
" Kenapa dia ada disini? ah ..aku pasti sedang berhalusinasi, apa aku benar benar lelah bisa jadi seperti ini?" batin Dominic bertanya tanya
Dominic mengusap usap matanya dan kembali membaca buku nya dan tak melihat ke arah Arrabella lagi.
" Bagus sekali, aku diperlakukan seperti bayangan setelah jauh jauh datang kemari " kata Arrabella sebal
Setelah mendengar suara itu akhirnya Dominic tersadar dan melihat ke arah wanita itu yang ternyata bukan hanya ilusinya.
" Dia benar-benar ada disini? dia Arrabella?" gumam Dominic pelan
" Arrabella? itu kau?" tanya Dominic tak yakin
" Iya saya benar-benar disini Baginda raja " kata Arrabella menatap kesal pada Dominic
Dominic melihat tajam ke arah Cane, namun Cane bersembunyi di belakang Arrabella karena takut dimarahi oleh Dominic.
" Ampuni saya kali ini yang mulia, ini karena yang mulia tidak memberi saya pilihan " batin Cane ketakutan
" Tuan Cane, sudah mengatakan semuanya. Kalau nyawamu dalam bahaya? seperti nya itu benar.. " kata Arrabella yang menatap Dominic dengan cemas, karena melihat penampilan Dominic yang berantakan.
Wanita itu mendekati Dominic dan memperhatikan wajah pria itu dari dekat.
" Ada apa dengan anda? bagaimana bisa Raja Vanders menjadi seperti ini? sudahi dulu membaca bukunya !" kata Arrabella marah
" Cane, aku akan berurusan denganmu.." Dominic melotot pada Cane
" Ampuni saya yang mulia.. habisnya yang mulia tidak mendengar kan saya " kata Cane meminta maaf
" Jangan menyalahkan tuan Cane, ini salahku yang sudah membuatmu begini. Sekarang dengarkan aku dan duduk lah " kata Arrabella tegas
Dominic tidak bisa berkata apa apa, Raja itu duduk di sofa seperti anjing yang patuh di hadapan tuannya. Cane sebal karena Raja menuruti perkataan Arabella tapi perkataan nya dianggap angin lalu saja.
" Tadi saja kalau saya yang bilang, yang mulia tidak mau menurut. Huh..." gumam Cane sebal
" Aku mendengar mu Cane ! aku akan berurusan dengan mu setelah ini" kata Dominic kesal
Wanita itu duduk di sebelah Dominic sambil membawa makanan di mangkuk yang ia pegang.
" Dia sampai melakukan ini untukku, setidaknya aku harus merawatnya dan membuatnya beristirahat " batin Arrabella merasa bersalah
" Makan lah.. " kata Arrabella lembut
" Baik " Dominic mengambil mangkuk dari tangan Arrabella, tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan.
" Kenapa aku masih merasakan perasaan ini? padahal kukira waktu bisa membuat ku melupakannya dan membunuh perasaan ini, tapi aku masih saja luluh padanya. Cinta memang berbahaya.. " batin Dominic sedih
Raja itu lemas dan menjatuhkan sendok nya. Arrabella pun menawarkan diri nya untuk menyuapi pria itu.
" Biar saya suapi "
" Tidak perlu, aku bisa sendiri " kata Dominic
" Kau tidak bisa, saya akan menyuapi anda " kata Arrabella bersikeras
" Kau masih saja keras kepala.. "
" Memangnya yang mulia, tidak?" tanya Arrabella sebal
Arrabella menyuapkan sup nya satu suapan demi satu suapan, Dominic memakan nya dengan patuh.
" Siapa yang menyuruh mu tidak makan dan tidak tidur selama 3 hari 3 malam? apa aku menyuruhmu begitu?" tanya Arrabella kesal
" Aku.. aku hanya..
" Diam ! kau tidak berhak untuk bicara sekarang, kalau yang mulia mau membantu saya, tolong jangan menyiksa diri anda sendiri " kata Arrabella merasa bersalah. " Yang mulia itu adalah manusia biasa, dan bukan iblis yang bisa melakukan semua hal dengan mudah. Yang mulia butuh istirahat dan makan. "
" Inilah yang membuatku terus memikirkan mu, kau tidak pernah menganggap ku iblis seperti yang lain. Kau menganggap ku manusia, Arrabella kenapa kau tidak denganku saja?" batin Dominic berharap
" Maafkan aku, aku hanya ingin melihatmu cepat sembuh. Aku tau kau sedih karena keadaan mu, makanya aku melakukan ini. Tapi, Perjuangan ku selama 3 hari ini sudah membuahkan hasil " kata Dominic sambil tersenyum
" Itu tidak penting lagi, yang penting adalah kesehatan yang mulia raja. Untung saja tuan Cane datang ke rumahku, kalau tidak aku tidak akan tau bagaimana keadaan yang mulia. Jika yang mulia raja sakit, bagaimana keadaan negeri ini jadinya? anda tidak memikirkan hal itu, apa?"
