Arrabella Twice Lives

Arrabella Twice Lives
Bab 125. Perpisahan ( End )


🍂🍂🍂


1 jam sebelum Aneesa menemui Raja dan Ratu..


Aneesa yang ditemani Jade ingin menemui Kyrie yang masih dalam kondisi belum pulih. Gadis kecil itu membawa keranjang, yang berisi camilan kesukaan saudara kembarnya itu. Dalam hatinya ia berkata bahwa Kyrie akan menyukai makanan yang ia bawa.


" Maafkan saya yang mulia, tapi anda tidak bisa menemui yang mulia pangeran " kata Yusto yang menjaga di depan pintu kamar Kyrie


" Kenapa? apa alasan nya aku tidak bisa menemui kakak ku sendiri?" tanya Aneesa


" Maafkan saya yang mulia, itu karena yang mulia pangeran masih belum bisa di kunjungi oleh siapapun. " jawab Yusto


" Beraninya kau bersikap tidak sopan pada tuan putri, Yusto ! " seru Jade tidak senang


" Maafkan saya tuan putri, saya hanya menjalankan perintah dari Baginda Raja. " kata Yusto


Bahkan ayah melarang ku menemui kakak? apa sesuatu yang ada ditubuh ku ini sangat berbahaya?.


Wajah Aneesa terlihat kecewa dan sedih, karena ia tidak bisa bertemu dengan kakak nya. Padahal ia hanya ingin menjenguk kakak nya.


" Baiklah kalau tidak bisa, tidak apa " Aneesa kecewa. Kekecewaan itu nampak jelas di wajahnya yang tadinya semangat menjadi murung.


" Sir Yusto, tolong izinkan tuan putri masuk ! " seru Jade merasa sedih melihat Aneesa yang murung.


" Tuan Jade, sudahlah. Tidak apa " kata Aneesa.


" sekali lagi tolong maafkan saya " Yusto menunduk, dan merasa bersalah.


" Tidak apa. Lalu bagaimana keadaan kakak ku? apa dia baik-baik saja?" tanya Aneesa penasaran


" Yang mulia pangeran sedang tertidur, dan sedang dalam masa pemulihan. Dokter Louis berkata jika tangannya yang mulia yang patah akan sembuh dalam waktu yang tidak sebentar " terang Yusto jujur


Kyrie terluka karena ku? tangannya bahkan sampai patah? apa saat kehilangan kendali, aku sangat menakutkan? aku ini berbahaya kah? seperti kata orang orang?.


" Baiklah, terimakasih sir Yusto. Sudah mengetahui keadaan nya saja sudah cukup untukku. Dan tolong berikan ini pada pangeran Abercio " Aneesa menyerahkan keranjang itu pada Yusto


" Akan saya berikan kepada yang mulia pangeran, saat pangeran sudah bangun " kata Yusto


" Terimakasih. Dan Sir Yusto, boleh aku minta tolong padamu?" tanya Aneesa


" Ya yang mulia, katakan saja. Saya siap melakukan titah yang mulia " Yusto tegas


" Tolong jaga kakak ku dengan sepenuh hatimu, sir Yusto " Aneesa tersenyum pahit melihat Yusto


Karena mungkin saja, ini yang terakhir kalinya.


" Yang-yang mulia ." Yusto terperangah mendengar nya.


Kenapa yang mulia berbicara seolah-olah dia akan pergi?. Batin Yusto dan Jade, memikirkan hal yang sama.


Aneesa dan Jade akan pergi mengunjungi Ratu. Tak sengaja mereka mendengar para pelayan yang bergosip membicarakan tentang Aneesa.


" Kalian sudah dengar beritanya kan?" tanya pelayan 1


" Apa ini tentang putri?" tanya pelayan 2


" benar, tuan putri menyerang pangeran Kyrie. Dan membuatnya terluka parah, aku dengar sih para menteri yang berkumpul di aula kerajaan itu meminta agar putri di usir dari istana ini " kata pelayan 1


" Benarkah? putri terlihat baik-baik saja kok, itu kan pengaruh kekuatan jahat yang ada di dalam tubuhnya. Kenapa tuan putri harus diusir?" tanya pelayan 3


" Ya itu karena tuan putri adalah keturunan penyihir hitam, sudah jelas kan " kata pelayan 4


" Begitu ya? aku juga sempat melihat mata dan rambut nya tuan putri berubah jadi menyeramkan. "


" Ah ya apa kalian ingat Sylvia?"


