
Keadaan seperti tertuduh dan disalahkan sudah menjadi hal biasa bagi Arabella di masa lalu. Namun, ia tidak tahu bahwa dulu Ratu juga ikut campur tentang semua hal buruk yang menimpanya. Arabella melihat keraguan di mata Eugene, dan ia teringat masa lalu.
Arabella dan Claire yang saat itu menjadi dua kandidat calon putri mahkota yang tersisa, menemui sang Ratu dan memberikan salam padanya.
" Salam saya yang mulia ratu, semoga anda sehat selalu dan panjang umur" kata Arabella ramah
" Ya " jawab ratu singkat
" Salam saya yang mulia ratu, semoga yang mulia ratu selalu bahagia " kata Claire ramah
" Terimakasih nona Claire, kau memang selalu bisa membuatku terpesona " kata Ratu ramah pada Claire
Arabella selalu dibanding-bandingkan dengan Claire, dan apapun hal baik yang Arabella lakukan, Claire selalu menjadi yang terbaik di mata yang mulia ratu. Saat itu ia tidak tahu bahwa ratu adalah dalang dari semua kemalangan nya selama di istana dan membuat hubungan nya dengan Eugene memburuk.
Suatu hari sang ratu mengundang Claire dan Arabella untuk minum teh bersama. Arabella sangat senang dengan ajakan ratu.
" Nona Arabella, aku dengar kau sangat pandai membuat teh yang enak. Bisa buatkan satu untukku?" tanya Ratu dengan senyuman ramah di wajahnya
" Baik, tentu saja yang mulia Ratu. Akan saya buatkan untuk anda " kata Arabella senang
Diam-diam Claire menyembunyikan senyuman jahatnya seperti merencanakan sesuatu. Claire dan Arabella pergi ke dapur untuk membuat teh bersama.
Beberapa saat kemudian, Claire dan Arabella datang membawa teh. Dengan sengaja Claire menjagal kaki Arabella dan membuat teh nya tumpah ke tangan ratu yang sedang duduk di kursi.
" Ah.. panas ! panas !" teriak Ratu panik
Semua orang yang melihat itu kaget dan menghampiri ratu.
" Yang mulia ! cepat panggilkan dokter !' teriak Claire
" Bagaimana bisa kau tidak berhati-hati ?!!" seru Ratu marah
Arabella merasa bersalah dan tak bicara apa-apa.
Ratu pun di tangani oleh dokter dan beristirahat di kamarnya. Arabella terus meminta maaf tapi Ratu tidak menanggapinya sedikit pun. Sampai Eugene datang menemui Arabella yang sedang berlutut di depan kamar Ratu.
" Apa kau sudah selesai?" tanya Eugene dengan tatapan sinis pada Arabella
" Saya tidak akan pergi sebelum yang mulia ratu memaafkan saya " kata Arabella keras kepala
" Nona Arabella, lebih baik kau pergi saja. Karena ratu sedang beristirahat " kata Claire memberitahu
" Berdiri lah !" seru Eugene tegas
Aku kira saat itu ia akan menggenggam tanganku dan berkata bahwa ini bukan salahku dan semuanya akan baik-baik saja, tapi..
Arabella berdiri, dan Eugene menampar nya dengan sangat keras hingga pipi nya merah. Claire terkejut melihat itu, tapi di dalam hatinya ada kepuasan terlebih lagi hal itu semakin memalukan untuk Arabella karena di saksikan oleh pelayan disana. Membuat Claite semakin senang melihat rivalnya itu menderita.
PLAK
" Yang mulia kenapa.. anda..?" tanya Arabella terkejut
" Aku sudah tahu kalau kau selalu membuat masalah, tapi aku tidak tahu kau seburuk ini sampai menyentuh ibuku. Jika bukan karena kekuasaan ayahmu, aku tidak akan pernah membiarkan kau menginjakkan kaki di istana ku ini !" kata Eugene tajam
Arabella menahan air matanya, saat itu ia tahu bahwa dirinya di permalukan oleh Eugene tapi ia tetap tegar. Namun, pada akhirnya ia tetap menangis juga. Bukan karena tamparan dari Eugene tapi kata-kata Eugene lah yang membuat hatinya hancur.
