Arrabella Twice Lives

Arrabella Twice Lives
Bab 63 Claire dijebak?


.


.


Karena kaki yang lemas dan keadaan tidak sadarkan diri,Aiden membawa Arabella kembali ke mansion Reese. Entah karena syok atau karena penyakitnya, tubuh wanita itu terasa dingin seperti es, kulitnya pucat pasi, dan berkeringat banyak, membuat Aiden sebagai tunangannya cemas.


" Apa yang terjadi? kenapa dia seperti ini? bukankah dia sudah minum obat ?" tanya Aiden cemas


" Ini akan sering terjadi pada tuan putri karena racun itu sudah menganggu sistem pencernaan terutama jantung dan hati nya. Tidak akan ada yang bisa menghentikan rasa sakit nya, meskipun dengan obat hanya bisa mengurangi rasa sakit nya, yang mulia " kata Dokter Louis menjelaskan


" dan yang paling parah adalah kondisi rahim nya, tapi aku tidak bisa memberitahu mu " batin Dokter Louis


" Lalu apa yang harus aku lakukan? aku tidak mau dia sakit ! kau harus lakukan sesuatu, agar dia tidak kesakitan !" seru Aiden cemas


" Yang mulia, tenang lah. " kata Peter menenangkan


" Maafkan saya, karena penawarnya belum ditemukan maka saya tidak bisa berbuat banyak selain mengurangi rasa sakitnya.. karena ini adalah racun yang langka. "


Pangeran itu memukul tembok dengan kesal hingga buku tangannya terluka. Ia kesal sendiri karena tidak bisa melindungi Arabella dari rasa sakitnya, ia merasa tidak berguna di lahir kan kembali dan masih tidak bisa melindungi orang yang ia cintai.


Wanita itu terbangun dan merasakan ada tangan hangat yang menggenggam tangannya. Ternyata seorang pria yang familiar untuk nya sedang ada di sampingnya.


" Yang mulia.. " wanita itu melihat Aiden dengan sedih, ia meneteskan air mata. " Apa yang harus aku lakukan?" gumam wanita itu pelan


Ia menatap Aiden yang sedang tertidur dengan penuh kesedihan. Merasakan sedikit gerakan di tangannya, Aiden terbangun dan melihat Arabella sudah bangun ada di hadapannya. Pria itu melihat Arabella seperti habis menangis, ia mengerti bahwa Arabella sedih atas kepergian Layla.


" Kau sudah bangun? kau harus makan dulu, aku akan ambilkan makanan .." kata Aiden perhatian


" Hentikan ! aku tidak mau makan, lebih baik yang mulia pergi dari sini "


" Tuan Peter bilang kau belum makan apa apa sejak tadi pagi, aku akan ambilkan makanan ya? "


" Ku bilang hentikan dan pergilah ! aku tidak mau melihat yang mulia !" ujar Arabella kesal


Pria itu tetap sabar meskipun Arabella memperlakukannya dengan ketus dan kasar. Ia tau bahwa wanita itu sedang tertekan karena memiliki banyak masalah. Meski menjadi sasaran kemarahan dan tekanan dari tunangan nya, Aiden sama sekali tidak keberatan karena ia ingin selalu ada di samping Arabella saat sedih maupun senang, itu adalah janjinya.


Namun satu hal yang tidak Aiden ketahui, sikap Arabella saat ini berhubungan dengan keadaan dirinya yang tidak bisa menjadi seorang ibu untuk selamanya dan itu menjadi pukulan terhebat di hati dan pikirannya. Hanya saja Aiden tidak tau hal itu, dan wanita itu ingin mendorongnya pergi.


" Naomi.. ada aku disini, tidak apa apa " kata Aiden sambil memeluk Arabella dengan hangat. Namun, wanita itu berusaha untuk mendorongnya.


" Semakin kau mendorongku, aku akan semakin erat memelukmu. " kata Aiden lembut


" Yang mulia.. "


" Sekali lagi saja biarkan aku menangis di pelukan mu " batin Arabella sedih


" Ada aku disini, bukan kah aku sudah bilang akan menyelesaikan semuanya? kau hanya perlu diam dan tunggu hasilnya, ok?"


