Arrabella Twice Lives

Arrabella Twice Lives
Bab 8 Pria bertopeng


Arabella masih mengurung dirinya di dalam kamarnya, setelah suara Ethan dan Peter tidak terdengar lagi ia yakin bahkan mereka berdua sudah lelah untuk membujuknya.


" Ya baguslah, mereka sudah pergi. Aku bisa sendirian lagi " kata Arabella


" Nona, nona baik-baik saja?" tanya Felix yang tiba-tiba ada dibelakang nya


Arrabella berdiri karena kaget melihat Felix di dalam kamarnya dan membawa makanan untuk Arabella.


" Felix ? kenapa kau ada disini?" tanya Arabella kaget


" Maaf kan saya membuat nona terkejut, itu karena saya mencemaskan nona. Nona belum makan apa-apa kan? saya hanya ingin mengantar ini saja, Maaf saya sudah bersikap lancang" kata Felix lembut


" Terimakasih Felix, aku akan memakannya nanti. Kau bisa pergi sekarang" kata Arabella


" Baiklah, nona anda baru saja sembuh. Saya harap nona menghabiskan makanannya ya " kata Felix perhatian


" Iya baiklah. " jawab Arabella yang masih terlihat sedih


(" Nona masih terlihat sedih ") batin Felix sedih


" Pipi nona kenapa?" tanya Felix yang melihat pipi Arabella memerah


" Tidak apa, aku tadi terbentur pintu. Felix, segeralah kembali. Kalau ayah dan kakakku tau kau ada disini, mereka bisa menghukum mu lagi. " kata Arabella sambil tersenyum


" Tidak apa, saya senang kalau di hukum karena nona " Felix tersenyum


" Tapi aku akan sedih kalau kau di hukum " kata Arabella


" Nona, akan sedih karena saya?" tanya Felix senang


" Tentu saja, aku akan sedih kalau orang yang peduli padaku seperti kau, Daisy dan Layla, dihukum atau berada dalam masalah. Karena itu, segera pergi lah " kata Arabella


(" saya bukan hanya peduli pada nona, tapi saya menyukai nona, meskipun itu tidak diperbolehkan tapi saya tetap menyukai nona ") batin Felix penuh perasaan


" Iya nona, baiklah saya akan pergi. Nona, jangan tidur terlalu malam. " kata Felix sambil tersenyum


" Baiklah, Felix ini pertama dan terakhir kalinya kau masuk ke kamarku lewat jendela. Aku akan marah kalau kau melakukan nya lagi, mengerti?" Arabella mengingatkan


" Iya nona, saya baru mau bilang begitu. " Felix tersenyum senang


***


Keesokan harinya, Arabella membuka pintu kamarnya ia melihat Ethan tertidur di depan pintunya.


" Kakak? berapa lama dia disini? bajunya juga masih sama dengan yang kemarin? apa dia tidur disini? " Arabella heran


Ethan mulai membuka matanya, dan melihat Arabella sedang menatapnya.


" Abel, kau sudah membuka pintu rupanya?" tanya Ethan ramah


" Iya, aku sesak berada di kamar terus. Kakak juga sudah bangun kan? bukankah lebih baik kakak segera sarapan dan pergi mandi bukan?" tanya Arabella sambil melihat penampilan Ethan yang acak-acakan


(" Aku tidak tahu kalau dia akan menunggu semalaman, sekarang aku yang jadi merasa bersalah ") batin Arabella tak enak hati


" Aku akan melakukannya kalau kau mau bicara dengan ku dulu " kata Ethan memaksa


" Jangan kekanakan kak Ethan ! kalau kau ingin bicara denganku, pergilah mandi dulu " kata Arabella tegas


" Baik, kau tunggu di ruang makan. Disana ada Peter dan ayah " kata Ethan


(" setidaknya dia sudah berbicara dengan nada normal padaku, itu artinya kemarahannya sudah mereda kan?") batin Ethan merasa lega


" Baik lah " kata Arabella setuju


Arabella pergi ke ruang makan, disana sudah ada Peter dan Duke Reese.


