
Gadis itu masih menatap curiga ke arah Aiden, semakin Aiden mengalihkan pandangan darinya ia semakin curiga.
" Aku tahu ada yang kau dan pangeran Aiden sembunyikan dariku. " batin Arabella penuh kecurigaan
Tiba-tiba saja, Demian datang menghampiri Arabella dan Aiden yang sedang duduk berdua.
" Guru, nona Arabella, ayo kita minum-minum bersama " Demian mengajak
" Minum-minum?" tanya Arabella bingung
" Bagus Demian, kali ini kau datang disaat yang tepat " batin Aiden merasa lega
" Oh Demian, apa kau akan mendapatkan hadiah dari yang mulia? haha.. aku datang disaat saat genting. Yang mulia, ayo puji aku " batin Demian merasa bangga
" minum-minum malam ini?" tanya Arabella
" Iya, sebentar saja. Di camp, bagaimana? apa guru juga setuju?" tanya Demian ceria
" Aku sih setuju saja " jawab Aiden cuek
" Nona Arabella apa kau mau ikut?" tanya Demian
" Tidak, dia tidak mungkin bisa minum. " jawab Aiden meremehkan
" Apa? hey ! guru, kau ingat waktu pertama kali kau menolakku menjadi murid mu? karena aku perempuan kan? tapi aku bisa membuktikan diriku bisa berpedang dengan baik. Kau ini selalu meremehkan perempuan ya? Hey Demian, aku akan ikut minum !" seru Arabella kesal
" Memangnya kau bisa?" tanya Aiden
" Tentu saja ! Jangan hanya karena kau pikir aku perempuan, lalu aku tidak bisa minum begitu?" tanya Arabella
" Baiklah, kita lihat saja nanti. Tapi kalau kau tidak bisa minum, lebih baik tolak saja ajakan nya " kata Aiden meremehkan
" Tidak ! aku akan minum !" seru Arabella kesal
" Ya sudah, terserah saja. Aku tidak akan bertanggung jawab ya kalau kau kenapa-napa " kata Aiden masa bodoh
" Aku ini sedang khawatir padamu, kenapa kau tidak bisa mengerti ?" batin Aiden cemas
" Aku juga tidak butuh bantuanmu !" seru Arabella
" Kau selalu saja meremehkan perempuan, akan ku buktikan perempuan itu lebih kuat dari laki-laki " batin Arabella menantang
" Felix ! " seru Arabella memanggil Felix
Felix menghampiri Arabella dengan cepat.
" Ya nona, ada yang bisa saya lakukan?" tanya Felix
" Kirim kan pesan pada ayah dan kakak, kalau aku akan pulang malam. " kata Arabella
" Apa? nona! tapi kenapa?" tanya Felix heran
" Tidak usah banyak tanya, lakukan saja! " jawab Arabella
" Baiklah nona " kata Felix sambil menghela napas
Dalam hatinya, Aiden masih kepikiran dan mengkhawatirkan kondisi gadis itu dan tentang apa yang terjadi di istana. Dulu ia hanya bisa mengamati gadis yang ia cintai itu dengan diam-diam, tapi tidak bisa melindunginya karena ia tidak berani mengambil resiko dan tidak punya kekuasaan. Meskipun ia tahu, bahwa Arabella melupakan semua hal yang berkaitan dengan dirinya di masa lalu, ia berjanji akan tetap melindungi nya dari orang-orang yang membahayakan dirinya.
***
Di sebuah kedai yang bersebelahan dengan camp pedang..
Arabella, Aiden, Demian dan Lorenzo minum-minum disana.
" Ayo tuan Felix, kau minum juga !" seru Demian sambil menawarkan botol minuman yang dipegangnya
" Saya tidak akan minum. Saya disini saja " kata Felix menolak
" kalau aku ikut minum, siapa yang akan menjaga nona, kalau nona mabuk " batin Felix
" Felix, kemari lah dan minum saja. " kata Arabella mengajak
" Tidak nona " Felix menolak
" Aku akan marah kalau kau tidak ikut minum, santai saja. Kita tidak akan minum sampai mabuk kok " Arabella tersenyum
" Baiklah nona, nona jangan minum banyak-banyak ya " kata Felix cemas
" Tentu saja, aku kan harus pulang ke rumah " kata Arabella
Felix pun ikut bergabung minum-minum dengan ke 4 orang itu.