Aiden, Ethan dan Duke Reese pergi menghadap raja bersamaan. Mereka bertiga mengatakan tentang kata-kata terakhir Layla yang mengatakan bahwa anggota kerajaan adalah pelaku yang meracuni Arabella. Raja terperangah mendengarnya.


" Saya ingin menuntut keadilan agar yang mulia bisa menemukan pelaku nya, lalu menghukum pelaku itu sesuai dengan hukum di kerajaan kita " kata Duke Reese tegas


" Tentu saja, jika kita pasti akan menemukan pelaku nya dan menghukumnya. Aku tidak bisa membiarkan kejahatan begitu saja " kata Raja tegas


***


Di depan mansion Reese..


Daisy menemani Arabella yang masih sedih atas kematian Layla. Kenangan kenangan saat bersama Layla yang ia lewati setiap pagi hari, membuatnya kembali terluka. Setelah berfikir panjang, ia terlihat merencanakan sesuatu.


" Yang mulia, anda mau kemana? " tanya Daisy cemas


" Aku hanya ingin jalan jalan sebentar, tinggalkan aku sendirian Bibi Daisy " jawab Arabella sedih


" Tidak bisa, yang mulia pangeran sudah memberi perintah pada saya untuk selalu menemani tuan putri " kata Daisy sedih


" bibi Daisy.. aku..


" Selamat pagi tuan putri " kata Dokter Louis


" Kau sudah datang?"


" Ya, saya datang untuk memeriksa keadaan tuan putri " jawab Dokter Louis


Wanita itu berbaring di ranjangnya dan di periksa oleh dokter itu. Berharap hasil diagnosis nya berubah, tapi tetap saja dokter itu mengatakan hal yang sama, dan tetap saja Arabella menyuruh agar dokter Louis tutup mulut dulu.


" Kalian semua keluarlah, aku ingin sendiri. Aku tidak akan kemana mana kok " kata Arabella dingin


" Semenjak kepergian Layla, putri jadi orang yang dingin. " batin Daisy cemas


" Baiklah yang mulia, kalau yang mulia butuh sesuatu panggil saja saya " kata Daisy cemas


KLAK


Arabella sendirian di kamarnya, ia tampak berfikir dan tenggelam dalam lamunan nya.


Tes


Tes


" Sial, padahal aku tidak mau menangis. Kenapa aku malah menangis lagi? sudah cukup, selama 3 hari ini aku sangat cengeng! kenapa tidak mau berhenti?!!" hiks hiks "


Air mata Arabella tak sengaja terjatuh di cermin yang pernah diberikan Dominic. Tiba tiba saja sebuah cahaya terang muncul dari cermin itu.


" Ada apa ini?" wanita itu bingung


Saat cahaya itu menghilang, Dominic sudah ada di hadapannya dan menatap wanita itu dengan sedih.


" Yang mulia raja? kenapa kau ada disini?!!" kaget


" padahal aku tidak memanggilnya kenapa dia datang ?" batin Arabella keheranan


" Air mata mu yang memanggilku kemari, kau menangis di cermin itu. Jadi, aku pikir kau memanggilku " kata Dominic cemas


" Terimakasih sudah datang walau aku tidak memanggil mu, sekalian saja aku ingin bertanya apakah mungkin kau tau obat penawar nya?" tanya Arabella dingin


" Dari ekspresinya seperti nya dia sudah tau bahwa racun itu menghancurkan tubuhnya. Tapi, racun itu berefek pada apa?" batin Dominic


" Aku masih mencari tau tentang racunnya, tapi.. bagian tubuh yang mana yang terkena efek racun itu? " tanya Dominic


" Itu.. itu bukan hal yang harus kau tau " Jawab Arabella


" Baiklah, aku memang tidak berhak mengetahui nya. Tapi, kenapa kau sesedih ini? " tanya Dominic


" Bukan urusanmu "


Jawaban dingin dari Arabella membuat Dominic semakin bertanya tanya, kemana wanita yang ceria itu? kemana wanita yang selalu penuh semangat itu? kemana wanita yang selalu bertengkar dengannya ketika mereka bertemu ? Dan kemana perginya senyuman manis wanita itu? Dominic memutuskan mencari tau dengan sihir nya.


" Apa yang kau lakukan? jangan melewati batasan mu !" wanita itu marah saat Dominic memeriksa tubuh nya dengan sihir


Dominic terkejut saat merasakan racun yang kuat dari rahim dan jantung Arabella. Wanita itu marah ketika Dominic sudah tau yang membuat wanita itu resah, adalah karena ia mandul.