"Ya ya aku ingat, dia adalah penyihir hitam yang sangat cantik dan menggoda baginda Raja 6 tahun yang lalu,"


"Mungkinkah tuan Putri kerasukan oleh penyihir itu?" tanya pelayan 3


" Seperti nya benar, makanya para menteri banyak yang ingin tuan putri pergi dari istana ini"


"Ya itu karena dia akan membawa pengaruh buruk pada istana ini. Iya kan?"


Jade sangat kesal mendengar pembicaraan para pelayan itu.


" Berani beraninya mereka membicarakan yang mulia seperti itu.." Jade melangkah dengan kesal dan menghampiri para pelayan yang bergosip itu. Tapi Aneesa menghentikan nya.


"Jangan tuan Jade, tidak apa"


"Tapi yang mulia, mereka semua sudah bicara keterlaluan!" Jade tidak terima ada yang menerima Annesha.


" Yang mereka katakan itu tidak salah kok. Memang benar kan aku kerasukan penyihir hitam. " kata Aneesa yang sadar diri


"Yang mulia.. " Jade menatap Aneesa dengan cemas


" Tuan Jade, tolong jangan menatapku seperti itu. Aku tidak butuh dikasihani. "


" Saya tidak mengasihani yang mulia, saya ingin yang mulia ..saya ingin. "


Aku ingin kau membagikan kesedihan mu denganku. Aku ingin kau menangis seperti anak-anak lainnya ketika semua orang membuatmu bersedih, tapi kau terlalu kuat. Kau tidak menangis dan selalu menyembunyikan emosimu. Kau selalu menyembunyikan isi hatimu.


" Tuan Jade, kita pergi saja. Aku ingin segera bertemu ayah dan ibu " Aneesa menghela napas nya.


*****


.


.


Raja dan Ratu kaget begitu putri mereka masuk ke dalam ruang kerja Raja dan mengatakan bahwa ia bersedia untuk keluar dari istana.


" Apa yang kau katakan? tidak, ibu tidak akan membiarkanmu pergi Aneesa " Ratu Arrabella memegang tangan anaknya sambil menangis


" Ibu, ayah, aku sungguh tidak apa apa. Aku ikhlas jika aku harus berada di dalam pengasingan. "


" Tidak ! memangnya kesalahan apa yang kau lakukan, sampai kau harus diasingkan ! kau tidak akan pergi kemana pun, nak " Ratu Arrabella menangis


" Ibu jangan menangis, lihatlah aku juga biasa saja. Aku baik-baik saja ibu, sungguh. " Aneesa tersenyum pahit


" Yang mulia Raja, tolong katakan sesuatu ! jangan diam saja ! " seru Ratu Arrabella tegas


" Putri Aneesa, apa kau benar-benar bersedia keluar dari istana?" tanya Raja Aiden serius


" Yang mulia Raja ! apa yang kau katakan?!" tanya Ratu Arrabella tak mengerti


" Iya ayah, aku bersedia. " jawab Aneesa tegas


" Yang mulia Raja ! " teriak Ratu Arrabella


Raja Aiden menatap putrinya dengan penuh kasih sayang. Ia berlutut di depan Putri nya dan memegang lembut kedua tangan kecilnya.


" Ayah tau kau sangat bijaksana dan tegas. Dulu ayah pernah berharap bahwa kau adalah anak laki-laki, kau mungkin akan menjadi pesaing untuk kedua saudaramu. Karena kau lah yang paling dewasa di antara mereka. Kau tau kan kenapa ayah melakukan ini ?" tanya Raja Aiden


" Iya ayah, selain tekanan dari para bangsawan dan menteri. Aku cukup sadar diri, kalau suatu saat nanti sesuatu yang ada di dalam tubuhku akan membahayakan orang lain. Jadi, ayah mengirim ku pergi bukan dengan maksud mengusirku atau mengasingkan ku. Aku percaya ayah dan ibu sayang padaku. Ayah dan ibu hanya ingin aku sembuh " Gadis kecil itu tersenyum


" Ayah bangga padamu nak, ternyata kau paham apa maksud ayah dan ibu melakukan ini. Kami bukannya mengasingkan mu, atau mengusir mu. Kau pergi keluar dari istana ini untuk mengobati tubuhmu dari kekuatan sihir hitam " terang Raja Aiden


" Iya ayah aku mengerti " Aneesa tersenyum


Betapa bijaksana nya gadis kecil itu. Walaupun usianya baru 6 tahun, tapi sikapnya begitu dewasa. Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Raja dan Ratu mencapai kesepakatan untuk mengirim Aneesa ke Londo, lebih tepatnya rumah Yurian ( bibi Aiden ). Disana Aneesa juga akan ditemani oleh murid saint Lucia.