Mereka tampak asyik minum-minum sambil mengobrol. Sampai tiba-tiba suasana berubah saat Arabella membicarakan pangeran Aiden.
" Oh ya guru, pangeran Aiden.. dia orang yang seperti apa?" tanya Arabella yang sudah setengah mabuk
Demian yang sedang minum, lalu menyemburkan minumannya karena kaget. Lorenzo memukul kepala Demian karena semburan nya mengenai wajahnya.
" Hey kau ! kenapa denganmu ini?!" seru Lorenzo kesal
" Ya.. ya maaf aku tidak sengaja." kata Demian menyesal
" Aku sudah selesai minum, kalian lanjutkan saja " kata Aiden sambil berdiri
Aiden pergi begitu saja, dan Arabella melihatnya dengan kesal.
" Dia selalu saja kabur sebelum menjawab pertanyaanku. " gumam Arabella kesal
Arabella menyusul Aiden yang pergi begitu saja. Ia melihat Aiden sedang duduk di atas bukit sambil melihat langit.
" Kenapa kau kesini?" tanya Aiden
" Kenapa kau selalu kabur dan mengalihkan pembicaraan begitu saja?" tanya Arabella heran
" Kau sudah mabuk, sebaiknya kau segera pulang " kata Aiden cuek
" Tuh kan! kau begitu lagi? sebenarnya apa yang kau dan pangeran Aiden sembunyikan dariku? " tanya Arabella semakin curiga dan tatapan nya serius
" Aku tidak ada hubungan dengannya " jawab Aiden singkat
" Bohong.. jelas-jelas kalian menyembunyikan sesuatu. Kalian berdua terlihat aneh, semakin aku memperhatikan kalian berdua, kalian semakin mirip. " kata Arabella berpendapat
" Dia sudah mulai curiga? apa aku katakan saja sekarang yang sebenarnya?" batin Aiden bingung
" Aku benci pembohong.. aku benci pengkhianat, maka dari itu kau jangan mengkhianati ku..Hey Apa kau tahu bagaimana rasanya di khianati oleh orang yang dekat denganmu?" tanya Arabella yang sudah mabuk
" Aku tidak tahu, tapi aku tahu rasanya bagaimana kehilangan orang yang sangat berharga dalam hidup. " jawab Aiden
" Haa.. sudah kuduga, ada seseorang kan di hatimu? apa dia seorang gadis? " tanya Arabella
" Dia sudah benar-benar mabuk, bahkan bicaranya mulai ngawur " batin Aiden
" Kau ini bicara apa sih? ayo ku antar ke dalam " kata Aiden cemas sambil memegang tangan Arabella
Arabella menepis tangan Aiden yang memeganginya.
" Hey Cedric, kalau kau ketahuan menyembunyikan sesuatu yang besar dariku. Aku tidak akan tinggal diam !" seru Arabella kesal
" Kalau aku memang menyembunyikan sesuatu darimu, apa kau akan memaafkan ku?" tanya Aiden serius
" Meskipun aku sedang bertanya pada orang mabuk, tetap saja aku ingin dengar jawaban nya " batin Aiden
" Sesuatu seperti apa yang kau sembunyikan dariku? kalau kau mau jujur, aku pasti akan memaafkanmu " jawab Arabella sambil tersenyum
" Benarkah? kau harus ingat ucapanmu itu. " kata Aiden
" Iya tentu saja " jawab Arabella sambil jalan sempoyongan
Arabella tertidur lelap di pelukan Aiden. Aiden memeluknya dengan penuh perasaan.
" Naomi, aku harap kau segera ingat semuanya. Ingat masa kecil kita. Dengan begitu, aku bisa mendekati mu lebih leluasa sebagai Aiden bukan sebagai Cedric. Apa kau tahu? betapa bahagianya aku sekarang, bisa memelukmu seperti ini, dulu aku selalu melihatmu dari kejauhan. Melihatmu dari dekat adalah mimpi indah ku yang menjadi kenyataan. " kata Aiden sambil menatap Arabella dengan penuh cinta
Demian, Lorenzo, dan Felix melihat itu dari kejauhan. Felix terlihat kesal dan melangkah pergi, tapi Demian menghalangi nya.