" Selamat pagi Adikku " kata Peter ramah


" Selamat pagi anakku " kata Duke Reese ramah


" Selamat pagi, ayah, Kak Peter " Jawab Arabella dengan sopan


Arabella duduk di meja makan dan melihat Peter dan Duke Reese diam saja.


" kenapa kalian diam saja? tidak makan?" tanya Arabella polos


" I...iya kami akan makan, kau juga makan yang banyak " kata Peter gugup


Tak lama kemudian, Ethan ikut duduk bersama di meja makan. Mereka sarapan bersama, dan saat Ethan, Peter dan Duke Reese akan berangkat untuk melakukan pekerjaan mereka.


" Kalian berhati-hati lah " kata Arabella mengingatkan


Ethan, Peter dan Duke Reese meminta maaf pada Arabella atas tindakan mereka kemarin, Arabella juga meminta maaf pada ayah dan kedua kakaknya itu karena sudah membuat mereka cemas dan akan lebih berhati-hati. Ia juga ingat janjinya tidak akan terlibat dengan putra mahkota.


Tapi, apa yang terjadi malah sebaliknya dari keinginan Arabella.


Setelah rumor itu menyebar, di istana Clarines sang Raja mulai memikirkan pemilihan kandidat putri mahkota secepatnya, ia mengumpulkan para bangsawan untuk mengadakan rapat. Semua bangsawan yang hadir menyindir Duke Reese karena iri bahwa putra mahkota perhatian pada putrinya.


" Bukankah sudah jelas kalau putri mahkota nya adalah putri Duke Reese, yang mulia Raja?" tanya salah satu bangsawan dengan nada iri


" Maaf tuan Marquess El, tolong perhatikan kata-kata anda apa saya pernah berkata kalau putri saya akan menjadi putri mahkota?" kata Duke Reese marah


" Diam semuanya ! jangan berdebat di depan ku !" teriak Raja marah


Semua bangsawan pun terdiam.


" untuk pemilihan putri mahkota, kandidat nya akan diumumkan saat pesta kedewasaan Putra mahkota. " kata Raja dengan suara menggelegar


Rapat dengan bangsawan telah usai, sang Raja meminta bicara berdua dengan Duke Reese. Mereka berbicara sangat serius, entah apa yang mereka bicarakan itu membuat Duke Reese tidak nyaman.


**


Di kediaman Collete..


Claire mendengar rumor tentang Arabella yang akan menjadi putri mahkota selanjutnya, dan tentang putra mahkota yang memberikan perhatian pada Arabella. Ia semakin kesal karena mengetahui bahwa putri Camille semakin dekat dengan Arabella.


" Paman? bagaimana ini? gadis jahat itu, dia tidak mungkin akan menjadi putri mahkota kan? " tanya Claire sedih


" Tenang saja, gadis itu tidak akan menjadi putri mahkota. Meskipun kau tidak akan menjadi putri mahkota, dia juga tidak bisa. " kata Oscar meyakinkan


" Tapi bagaimana bisa putra mahkota tertarik pada nya? bukan kah tadinya dia tertarik padaku, paman? " tanya Claire sedih


" Katakan padaku, apa kau menginginkan posisi putri mahkota dan kau serius?" tanya Oscar serius


" tentu saja paman, selain aku mencintai putra mahkota aku juga ingin menjadi ratu selanjutnya. Tapi, bisakah aku paman?" kata Claire serius


" kalau kau memang serius dan bersungguh sungguh. Maka pamanmu ini akan berusaha keras mempertaruhkan segalanya untuk menjadikan mu Ratu masa depan. Aku akan menyingkirkan semua hambatan mu menuju ke jalan itu, karena itu kau juga harus berusaha !" seru Oscar semangat


" Iya paman, karena dukungan paman aku akan berusaha. Aku akan menjadi istri putra mahkota dan Ratu selanjutnya adalah aku !" seru Claire penuh ambisi


" Bagus, itu baru keponakanku. " Oscar tersenyum senang


***


Tak lama setelah kepergian ayah dan kedua kakaknya, Arabella berganti baju menjadi setelan celana dan bukan rok seperti biasanya. Kedua pelayannya kaget melihat itu.