" Ini kah yang membuat mu kepikiran? apakah pangeran Aiden juga tau hal ini?" tanya Dominic berapi api


" Kalau yang mulia berani memberitahu nya, aku tidak akan pernah memaafkan yang mulia " kata Arabella penuh kemarahan


" Tenang saja, aku akan membantumu menemukan penawarnya dan kau akan sembuh.. " kata Dominic sungguh sungguh


" Benarkah?" tanya Arabella penuh harapan


" Ya, aku janji. " jawab Dominic


Raja Vanders itu akhirnya tau alasan Arabella bersikap dingin dan kasar, karena ia tak ingin kesedihannya di ketahui orang lain. Raja Vanders itu terkejut saat Arabella tiba-tiba berdiri dan memperlihatkan senyuman menakutkan di wajahnya yang tidak pernah ia lihat dari gadis lemah lembut tapi pemberani itu.


" Apa saya bisa meminta satu hal lagi pada yang mulia?" tanya Arabella


" Kau mau minta bantuan apa?" tanya Dominic


" Aku mau minta ramuan kejujuran " jawab Arabella


" APA??! ramuan kejujuran?" tanya Dominic kaget


" Jangan kaget begitu, aku tahu kau punya ramuan itu. Waktu aku di tawan di Gionda aku melihat satu buku berisi ramuan kejujuran, aku ingin kau berikan satu padaku " kata Arabella santai


" Aku bisa memberikannya padamu, tapi kau harus mengatakan apa rencana mu?" tanya Dominic


" Kejutan, berikan saja padaku ramuannya!" kata Arabella tegas


Ya, ini bukan saat nya aku bersedih, aku harus kuat ,aku tidak bisa diam saja melihat orang orang tidak bersalah mati dengan mengenaskan, orang orang jahat itu tidak akan bisa berkeliaran lagi. Jika bukti tentang kematian nona Canaria belum jelas, maka aku harus menangkap satu antek antek mereka. Tunggu saja !


Raja Vanders itu tidak bisa menebak apa yang dipikirkan Arabella, wanita itu terlihat berbeda dari biasanya. Ia hanya menuruti nya dan memberikan ramuan kejujuran itu pada nya.


" Aku akan kembali setelah mendapatkan informasi tentang penawar nya. Kau akan baik baik saja kan?" tanya Dominic cemas


" Tenang saja, aku bukan Arabella yang dulu lagi. Terimakasih kau sudah mau membantu ku meskipun aku sudah menolak mu "


" Kita kan teman " Dominic tersenyum pahit


Pria itu menghilang sekejap di telan cahaya. Arabella duduk di kursinya dan terlihat sedang menulis surat untuk seseorang. Beberapa saat kemudian gadis itu keluar dari kamarnya dan membawa 2 amplop di tangannya.


" Tolong kirimkan surat ini segera ! di situ ada alamat nya, jangan bilang surat nya dari ku!" seru Arabella tegas


" Baik, tuan putri " kata Daisy patuh


" Baru kali ini aku melihat sorot mata tuan putri yang begitu tajam, apa semua hal yang terjadi padanya membuat nya seperti ini?" batin Daisy cemas


" Yang mulia, tadi ada undangan dari istana. " kata Daisy


" Undangan apa?" tanya Arabella


" Putri mahkota Claire mengadakan perjamuan untuk para wanita bangsawan di istana, tapi tuan Duke sudah menolak nya karena yang mulia masih sakit " jelas Daisy


" Oh jadi dia sedang mengadakan perjamuan ya? waktu yang bagus.. " wanita itu tersenyum sinis seolah merencanakan sesuatu yang besar


***


Sementara itu di istana Clarines, Claire sedang mengadakan pertemuan para wanita bangsawan dan putri Camille juga ada disana.


