
...Wedding Day...
...****...
Wanita itu melihat ke jendela luar, ia melihat banyak orang disana yang akan menyaksikan pernikahannya nya dan Aiden. Apakah ini akhir bahagia untuknya? yang jelas, ia sangat bahagia dan gugup hari itu. Ia berdoa agar hari itu dapat terlewati tanpa ada masalah lagi.
Setelah kehidupan pertamanya yang ia lalui dengan jalan berduri, penuh darah dan rasa sakit, tidak ada jauh bedanya dengan kehidupan nya kali ini. Akan tetapi, Aiden hadir di dalam hidupnya dan mengubah takdir nya menjadi lebih baik. Keluarga yang menyayanginya, orang-orang yang menyukai nya dan mendukungnya, tidak ada yang lebih baik daripada hal itu.
Wanita itu masih duduk di kursinya, ia berkaca beberapa kali memastikan bahwa dirinya tidak gugup lagi. Berkali kali ia menghela napas, untuk menghilangkan rasa cemasnya.
" Yang mulia, lihatlah orang orang yang ada dibawah sana. Katanya mereka datang untuk menemui yang mulia.. " kata Daisy sambil membuka tirai jendela
" Bukankah mereka adalah para pengemis dan anak yatim piatu yang ada di kota dan di kuil suci? kenapa mereka kemari? apa makanan yang dikirimkan kesana itu kurang?" tanya Arrabella cemas
" Tidak, bukan begitu yang mulia. Mereka kesini untuk melihat pernikahan yang mulia dan yang mulia putra mahkota " kata Daisy menjelaskan, wajah wanita paruh baya itu terlihat senang seperti ia akan menikahkan putrinya sendiri
" Melihat pernikahan ku?" tanya Arrabella sambil memegang dadanya, wanita itu kembali gugup
Deg
Deg
Deg
Jantung nya berdegup sangat kencang dan membuat wanita itu panik, wajahnya resah dan cemas.
" Yang mulia putri mahkota, tenangkan lah diri anda.. " kata Daisy
" Apa setiap orang mengalami ini saat akan menikah? apakah begitu? ini bukan hanya aku saja kan ? jantungku seperti akan meledak, bibi Daisy bagaimana ini?" tanya Arrabella cemas
" Haha.. maafkan saya karena tidak bisa menahan tawa. Saya tidak menyangka yang mulia putri mahkota akan segrogi ini, padahal anda harus mempersiapkan diri anda pada malam pertama anda nanti " kata Daisy sambil tertawa kecil
" Ma.. malam pertama? apa yang harus aku persiapkan?" tanya Arrabella polos
" Saya sudah persiapkan, semuanya ada di kantong itu. Pokoknya sekarang tenanglah, dan bernapas dengan baik. Ayo tarik napas, keluarkan perlahan lahan "
Arrabella mengikuti instruksi ibu asuh sekaligus pelayan setianya itu dan akhirnya ia menjadi lebih tenang. Tidak berkeringat seperti sebelumnya.
Disisi lain, kamar rias Aiden.
" Yang mulia, anda sangat tampan ! anda pria tertampan di negeri ini !" kata Demian heboh
" Demian, bisa tidak kau kalem sedikit?!! "
BUK
Lorenzo memukul kepala Demian dengan sebal.
" Ah.. kau mulai lagi.. Lorenzo apa kau benar-benar membenciku?!!" tanya Demian memelas
" Kau lebay lagi? uweekk... " Lorenzo sebal
" Kalian sangat ribut " kata Aiden sambil berkaca dan tersenyum cerah. Berbeda dengan Arrabella yang gugup, Aiden sangat menantikan hari yang besar untuknya itu.
Tok
Tok
Tok
"Siapa?" tanya Lorenzo
" Yang mulia putra mahkota, ada seseorang yang ingin bertemu dengan yang mulia putra mahkota. Mereka berasal dari Londo " kata Pelayan dari balik pintu
Wajah Aiden semakin sumringah saat mendengar nya dan segera mempersilahkan keluarga nya dari Londo masuk. Lorenzo dan Demian pergi keluar kamar rias Aiden.