" Nona, nona mau kemana dengan pakaian seperti itu?" tanya Daisy kaget


" Hehe .. tentu saja aku mau menjelajah, maksudku berlatih pedang " jawab Arabella ceria


" Berlatih pedang? bukankah tuan duke sudah melarang nya?" tanya Layla heran


" Tidak, tadi aku sudah minta izin pada ayah dan kakak. Mereka mengizinkan ku belajar pedang untuk melindungi diriku sendiri, dan aku bebas menentukan dimana pun aku ingin belajar pedang " terang Arabella senang


" Oh begitu, kalau begitu kami juga harus bersiap-siap " kata Daisy


" tidak usah, aku akan pergi dengan Felix saja " kata Arabella


" bagaimana kita bisa meninggalkan nona?" tanya Layla


" Kalian siapkan saja cemilan untukku ya, kalian tidak usah cemas kan ada Felix bersamaku " kata Arabella


Beberapa menit kemudian, Arabella dan Felix sudah bersiap pergi dengan kereta.


" Nona, tunggu ! nona mendapat hadiah dan surat dari nona Megan Benedict dan Nona Aida Carsien " kata Daisy


(" Ini awal yang bagus, dulu mereka selalu memusuhiku. Sekarang mereka jadi temanku ") batin Arabella senang


Arabella membuka surat itu dan membacanya, ia terlihat senang dan senyam-senyum sendiri. Lalu ia dan Felix pun pergi ke tempat pelatihan pedang di tengah kota dan banyak yang berlatih pedang disana.


" Nona, anda yakin mau berlatih pedang di tempat seperti ini? " tanya Felix tak percaya


" Ya. Aku dengar disini terlahirnya ahli pedang legendaris di masa yang akan datang " jawab Arabella semangat


" Nona bicara apa? masa yang akan datang?" tanya Felix tak mengerti


" Sudahlah, aku yakin disini aku akan bertemu guruku disini " kata Arabella


" Disinilah pangeran Aiden berlatih pedang dan dia terkenal sebagai prajurit perang strategi, dan guru misterius nya itu. Ah ...Aku tidak ingat siapa namanya.. Ngomong-ngomong, pangeran Aiden itu, seperti apa ya wajahnya? aku dengar dia lebih tampan dari si Eugene, jika saja dia adalah anak ratu, dia pasti jadi putra mahkota dan bukannya si Eugene, aku harap di kehidupan kali ini aku bisa mengenalnya "batin Arabella


Sementara itu, Aiden dan kedua pengawal nya berniat berlatih pedang disana juga. Aiden dan Lorenzo yang sudah mengenali wajah Arabella, kaget melihat Arabella ada disana dan memakai pakaian pria.


" Kenapa dia ada disini? " tanya Aiden kaget


" Kenapa dengan eskpresi mu itu yang mulia? bukankah yang mulia memang ingin menemui nya kan? " tanya Lorenzo sambil tersenyum


" Maksudku kenapa dia bisa ada disini ( di tempat seperti ini) ?" tanya Aiden heran


(" Di masa lalu, aku tidak bertemu dengannya disini tapi di istana. Kenapa dia bisa ada di tempat seperti ini? apa yang dia lakukan dengan pakaian seperti itu pula?") batin Aiden


" Wow.. dia seorang gadis yang cantik, Lorenzo, benar kan?" kata Demian terpesona sambil menatap Arabella dari kejauhan


" Demian, kau mau mati ya?" Lorenzo mengingatkan


" Apakah dia gadis itu yang mulia pangeran?" tanya Demian baru ngeh


" Iya, dia gadis itu " jawab Lorenzo


Felix dan Arabella menanyakan pada orang-orang disana tentang keberadaan guru misterius itu.