🍂🍂🍂


Satu hari sebelum kepergian Aneesa ke Londo. Kai dan Kyrie menghampiri Aneesa yang sedang duduk sendirian di taman. Gadis kecil itu sedang memandangi ke arah pohon yang sering ia naiki.


Ia mengingat kenangan-kenangan masa lalu disana.


" Aku mungkin tidak bisa menaiki mu lagi, karena aku tidak tau kapan akan kembali. "


"Kau akan segera kembali Aneesa " kata Kyrie yang tangan nya masih di gips


"Salam kakak, apa kabar Kai?" tanya Aneesa ramah


"Kakak, apa kakak benar-benar akan pergi?" tanya Kai dengan mata yang berkaca-kaca


"Iya, kalian tenang saja ya. Aku akan baik-baik saja kok, jangan cemas " Aneesa tersenyum pahit


Dia tersenyum untuk menutupi perasaan sedihnya. batin Kyrie sedih


Kai dan Kyrie memeluk saudara perempuan mereka, lalu menangis. Seperti akan berpisah lama dari saudaranya.


" Kami tidak mau kak Aneesa pergi, tidak mau " kata Kai sambil menangis memeluk Aneesa


" Kalian ini kenapa sih? kenapa menangis begini? aku kan tidak akan pergi selamanya. Kalian ini bersikap seolah-olah aku tidak akan kembali " Aneesa mulai berkaca-kaca, kedua saudaranya memeluknya dengan erat


"Tidak bisakah aku ikut juga denganmu, Aneesa? aku ingin menjagamu " kata Kyrie


"Tidak bisa Kyrie, kau harus disini bersama ayah, ibu dan Kai. Maafkan aku ya karena mungkin aku tidak bisa menghadiri penobatan mu sebagai putra mahkota " kata Aneesa sedih


Kyrie dan Kai melepaskan pelukan mereka, dan melihat Aneesa yang masih tersenyum tegar.


" Kalau kau ingin menangis, menangis saja. Hari ini kan hari terakhir mu berada di istana ini. Kenapa kau masih tersenyum begitu? apa kau tidak sedih?" tanya Kyrie tegas


" Aku sedih. Tapi apa yang bisa kulakukan dengan menangis, itu hanya akan membuatku makin sedih. Apalagi aku tidak bisa melihat kalian untuk waktu yang lama, aku pasti.. aku pasti..."


Akhirnya air mata mengalir deras dari kedua mata Aneesa yang berwarna biru sebiru lautan itu, berkali-kali Aneesa mencoba menyeka nya. Air mata itu terus keluar.


" Kenapa tidak bisa berhenti? haha.. padahal aku tidak mau terlihat seperti ini.."


" Aneesa .." lirih Kyrie yang tak bisa menyembunyikan kesedihannya.


" Kak Aneesa, aku akan minta pada ayahanda agar aku bisa ikut dan menjaga kakak " kata Kai sambil menatap kakaknya


" Kalian tidak boleh ikut, aku bisa saja melukai kalian. Kalian harus tetap disini, jaga ayah dan ibu. Kai, kau harus membantu kak Kyrie untuk mengurus pemerintahan. Kau harus menjadi kuat ya " Aneesa tersenyum, matanya sudah sembab karena menangis


Kenapa air mata ini tak mau berhenti? menyebalkan. Aneesa menggerutu di dalam hatinya.


" Kak Aneesa.. hiks " Kai menangis dan memeluk kakak nya itu dengan penuh kasih sayang


" Aku akan selalu mengingat kata-kata mu Aneesa, kau juga harus menjaga dirimu dengan baik. Berjanjilah pada kami bahwa kau akan kembali secepatnya " kata Kyrie sedih


" Iya aku janji, aku akan kembali secepatnya. Haha.. sudah ya menangis nya, ini hari terakhir ku di istana ini. Lebih baik kalian berikan aku senyuman terbaik kalian " Aneesa tertawa kecil


3 bersaudara itu menghabiskan waktu bersama sama. Dan hari itu juga Edgar dan kedua orang tuanya datang ke istana untuk melihat Aneesa.