Arabella Voice :
Bukannya menggegam tanganku, saat itu kau malah menamparku dengan kata-katamu, dan menampar wajahku. Tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskan yang terjadi, kau memilih mempercayai orang lain. Kau tidak pernah mencintai ku, tapi aku selalu mencintaimu. Dulu aku sangat bodoh bisa jatuh cinta kepadamu, tapi aku lebih bodoh karena tak bisa menghentikan perasaan ini padamu. Bahkan sampai aku mati ditangan mu, aku masih menyimpan cinta untukmu walaupun hanya sedikit. Tapi, apakah kau pernah menangis untukku? apakah sikap mu akan sama seperti masa lalu ? apa kau akan menatapku dengan penuh ketidakpercayaan, atau menampar ku dengan kata-kata mu? aku sudah siap untuk ini.
***
Semua orang menatap Arabella dengan penuh kecurigaan dan mereka mulai berbisik-bisik tentang Arabella.
" Apa benar cangkir ini milikmu? " tanya Eugene memastikan
" Diluar dugaan, biasanya kau akan langsung menamparku tanpa bertanya apapun. " batin Arabella sedikit kaget
" Iya benar yang mulia" jawab Arabella tanpa rasa takut
" Di dalam cangkir ini memiliki aroma buah beri yang mulia. " kata Deborah
" Bukankah itu artinya sudah jelas kalau nona Arabella yang melakukannya?" tanya Anna menuduh
" Tolong jangan bicara sembarangan! tidak mungkin nona Arabella melakukan hal ini " kata Eugene tak percaya
Arabella terpana mendengar Eugene membelanya.
" Kenapa kau membelaku? seharusnya kau menamparku seperti dulu. " batin Arabella kaget
" Yang mulia maafkan saya kalau saya berkata lancang, saya tahu anda tertarik pada nona Arabella. Tapi anda harus bersikap adil, ini bukan masalah yang sepele loh. Ini tentang nyawa yang mulia ratu, meskipun nona Arabella tidak sengaja melakukannya dia harus tetap dihukum " kata Lily dengan penuh keberanian
" Bagus sekali, gadis gadis bodoh ini ternyata sangat berguna " batin Claire senang
" Beraninya kau berkata seperti itu ! kata-katamu adalah tuduhan yang berat nona Lily !" seru Eugene marah
" Sulit dipercaya, sekarang Eugene marah untukku?" batin Arabella tak ingin percaya
" Yang mulia tolong bersikap adil !" seru Anna memaksa
Deborah membisikkan sesuatu ke telinga Eugene, Eugene terlihat serius mendengar nya.
" Baiklah, insinden ini akan di selidiki oleh pihak istana. Sampai kasus ini selesai, nona Arabella tidak diperbolehkan keluar dari istana " kata Eugene tegas
Claire tersenyum puas mendengar nya.
" Tunggu ! yang mulia, saya bisa menjadi saksi nya. Nona Arabella tidak mungkin melakukan itu " kata Megan membela
" Dari mana kau tau kalau dia tidak melakukannya? apa kau melihatnya ?" tanya Anna sinis
" Lalu, apa kau juga melihat nona Arabella memasukkan bubuk buah beri itu ke dalam teh ? tidak kan, lalu kenapa kalian menuduhnya seperti itu ? " tanya Megan kesal
" Nona Megan, sudahlah " kata Arabella menenangkan Megan
" Tidak bisa begitu! yang mulia saya saksinya, saya berada disamping nona Arabella selama membuat teh itu. Dan saya tidak melihat dia mencampurkan apapun ke dalam teh, tolong jangan tahan nona Arabella " kata Megan
" Sudah jelas-jelas cangkir teh nya mengandung buah beri, masih saja kau mau membelanya nona Megan " kata Lily
" Saya juga tidak percaya kalau nona Arabella akan melakukan itu, yang mulia mohon pertimbangkan kembali keputusan anda " kata Claire memelas
" Kau benar-benar rubah licik, Claire " batin Arabella
Eugene terlihat bingung dan pusing melihat gadis-gadis bangsawan itu ribut. Dan ia memarahi semuanya, lalu menyuruh yang lain pulang kecuali Arabella yang sudah diputuskan menjadi tahanan istana.