" Tuan Felix, jangan kau ganggu mereka. Biarkan saja pemandangan ini " kata Demian sambil menepuk pundak Felix
" Tapi dia memeluk nona ku " kata Felix kesal
" Kalau kau ingin menganggu mereka. Kau berhadapan dengan kami " kata Lorenzo sambil menatap tajam pada Felix
" Haa.. " Felix menghela napa
" Baiklah, asalkan dia tidak macam-macam pada nona. Akan aku biarkan " kata Felix akhirnya
" Anak baik, ayo kita minum saja lagi. " kata Demian ceria
***
Malam itu di istana, seorang wanita memakai tudung hitam keluar dari istana Timur. Wanita itu berjalan mengendap-endap seperti takut kelihatan pengawal disana. Diam-diam Camille mengikuti jejak wanita itu, dan ia terkejut saat ia mengetahui siapa wanita itu dan dengan siapa wanita misterius itu bertemu.
" Hormat saya yang mulia ratu " kata Oscar
" Mau apa kau bertemu denganku malam-malam?" tanya Ratu
" Apa? Count Oscar, memanggil wanita itu dengan panggilan ratu. Jadi, itu adalah ibu.." batin Camille kaget
" Saya hanya ingin menyampaikan bahwa kita harus segera bergerak " kata Count Oscar
" Apa maksudmu? apa gadis itu sudah tahu semuanya? perbincangan kita saat itu?" tanya Ratu kaget
" benar, gelang itu memang benar miliknya. Dia sudah pasti mendengar semuanya, sekarang bagaimana yang mulia ratu akan bertindak mengenai hal ini? " tanya Count Oscar
" Gadis itu? maksud nya siapa?" tanya Camille dalam hatinya
" Seperti biasanya, rumput liar harus di cabut hingga ke akarnya. Tugasmu adalah membereskannya " kata Ratu sambil tersenyum sinis
" Baik yang mulia, saya akan mengurus segalanya sebelum gadis itu buka mulut. " kata Oscar sambil tersenyum sinis
" Apa yang ibu bicarakan dengan Count Oscar? gadis siapa yang akan ibu dan Count singkirkan?" batin Camille panik
Camille segera berlari dan ia kembali ke kamarnya. Ia berusaha menerka apa yang ia dengar dari ibunya dan Count Oscar.
" Apa maksud mereka? mereka ingin menyingkirkan gadis itu? siapa gadis itu? kenapa ibu berbuat jahat? Selama ini ibu bersekongkol dengan Count Oscar, tapi kenapa? kenapa ibu melakukan itu? apa yang mereka sembunyikan? " gumam Camille tak percaya
Camille sampai tidak bisa tidur karena memikirkan apa yang dibicarakan Ratu dan Count Oscar.
***
Ratu berada di sebuah pantai yang indah bersama Raja dan mereka berdua terlihat mesra dengan bergandengan tangan juga tersenyum satu sama lain.
Sampai ada seorang gadis yang berjalan ke arah mereka.
" Caesar ! dia ! dia lah yang sudah membunuhku ! aku tidak bunuh diri !" teriak Canaria dan menunjuk pada Ratu
" Apa? apa itu benar? " tanya Raja tak percaya
" Yang mulia, dia berbohong jangan percaya dia yang mulia... Gadis kampungan itu berbohong, dia wanita jahat yang bunuh diri lalu membuang anaknya sendiri " kata Ratu mengelak
Raja menepis tangan Ratu yang menggandengnya lalu mendorong nya hingga jatuh.
" Yang mulia .." kata Ratu dengan tatapan sedih dan menangis
" Maaf, Freya. Tapi, aku lebih percaya pada Ria. Dari pada dirimu, karena dia adalah gadis yang aku cintai " kata Raja tegas
" Tidak yang mulia ! Aku yang mencintaimu ! aku yang tulus padamu !" seru Ratu berteriak
" Tulus? kalau kau mencintaiku dengan tulus ,kau harusnya biarkan aku bersama dengan gadis yang aku cintai. Kenapa kau malah membunuh nya? kau yang jahat.. kau lah ..Freya .." kata Raja tajam
" Aku melakukan itu karena aku mencintaimu yang mulia, aku hanya ingin kau selalu melihatku.. " kata Ratu sedih
Raja menatap Ratu dengan tatapan yang penuh kebencian.