" Jadi kau benar-benar harus pergi meninggalkan kerajaan ini?" tanya Edgar


" Hem, iya. Harus " jawab Aneesa sambil duduk di sebuah batu.


Dia terlihat sedih. Pasti berat untuknya meninggalkan istana ini. Belum lagi rumor yang beredar tentang nya. Itu pasti menyakitkan hatinya. batin Edgar sedih


" Aku yakin kau akan segera sembuh, ayahku bilang kalau kekuatan sihir hitam itu bisa dikalahkan. Ayahku kan banyak tau tentang sihir hitam " kata Edgar


Apa putra mahkota ini sedang menyemangati ku?


" Kenapa kau tiba-tiba baik padaku? kau tidak ada maksud tersembunyi kan?" tanya Aneesa curiga


" Aku tidak baik padamu, aku hanya mengingatkan saja dan aku kasihan padamu " kata Edgar malu-malu


" Iya baiklah. Kalau hanya kasihan, aku berterimakasih atas rasa kasihan mu. Putra mahkota " ucap Aneesa kesal


" Bi-bisakah kau mengirim surat padaku?" tanya Edgar


" Apa maksud mu putra mahkota?" tanya Aneesa


" Ki-kita berkirim surat, apakah bisa?"


" Kenapa aku harus melakukan nya dengan mu? kita kan tidak dekat ?" tanya Aneesa heran


JLEB, Edgar terlihat canggung dengan perkataan Aneesa yang menusuk ke dalam hatinya.


" Kita kan terikat hubungan pertunangan, mana bisa tidak saling mengirim surat? setidaknya kita harus tau kabar masing-masing ! " ujar Edgar


" Tapi aku belum setuju bertunangan denganmu, dan kau juga tidak mungkin kan mau bertunangan dengan ku?" tanya Aneesa


Ya, mana mungkin dia mau bertunangan dengan gadis yang pernah memukulnya. Kalah benar, dia pasti sudah gila. Dan lagi semua orang tau kalau aku pembuat masalah, juga sekarang aku memiliki sihir hitam


" Siapa bilang aku tidak mau? aku mau kok bertunangan dengan mu. "


" APA? apa kau sudah gila ya Putra mahkota? aku ini pembuat onar, aku juga gadis kecil yang bar bar, selain itu aku punya kekuatan sihir hitam di dalam tubuhku. Kenapa kau mau bertunangan denganku?" tanya Aneesa kesal


"Apapun alasannya, aku mau saja bertunangan denganmu. Semua itu tidak masalah " Edgar tersenyum cerah


Sebenarnya aku suka padamu, tapi masa aku mengatakan nya sekarang. Aku akan mengatakan nya saat kita dewasa nanti.


" Ta-tapi aku belum setuju " Aneesa gugup


"Setuju atau tidak, orang tua kita sudah menjodohkan kita. " kata Edgar memaksa


"Sekarang tidak musim perjodohan, bisa saja setelah dewasa kau akan bertemu gadis yang kau sukai. "


"Pokoknya kau adalah tunangan ku, dari sekarang sampai seterusnya. " kata Edgar serius


" Baiklah terserah kau saja "kata Aneesa cuek


Gadis ini, apa dia benar-benar tidak suka bertunangan denganku? padahal aku kan tampan, aku juga calon Raja.


Edgar memberikan Aneesa sebuah gelang permata yang indah berwarna biru. Ia langsung memakaikan gelang itu di tangan kiri Aneesa.


" Apa yang kau lakukan?" tanya Aneesa kaget karena tiba-tiba Edgar memakaikan gelang padanya.


" Hadiah pertunangan, karena pertunangan kita akan ditunda sampai kau kembali. Tapi kita sudah terikat perjanjian orang tua kita, jadi aku wajib memberikan mu hadiah " terang Edgar


" Benarkah? apa itu artinya aku harus memberikan mu hadiah juga?" tanya Aneesa polos


"Harusnya sih begitu, tapi tidak apa. Aku akan menunggumu untuk memberikan ku hadiah pertunangan saat kau kembali. Aku harap kau sembuh, dan cepat kembali " kata Edgar sambil tersenyum


"Terimakasih karena sudah tulus " Aneesa tersenyum sambil melihat gelang yang ada ditangannya.


