikir


" Kau akan jadi ratu yang baik, putri Arrabella... aku yakin itu. " kata Ariana yakin


" Yang mulia.. ini bukan seperti itu.."


" Aku tau isi hatimu, banyak kecemasan disana kan? aku bisa melihatnya " Ariana tersenyum


" Oh ya, ngomong-ngomong kapan yang mulia akan kembali ke kerajaan Monique?" tanya Arrabella


" Haa.. kau jadi mengingatkan ku. Bahwa sebentar lagi aku harus kembali, dihari Ratu akan di eksekusi aku harus kembali " kata Ariana sedih


" Jangan sedih, yang mulia dan aku bisa saling menulis surat. Dan yang mulia juga bisa menulis surat untuk kakak. Bukankah katamu hubungan kalian sudah berjalan lancar?" tanya Arrabella


" Sebenarnya dia memang menanggapi semua yang kulakukan, tapi dia tidak pernah bilang kalau dia suka padaku. Makanya aku jadi bingung dengan perasaannya " kata Ariana bingung


" Apa ? jadi kakakku belum mengatakan perasaan nya padamu? ya ampun.. " Arrabella kaget sampai memegang keningnya


" Apa kakak takut mengatakan perasaan nya pada putri Ariana? karena dia seorang putri? atau ada alasan lain ?" batin Arrabella berfikir


Mereka sampai di kediaman Reese, Felix memegang tangan Arrabella untuk membantu nya turun dari kereta. Peter yang kebetulan ada di rumah juga melihatnya.


" Silahkan putri "


" Felix.. terima..kasih.."


Gadis itu terjatuh, ia memuntahkan darah lagi dan jatuh pingsan ke dalam dekapan pengawal setia nya itu.


" Abel !" teriak Peter


" putri Arrabella !" teriak Ariana panik


" Tuan putri.." Felix juga panik melihat majikannya itu tiba-tiba pingsan.


Peter menggendong adiknya masuk ke dalam rumah, dan membaringkannya di ranjang. Segera ia memanggil dokter Louis untuk memeriksanya. Beruntungnya dokter itu datang dengan cepat ke mansion Reese, setelah dipanggil oleh Peter. Terlihat kecemasan Ariana, Daisy, Felix dan Peter melihat ketidakberdayaan Arrabella.


" Tuan muda, dokter Louis sudah datang !" ujar Felix


" Kau cepat sekali datangnya, syukurlah. Tolong periksa adik ku !" seru Peter


" Apa yang terjadi? kenapa tuan putri bisa tidak sadarkan diri lagi?" tanya Dokter Louis sambil memakai stetoskop nya dan bersiap memeriksa wanita yang sedang pingsan itu


" Tiba-tiba Abel muntah darah dan pingsan, tolong periksa dia !" seru Peter


" Padahal aku sudah memberinya stimulan agar ia lebih kuat. Apa keadaan nya semakin memburuk?" batin Dokter Louis cemas


Dokter itu memeriksa Arrabella dengan telaten, dari mulai dari pengecekan suhu tubuh, denyut nadi dan secara keseluruhan.


" Detak jantungnya sangat tidak karuan, saat ini keadaan tuan putri tidak stabil. Saya bisa katakan kalau keadaan tuan putri saat ini mulai memburuk " terang Dokter Louis cemas


" bukankah kau selalu memberinya stimulan dan obat obatan ? kenapa dia menjadi seperti ini lagi?" tanya Peter heran


" Maafkan saya tuan muda, stimulan itu hanya membantunya menjaga kondisi tubuhnya agar tetap stabil, bukannya menyembuhkannya. Untuk menyembuhkan nya di perlukan penawar racun. Saat ini pasti sudah tahap di mana racunnya sudah menyebar ke jantung dan hati nya. " terang Dokter Louis cemas


" Apa keadaan nya separah itu? apa benar-benar belum ada penawar nya?" tanya Ariana yang ikutan cemas