" Nona Arabella bagaimana ini? " tanya Megan khawatir
" Tidak usah cemas, tidak akan terjadi apa-apa padaku. Aku tidak bersalah, jadi aku tidak perlu takut " kata Arabella sambil tersenyum tenang
" Tapi.. " kata Megan cemas
" Pulang lah, nona Arabella akan baik-baik saja " kata Eugene yang tiba-tiba ada di belakangnya
" Yang mulia putra mahkota !" seru Megan
***
Eugene berbicara berdua dengan Arabella di ruangan kerja putra mahkota.
" Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya yang mulia?" tanya Arabella
" kenapa dia tenang sekali?" batin Eugene heran
" Apa kau tidak takut?" tanya Eugene
" Takut? kenapa saya harus takut? apa yang harus saya takuti?" kata Arabella tenang
" saat ini kau terkena tuduhan yang berat mencelakai ratu.." jawab Eugene cemas
" Saya tidak takut, karena saya tidak pernah melakukannya dan saya tidak bersalah. Saya merasa tenang seperti ini karena masih ada beberapa orang yang percaya pada saya, itu yang membuat saya percaya diri " terang Arabella
" Aku suka dengan kepercayaan dirimu. Mungkin ini lah sebabnya aku tertarik padamu " gumam Eugene pelan
" Apa yang anda katakan yang mulia? saya tidak dengar? " tanya Arabella bingung
" Tidak.. tidak apa-apa. " jawab Eugene
" Apa ini artinya dia percaya padaku? bagaimana bisa ? dulu dia tidak pernah menunjukkan ekspresi ini padaku. Aku akan bertanya padanya dan memastikannya" batin Arabella heran
" Apa anda tidak marah padaku? ah maksud saya.. apa anda tidak mencurigai saya?" tanya Arabella dengan wajah polosnya
" Tidak sama sekali. Aku percaya padamu, meskipun kau selalu menatapku penuh kebencian tapi kau bukan orang jahat " jawab Eugene
" Kenapa? kenapa dulu kau tidak seperti ini? kenapa dulu kau menyakitiku?" batin Arabella sedih
Mata Arabella berkaca-kaca, dan Eugene membelai pipi gadis itu dengan lembut.
" Yang mulia .. " kata Arabella tercengang
" Jangan menangis, semuanya akan baik-baik saja " kata Eugene lembut
" Aku akan melindungimu, Arabella. Jadi, aku harap kau juga percaya padaku " batin Eugene tulus
Arabella menepis tangan Eugene yang membelainya dan menunjukkan ekspresi tak suka pada Eugene.
" Arabella, kau jangan lemah.. kau jangan luluh olehnya. Ingat apa yang pernah dia lakukan padamu. Ingat alasanmu kembali dilahirkan !" batin Arabella tegas
" Lagi-lagi, kau menunjukkan ekspresi seperti itu. " kata Eugene sakit hati
" Ekspresi seperti apa maksud anda yang mulia?" tanya Arabella
" Matamu mengatakan kau membenciku " jawab Eugene tanpa ragu
" Saya tidak membenci yang mulia, anda terlalu berpikir berlebihan " kata Arabella menyangkal nya
" Aku selalu ingin bertanya apa maksud tatapanmu itu, tapi kau selalu menyangkal nya. Apa yang sebenarnya aku lakukan padamu sehingga kau menatapku seperti ini? Apa salah ku? " tanya Eugene tegas
" Kau menanyakan pertanyaan yang mudah untuk ku jawab. Salahmu banyak Eugene, tak terhitung berapa kali kau melukai hatiku. Dan aku semakin benci ketika tahu kau tidak mengingatnya. " batin Arabella kesal
" Yang mulia seperti nya anda salah paham. Aku tidak membencimu, alasan ku menatapmu seperti ini hanya karena aku tidak menyukaimu " kata Arabella menjelaskan
" Jadi kau tidak membenciku?" tanya Eugene senang
" Iya benar, saya tidak punya alasan membenci yang mulia. Saya hanya tidak suka saja pada yang mulia " kata Arabella membenarkan
" Dia bilang dia tidak membenciku, dia hanya tidak menyukaiku? apa itu artinya aku masih punya kesempatan untuk membuatnya menyukaiku?" batin Eugene senang
Arabella kebingungan melihat Eugene yang senyum-senyum sendiri.