" Maaf, apa kalian tau dimana aku bisa bertemu guru pedang legendaris ?" tanya Arabella ramah


" Nona, kenapa kau menanyakan guru besar? " tanya Pria 1


" Tentu saja aku mau belajar pedang " jawab Arabella polos


" Gadis cantik seperti nona, seperti nya tidak cocok berlatih pedang. Nanti tanganmu yang cantik itu akan terluka nona " kata Pria 2 sambil tersenyum


" Hey! kau jangan bicara tidak sopan kepada nona ku ya !" seru Felix


" Iya nona, belum lagi nanti wajah cantik mu akan tergores pedang. " kata Pria 3 sambil tertawa


" Mereka menertawakan nona, berani sekali mereka !" batin Felix marah dan ia mulai mengeluarkan pedangnya


" Dasar pria-pria kurang ajar !" batin Arabella kesal


Arabella menendang dan memukul pria yang menertawakannya.


" Sekarang siapa yang terluka?" tanya Arabella kesal


" Berani nya kau gadis kecil !" kata Pria 1 marah dan hendak memukul Arabella.


Namun, sebuah pedang mendarat tepat di sepatu pria itu dan pria itu tak bisa bergerak. Beberapa pria disana melihatnya dan kaget, mereka langsung memberi hormat pada pria bertopeng.


" Hormat guru besar!" seru sekelompok pria berpedang itu


Aiden yang mengenakan topeng itu berjalan mendekati Arabella dan pria yang menganggunya tadi.


(" Siapa pria ini? kenapa dia terlihat familiar? aura nya sangat kuat ") batin Arabella bertanya-tanya


" Seperti nya aku mengajarkan ilmu pedangku bukan untuk menertawakan orang lain dan bersikap sombong " kata Aiden dingin


" Maafkan saya guru besar, hanya saja tidak terfikirkan bahwa seorang gadis kecil ingin belajar ilmu pedang " kata Pria itu ketakutan


" Kenapa minta maaf padaku? " tanya Aiden sinis


" Guru besar.. " Pria itu kaget


" Minta maaf pada nona ini, lalu renungkan kesalahanmu. Kau akan dihukum " kata Aiden tegas


" Wow.. pria ini seperti nya bukan orang biasa, apa dia guru pedang legendaris itu? masa sih dia masih muda? " batin Arabella menebak-nebak


" Pria ini seperti nya sangat kuat, dia memancarkan aura kstaria dalam dirinya. Dan itu tidak biasa. Ah aku baru ingat, aura nya hampir mirip dengan putra mahkota " batin Felix merasa kagum


" Nona, saya minta maaf sudah bersikap tidak sopan kepada nona " kata Pria itu sambil membungkuk hormat


" Tidak apa asal jangan kau ulangi lagi " kata Arabella masih merasa sebal


" Tadinya aku yang ingin menemuimu, tapi kau malah datang sendiri Bella " batin Aiden merasa senang


" Nona, mohon maaf atas ketidaksopanan pria tadi " kata Aiden


" Tidak apa, lupakan saja. Aku bukan orang yang mudah menyimpan dendam kok. " kata Arabella santai


" Baiklah, nona memang baik hati " kata Aiden


" Maaf, aku ingin bertanya dimana kah guru pedang legendaris ?" tanya Arabella langsung pada intinya


(" Apa nona ini tidak pandai berbasa-basi?") batin Lorenzo


(" Kau selalu mengejutkanku Bella ") batin Aiden


" Nona, beliau ini adalah guru besar pedang legendaris yang kau cari!" seru Demian menunjuk pada Aiden


Arabella dan Felix menatap Aiden seolah tak percaya, dan ada keragu-raguan.


(" Tatapan apa itu? beraninya mereka menatap yang mulia pangeran seperti itu") batin Lorenzo kesal


" Hahaa.. " Arabella tiba-tiba tertawa


Lorenzo, Demian, Aiden, dan Felix kaget melihatnya dan juga heran karena Arabella tiba-tiba tertawa.