Semua omelan Arabella pada Dominic, tidak membuat Raja tiran itu kesal atau marah, tapi ia malah senang. Ia merasa diperhatikan dan ia berfikir bahwa Arrabella memikirkannya makanya ia marah padanya yang dianggap tidak memikirkan kesehatan nya. Cane yang sejak tadi ada disana, memutuskan untuk meninggalkan Arrabella dan Dominic berdua saja.
" Baiklah, makan sudah selesai. Sekarang tidurlah, saya harus segera kembali ke Clarines " kata Arrabella ramah
" Tidak, aku tidak akan tidur dulu. Aku mau mengatakan hal yang penting dulu " kata Dominic sambil rebahan di ranjangnya.
" Apa tidak bisa dikatakan nanti?" tanya Arrabella
" Tidak bisa, harus sekarang " jawab Dominic tegas
" Kalau begitu akan saya dengarkan " Arrabella duduk di pinggir ranjang tempat Dominic tidur
" Aku sudah menemukan bahan bahan obat penawar untuk penyakitmu " kata Dominic
" Benarkah? benar benar ada obatnya?" tanya Arrabella senang
" Aku tidak tidur dan tidak makan selama 3 hari 3 malam, aku memang merasa lelah. Tapi semuanya sudah terbayar dengan melihat satu senyuman mu. Itu sudah cukup" batin Dominic lega
" Iya, benar benar ada. Inilah gunanya aku membaca banyak buku selama 3 hari 3 malam, tidak sia sia " Dominic tersenyum
" Saya senang sekarang yang mulia tersenyum, apa ada hal baik yang terjadi hari ini? kalau boleh saya tau?" tanya Arrabella penasaran
" Hal baik itu adalah bertemu denganmu, melihat senyuman mu. Tapi aku tidak bisa bilang begitu " batin Dominic
" Banyak hal baik, salah satu nya adalah kedatangan mu kemari " kata Dominic
" Jadi anda mengharapkan saya datang?"
" Kalau boleh jujur, iya. Karena kau tidak pernah menghubungi ku, padahal aku sudah memberikan mu cermin ajaib milik ku " kata Dominic sedih
" Maaf kan saya, saya tidak tau kalau anda berharap.. yang mulia " kata Arrabella
" Kalau begitu, hubungi aku sesekali. Apa bisa?" tanya Dominic
" Baiklah, kita kan teman jadi harus saling menghubungi sesekali tapi jangan sering " jawab Arrabella setuju
" Maafkan aku Raja Dominic, aku tau maksud mu yang sebenarnya. Aku bersalah telah membuatmu berharap padaku, aku tau perasaan mu begitu besar untukku. Maka dari itu aku menjaga jarak denganmu, tapi ternyata perasaan mu padaku tidak sesederhana yang aku pikirkan. Maafkan aku, tapi cinta ku hanya untuk pangeran Aiden.. " batin Arrabella merasa bersalah
" Teman? benar.. aku dan dia ada hubungan apa sampai harus sering bertemu dan saling menghubungi? Dominic, sadarlah ! sejak awal wanita ini bukanlah milikmu, wanita ini tidak akan pernah mencintaimu.. kalian hanyalah teman , kenapa harapanku sebesar ini padamu? kenapa? " batin Dominic patah hati
" Ya benar, kita kan teman " jawab Dominic sambil tersenyum pahit
" Jadi, apa saja bahan bahan untuk penawar nya?" tanya Arrabella mengalihkan pembicaraan
" Kau bisa lihat di kertas itu, ah biar aku ambilkan.." Dominic sambil beranjak bangun
" Tidak usah, kau kan sedang sakit. Biar aku saja " kata Arrabella sambil mengambil kertas yang ada di meja
Tak sengaja Arrabella tersandung sepatu Dominic dan gadis itu hampir jatuh. " Akhh !
" Hati hati !"
Dominic beranjak dari tempat tidurnya dan berlari untuk menangkap Arrabella yang hampir terjatuh. Mereka berakhir dengan posisi yang terlihat seperti berpelukan.