" Anda dengar semuanya kan yang mulia ratu? meskipun kau menjadi ratu dan istri sah yang mulia Raja, dia tidak akan pernah mencintaimu. Sekalipun.. dia hanya mencintaiku, kau bersusah payah menyingkirkan ku dan anakku bukan? anggap saja ini karma dariku, aku bisa pastikan selamanya kau tidak akan pernah mendapatkan cinta dari Yang mulia Raja, SELAMANYA kau tidak akan pernah berada dalam hatinya meskipun aku sudah berubah menjadi abu. Kau tidak akan bisa mendapatkan hati yang mulia raja .." kata Canaria sambil tersenyum dingin
" Tidak ! tidak mungkin! Yang mulia raja selamanya hanya milikku ! kau hanya orang mati ! kau tidak bisa mendapatkan Caesar !!" teriak Ratu histeris
" Yang mulia ratu, aku mengutuk mu! aku mengutuk mu bahwa anakmu akan mengalami hal yang sama denganmu, bahkan lebih buruk dari itu ! " kata Canaria sambil tersenyum sinis
" TIDAK!!!" teriak Ratu histeris
" TIDAK !!" teriak Ratu
Ratu terbangun dari tidurnya, tubuhnya berkeringat dan wajahnya terlihat pucat. Deborah, melihat nya.
" yang mulia, apa anda baik-baik aja?" tanya Deborah cemas
" Syukurlah itu hanya mimpi. Canaria, gadis kampungan itu..Dia berusaha mengutukku di dalam mimpi? beraninya dia yang hanya orang mati masuk ke dalam mimpiku dan menakuti ku" batin Ratu tidak senang
" Yang mulia ?" tanya Deborah
" Aku baik-baik saja, kenapa kau cerewet sekali !" teriak ratu marah
" Maafkan saya yang mulia " kata Deborah takut
" Ada apa dengan yang mulia ratu? apa dia mengalami mimpi buruk? " batin Deborah keheranan
***
Pagi itu, Arabella terlihat tidak bersemangat. Ayah dan kedua kakaknya heran melihat itu.
" Ada apa?" tanya Peter heran
" Tidak, tidak apa " jawab Arabella malas
" Apa kau tidak mau makan karena masih merasa mual?" tanya Duke Reese
" Tidak, aku sudah tidak apa. " jawab Arabella dengan nada rendah
" Lalu kenapa kau terlihat tidak bersemangat begitu?" tanya Ethan
" sebenarnya aku sedang memikirkan guru dan pangeran Aiden, tapi masa aku bilang seperti itu pada mereka " batin Arabella bingung
" apa kau memikirkan seorang pria?" tanya Peter penasaran
" Tidak sama sekali. Aku tidak memikirkan siapapun !" seru Arabella menyangkal
" Apa kau sedang memikirkan Putra mahkota ataukah pangeran Aiden?" tanya Peter menggoda
" Kakak ! aku bilang aku tidak memikirkan nya !" seru Arabella kesal
Peter, Ethan dan Duke Reese tertawa melihat tingkah Arabella yang sedang kesal itu.
Saat itu Arabella memang sedang memikirkan seorang pria, tapi itu bukanlah Putra mahkota atau pangeran Aiden yang dikenalnya. Melainkan guru Cedric ( Aiden bertopeng ) yang dipikirkan nya.
Perasaan Arabella semakin aneh saat berada di dekat pria yang dianggapnya itu sebagai guru. Semakin ia ingat dan ia rasakan, perlahan rasa suka itu mulai tumbuh di dalam hatinya meskipun ia menyadari bahwa mereka terkadang selalu bertengkar dan berdebat tapi Arabella selalu merasa nyaman saat berada di dekatnya.
Namun, ia belum yakin dengan pasti perasaan yang ia rasakan ini adalah rasa suka nya sebagai seorang wanita, atau hanya rasa suka kekaguman seorang murid pada gurunya.