" Bukan kah tidak sopan yang mulia putri mahkota mengadakan perjamuan ini sekarang?" tanya Camille sinis


" Memangnya ada apa tuan putri? ini sudah dijadwalkan, jadi apa masalahnya?" tanya Claire heran


" Tentu saja masalah. Keluarga kerajaan sedang dalam penyelidikan kasus racun putri Arabella dan kita malah mengadakan perjamuan ini. " Kata Camille berpendapat


" Kenapa harus di besar besar kan sih? lagipula putri Arabella tidak kenapa napa kan? ini berlebihan karena dia mengajukan tuntutan ke pengadilan dan menteri hukum " kata Claire sinis


" Maaf saya tidak sependapat dengan putri mahkota. Menurut saya tindakan tuan Duke dan putri Arabella sudah benar, bukan kah sekarang putri Arabella juga menjadi bagian dari keluarga kerajaan? sudah sepantasnya kalau keluarga kerajaan turun tangan. Tapi, kenapa anda terlihat tidak suka ?" tanya Megan menatap tajam.


" Sialan, niat ku mengadakan perjamuan ini untuk membuat reputasi wanita jal*ng itu semakin buruk. Tidak disangka wanita mandul itu memiliki banyak pendukung " batin Claire senang


Para gadis bangsawan lainnya berbisik bisik dan membenarkan ucapan Megan juga Putri Camille. Mereka jadi balik melawan Putri mahkota, ia jadi terlihat jahat di mata para gadis bangsawan itu.


" Bukan begitu, maksud ku.."


" Yang mulia Putri mahkota, ada surat untuk anda " kata seorang pelayan sambil menghampiri Claire yang sedang duduk.


Begitu membaca surat nya, Claire terlihat kaget dan langsung berdiri dari mejanya. Ia menyuruh semua orang pergi dan membubarkan perjamuan yang ia buat itu.


...Aku punya bukti kau yang meracuni Layla. Jika kau ingin bukti ini, datanglah sendiri ke jalan xxxx , ingatlah untung datang sendiri. Jika tidak, hari harimu sebagai putri mahkota akan berakhir....


Claire kesal dengan ancaman itu, awalnya ia ingin mengajak Count Oscar atau Ratu. Namun ia mengurungkan niat nya dan benar benar pergi sendirian ke tempat yang di tuju.


***


.


.


.


Claire berjalan ke jalan sepi, ia memakai tudung agar tidak di kenali orang. Tak lama kemudian, seseorang memukul Claire dari belakang dan membuat nya jatuh tak sadarkan diri.


" Dasar bodoh, kenapa aku bisa kalah dari mu di kehidupan yang lalu? dengan kemampuan mu yang hanya segini? Sekarang di kehidupan ini, kau yang akan habis di tanganku " kata seseorang bertudung hitam sambil melihat Claire yang pingsan.


Saat Claire sadar, ia sudah dalam posisi terikat dan duduk di sebuah kursi. Ia melihat lihat ke sekeliling. Ia tampak berada di sebuah gubuk tua.


" Dimana aku? " gumam nya bingung


" Kau sudah sadar yang mulia putri mahkota.."


Claire tersentak karena ia mengenali suara orang bertudung hitam yang ada di depannya.


" Apa yang kau lakukan?!!" tanya Claire kesal


" Lama tidak berjumpa ya putri mahkota " Arabella tersenyum dingin dan menatap tajam wanita itu


" Kau ! kau yang menjebak ku? kenapa kau melakukan ini?" tanya Claire


" Tenanglah aku hanya ingin memberimu hadiah kecil, kau pasti suka " jawab Arabella santai


Dengan santai wanita itu memaksa Claire meminum sesuatu dari botol yang ia pegang.


Uhuk uhuk


" Apa yang kau berikan padaku wanita jalang?!!" tanya Claire sambil terbatuk batuk


" Menurutmu apa?" Arabella menunjukkan botol yang terlihat seperti botol racun pada Claire


" Kau.. uhuk uhuk


" tenang saja, itu hanya racun yang sama dengan racun yang kau berikan pada Layla " Arabella tersenyum menakutkan


" A..APA??!!" Claire tercengang


" Kau tau kan ini racun apa? jawab aku !!" teriak Arabella


" Kenapa dia seperti gadis yang berbeda? dia sangat menakutkan. Tentu saja aku tau racun itu, itu adalah racun ular yang bisa membunuh orang dalam waktu 10 menit " batin Claire resah


" Kau sudah gila ya? berani menganggu putri mahkota kau tidak takut di hukum?" tanya Claire mengancam


" Iya , aku sudah gila..kau yang membuat ku gila. Ah ya, ngomong ngomong aku punya penawarnya loh. Tapi aku tidak mau memberikan nya "


Claire menggigit bibirnya karena kesal dengan Arabella yang mengancamnya, ia tau bahwa racun itu akan bekerja dalam 10 menit.