" Nona, apa ada yang salah?" tanya Aiden serius


" Tidak.. tidak ada yang salah haha.. hanya saja, kalian buat club akting saja sana !" seru Arabella sambil tertawa kecil


" Hey nona, beraninya kau kepada yang mul.. maksudku beraninya kau menertawakan guru besar kami !" seru Lorenzo membentak


" Jangan membentak nona ku !" seru Felix marah pada Lorenzo


Lorenzo dan Felix saling menatap tajam seolah ingin berperang.


" Felix sudah, hentikan. Tuan bertopeng, jangan menipuku ya, kau bukan guru besar kan?" tanya Arabella serius


" Kalau aku bilang iya, apa kau akan percaya?" tanya Aiden datar


" Aku tidak percaya padamu tuan bertopeng " jawab Arabella dengan cepat


" apa alasanmu tidak percaya?" tanya Aiden serius


" Kau mau jawaban yang jujur? atau bohong?" tanya Arabella sambil tersenyum


(" Bella, apa kau selalu tersenyum seperti ini pada semua pria?") batin Aiden kesal


" Tentu saja jujur " jawab Aiden kesal


(" Perasanku saja? atau memang dia terlihat kesal sekarang ya?") batin Arabella


" Kau terlihat muda dan tidak bisa dipercaya, tuan bertopeng " jawab Arabella


(" Beraninya gadis itu pada yang mulia pangeran ! ") batin Demian ketakutan


" Memangnya guru besar menurutmu itu harus seperti apa?" tanya Aiden sambil tersenyum tipis


" i.. itu.. " Arabella terlihat gugup


(" Kenapa aku terlihat gugup di depannya? tidak, aku tidak boleh kalah dari nya !") batin Arabella sebal


Aiden seperti menikmati ekspresi wajah Arabella yang terlihat kesal padanya. Kedua teman Aiden heran karena Aiden malah memakai topeng saat bertemu dengan Arabella, bukan menunjukkan wajah tampannya agar menarik perhatian Arabella. Aiden mengatakan bahwa ia harus merahasiakan identitas nya dulu sebagai pangeran pada Arabella.


***


Sementara itu di istana Raja...


" Ada kabar dari pangeran Aiden?" tanya Raja pada Philip ( pengawal setianya )


" Yang mulia, hamba dengar bahwa pangeran Aiden sudah sampai di negeri ini. Tapi, pangeran belum ingin kembali ke istana" terang Philip


" Baiklah, kau tau kapan dia akan ke istana?" tanya Raja


" Yang mulia pangeran berkata bahwa ia akan kembali ke istana saat pesta kedewasaan yang mulia putra mahkota " jawab Philip


" Baiklah, kau boleh pergi " kata Raja


Philip pergi dari ruang kerja Raja. Raja terlihat sedih mendengarnya.


" Aku sudah tahu tidak mudah dia untuk menerimaku, Ria.. seandainya kau masih disini. Kau tidak akan marah padaku kan? aku bukannya mengabaikan putra kita, tapi itu keinginanmu agar dia tinggal diluar istana. Bisakah aku merangkulnya sekarang dan melakukan kewajibanku sebagai ayah? Ria.. " Kata Raja sambil menatap sedih lukisan seorang wanita cantik berambut hitam.


Tanpa sang Raja sadari, sang ratu melihatnya diam-diam dan terlihat sakit hati. Lalu sang ratu berjalan mendekati sang Raja.


" Sudah berapa lama kau ada disini, Ratu?" tanya Raja dingin


" Ini sudah 16 tahun berlalu, kau masih belum bisa berpaling darinya " batin Ratu Freya sakit hati


" Sejak kau berbicara dengan philip dan memandangi lukisan wanita itu " jawab Ratu dengan nada yang dingin


" Bukankah tidak sopan kau mendengar pembicaraan ku?" tanya Raja sinis


" Aku ini istrimu, yang mulia. Aku adalah Ratu mu, tidak bolehkah aku tau urusan suamiku sendiri?" tanya Ratu Freya sedih


Raja berjalan pergi, lalu ratu Freya menghadang jalannya.