" Ayo kita harus bersiap pergi ke istana " kata Duke Reese mengajak ke tiga anak nya itu
" Ada apa ayah? bukankah ayah harusnya kembali ke sungai Lokhan?" tanya Ethan heran
" Sang raja mengirimkan surat untuk rapat darurat pagi ini, Ethan kau juga ikut " kata Duje Reese
" Kalau tidak salah..dan alur ceritanya tidak berubah, raja memanggil semua bangsawan dan pimpinan prajurit , ini berkaitan tentang penyerangan daerah Timur Clarines. Dan penyerangnya adalah Raja Dominic Al De Vanders, raja muda yang dikenal sebagai Tirani yang gila..Di masa lalu ayah dan kak Ethan pergi berperang, dan sempat mengalami kekalahan satu kali karena putri Camille yang di culik dan di jadikan tawanan oleh mereka. Hanya pangeran Aiden dan Putra mahkota yang berhasil mengalahkan raja Tiran itu. Aku harus memberitahu ayah dan kak Ethan, untuk berhati-hati " batin Arabella berfikir
" Ayah, kak Ethan, kalian harus berhati-hati ya. " kata Arabella mengingatkan
" berhati-hati ? untuk apa?" tanya Ethan
" Dalam peperangan nanti " jawab Arabella polos
" ya ampun, kenapa aku bisa bilang begitu? haa.. bukankah mereka akan curiga " batin Arabella panik
" Memangnya kami di panggil ke istana untuk berperang? Abel, kau seperti sudah tahu saja tujuan raja memanggil kami " kata Duke Reese heran
" hehe.. kalau pertemuan darurat kan biasanya mungkin.. akan ada perang " kata Arabella sambil tersenyum
" Tidak akan ada yang terjadi, tenang saja" kata Ethan menenangkan
" Ah syukurlah mereka tidak terlihat curiga. huff.. " Arabella merasa lega di dalam hatinya
Duke Reese dan ketiga anaknya pun menuju ke istana.
***
Di istana, Raja yang menerima laporan dari prajurit black knight yang menjaga daerah, bahwa terjadi penyerangan dari kerajaan Vanders di daerah timur Clarines dan ia segera mengadakan rapat darurat dengan para bangsawan dan juga kepala prajurit. Termasuk Ethan dan Ashton yang menjadi pimpinan tertinggi prajurit kekaisaran Clarines. Aiden dan Eugene juga mengikuti rapat darurat itu, tapi Aiden tidak dianggap sama sekali oleh para bangsawan alias di acuhkan karena meremehkan Aiden yang berasal dari pedesaan.
" Yang mulia raja, jika saya boleh menyarankan kita tidak bisa tinggal diam begitu saja wilayah kita akan direbut oleh raja Vanders " kata Viscount Benedict
" Benar, tapi saya heran kenapa kerajaan Vanders kembali menyerang wilayah kita. Padahal, kita sudah bertahun-tahun melakukan perjanjian damai dengannya. " kata Marques El berpendapat
Setelah para bangsawan mengeluarkan pendapat mereka masing-masing, Raja pun mengeluarkan keputusan untuk berperang dengan kerajaan Vanders.
" Pangeran Aiden, kau juga harus bergabung dalam perang ini bersama dengan kstaria white knight " kata Raja tegas
" Yang mulia raja, bagaimana bisa pangeran Aiden ikut dalam perang besar ini?" kata salah satu bangsawan tidak setuju
" Benar, orang yang ikut dalam perang ini haruslah orang yang berpengalaman ! sedangkan pangeran Aiden sama sekali belum pernah ikut berperang" kata salah satu bangsawan yang lainnya
Para bangsawan mulai ribut-ribut tentang keputusan Raja untuk mengikutsertakan Aiden dalam perang dan bergabung dengan Kstaria White Knight. Aiden yang di obrolkan itu sama sekali tidak peduli, ia akan ikut atau tidak dalam perang itu.
" Tunggu! semuanya diam !" seru Eugene tegas
Semua bangsawan memperhatikan Eugene.
" Saya setuju dengan keputusan ayahanda untuk mengikutsertakan kakak dalam perang itu, karena saya tahu kalau kakak di latih oleh guru pedang legendaris yang terkenal di Clarines. Saya tidak meragukan kemampuan kakak, pastinya kemampuan kakak dalam ber pedang sangatlah baik " terang Eugene membela
" Kenapa dia tahu tentang guru pedang legendaris? apa dia menyelidiki ku?" batin Aiden kesal
" Apa yang dia lakukan? dia malah membela orang yang akan mengancam posisinya?" batin Count Oscar heran
Para bangsawan begitu terkejut mendengar Aiden belajar pedang dari guru pedang legendaris.