" kau masih saja ceroboh " gumam Dominic cemas
" Yang.. yang mulia.. " Arrabella berusaha mendorong pria yang ada di depan nya itu
" Sebentar saja.. kumohon..." kata Dominic dengan nada bicara yang lembut
" Aku ingin memelukmu setiap hari seperti ini.. Seandainya kesempatan ku masih ada, seandainya tempat ku di hatimu itu masih ada. " batin Dominic berharap
" Yang mulia.. jangan.." kata Arrabella berontak namun pria itu malah memeluk nya semakin erat.
***
Sementara itu diluar kamar Dominic, Cane sedang berjaga disana. Ia kaget saat ada cahaya muncul di depannya, seperti cahaya teleportasi. Dan ia lebih kaget lagi saat Aiden muncul dari cahaya itu.
" Pangeran Aiden? sejak kapan dia bisa menggunakan sihir teleportasi?" batin Cane kagum
Aiden menatap Cane dengan dingin dan penuh kemarahan. Cane gemetaran melihatnya.
" Sa.. sa.. selamat malam yang mulia pangeran Aiden " kata Cane menyapa
Aiden mengabaikan Cane yang menyapanya dan menatap Cane dengan tatapan membara, tatapan membunuh.
" Jadi beginilah ketika pangeran Aiden marah, dia lebih menyeramkan dari yang mulia Raja. Tidak, dia bukan marah..pasti dia kesini karena sudah tau kalau aku yang membawa tunangan nya kemari. Mati aku ! " batin Cane panik
" Aku akan berurusan denganmu nanti, dimana tunangan ku?" tanya Aiden murka
" Putri.. putri Arrabella ada di dalam kamar yang mulia Raja.. " jawab Cane gugup
Aiden membuka pintu itu dengan sihirnya...
Wush
BRAK
Arrabella dan Dominic kaget saat melihat Aiden tiba tiba datang dan mereka berdua masih dalam posisi berpelukan yang bisa membuat orang salah paham. Aiden melihat itu dengan penuh kemarahan, dan benar saja ia salah paham.
" Aku sudah tau, aku tidak bisa percaya padamu! jadi kau belum menyerah juga?" Aiden menarik tangan Arrabella dan sekarang gadis itu berada di dekapan Aiden.
" Yang mulia, kau salah paham. Ini tidak seperti yang kau pikirkan.." wanita itu berusaha menjelaskan
" Kenapa pangeran Aiden bisa ada disini? apa dia bisa teleportasi ?" batin Arrabella yang masih belum tau kalau Aiden bisa melakukan sihir menggunakan MANA dari tubuhnya.
" Aku masih mencintainya dan belum bisa melupakannya " kata Dominic jujur
" Brengsek !"
BUK
BUK
Aiden marah dan memukul raja itu berkali kali, mendengar keributan itu Cane masuk ke dalam kamar raja dan berusaha menghentikan perkelahian Raja dan Aiden. Lebih tepatnya bukan perkelahian, karena hanya Aiden saja yang menyerang dan Dominic hanya diam saja menerima serangan dari pangeran Clarines itu.
" Hentikan ! yang mulia.. jangan! Aiden !" ujar Arrabella sambil memeluk tunangan nya itu
" Jangan diam saja ! lawan aku ! " seru Aiden sambil memandangi rival cintanya yang sudah tergeletak dilantai dengan wajah yang lebam lebam
" Aiden hentikan ! Raja Dominic sedang sakit " kata Arrabella
" Kau mau membelanya? kau peduli padanya?" tanya Aiden kesal
" Jangan salah paham, aku yang memeluknya tadi. Karena aku tidak bisa menahan diri, aku tidak mau munafik pada diriku sendiri. Aku masih mencintai tunangan mu " kata Dominic tegas
" beraninya kau !!" Aiden marah
" Hentikan! cukup ! kalian jangan seperti ini! Aiden ayo kita pergi, ayo kita pulang " kata Arrabella sambil memegang tangan Aiden dan memohon pulang
" Kau.. " Aiden melihat sinis ke arah Dominic
" Uhuk uhuk.."
" Kenapa harus kambuh disaat seperti ini?" batin Arrabella
Wanita itu mengeluarkan batuk darah lagi dari mulutnya dan jatuh pingsan ke pelukan Aiden.
" Arrabella !" Dominic panik
" Naomi !" Aiden panik
" Putri Arrabella !" Cane panik
***
Keesokan harinya..
Arrabella terbangun dan melihat Aiden yang tertidur ada disisi nya menggenggam tangan wanita itu.
" Kenapa aku masih ada disini? aku belum pulang ke rumahku? seperti nya aku masih ada di kastil Vanders " gumam Arabella bingung
" APA?? Kastil Vanders??!!" teriak Arrabella kaget
Aiden terbangun saat mendengar teriakan tunangan nya itu. " Ada apa? Naomi, kau sudah bangun?" Aiden terlihat lega melihat wanita itu sudah sadar.