Peter mengepal tangannya dan memukul tembok saking kesalnya. " seharusnya aku yang sakit, kenapa Abel harus mengalami ini?!" batin Peter kesal sendiri


" tuan putri pernah bilang kalau Raja Dominic dan pangeran Aiden tau bahan bahan untuk penawar nya. Mungkin kita bisa bertanya pada pangeran Aiden dan Raja Dominic tentang itu, tuan muda " terang Daisy


" Apa itu benar? tapi kenapa Abel tidak memberitahu kami .." gumam Peter


" Untuk saat ini jangan biarkan Tuan putri kelelahan, dan banyak istirahat akan membantunya memulihkan diri " kata Dokter Louis


" Apa dia tidak percaya pada keluarga nya? kenapa dia tidak pernah cerita soal obat penawar itu? sebenarnya kenapa sejak hari itu hubungan ku, kak Ethan dengan Abel tidak sedekat sebelumnya. Setelah dipikir pikir lagi Abel selalu berusaha menjaga jarak dengan kami sejak bertemu dengan Oscar, apa sebenarnya yang terjadi ? aku harus bicara dengan Abel setelah ia bangun" batin Peter berfikir


Beberapa menit kemudian, wanita itu membuka matanya dan ia melihat Peter sudah ada di sampingnya dan menunggu nya.


" Kau sudah bangun? Ada yang kau butuhkan? apa kau mau air? apa ada yang sakit?" tanya Peter perhatian


" Tidak kak, aku baik-baik saja " jawab Arabella lemas. " Sepertinya aku pingsan lagi ya?"


" Iya tadi dokter Louis sudah memeriksa mu." jawab Peter


" Kakak tidak memberitahu pangeran kan?" tanya Arabella panik


" Aku baru saja mau melakukannya " jawab Peter


" Jangan beritahu pangeran ! dia sangat sibuk, dan sudah banyak pikiran. Jangan beritahu dia kak " kata Arrabella


Peter pun memulai pembicaraan dan menanyakan pada adiknya itu, kenapa sikap adiknya itu berubah sejak bertemu dengan Oscar. Sebenarnya apa yang dikatakan Oscar padanya? Arabella menjawab bahwa Oscar mengatakan kebenaran kepadanya. " kebenaran apa maksudmu?" tanya Peter


" Bahwa kak Peter dan kak Ethan membenciku kan?" Arabella tersenyum pahit


" Apa yang kau katakan? mana mungkin kami membencimu! kau adalah adik kami !" seru Peter menyangkal


" Aku ingat dengan jelas, sewaktu aku kecil kalian selalu menyisihkan ku, ketika aku ingin bermain dengan kalian, kalian selalu saja menolak ku, bahkan kalian selalu memperlakukan ku dengan berbeda, aku kira itu karena aku terlahir sebagai anak perempuan makanya kalian memperlakukan ku berbeda. Tapi ternyata itu karena kalian membenciku " terang Arrabella tersenyum pahit


" Apa kami punya alasan membencimu? kenapa tuan Oscar mengatakan hal seperti itu?" tanya Peter


" Menurut Kakak kenapa? karena kalian memang membenciku, karena kalian berfikir aku yang telah membuat ibu meninggal !" Arrabella menangis dan teringat lagi masa kecilnya.


Peter kaget mendengar kata kata Arrabella, yang memang itu benar. Sewaktu kecil, Peter dan Ethan memang tidak suka pada Arrabella karena mereka menganggap bahwa adik bungsu mereka adalah penyebab meninggalnya ibu mereka.


" Melihat ekspresi kakak, seperti nya aku benar kan? yang dikatakan tuan Oscar itu benar kan? dan yang aku rasakan saat itu memang benar.. " kata Arrabella sambil menangis tanpa suara.