" saya sebagai kapten dari white knight juga tidak keberatan kalau Pangeran Aiden bergabung dalam tim. Bukankah semakin banyak bantuan akan semakin bagus ?" tanya Ethan
" Saya juga setuju dengan pemikiran putra saya, yang mulia Raja " kata Duke Reese
" Bagaimana dengan pendapat mu wakil ketua Benedict?" tanya Ethan
" Saya setuju dengan pendapat kapten dan Duke " jawab Ashton setuju
Pada akhirnya semua bangsawan kecuali Count Oscar setuju untuk mengikutsertakan Aiden dalam perang melawan Vanders dan karena perang itu, Raja memutuskan bahwa pemilihan putri mahkota di tunda sementara waktu.
***
Eugene dan Aiden berpapasan di depan ruang pertemuan bangsawan. Mereka menjadi orang yang terakhir keluar dari ruangan itu.
" Apakah tidak ada yang ingin kau tanyakan ?" tanya Eugene seperti sedang menunggu
" Kau seperti sedang menunggu saja, Putra mahkota" kata Aiden dengan wajah dinginnya
" Benar, aku menunggu dirimu untuk berkata jujur dan mengakui semua kebohongan mu " kata Eugene sambil tersenyum
" Saya ada berbohong apa memangnya?" tanya Aiden tajam
" Kakak, sebenarnya aku bukan orang yang peka. Tapi, aku tidak sengaja mengetahui semuanya. Tentang rahasia yang kau sembunyikan dariku dan dari Arabella " jawab Eugene sambil menatap tajam Aiden
" Apa maksud nya dia sudah tau semuanya? rahasia yang aku sembunyikan dari nya dan Arabella?" tanya Aiden bingung dalam hatinya
" Kenapa kau tidak bertanya padaku bagaimana aku bisa tau tentang guru pedang legendaris itu?" tanya Eugene heran
" Saya tidak suka berbasa-basi, katakan saja apa yang anda tau dan maksud mu rahasia apa?" tanya Aiden tak mengerti
" Baik. Aku juga tidak suka basa-basi, akan ku katakan sekarang.." kata Eugene serius
Aiden seperti menantikan apa kata-kata Eugene selanjutnya.
" Kau dan orang yang bertopeng itu adalah orang yang sama kan?" tanya Eugene
Aiden terpana mendengar pertanyaan itu dari Eugene, ia tidak menyangka Eugene yang kelihatan santai dan tidak berwaspada akan menyelidiki nya tanpa alasan yang jelas.
" .... " Aiden terdiam seperti berfikir
" Kenapa? aku benar kan?" tanya Eugene sambil tersenyum
" Kenapa kau menyelidiki ku? apa untungnya bagimu? apa tujuan mu?" tanya Aiden kesal
" Tujuan? aku lebih tertarik dengan tujuanmu mendekati Arabella dengan identitas Cedric dan Pangeran Aiden.. " kata Eugene tajam
" Apa ini? dari kata-kata nya dia terdengar seperti pria yang sedang cemburu. Jadi, mungkin tujuannya menyelidiki ku karena Arabella? " batin Aiden tak suka
" Haa.. yang mulia putra mahkota anda tidak perlu khawatir dengan tujuan saya mendekati nya, saya tidak ada maksud yang buruk. Pada saat nya nanti saya akan memberitahu dia bahwa saya adalah guru nya juga. Jadi, bisakah anda merahasiakan hal ini dulu dari nya?" tanya Aiden tanpa ragu
" Tidak tahu malu, sudah ketahuan dia malah meminta aku merahasiakan nya? apa maksudnya ?" batin Eugene kesal
" Kenapa aku harus merahasiakan nya?" tanya Eugene kesal
" Jadi kau butuh alasan untuk merahasiakan nya? baiklah akan ku beri kau alasan " batin Aiden mulai kesal
" Kalau begitu perlukah saya memberitahu padanya kalau yang mulia menyembunyikan fakta tentang siapa orang yang menjebaknya saat ujian putri mahkota ?" kata Aiden sambil tersenyum sinis
Eugene mengepal tangannya dengan kesal, sekaligus terpana karena Aiden bisa tahu semuanya tentang insiden itu.