" Salam yang mulia putra mahkota " Yurian dan Lart memberi hormat
" Tidak usah begitu formal, paman , bibi " kata Aiden ramah
" Salam paman.. maksud saya putra mahkota " kata Yuriel sopan
Aiden memangku gadis kecil itu di pangkuannya, ia memegang pipi gemas gadis kecil itu.
" keponakan paman yang cantik, paman sangat merindukanmu " kata Aiden
" Hehe.. aku juga merindukan paman putra mahkota " kata Yuriel senang
" oh ya, bibi, paman, apa kalian sudah makan? aku akan menyuruh pelayan membawa makanan, kalian pasti lelah karena sudah melakukan perjalanan jauh " kata Aiden mengusulkan
" Tidak perlu ,yang mulia.. daripada itu kami ingin memberikan selamat untuk yang mulia " kata Yurian
" Bibi, aku bilang kan tidak usah bicara formal.."
" mana bisa begitu, sekarang anda adalah putra mahkota, calon Raja negeri ini. Meskipun aku adalah bibi mu, aku harus memberikan rasa hormat kepada putra mahkota kerajaan ini " kata Yurian sambil memegang tangan Aiden
" Kakak, lihatlah.. hari ini anakmu akan menikah. Kau pasti bahagia bukan? seandainya kau ada disini dan melihatnya langsung. Putramu akan menjadi Raja negeri ini, Raja yang baik " batin Yurian senang
" Kau sudah tumbuh dewasa, dan sekarang kau akan menikah. Kau akan menjadi kepala keluarga, jadilah suami dan pemimpin negara yang baik " kata Yurian menasehati
" Mendiang ibumu, pasti bahagia melihatmu dari atas sana. Hari ini adalah hari bahagia untuk yang mulia putra mahkota, selamat atas pernikahan mu " kata Lart ramah
" Iya ibuku pasti akan senang. Seandainya aku bisa melihat wajah ibu, tapi tidak apa. Aku menyimpan ibu di dalam hatiku " kata Aiden santai
" hiks hiks "
Yurian tiba-tiba menangis.
" istriku, ada apa?" tanya Lart
" tidak apa, aku hanya bahagia. Melihat putra yang ku besarkan kini sudah tumbuh dewasa dan akan menikah. Aku tidak rela.. hiks " Yurian menangis
" Ibu, kau mulai menangis lagi. Katanya hari ini kau tidak mau menangis, karena ini hari yang bahagia, tapi ibu malah sedih " kata Yuriel sambil memberikan sapu tangan nya pada Yurian
" Yuriel sayang, ibu menangis bukan karena sedih. Tapi, itu karena ibu bahagia.. " jawab Yurian
" Terimakasih paman, bibi dan Yuriel sudah datang kemari. Aku sangat senang " kata Aiden
" Kalau begitu, aku akan melihat pengantin wanita nya dulu. Alias menantu perempuan ku " kata Yurian sambil tersenyum
****
Di ruang rias Arrabella, Megan, Aida, Anna dan Lily mengunjungi pengantin untuk memberikan ucapan selamat secara langsung.
" Selamat putri mahkota, atas pernikahan mu " kata Aida, Anna dan Lily bersamaan
" Terimakasih sudah datang, aku sangat senang kalian datang kemari. Aku sangat gugup .. " kata Arrabella
" Setiap wanita yang akan menikah pasti akan mengalami nya, yang mulia jangan cemas " kata Aida ceria
" Nanti malam akan terjadi sesuatu yang membuat yang mulia berdebar lagi " kata Lily sambil senyum senyum
" Ah.. ya hehe.. " Arrabella tersenyum tak mengerti
Perhatian calon pengantin wanita itu teralihkan saat melihat Megan yang biasanya banyak bicara, hari itu diam saja dan wajahnya terlihat pucat.