" Kau tenanglah, jangan emosional seperti itu. Tidak baik bagi tubuhmu !" seru Peter khawatir


" Saat aku ingin menggenggam tangan kalian,saat aku kesepian dan membutuhkan perlindungan. Kalian sama sekali tidak peduli padaku, hanya kak Ashton yang peduli padaku, mungkin itu sebabnya hubungan kita dulu tidak dekat seperti sekarang, dan ternyata kalian menganggap ku sebagai pembunuh.. "


" Tidak begitu, Abel dengarkan aku .." Peter berusaha menjelaskan


" Meskipun itu sudah lama berlalu, tapi aku tidak pernah lupa kalau kalian selalu menggangguku dan menganggap ku pembunuh " kata Arrabella sakit hati


" Berarti memang benar kalian pernah menganggap ku pembunuh !" seru Arrabella kesal


" Abel.. kakak .." Peter merasa bersalah


" Pergilah kak, aku ingin sendirian " kata Arrabella dingin


" Dia begitu emosional saat ini, seperti nya penjelasan ku akan menjadi sia sia saja. Lebih baik aku tinggalkan saja dia sendiri. Kondisi nya sedang tidak baik " batin Peter khawatir


" Baiklah, kau beristirahat lah. " kata Peter mengalah


Arrabella terdiam, ia jadi ingat pada Ashton yang selalu menjaganya seperti kakak nya sendiri. Tapi pria yang sudah menjaga nya seperti kakak nya sendiri itu kini sudah tidak ada lagi. Hatinya sedih karena rindu pada Ashton dan kecewa dengan kedua kakak nya. Ya, meskipun itu sudah masa lalu tapi karena Peter membahasnya, ia jadi teringat kembali kenangan masa kecilnya lagi.


KLAK


Peter menutup pintu kamar Arrabella, wajah pria itu terlihat sedih. Ariana, Daisy dan Berry melihatnya dan merasa heran, Peter yang ceria bisa menunjukkan raut wajah yang sedih seperti itu.


" Dia pasti menangis..ini semua karena ku dan kak Ethan .." batin Peter merasa bersalah


" Apa putri Arrabella sudah sadar?" tanya Ariana


" Iya, tapi dia perlu istirahat sendiri. Lebih baik kalian jangan menemuinya dulu, yang mulia putri juga, maaf " kata Peter dengan nada suara rendah menunjukkan kesedihan


" Ah .. iya " kata Ariana


Peter berjalan pergi, ia akan pergi ke kantor Duke Reese untuk menyelesaikan beberapa masalah disana.


" Ada apa dengan tuan muda ya?" tanya Daisy bingung


" Biasanya dia tidak seperti itu " kata Berry heran


" Apa yang mereka bicarakan sampai sampai raut wajahnya seperti itu? apa mereka baik-baik saja?" tanya Ariana heran


***


Sementara itu Claire yang berada di pengasingan mendengar dari Yona pelayan nya yang berbelanja ke pasar bahwa Oscar dan Ratu akan di eksekusi mati.


" APA? Yona apa kau tidak salah dengar? pamanku dan yang mulia ratu akan di eksekusi mati? tapi kenapa?" tanya Claire kaget


" Saya dengar bahwa yang mulia Ratu dan tuan Oscar terlibat dengan beberapa kasus pembunuhan, dan kasus yang paling besar adalah pembunuhan istri pertama yang mulia raja 20 tahun silam " terang Yona


" APA??!! " Claire kaget mendengar nya.


" Yona, aku ingin kembali ke Clarines ! tolong bantu aku !" kata Claire


" Maafkan saya nona, saya tidak bisa membawa anda ke sana. Ini melanggar peraturan" kata Yona


" Aku mohon.. aku ingin bertemu pamanku untuk yang terakhir kalinya.. " kata Claire sambil menangis


" Saya akan coba berbicara dengan pengawal yang berjaga, siapa tau ada jalan lain " kata Yona memenangkan Claire


Claire menangis lalu ia mengeluarkan batuk darah. " Kenapa aku tiba-tiba..."