" Apa ada yang sakit? kau butuh sesuatu? apa kau lapar?" tanya Aiden cemas
" Tidak tidak..kenapa kita masih ada disini? yang mulia apa yang terjadi?" tanya Arrabella bingung
" Kau batuk darah lagi dan pingsan semalaman, ini sudah siang. Dan kau baru sadar.." jawab Aiden
" Pangeran terlihat lelah, apa dia menjagaku semalaman? dia seperti kurang tidur " batin Arrabella cemas
" Maaf, aku membuat yang mulia cemas " kata Arrabella
Pria itu mendekap Arrabella dengan lembut.
" Syukurlah kau sudah sadar, aku sangat cemas. Rasanya aku mau mati saja.. "
KRUKK
" Kau lapar ya?" tanya Aiden
" Ti.. tidak ..."
" Dasar perut memalukan " batin Arrabella jengkel
" Aku akan ambilkan makanan " kata Aiden sambil tersenyum
" Saya sudah membawakannya, yang mulia pangeran tidak usah repot repot mengambilnya lagi " kata Wen yang muncul sambil membawa nampan di tangannya.
" tuan Wen !" kata Arrabella
" Lama tidak bertemu ya nona Arrabella, ah.. atau harus ku panggil putri Arrabella sekarang " kata Wen ramah
Melihat keakraban Arrabella dengan orang orang yang tinggal di kastil Vanders membuat Aiden cemburu dan merasa tak nyaman. Ia terus saja menunjukkan ketidaksukaan nya dengan cemberut dan bersikap dingin dengan orang orang yang ada di kastil Vanders.
" Ada apa dengan wajah mu ? ada yang membuat yang mulia kesal? apa kejadian semalam masih membuat yang mulia kesal?" tanya Arrabella sedih
" Aku memang masih kesal, dan pagi ini aku tambah kesal. Kenapa kau begitu akrab dengan penghuni di kastil ini? " tanya Aiden
" Itu karena saat itu.. untuk bertahan hidup, mau tidak mau aku membangun hubungan baik dengan mereka yang ada di kastil ini. Jadi lah aku akrab dengan mereka.. jangan bilang kalau yang mulia cemburu ?" Arrabella menjelaskan
" Aku sangat cemburu, rasa nya aku ingin mencabik cabik mereka terutama pemilik kastil ini yang sudah berani memeluk mu semalam !" kata Aiden kesal
" ahaha.. bukankah sudah aku jelaskan. Apa yang mulia tidak percaya padaku?" tanya Arrabella
"Aku percaya padamu, tapi aku tidak percaya padanya. Lain kali kau tidak boleh pergi bersama nya atau pria lain tanpa aku ketahui. " Aiden cemberut
" Ya ini salahku tidak sempat memberitahu mu karena terburu buru, tidak ada lain kali ! aku tidak akan begitu lagi " kata Arrabella berjanji
" Baiklah aku percaya "
Wanita itu kebingungan dan takut ayah juga kedua kakak nya akan marah kalau tau ia menginap diluar, tapi Aiden mengatakan bahwa ia sudah menjelaskan alasan Arrabella menginap di Kastil Vanders, karena dengan keadaan wanita itu tadi malam, Aiden tidak bisa membawanya dengan sihir teleportasi yang akan membahayakannya. Jadi, ia memutuskan untuk menginap di kastil Vanders demi keselamatan Arrabella.
" Tetap saja ayah dan kakak kakakku pasti akan marah padaku " gumam Arrabella cemas
" Tidak apa, aku akan bantu jelaskan lagi. " kata Aiden santai
" Aku hanya takut mereka berfikir yang tidak tidak karena kita menginap diluar " kata Arrabella
" Memangnya ada yang aneh ya dengan pasangan resmi yang menginap diluar? kita kan sudah bertunangan " kata Aiden santai
" Bukan itu.. maksudku.. kita.."
" Apa kau berfikir yang bukan bukan lagi?" tanya Aiden
" Tidak ... tidak.. aku hanya..
Pria itu mendekatkan wajahnya ke arah wanita itu dan mencium bibirnya dengan lembut.
" Hmphh.. yang mulia..