" Nona Megan, apa kau baik-baik saja?" tanya Arrabella cemas
" Iya tuh dari tadi nona Megan terlihat tidak fokus. " kata Anna heran
" apa kau sakit?" tanya Aida cemas
" Wajahmu pucat sekali, apa kau sedang sakit? kenapa kau memaksakan dirimu, kalau sedang sakit " kata Arrabella cemas
" Ya akhir-akhir ini aku tidak enak badan, tapi ini tidak apa apa kok.. uwekk.. uwek.. " wanita itu mual mual
" Kau kenapa? nona Megan !" seru Arrabella kaget
Megan berlari menuju ke kamar mandi, dan muntah muntah hebat. Ia merasa tubuhnya berat dan tidak nyaman. Arrabella menyusulnya karena cemas, ia masuk ke kamar mandi.
" Yang mulia putri mahkota, anda tidak usah masuk kemari. Gaun anda akan basah nanti " kata Megan sambil menghela napasnya
" Sa..saya baik-baik saja.. " jawab Megan gugup
" Aku sudah terlambat datang bulan ku, 2 minggu, apa mungkin aku.. ah tidak mungkin aku tidak mungkin.. " batin Megan berfikir yang bukan bukan
" Megan, aku akan panggilkan tabib istana untuk memeriksa mu ! " kata Arrabella panik
" Kenapa dia terlihat aneh? setelah pernikahan ku selesai, aku akan bicara dengannya " batin Arrabella curiga
" tidak usah, saya hanya masuk angin biasa saja. Tidak apa apa, sungguh " kata Megan sambil tersenyum
" Baiklah, kalau begitu kau beristirahat lah di kamar ini dulu ya. Kalau kau merasa tidak kuat lagi, aku akan mengirim seseorang untuk mengantarmu pulang " kata Arrabella perhatian
" Iya, terimakasih yang mulia putri mahkota " kata Megan sopan
Arrabella menatap Megan dengan curiga, ia merasa ada hal yang wanita itu sembunyikan. Ia ingin bertanya pada Megan saat itu juga tapi ia harus mengobrol dengan Yurian dan Yuriel yang mengunjungi nya, dan sebentar lagi upacara pernikahan nya akan segera di mulai jadi ia harus bersiap-siap.
Setelah mengobrol bersama beberapa tamu yang mengucapkan selamat, Arrabella mendapatkan tamu terakhir. Yaitu keluarganya sendiri yang memberikan ucapan selamat.
" Ayah, kak Ethan? kak Peter?"
" Lihatlah dirimu, kau sangat cantik yang mulia putri mahkota " kata Peter sambil tersenyum
" Kakak, jangan panggil aku begitu. Aku malu " kata Arrabella dengan wajah memerah
" Peter mengatakan hal jujur, kau memang sangat cantik. Hari ini kau gadis tercantik yang mulia putri mahkota " Ethan memuji
" Kakakku yang cuek dan dingin ini, sejak kapan bisa memuji adiknya semanis ini? apa itu karena pengaruh dari seseorang ?" tanya Arrabella menggoda
" Seseorang siapa? tidak ada tuh " kata Ethan menyangkal dengan sikap jaim nya
" Lihatlah, kak Ethan mulai seperti itu lagi sejak surat menyurat dengan putri Ariana sikapnya jadi lebih manis. Itu bagus kan?" tanya Peter menggoda Ethan
" Kalian hentikan lah !" seru Ethan sebal
" Hahaa.. " Peter dan Arrabella tertawa setelah menggoda Ethan
" Sudah sudah jangan mengejek kakak kalian lagi " kata Duke Reese sambil tersenyum
Duke Reese tersenyum dan menangis sambil memegang tangan putrinya itu.