"Aku akan menunggu mu," kata Edgar


🔥🔥🔥


Kyrie, dan Kai menghabiskan banyak waktu mereka dengan Aneesa yang akan pergi keesokan harinya. Mereka bermain, makan bersama, bahkan tidur bertiga.


Ratu Arrabella melihat ketiga anaknya tertidur pulas di dalam kamar yang sama. Ia tersenyum senang, namun ada kepahitan di dalam senyuman nya itu.


"Yang mulia.." kata Daisy sedih melihat Ratu Arrabella yang menatap ketiga anaknya dengan mata yang berkaca-kaca.


" Aku tidak bisa begini bibi Daisy, besok putri ku satu satunya akan pergi meninggalkan istana. Tanpa tau kapan dia akan kembali, apa aku bisa melepaskan nya tanpa menangis?" tanya Arrabella sambil menangis


"Saya tau ini sangat berat untuk yang mulia Ratu, sebagai seorang ibu. Apalagi jika ini tentang anak perempuan. Hati yang mulia pasti sedih. Tuan putri Aneesa juga pasti merasakan hal yang sama, tapi saya yakin tuan putri bisa melewati semua ini. Tuan putri adalah orang yang tegar sama seperti Baginda Ratu. Saya melihat Baginda Ratu saat Baginda Ratu masih kecil di dalam diri tuan putri Aneesa. Saya yakin, tuan putri akan segera kembali. "


Daisy mencoba menyemangati dan menghibur sang Ratu agar dirinya bisa tegar, untuk menguatkan hati Aneesa juga.


" Ya, aku percaya Aneesa bisa melewati nya. Tapi tetap saja aku merasa cemas, dadaku terasa sesak, hatiku sakit, kenapa bukan aku saja yang dikutuk? kenapa harus putri ku yang masih kecil yang harus menanggungnya? Bibi Daisy, Aneesa baru berusia 6 tahun, dia masih terlalu muda untuk beban ini " Ratu itu lagi-lagi tak bisa menahan air matanya.


Air matanya mengalir deras, hatinya sakit melihat putrinya yang tertidur lelap itu akan pergi esok hari. Ia tak menyangka harus mengusir putri nya sendiri pergi dari istana.


Ratu Arrabella masuk ke dalam kamar itu, dan mendekati Aneesa yang tertidur di tengah tengah antara Kyrie dan Kai. Ratu itu membelai rambut anaknya yang berwarna gelap dengan lembut. Ia menatap putrinya dengan penuh cinta. Sekuat tenaga, Arrabella berusaha menahan tangisnya.


"Aneesa.. ibu sangat menyayangi mu nak, ibu tidak mau kau pergi. " Ratu Arrabella mengelus ngelus kepala putrinya, dan menidurkan gadis kecil itu di pangkuannya.


CUP


Ratu Arrabella tersenyum dan memberikan kecupan di kening putrinya.


Daisy dan Elsa yang ada disana, terlihat sedih dan prihatin melihat Ratu menangisi Aneesa. Dibelakang mereka juga ada Raja Aiden, yang sedih melihat istrinya sedih.


" Yang mu-"


"Sstt.. tidak apa, pergilah. " Raja Aiden menyuruh kedua dayang itu pergi.


Daisy dan Elsa memberi hormat lalu pergi dari depan kamar itu. Raja Aiden tidak berani melangkah masuk ke kamar itu, ia takut kalau ia juga akan sedih sama seperti Arrabella.


Beberapa menit kemudian, Jade menghampiri Raja Aiden yang sedang menutup pintu kamar itu. Jade segera memberikan hormat pada Raja Aiden.


"Oh, itu kau Jade?" tanya Raja Aiden


"Salam saya Baginda Raja, saya punya permintaan untuk Baginda Raja " kata Jade sambil membungkuk hormat


"Apa ini tentang putri Aneesa?" tanya Raja Aiden


Jade terpana, ternyata Raja sudah bisa menebak apa isi pikiran nya. Raja bahkan mengatakan secara langsung bahwa Jade tidak boleh ikut Aneesa ke Londo. Karena ia harus berlatih untuk menjadi kstaria pengawal Aneesa di masa depan. Jade sedih karena ia tak bisa ikut dengan Aneesa karena harus berlatih dan masuk ke dalam anggota kstaria kekaisaran.


🍂🍂🍂


Keesokan harinya, Aneesa yang sudah dijemput oleh 3 orang yang menjadi perwakilan Saint Lucia dari kuil suci. Semua orang di istana melepaskan kepergian Aneesa, dan berada di depan istana.