" Hanya karena menutupi nya, bukan berarti tidak ada yang tau. " kata Aiden sinis
Kata-kata yang Aiden ucapkan itu seolah berarti besar untuk Eugene. Ya, Eugene memang tahu ibu nya terlibat dengan insiden itu dan ia berusaha menutupinya dengan menyuruh seseorang membunuh pelayan. Aiden yang cukup peka, ia juga mengetahui apa yang Eugene lakukan di belakangnya. Perlahan-lahan aura permusuhan diantara mereka semakin terasa.
" Kau pengecut ! sama seperti masa lalu, Eugene. Aku kira kau berbeda, tapi rupanya kau sama saja. Menyembunyikan semua kejahatan ibu mu, dengan kejahatan yang lain. Jika tidak ada Lorenzo yang memberitahu ku, aku tidak akan tau dengan cepat " batin Aiden penuh kebencian
" Dia tau semuanya? bagaimana tanggapan Arabella jika dia tau? Meskipun kejadian nya tidak seperti itu, tapi dia akan menganggap ku orang jahat. Tidak, dia tidak boleh tahu " batin Eugene takut
#FLASHBACK
Hari setelah pelayan bernama Joel terbunuh dipenjara..
Raja dan Ratu sedang bertengkar, dan pertengkaran itu terdengar oleh mata-mata yang dikirim oleh Eugene. Segera setelah itu, Eugene menemui Ratu di kediamannya.
" Putraku, kau sudah pulang?" tanya Ratu ramah
" Ibu.. sebenarnya apa yang ibu lakukan? kenapa ibu melakukan ini ?" tanya Eugene kecewa
" Apa maksudmu nak? ibu melakukan apa?" tanya Ratu tak mengerti
" Kenapa ibu membunuh orang tidak bersalah demi menutupi semua dosa ibu?!!" seru Eugene marah
" Apa ayahmu yang mengatakan nya padamu? dia sudah bilang untuk merahasiakan nya, kenapa dia ingkar janji " kata Ratu kesal
" Jadi ayah juga tau? dan dia membiarkan ibu begitu saja ? " tanya Eugene tak percaya
" ..." Ratu terdiam karena merasa bersalah
" Apa alasan ibu berbuat seperti ini pada Arabella ? dia salah apa pada ibu? hingga ibu mempertaruhkan nyawa ibu sendiri untuk menjebaknya?" tanya Eugene murka
" Ibu hanya tidak mau dia menjadi putri mahkota " jawab Ratu dengan mata yang tajam
" Apa? apa hanya itu alasannya? aku juga tau, kalau ibu ingin sekali menjadikan nona Claire menjadi pasanganku kan? kenapa?" tanya Eugene marah
" Sebagai seorang calon raja kau tidak butuh cinta, Eugene. Cinta hanya akan melemahkan mu, dan membuatmu tidak berdaya. Kalau kau bersama dengan nya kau tidak akan bahagia " kata Ratu tegas
" Tau apa ibu tentang cinta dan kebahagiaan? yang jelas aku tidak mau hidup seperti ayah dan ibu yang tidak saling mencintai. Aku akan bersama dengan orang yang ku cintai dan juga mencintai ku dan aku akan bahagia " kata Eugene tegas
Ratu meminta pengampunan dari Eugene dan menolong nya satu kali ini saja untuk menutupi semua kejahatannya. Eugene yang iba dan merasa kasihan akhirnya memutuskan untuk menutupi masalah ibu nya kali ini untuk yang terakhir. Dan ia mengancam ibunya, jika ibunya berani menyakiti Arabella atau orang yang ia sayangi maka Eugene sendiri yang akan menghukumnya. Eugene terlihat kecewa dengan kebenaran yang ia ketahui tentang ibunya. Ia tak menyangka ibu nya yang ramah dan ia anggap baik akan tega membunuh orang tak berdosa hanya untuk mengubur dosa nya.
#END FLASHBACK
" Baiklah, aku akan merahasiakannya. Sebaliknya kau juga merahasiakan semua yang kau tahu " kata Eugene langsung setuju
" tentu saja " Aiden tersenyum sinis
Tak lama kemudian Arabella menghampiri menghampiri kedua pria itu.
" Salam yang mulia putra mahkota, salam pangeran " kata Arabella sambil membungkuk hormat
Arabella melihat wajah kedua pria itu terlihat tidak baik dan ia merasakan ketegangan antara Eugene dan Aiden.
" Ada apa dengan mereka? " batin Arabella bertanya-tanya