" Berikan aku penawar nya, sekarang !" teriak Claire


" huhuhu.. santai dulu lah, mari kita ngobrol ngobrol dulu sebentar. Aku akan mengajukan beberapa pertanyaan dan kau menjawab, jika kau menjawab semua pertanyaan nya dengan benar dan membuat ku puas, aku akan memberi kan penawarnya "


" Kau mau bermain main dengan ku ya??! dasar kau..


" kalau tidak setuju, ya sudah aku tidak memaksa. Kau mati saja kesakitan sama seperti yang Layla rasakan !" kata Arabella penuh kemarahan


" Baik, kau mau bertanya apa? aku akan menjawabnya dengan cepat !" seru Claire menahan kesal


" Kau yang meracuni Layla? Apa itu benar?"


" Bukan, tapi aku yang membeli racun nya di bar gelap " jawab Claire jujur


" Kenapa mulutku tidak bisa di kontrol? apa yang terjadi? bukan ini yang mau aku katakan?!" batin Claire panik


" Nampaknya ramuan kejujuran itu berhasil " batin Arabella senang


" Lalu siapa yang meracuni Layla jika bukan kau? " tanya Arabella


" Aku memang memberikan racunnya, tapi pamanku yang meracuni nya "


" Kenapa? lagi lagi aku tidak bisa mengontrol mulutku ? gawat ! " batin Claire panik


Wanita itu menatap tajam Claire yang terlihat ketakutan, lalu ia bertanya dengan nada membentak " Lalu, apa tujuan kau dan Count Oscar MERACUNI LAYLA?!!!


Claire gemetaran melihat ekspresi Arabella yang seperti ingin membunuh nya.


" Itu karena kami ingin membungkam Layla untuk selamanya !" jawab Claire


" Celaka, kenapa aku mengatakan nya? bibir ku tidak bisa berhenti bicara setiap ia bertanya Padahal, aku ingin berbohong atau tidak menjawab pertanyaan nya. Kenapa tidak bisa?"


Claire panik dalam hatinya


" Kenapa? apa rahasia yang kau dan Count Oscar tutupi sampai sampai kalian harus membunuh ORANG yang tidak bersalah?!!"


" Itu karena dia adalah kaki tangan kami untuk meracuni mu, rasakan! sekarang kau tidak berharga lagi sebagai perempuan kan? kau sedih bukan kan? tidak akan ada yang menikahi wanita infertil seperti mu! bunuh diri saja sana !" kata Claire puas


" Kenapa mulutku tidak berhenti bicara?" batin Claire panik


" Jadi kau mengaku kejahatan mu sekarang? kau dan Count Oscar dalang dibalik semua ini? kau yang meracuni ku dan membunuh Layla?" tanya Arabella sambil tersenyum sinis dan mengepal tangannya menahan emosi nya.


" Iya itu benar ! kami yang melakukannya ! " teriak Claire tak terkendali


" Kenapa kalau aku mengaku? toh di sini tidak ada siapa siapa?" batin Claire tenang


" Kenapa kalian melakukannya? kenapa kau meracuniku?" tanya Arabella


" Itu karena kau menggoda orang yang aku cintai ! dasar kau wanita j****g !" teriak Claire


" Baiklah, jadi sudah jelas semuanya.."


Wanita itu menahan amarahnya, ia sempat terdiam, lalu ia mengatakan hal yang membuat Claire ternganga. Ia tersenyum menyeringai seolah ia telah menang dalam sebuah pertarungan.


" Kalian sudah dengar semuanya kan?" tanya Arabella seolah berbicara dengan seseorang selain Claire.


Claire terpana saat Aiden, Eugene, Duke Reese, Ethan, Peter, Raja dan prajurit kekaisaran tiba tiba muncul dari ruangan yang bersebelahan dengan ruangan tempat Claire di sekap, mereka menatap Claire dengan tatapan merendahkan dan marah.


" Ti..Tidak.. ka..kalian.."


" Habis lah sudah.. habis ..! aku sudah dijebak ! aku terjebak ! " batin Claire panik


...---***---...