"Cucuku, Aneesa. Berhati-hati lah, dan cepat kembali ya " kata Duke Reese sambil memeluk cucunya dengan penuh kasih sayang.


"Iya kakek, aku akan sembuh dan segera kembali. Kakek jaga kesehatan ya " kata Aneesa ceria.


Semua orang sudah ada disini, tapi kemana tuan Jade? apa dia tidak mau melihat ku untuk yang terakhir kalinya? kemarin juga dia tidak mau bicara denganku. Ada apa?


Ratu ,Raja, dan kedua saudaranya bergantian memberikan pelukan dan semangat untuk Aneesa. Para pelayan dan pengawal yang melayani Aneesa menangis tersedu-sedu, mereka akan merasa kehilangan Aneesa. Karena gadis kecil itu yang selalu membuat ulah di istana, tapi gadis itu juga yang menghidupkan suasana istana. Siapapun pasti akan rindu padanya.


" Ayolah jangan menangis, aku ingin melihat senyuman kalian " kata Aneesa yang heran melihat para pelayan yang suka mengejarnya di istana itu sedang menangis di depannya.


"Bukankah kalian harusnya senang ya aku pergi? jadi tidak ada pengganggu lagi, tapi apa ini, ini bukan reaksi yang aku harapkan dari kalian?"


" Tuan putri, tidak boleh berkata begitu. Kami akan merindukan tuan putri " kata seorang pelayan sambil menangis sampai sesegukan


"Saya juga akan menunggu tuan putri ." kata Elsa sambil menangis sedih


"Ya aku tau kalian akan rindu padaku. Tenang saja, aku akan kembali secepatnya." Aneesa tersenyum


"Tuan putri, ini sudah waktunya" kata seorang pria berpakaian pendeta.


"Iya tuan pendeta tunggu sebentar lagi "


Tuan Jade? dimana kau?


Beberapa menit kemudian, Aneesa yang sudah menunggu Jade. Akhirnya melangkahkan kaki nya ke dalam kereta. Ia melihat istana untuk terakhir kalinya, hatinya terhenyak, banyak pertanyaan di kepalanya.


Apakah ia bisa melawan dan menghancurkan kekuatan sihir hitam yang ada di dalam tubuhnya? apakah ia bisa kembali dengan cepat ke istana ? dan apakah ia bisa tidak sedih meninggalkan istana? dan berapa lama ia akan pergi?


Tap, tap


Baru dua langkah Aneesa menaiki tangga menuju ke dalam kereta. Tampak dari kejauhan, Jade berlari menghampiri Aneesa.


"Yang mulia !"


Hosh Hosh


"Aku pikir kau tidak mau melihatku lagi "


"Mana bisa saya begitu, yang mulia. Saya selalu ingin melihat yang mulia setiap hari. Tapi hari ini saya tidak berani untuk melihat yang mulia, saya minta maaf yang mulia. " Jade tersenyum pahit


"Tidak apa, aku senang sudah melihatmu sebelum pergi. Aku bisa pergi dengan tenang sekarang, terimakasih sudah mau menemui ku tuan Jade," Aneesa tersenyum


Jade menahan air mata kesedihan nya, dan memberikan senyuman terbaik nya untuk Aneesa. Jade juga memberikan sebuah gross bunga berwarna biru untuk Aneesa. Gadis kecil itu senang karena warna gross itu sama dengan warna matanya.


" Saya akan menunggu yang mulia. "


" Aku akan segera kembali. Saat aku kembali nanti, aku harap kau sudah menjadi ksatria yang hebat agar bisa melindungi ku lagi " Aneesa tersenyum


" Iya, pasti yang mulia. Selamat jalan " Jade tersenyum pahit, dan mulai meneteskan air matanya. Ia sedih melihat Aneesa masuk ke dalam kereta.


Tak lama setelah itu, Aneesa dan rombongan dari kuil itu pergi dengan kereta. Raja, Ratu, kedua saudaranya, bahkan penghuni istana yang lainnya merasa sedih dengan kepergian Aneesa.


Namun mereka memiliki keyakinan kalau Aneesa akan cepat kembali dengan selamat. Akan tetapi Aneesa ternyata tidak pergi sebentar.


10 tahun berlalu, dan Aneesa masih belum kembali ke istana.


...End...