" Aku belum selesai bicara yang mulia Raja !" seru Ratu kesal


" Apa-apaan ini, Ratu? " tanya Raja sinis


" Kenapa kau membawa kembali anak wanita itu kesini tanpa sepengetahuan ku?!!" tanya Ratu marah


" Ratu kau sudah melewati batasanmu, siapa bilang kau boleh memanggil ratu pertamaku dengan sebutan wanita itu? dan anak itu, dia adalah anakku. Dia adalah pangeran pertama kerajaan ini !" Raja menatap tajam Ratu dan terlihat marah


" Ratu? wanita rendahan itu Ratu? aku yang ratu mu, yang mulia ! dan anak itu, dia bukan pangeran. Dia adalah anak haram, dari pernikahan diam-diam yang kau lakukan dengan Canaria !" teriak Ratu murka


Raja hendak menampar Ratu tapi ia kembali mengepalkan tangannya.


" Apapun yang kau rencanakan kali ini dengan para bangsawan di belakangku, kau tidak akan bisa menghentikanku untuk membawa anakku sendiri kembali ke istana ini, dan dia bukan anak haram. " kata Raja tegas


" Kenapa yang mulia? kenapa kau masih memikir kannya sampai saat ini? kenapa aku tidak bisa menjadi satu-satunya di dalam hatimu ? padahal aku ini Ratu, dan aku ini istrimu " Ratu patah hati


" Kau tau Ratu, kau memang Ratu di negeri ini. Tapi, dia adalah Ratu di dalam hatiku. Selamanya aku hanya akan mencintainya, kau harusnya lebih tahu itu dari siapapun. " Kata Raja tegas


" Aku tidak akan tinggal diam ! aku akan menentang kembalinya anak itu ! " teriak Ratu kesal


" Coba saja " kata Raja dingin


Raja meninggalkan ratu yang menangis sendirian dan ia terlihat kesal.


" Aku tau Caesar, pernikahan kita hanyalah pernikahan politik. Namun, aku sungguh bahagia menikah dengan mu karena kau adalah orang yang aku cintai. Tapi, kau selalu saja memikirkan Canaria, tetap saja aku tidak bisa masuk ke dalam hatimu meskipun aku sudah melahirkan seorang putra dan putri untukmu, dan menyingkirkan Canaria untuk selamanya.. Aku tetap tidak berarti dimatamu, Caesar " Suara batin Ratu yang sakit hati


***


Di tempat latihan pedang..


Aiden duel dengan Felix untuk membuktikan pada Arabella bahwa ia memang guru besar pedang legendaris yang dikatakan semua orang. Felix kalah dengan mudah oleh Aiden.


" Maaf kan saya nona, saya kalah " kata Felix menyesal


(" Kemampuan guru besar pedang ini, memang tidak bisa dianggap remeh. Dia penuh strategi dan serangan nya begitu cepat. ") batin Felix yang menunjukkan kekaguman pada Aiden


" Tidak apa Felix " kata Arabella santai


(" Benar saja, tidak heran dia disebut sebagai guru pedang legendaris. Dia bisa mengalahkan Felix yang berasal dari white knight kekaisaran dengan mudah ") batin Arabella berfikir


" Guru memang hebat ! hebat !" seru Demian sambil bertepuk tangan


" Bagaimana nona ? apa kau masih meragukan guru saya?" tanya Lorenzo dengan wajah masam


" Baiklah, aku percaya aku percaya. " jawab Arabella


Arabella berjalan mendekati Aiden dan menunduk hormat di depannya.


" Guru, izinkan saya menjadi murid mu " kata Arabella


" Jadi ,muridku?" tanya Aiden


" Ya, tolong ajarkan saya ilmu pedang !" seru Arabella semangat


Aiden menatap Arabella dengan penuh keseriusan, disisi lain Arabella menatap Aiden dengan penuh harapan.