" Dia semakin hari semakin agresif,ini ketiga kalinya kami berciuman. Dan aku juga semakin menikmati nya.. aku tidak bisa menolak sentuhan pria ini " batin Arrabella
" Setiap melihat nya gugup, dia terlihat sangat imut dan aku ingin sekali melakukan ini dari dulu. Mencium mu seperti ini, rasanya sangat manis.." batin Aiden
Tanpa mereka sadari, Dominic yang berada di balik pintu melihat mereka berdua yang sedang berciuman. Hatinya masih terasa sakit, ia yang tadinya akan menemui Arrabella dan Aiden mengurungkan niatnya itu dan memilih bersembunyi.
" Bukankah mereka adalah pasangan? wajar saja mereka melakukan kontak fisik. Tapi kenapa aku belum bisa menerima? jadi ini yang namanya patah hati.. cinta adalah hal yang paling menyakitkan, harusnya aku tidak jatuh cinta sedalam ini... " batin Dominic sakit hati
Cane dan Wen menyaksikan Dominic yang terlihat terluka dan sedih di depan pintu kamar tempat Arrabella dan Aiden bersama.
" Kasian sekali yang mulia.. " kata Wen sedih
" Cinta pertamanya tidak berjalan mulus " kata Cane sedih juga
" Sedihnya jadi second lade ..hu hu.." kata Wen yang ikut merasakan kesedihan raja nya itu
***
Di mansion Reese..
Peter mondar mandir tidak karuan, ia terlihat kesal.
" Apa kau tidak ada kerjaan lain? hari ini hanya mondar mandir tidak jelas begitu?" tanya Ethan yang akan berangkat ke istana untuk berlatih
" Kakak, Abel belum kembali juga dan ini sudah siang. Katanya mereka akan langsung pulang saat keadaan Abel sudah membaik, apa keadaan Abel belum membaik?" tanya Peter
" Ya, mungkin begitu. Aku percaya kok pada pangeran, dia akan menjaga Abel dengan baik " jawab Ethan santai
" Apa kau tidak marah pangeran membawa Abel semalaman? " tanya Peter berfikir yang bukan bukan
" Aku yakin mereka bisa jaga diri " kata Ethan santai
" Jaga diri bagaimana? aku dengar para pengawal penjaga di depan bergosip kalau mereka melihat pangeran mencium Abel di depan rumah !" kata Peter cemas
" APA?? apa itu benar?" tanya Ethan tercengang
" Iya benar ! dia sudah berani melakukan hal mesum pada Abel, padahal mereka belum menikah " kata Peter sebal
" Jika benar begitu, aku harus buat perhitungan dengannya " kata Ethan kesal
" Beraninya dia mencium adik kita !" ujar Peter kesal
" Kenapa mereka begitu kuno? bukankah putri Arrabella dan pangeran Aiden sudah bertunangan? wajar saja jika mereka hanya berciuman ...dasar ckckck " batin Ariana heran
***
Setelah keadaan Arrabella membaik, Aiden memutuskan untuk membawa Arrabella cepat pulang ke Clarines. Aiden masih terlihat kesal saat akan berpamitan dengan Dominic.
" Yang mulia raja, maaf sudah merepotkan mu.. " kata Arrabella sopan
" Tidak kok. " jawab Dominic santai
" Aku malah senang kau ada disini " batin Dominic berharap
" Pria ini masih saja menatap tunangan orang lain seperti itu !" batin Aiden kesal
" Pangeran Aiden, kita harus mencari bahan bahan obat penawar itu bersama. Tidak ada pilihan lain lagi karena hanya aku yang tau tempatnya " kata Dominic
" Baik " jawab Aiden singkat
" Seperti nya Aiden masih marah " batin Arrabella
" Kami pamit dulu, terimakasih Raja Dominic " kata Arrabella sambil tersenyum ramah
" Jangan tersenyum seperti itu !" ujar Aiden kesal
" Baiklah jangan marah "
Arrabella berpamitan kepada Wen, Cane dan semua orang yang akrab dengannya di Kastil Vanders.
" Kami pergi.. "
" Maafkan aku raja Dominic " batin Arrabella merasa bersalah
" Maafkan aku raja Dominic, tapi Arrabella adalah milikku. Sekarang atau selamanya dia hanya milikku. Tidak akan kubiarkan kau masuk diantara kami " batin Aiden
Tak lama kemudian, Aiden menggunakan sihir teleportasi nya dan menghilang bersama Arrabella.
Raut wajah Dominic terlihat tidak karuan, sedih, kecewa, sakit hati berkecamuk di dalam hatinya.
" Meskipun kau jauh dariku, kenapa aku tidak bisa melupakanmu? perasaan ku padamu tidaklah berkurang sedikitpun, berulang kali aku berusaha menyadarkan diriku, tetap saja hatiku akan luluh kalau melihat wajahmu, apakah aku harus nya tidak melihatmu saja?"
...---***---...