Yona berbicara dengan pengawal yang berjaga, Claire tetap tidak bisa bertemu dengannya tapi hanya bisa menulis surat untuk pamannya itu. Dengan hati yang terpaksa, Claire menulis surat untuk pamannya, meskipun sebenarnya ia ingin menemui pamannya.


***


Sore itu Camille pergi menemui Aiden dan memohon pada pria itu agar ia mengampuni ibunya dan memberikan ibunya hukuman yang lebih ringan dari kematian. Namun apa daya, Aiden tidak bisa membantah keputusan Raja, bukan ia yang memutuskan hukuman itu tapi Raja lah yang memutuskan hukuman untuk Freya.


" Tolong kak, pasti kakak bisa membujuk ayah untuk membatalkan hukuman nya.. aku tau kakak bisa melakukannya, aku tidak mau melihat ibu ku mati.." kata Camille sambil menangis


" Tolong jangan menangis putri, aku benar-benar tidak bisa membantumu. Keputusan yang mulia raja sudah mutlak " kata Aiden merasa bersalah


" Aku memang membenci ratu, tapi aku tidak punya alasan membenci Camille, bagaimana pun juga dia adalah adik ku meskipun lain ibu " batin Aiden merasa kasihan pada Camille


" Bilang saja kakak tidak mau membantu ! kakak memang senang kan kalau ibuku mati? karena ibuku sudah membunuh ibu nya kakak ! iya kan? " tanya Camille kesal


" Kenapa kau berbicara seperti ini? kau tau bukan itu maksudku.." kata Aiden heran


" Jaga bicara mu putri Camille !" ujar Raja sambil menghampiri kedua anaknya itu.


" Ayahanda .."


" Salam yang mulia raja " kata Aiden memberi hormat


" Kau sangat kasar pada kakak mu, bicaramu itu sungguh pedas. Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu? Bagaimana jika posisi mu berada di posisi nya? apa kau akan memaafkan orang yang membunuh ibumu? bagaimana jika kau yang kehilangan kasih sayang orang tua sejak kecil ? apa kau tau rasanya? beraninya kau bicara seperti itu !" Raja murka pada putrinya itu


" hiks.. hiks.. ayah aku hanya tidak ingin ibu mati.. ayah tolong selamatkan ibu.." Camille merengek


" itu bukan alasan untuk berkata kasar pada kakak mu dan menyalahkan nya " kata Raja tegas


" Ayah.. aku harus bagaimana.. ibu.. ibu.. "


Raja memeluk Camille dan berusaha memberikan pengertian kepadanya tentang kondisi mereka. Aiden juga merasa kasihan pada Camille, tapi ia tau hatinya tidak seluas itu untuk memaafkan orang yang sudah mengambil nyawa ibunya dengan sadis.


***


Malam itu, semua orang di kediaman Reese berkumpul untuk makan malam. Termasuk Arrabella dan Ariana yang ikut makan. Hari itu Duke Reese juga pulang ke rumah. Ia mengatakan bahwa ia merindukan Arrabella setelah lama tidak bertemu dengan nya. Namun, respon Arrabella tidak seperti biasanya. Hal itu membuat suasana di meja makan menjadi hening, di tengah keheningan itu Ariana berusaha mencairkan suasana dengan mengajak ngobrol Duke Reese dan kedua kakak Arrabella, sekalian ia berpamitan pada semua anggota keluarga Reese.


" Besok saya akan kembali ke negeri saya, saya pasti akan merindukan kalian semua " kata Ariana sambil tersenyum sedih. Matanya tertuju pada Ethan. Ethan sendiri terlihat sedih mendengar Ariana akan segera pergi.


Malam itu Ethan dan Ariana mengobrol di teras mansion Reese.