" Ada apa dengannya?" batin Arabella bingung
" Yang mulia, jika tidak ada hal lain lagi. Apa saya bisa pergi?" tanya Arabella
" Ya, baiklah. Kamar mu sudah disiapkan oleh pelayan, beristirahat lah " kata Eugene lembut
" Kamar ku? tapi bukankah saya adalah tahanan? kenapa saya tidur di kamar?" tanya Arabella polos
" Kau bukan tahanan yang seperti itu. Pergilah, nanti aku akan menemui mu lagi " kata Eugene
" Akan lebih baik kalau anda tidak menemui saya lagi yang mulia " kata Arabella tegas
" Kenapa ?" tanya Eugene
" Anda pura-pura tidak tahu atau tidak tahu tentang rumor itu, anda tidak lihat respon nona Anna, nona Lily dan semua orang tadi. Mereka menganggap anda tidak adil karena berfikir anda memiliki perasaan pada saya. Itu akan merugikan anda " terang Arabella
" Jadi, apa kau merasa di rugikan juga?" tanya Eugene sedih
" Benar yang mulia " jawab Arabella
Eugene terlihat kecewa setelah mendengar nya, secara tidak sadar Arabella telah meruntuhkan dinding hatinya, tapi gadis itu malah membuat batasan untuk nya agar ia tak bisa masuk ke dalam hati nya. Meskipun begitu, Eugene bertekad bahwa ia akan mendapatkan Arabella.
Setelah mendengar alergi Ratu kambuh, sang Raja menemui ratu dan melihatnya tertidur.
" Bagaimana ini bisa terjadi? " tanya Raja sambil melihat pada Deborah
" Maaf kan saya yang mulia raja, ratu meminum teh yang dibuat oleh oleh salah satu kandidat putri mahkota dan di dalam teh itu ada bubuk buah beri yang membuat alergi yang mulia ratu kambuh " terang Deborah
" Semua kandidat itu pasti tau ratu alergi buah beri, apa ini rencana seseorang?" batin Raja berfikir
***
" Abel !" seru Peter dan Ethan sambil membuka pintu kamar dengan keras
" Abel!!" seru Ashton panik
BRAK
" Kak Ethan? kak Peter? kak Ashton? kenapa kalian ada disini?" tanya Arabella kaget
Ketiga pria itu menghampiri Arabella yang berdiri karena kaget.
" Kami sudah dengar beritanya, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Peter
" Apa kau meracuni ratu? apa itu benar?" tanya Ethan tak percaya
" Ah.. ternyata seperti itu ceritanya terdengar diluar, aku tidak meracuni yang mulia ratu. Bukan begitu ceritanya" kata Arabella sambil memegang jidatnya
Arabella menceritakan semua yang terjadi kepada ketiga pria itu. Dan mereka memperhatikan dengan seksama ceritanya.
" Kalau ceritanya begini sudah jelas ada orang yang sengaja ingin menjebakmu " kata Ashton yakin
" Katakan pada kakakmu ini, siapa diantara para gadis bangsawan itu yang tidak suka padamu?" tanya Peter penasaran
" Semuanya " jawab Arabella santai
" Apa maksudmu semua?" tanya Ethan bingung
" Semuanya kelihatan tidak suka padaku, kecuali nona Megan " jawab Arabella
" Apa? benarkah? kenapa mereka menbencimu ?" tanya Peter
" Peter, bukankah itu sudah jelas alasannya. Karena Abel adalah gadis yang menarik perhatian putra mahkota, dan mereka menganggapnya saingan " kata Ashton
" Kali ini kau bisa bicara serius juga ya, aku kira kau hanya bisa bercanda " kata Ethan heran
" Aduh kak Ethan ini, masalah tentang Abel mana mungkin ku anggap lelucon. " kata Ashton serius
" Ternyata adikku sudah mulai dewasa, kau bisa menghadapi situasi dengan tenang. Padahal dulu kau selalu panik pada sesuatu yang sepele " kata Ethan bangga
" Aku setuju denganmu kak Ethan " kata Peter dan Ashton sambil tersenyum
" Benar, tidak peduli orang lain mau percaya padaku atau tidak. Aku beruntung mempunyai kalian dalam hidupku. " batin Arabella merasa senang
Arabella memeluk Ethan dan Peter dengan penuh kasih sayang.