" A.. ayah.. kenapa?" tanya Arrabella sedih
" Ayah hanya tidak rela saja, putri ayah akhirnya akan meninggalkan ayah. Ayah tidak rela kau meninggalkan ayah dengan cepat, kenapa yang mulia putra mahkota mempercepat pernikahan. Padahal aku belum puas bermain dengan putri kecilku " kata Duke Reese dengan penuh kasih sayang
" A.. ayah.. " mata wanita itu berkaca-kaca
" Hey . hey jangan menangis, nanti riasan mu rusak.. " kata Peter mengingatkan
" Kakak mu benar, biar hari ini ayah saja yang menangis " kata Duke Reese sambil tersenyum
" Hehe.. ayah juga jangan menangis ya. " kata Arrabella
" Ternyata sesedih ini melepaskan seorang putri yang akan menikah " kata Duke Reese sambil menyeka air matanya
" cup cup cup.. ayah sudahlah, tenang.. kan masih ada kami " kata Peter menenangkan
" Ethan sudah punya calon, Abel juga sudah akan menikah, lalu kapan kau akan mengenalkan calon istrimu pada ayah?" tanya Duke Reese tajam
" Ca.. calon istri ya? hehe kalau itu aku belum ada.. kalau kak Ethan sudah menikah aku akan pikirkan deh " kata Peter sambil tersenyum senang
" Kau ini " kata Duke Reese dan Ethan bersamaan
" tadinya aku akan menikahkan anakku secara berurutan, taunya putriku direbut oleh pria itu lebih dulu. Tidak apa lah, aku percaya padanya akan menjaga Abel dengan baik. Viona, kau lihat kan? anak kita, putri kecil kesayanganmu akan menikah hari ini.. kau bahagia bukan, istriku?" batin Duke Reese senang
Duke Reese dan kedua kakak Arrabella, berpesan dan berdoa untuknya agar Arrabella hidup bahagia bersama Aiden. Menjadi istri, dan ratu yang baik negeri Clarines kedepannya.
Dalam hatinya wanita itu bertekad untuk menjadi istri yang baik untuk Aiden, dan Ratu yang baik untuk negeri Clariness.
****
Duke Reese menggandeng tangan putrinya itu dan menuntun nya berjalan menuju ke altar pernikahan. Aiden sudah menunggunya disana dengan wajah bahagia, membuat pakaian yang ia kenakan hari itu menjadi cerah seperti hatinya. Semua tamu undangan hadir disana dan memenuhi aula kerajaan, membuat Arrabella kembali menjadi gugup.
" Hu.. hu.." Duke Reese mengatur napasnya
" Rupanya ayah juga gugup ya?" tanya Arrabella sambil tersenyum melihat ayah nya
" Ayah baik baik saja kok " jawab Duke Reese
Sampailah Arrabella dan Duke Reese di altar pernikahan. Pendeta sudah bersiap siap meresmikan pasangan kekasih itu mengikat mereka dalam janji pernikahan.
" Putra mahkota Aiden Theodore Cassius, apakah anda bersedia menikah dengan putri Duke Herald De Reese, yakni putri mahkota Arrabella Naomi De Reese. Mencintainya seumur hidup, menjaganya dan setia padanya seumur hidupmu?" tanya Pendeta lantang
" Aku bersedia, dan ku berjanji akan selalu mencintai, menjaga, dan setia pada putri mahkota seumur hidupku, selamanya " kata Aiden sambil tersenyum ke arah Arrabella
Pendeta mengajukan pertanyaan yang sama kepada Arrabella. Dan gadis itu menjawab bersedia menjadi istri dari pria yang dicintainya tanpa ada keraguan apapun di dalam hatinya.
Kemudian..
Aiden dan Arrabella saling tukar cincin, mereka memasang cincin ke jari masing masing. Lalu Aiden mencium wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu dengan lembut dan mesra, tanpa malu malu dihadapan semua orang.
Syukurlah.. pernikahan ini berjalan lancar, sekarang kami sudah resmi menjadi suami istri. Aku akan menjadi istri yang baik untukmu Aiden
Aku akan menjadi suami yang baik untukmu dan selalu membuatmu bahagia selamanya. Hingga kau tidak akan pernah berfikir kabur dariku atau melihat pria lain.
Aiden dan Arrabella saling melihat dengan penuh cinta dan kasih sayang. Kebahagiaan pernikahan, telah mereka dapatkan. Hari itu adalah hari yang besar untuk mereka. Setelah melewati banyak ujian cinta, perpisahan, kekecewaan, bahkan kepercayaan, tapi mereka tetap bertahan, kini mereka sudah terikat oleh janji pernikahan. Janji setia, sehidup semati selalu bersama selamanya.