" Ada apa sir Ethan?" tanya Ariana melihat Ethan sudah ada dibelakangnya


" Yang mulia, akan pergi besok?" tanya Ethan


" Hmm .. iya, sudah saat nya aku pergi ke kerajaan ku sendiri. " jawab Ariana


" Dia seperti nya tertarik, makanya dia bertanya" batin Ariana senang


" Apa yang mulia tidak senang berada disini?" tanya Ethan datar


" Apa kau berfikir aku pergi karena tidak senang berada disini? itu tidak mungkin, aku senang berada disini. Terutama ada kau " kata Ariana


" Yang mulia tidak pandai menyembunyikan perasaan anda "


" Kalau kau sendiri kebalikannya, kau pandai menyembunyikan perasaan mu sendiri " kata Ariana sambil tersenyum


" Sa..saya.."


" Aku akan masuk ke dalam, ini sudah malam " kata Ariana sedih karena ia berharap Ethan akan mengatakan perasaan nya.


***


Keesokan harinya di alun alun kota, Ratu dan Oscar di arak oleh pengawal istana dan di pertontonkan di tengah-tengah rakyat. Rakyat menghujat, menghina mereka berdua, Ratu murka tapi ia tak bisa berbuat apa apa. Ini sudah di akhir hidupnya.


Sementara itu Camille dan Eugene sedih melihat ibu mereka akan di eksekusi.


" Katakan keinginan terakhir mu tuan Oscar!" seru Raja


" Saya hanya ingin dikuburkan dengan layak dan saya ingin keamanan untuk keponakan saya satu satunya selama berada di pengasingan nya " kata Oscar tulus


" Claire maafkan paman yang sudah menjerumuskan mu ke dalam lubang dosa. Semoga kau bisa bertobat, jangan menyesal seperti paman " batin Oscar sedih


Setelah Raja menyanggupi permintaan terakhir pria itu, Oscar akhirnya di gantung dan meregang nyawanya. Semua rakyat melihatnya, entah kenapa Arrabella malah menangis melihatnya.


" Selamat jalan tuan Oscar." kata Arrabella tulus


Dan sekarang giliran Ratu yang harus menjalani hukumannya.


" nona Freya, apa keinginan terakhir mu?" tanya Raja tegas


" Saya mohon jaga kedua anak kita dengan baik. Dan saya ingin yang mulia raja mengatakan cinta pada saya " jawab Ratu menatap pria itu dengan sedih


Raja tercengang mendengar nya, ia juga merasa sedih walaupun ia tak mencintai Ratu tapi ia dan ratu telah menghabiskan waktu bersama-sama bahkan mempunyai 2 anak. Ratu tersenyum pahit melihat sang Raja, hatinya terkoyak hancur, kutukan Canaria dalam mimpinya benar-benar nyata. Bahwa ia sama sekali tak pernah bahagia walaupun bersama dengan orang yang ia cintai.


" Aku mencintaimu Freya ..." Raja mencium pipi wanita itu untuk yang terakhir kalinya. Ratu tersenyum senang, air matanya mengalir, ia terharu karena sang raja mengucapkan kata cinta untuknya.


" Terimakasih yang mulia.. Meskipun terlambat aku benar benar minta maaf.." Ratu menangis dan memeluk Raja untuk yang terakhir kalinya. Ia menatap pria itu penuh perasaan.


Pada akhirnya Ratu di hukum penggal dihadapan semua orang, hal itu menjadi pukulan telak untuk Camille dan Eugene.


" ibu !! tidak.. ibu..." Camille menangis histeris, Eugene juga menangis dan memeluk adiknya.


" Selamat jalan ibu " batin Eugene sedih


Pemandangan itu mengerikan, kepala Ratu menggelinding. Air mata sang Raja terjatuh, tak menutupi kesedihannya bahwa sekarang Ratu sudah tiada. Aiden menutup matanya dan tak berani melihat eksekusi itu, ia tak sanggup melihatnya karena teringat dengan Arrabella yang dulu pernah di penggal juga.


...---***---...