" Eh.. ? ada apa ini?" tanya Peter bingung
" Tenang saja, kami akan melindungi mu apapun yang terjadi Abel " kata Ethan sambil tersenyum
" Jika kalian bukan kakakku, aku pasti akan jatuh cinta pada kalian " kata Arabella dengan wajah manja nya
" Apa itu termasuk diriku?" tanya Ashton polos
" Iya, kau juga termasuk kakakku " jawab Arabella sambil tersenyum
" kenapa aku merasa aneh saat melihatnya tersenyum? ini tidak seperti biasanya, ada apa ini?" batin Ashton bingung
" Dasar ya kau ini.. aku tak bisa marah padamu " kata Ethan sambil tersenyum
" Aku beruntung, sangat beruntung memiliki kakak kakak yang tampan dan keren seperti kalian. Aku merasa seperti tuan putri, jika kalian menikah kalian pasti akan melupakanku ya?" tanya Arabella manja
" Tentu saja tidak, kau akan selalu jadi tuan putri kami " kata Peter sambil tersenyum
Peter, Ethan, Ashton dan Arabella tertawa bersama dengan senang untuk melupakan sejenak permasalahan yang menimpa Arabella.
***
Di camp pedang, Aiden sedang melatih pedang hari itu dan ia tidak memakai topengnya. Lorenzo melihat Aiden tidak seperti biasanya.
" Yang mulia ada apa?" tanya Lorenzo
" Apa maksudmu?" tanya Aiden sambil meminum air didalam botol
" Hari ini anda terlihat tidak fokus, apa ada sesuatu yang menganggumu ?" tanya Lorenzo heran
" Entahlah, perasaanku tidak enak sejak tadi pagi " jawab Aiden
" Sebenarnya ini karena mimpi itu, kenapa mimpi itu harus muncul lagi " batin Aiden resah
#FLASHBACK
Aiden terlihat panik di derasnya hujan, ia terus melaju kencang dengan kuda nya.
" Kau harus selamat ! kau tidak boleh mati !" seru Aiden panik
Aiden terjatuh beberapa kali dari kudanya, bahkan bajunya juga kotor terkena lumpur. Beberapa kali juga jubah tudung nya terbuka. Namun, ia tetap menunggangi kudanya dan dengan wajah panik nya di tengah hujan yang terus mengguyur deras.
Kuda yang di tungganginya terluka, dan akhirnya ia berlari menuju ke pusat kota Clarines. Ia melihat banyak orang-orang berkumpul disana.
" Mati ! mati !" teriak orang-orang itu
Aiden berlari ke depan orang-orang itu dan ingin melihat apa yang orang-orang itu ributkan. Dan ia begitu terkejut saat melihat kepala seorang gadis yang tergeletak di tanah dan tubuhnya ada di atas pancungan.
" Ara..bella.. tidak .." Aiden menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Semua rakyat terlihat bahagia melihat kematian gadis yang di hukum pancung itu, kecuali Aiden yang menangis.
" Arra.. bella .. maafkan aku.. maafkan aku .." Aiden tak kuasa menahan tangisnya melihat gadis yang cintai sudah tiada.
Ditengah hujan, pria itu menangis dan menatap dendam ke arah sang raja, ratu dan Oscar yang sudah menyebabkan gadis yang ia cintai meninggal.
#END FLASHBACK
" Kenapa ingatan menakutkan itu datang lagi? ingatan yang ingin kuhapus dari kehidupan ku sebelumnya, kenapa harus muncul di mimpi? ini membuatku tidak tenang. Apa Naomi baik-baik saja?" batin Aiden resah
" Yang mulia? apa yang mulia mendengar saya?" tanya Lorenzo cemas
" Ya Lorenzo " jawab Aiden
" Anda mencemaskan nona Arabella kan? tenang saja, anda sudah mengirimkan Demian untuk mengawasi nya, dia pasti baik-baik saja " kata Lorenzo menenangkan
" Semoga saja, tapi aku cemas kenapa Demian sangat lama.. " kata Aiden tak tenang
" Sebentar lagi dia pasti datang yang mulia " kata Lorenzo
" Yang mulia sangat menyukai nona Arabella, apa dia juga tahu kalau yang mulia menyukai nya seperti ini? " batin Lorenzo
" YANG MULIA !! YANG MULIA !!" teriak Demian dari kejauhan.
" Nah, itu Demian sudah datang " kata Lorenzo
Demian berlari dan wajahnya terlihat panik, ia menghampiri Aiden dan Lorenzo.