" PROK PROK PROK "
" Selamat yang mulia putri mahkota, yang mulia putra mahkota ! hidup Clariness !!" teriak orang-orang disana dengan semangat
Semua orang memberikan selamat dengan gembira kepada pasangan pengantin baru itu. Raja tersenyum senang melihat pernikahan putranya itu, dan kebahagiaan nya. Namun, dibalik kebahagiaan pasti ada yang tidak senang atau patah hati. Siapa lagi kalau bukan si raja iblis Dominic? ia datang ke pesta itu dengan perasaan yang tidak enak, melihat orang yang ia cintai menikah dengan orang lain lalu menghadiri pernikahan mereka, itu membuatnya patah hati dan hancur berkeping-keping perasaannya itu.
Tapi, raja itu pandai menyembunyikan ekspresi nya diluar, dan ia memilih menyendiri ketika resepsi pernikahan pasangan kerajaan itu digelar. Saat ia sedang menyendiri di balkon, ia melihat Arrabella dan Megan yang sedang mengobrol disisi lain. Ia tak mendengar perbincangan yang tampak serius itu.
" Dia kan wanita itu?" batin Dominic bertanya-tanya
Arrabella yang sudah mengganti gaun pengantinnya dengan gaun pesta, menghampiri Megan yang tampak menyendiri di balkon. Wajah gadis itu pucat seperti kehabisan tenaga, dan terlihat tak bersemangat.
" Nona Megan ada apa? aku akan panggilkan dokter istana sekarang !"
" Sungguh saya baik-baik saja, ini hanya pusing dan mual biasa " kata Megan gugup
" Katakan ada apa? aku tau ada yang kau sembunyikan dari ku, kau bisa cerita padaku ! bukankah kau sudah menganggap ku sebagai kakak mu sendiri?" tanya Arrabella cemas
" Ki.. kita bicara ditempat yang lain saja yang mulia " kata Megan gugup
" Baiklah, kita bicara dikamar ku saja " kata Arrabella sambil memegang tangan Megan dengan penuh kasih sayang.
Kedua wanita itu pergi ke kamar Arrabella, dan menutup pintu rapat-rapat. Wanita itu yakin ada yang salah dengan Megan, ia memaksanya memberitahu apa yang terjadi.
" Huu.. yang mulia .. saya tidak bisa cerita ini pada siapa siapa.. apalagi pada ayah.. jika ayah tau.. hu.. saya juga tidak tau bisa cerita ini pada yang mulia atau tidak..." Megan menangis tersedu-sedu di pelukan Arrabella.
Wanita itu semakin khawatir karena Megan yang biasanya itu sangat kuat dan tidak pernah menangis, gadis itu selalu menyemangati nya dan pemberani. Tapi sekarang gadis itu menangis tersedu-sedu, seperti nya memang ada masalah besar. Itulah tebakannya.
" Kalau ada masalah, jangan dipendam sendiri. setidaknya kau harus cerita pada seseorang yang kau percayai agar beban mu sedikit berkurang " kata Arrabella sambil menepuk nepuk punggung gadis yang menangis itu.
" Saya.. saya sudah ternodai oleh seorang pria. " kata Megan dengan cepat
" Apa maksudmu? ternodai?" tanya
" saya sudah melakukan hubungan dengan seorang pria di sebuah motel.. huu.. hu..saya sudah tidak suci lagi.. " Megan menutup wajahnya dengan kedua tangannya
" APA?? kapan itu terjadi? siapa pria itu?!" tanya Arrabella terpana
" Dia adalah yang mulia Raja Dominic..." jawab Megan jujur
Arrabella tidak bisa berkata apa apa lagi, ia terdiam dan terpana mendengar nama pria itu di sebut. Antara percaya dan tidak, tapi ia tau kalau Megan tidak mungkin akan berbohong padanya tentang masalah serius ini.
Lalu pria yang tidak bisa menyentuh wanita selain dirinya itu berani menyentuh Megan? wanita asing yang bahkan tidak dekat dengannya? apakah itu masuk akal? Yang jelas Arrabella sangat marah mendengar nya, ia tak percaya bahwa Dominic akan melakukan hal nista dan sangat tidak terpuji itu kepada gadis yang belum menikah !
...---***---...