" Demian, ada apa kau berteriak-teriak seperti itu?" tanya Lorenzo
" maafkan saya yang mulia.. ini.. terjadi sesuatu di istana .." kata Demian terbata-bata sambil mengatur napasnya
" Ada apa? apa Arabella baik-baik saja?" tanya Aiden cemas
" Nona Arabella..di istana ..dia dituduh sengaja mencelakai Ratu " jawab Demian.
Lorenzo kaget mendengar nya.
" APA? " Aiden terpana dan panik mendengarnya.
***
Duke Reese menemui Arabella yang sedang berada di kamarnya.
" Ayah? "Arabella
" Kau baik-baik saja nak?" tanya Duke Reese sambil tersenyum tipis
Arabella berlari memeluk ayahnya.
" Ayah, maafkan aku. Maafkan aku selalu membuat ayah berada dalam masalah. Karenaku .. " kata Arabella merasa bersalah
" Kau tidak perlu meminta maaf, ini bukan salahmu. Kau tidak akan melakukan itu ayah tau. " kata Duke Reese lembut
" Aku memang anak yang tidak berguna, aku selalu membuat ayah dalam masalah. " Arabella menyalahkan dirinya
" Abel ini bukan salahmu nak. Tenang saja, ayah, Ethan dan Peter, akan menyelidiki kasus ini sampai tuntas. Apa kau takut?" tanya Duke Reese
" Aku tidak takut ayah, karena aku tidak bersalah dan aku tidak melakukan hal itu. " jawab Arabella percaya diri
" Bagus, kalau begitu jangan menyalahkan dirimu lagi karena ayah tidak suka mendengarnya. Ayah senang putri kecil ayah sudah dewasa dan bisa bersikap tenang. " kata Duke Reese bangga
" Aku sangat bahagia mempunyai ayah seperti ayah.." kata Arabella senang
Duke Reese memeluk Arabella dengan lembut untuk menenangkannya.
***
Aiden sedang bersiap-siap pergi ke istana bersama Demian dan Lorenzo.
" Yang mulia, apa anda sudah yakin dengan keputusan yang mulia?" tanya Lorenzo serius
" Aku sudah yakin. " jawab Aiden tegas
" Kalau begitu kami akan mengikuti yang mulia kemanapun yang mulia akan pergi " kata Demian
" Baiklah, aku tahu kalian akan ikut denganku. Aku senang karena ada kalian berdua ". Aiden tersenyum
" Tentu saja, kami akan selalu menemani yang mulia dalam keadaan apapun. " kata Lorenzo sambil tersenyum
***
Di istana, raja sedang berbicara dengan duke Reese dan Eugene.
" Yang mulia , pangeran Aiden ada di depan dan ingin bertemu dengan yang mulia " bisik Philip pada Raja
Raja terpana mendengar nya, ia tak percaya bahwa Aiden akan datang ke istana.
" Apa dia sudah mengambil keputusan?" batin Raja berharap
Pintu aula utama kerajaan dibuka, Aiden berjalan menghampiri raja. Duke Reese yang ada disana memberi hormat pada Aiden.
" Salam hormat saya yang mulia pangeran " kata Duke Reese sambil membungkuk hormat
" Salam juga tuan Duke Herald " jawab Aiden ramah
" Kakak? apa yang membawanya kesini?" batin Eugene
" Ayahanda, kalau begitu saya pamit. Agar ayahanda bisa berbicara leluasa dengan kakak" kata Eugene ramah
" Saya juga permisi yang mulia raja " kata Duke Reese
Duke Reese dan Eugene pergi meninggalkan aula kerajaan. Raja dan Aiden berbicara berdua.
" Kenapa kau kesini tanpa pemberitahuan? jika kau memberitahu ku, aku akan menyiapkan penyambutan untukmu " tanya Raja senang
" saya tidak akan berbicara basa-basi yang mulia, saya sudah memutuskan akan menerima keinginan yang mulia " kata Aiden
" Jadi kau sudah menentukan pilihanmu? kau mau tinggal di istana sebagai pangeran?" tang Raja
" Benar, dan saya ingin menyampaikan permintaan saya juga " kata Aiden tegas
" Baiklah, permintaan apapun itu akan aku kabulkan. " kata Raja senang
" karena ini permintaan pertamamu, tentu saja akan aku kabulkan nak " batin Raja
Aiden menatap sang raja dengan tajam seakan sudah mantap dengan pilihan hatinya.