
Beberapa menit sebelumnya sebelum Arrabella menerima surat dari Felix.
Gadis itu menyiram tanaman dengan santai di taman nya, ditemani oleh Layla.
" Setidaknya aku bisa tenang karena dalam beberapa waktu ketika ayah, kakak dan pangeran Aiden tidak ada disini aku akan aman dari Count Oscar karena kesepakatan ku dengan ratu. Aku membodohi ratu dengan mengatakan kalau aku punya bukti dia dan Count Oscar membunuh nyonya Canaria, semoga saja dia tidak tau dan tidak menyadari nya kalau aku berbohong. Sebenarnya, aku tidak punya bukti apapun selain pembicaraan Ratu dan Count Oscar waktu itu " batin Arabella berfikir
" nona, biarkan saya saja yang menyiram nya. " kata Layla menawarkan diri
" tidak usah, kau ambil saja teh dan cemilan untukku " kata Arabella ramah
" Baik nona, tunggu ya " kata Layla sambil tersenyum
Layla berjalan masuk ke dalam rumah.
Arabella sendirian di taman, tak sengaja jari nya tertusuk bunga mawar di taman nya.
" Auw.. berdarah .." Arabella melihat jarinya berdarah dan darah itu menetes ke cincin berlian yang diberikan oleh Aiden.
" cincin nya berdarah.."
Cincin berlian berwarna putih itu kini terhiasi dengan warna merah darah. Hati gadis itu mendadak menjadi tidak tenang, dan memikirkan Aiden.
" Kau sudah berjanji akan pulang dan baik baik saja. Ini bukan pertanda atau apa apa, karena kau akan pulang dengan selamat dan tidak akan terjadi apa apa." gumam Arabella berharap
Gadis itu mengusap darah yang menetes ke cincinnya. Tak lama kemudian, Felix berlari terburu-buru menuju ke arah Arabella.
" nona ! ini ada surat dari Lokhan !" seru Felix
" Apa ? benarkah? ini pasti dari ayah atau kedua kakak ku " kata Arabella senang
Arabella membuka surat itu dan membaca nya, awalnya raut wajahnya terlihat senang namun saat membaca akhir suratnya raut wajahnya berubah dalam sekejap menjadi pucat.
" TIDAK !! tidak mungkin !" Arabella jatuh terduduk dan mata nya Berkaca-kaca.
" Nona, ada apa?" tanya Felix cemas
" Arrabella tenang lah, kau harus tetap tenang. " batin Arabella menenangkan dirinya
" Felix, ada apa dengan nona ?" tanya Daisy yang cemas melihat Arabella duduk di rumput dengan wajah panik
" Felix, siapkan kereta kuda ! bersiaplah untuk pergi !" seru Arabella
" Pergi kemana nona?!" tanya Felix heran
" Bisa tidak kau jangan tanya !" Arabella marah
Pengawal setia dan kedua pelayannya itu sangat terkejut melihat nona mereka marah untuk pertama kalinya. Arabella menyuruh Daisy dan Layla agar menjaga kediaman Reese selama ia pergi.
Tidak ada yang bisa melarang gadis itu pergi, padahal Duke Reese dan kedua kakaknya sudah berpesan sebelumnya agar gadis itu tetap tinggal di rumah selama mereka tidak ada.
Namun, Arrabella begitu keras kepala dan tidak menghiraukan peringatan dari ayah dan kedua kakaknya, setelah menerima sepucuk surat dari Lokhan itu ia memutuskan untuk pergi ke Lokhan bersama Felix, pengawal setianya itu. Felix sudah berusaha keras melarang nona nya untuk pergi ke wilayah konflik dan banyak monster itu, namun Arabella tak peduli dan tetap melanjutkan perjalanan mereka ke Lokhan.
" Sebenarnya apa yang dikatakan di surat itu? kenapa nona bereaksi seperti ini? apa itu bukan sesuatu yang baik?" batin Felix sambil melihat Arrabella yang terlihat resah
" Kalian harus baik baik saja, kumohon.." batin Arabella berharap
Malam itu..
Di perjalanan menuju ke Lokhan, tiba-tiba perjalanan mereka terhenti karena Hugo ( pak kusir ) melihat ada seseorang yang terlihat sedang memakan sesuatu di depan jalan mereka.
" Hugo, kenapa berhenti?" tanya Arabella heran
" nona, ada sesuatu di tengah jalan ! seperti seseorang yang sedang makan sesuatu" kata Hugo merinding
" malam malam begini ada seseorang dijalan? di hutan yang sepi ini? " gumam Arabella heran
" nona, saya akan turun dan melihatnya. Nona tunggu disini !" seru Felix
" Tidak, kita bersama " kata Arabella tajam
Arabella dan Felix keluar dari kereta yang mereka naiki, dengan membawa pedang mereka. Mereka berdua keheranan karena benar-benar ada orang disitu yang terlihat seperti sedang makan sesuatu yang tergeletak di tanah. Hugo terlihat ketakutan melihatnya, dan tubuhnya gemetaran.
" Nona, biar saya jalan duluan " kata Felix berjalan di depan Arabella
" baiklah " jawab Arabella
Felix dan Arabella mendekati orang itu dan semakin terlihat jelas bahwa orang itu sedang makan manusia. Felix dan Arabella kaget melihatnya.
" Ma..kan makan.. " kata pria monster itu sambil mendekati Arabella dan Felix.
" Dia bukan manusia ! Felix !" seru Arabella
Dengan gerakan secepat kilat, Felix menebas leher mahluk itu. Darah berceceran di jalan, dan membuat si pak kusir yang belum pernah melihat pemandangan itu ketakutan dan bertanya tanya makhluk apa itu?
" Hugo, berikan aku korek api !" seru Arabella
Hugo yang gemetaran mengambil korek api dari saku nya dan langsung melemparkannya pada Arabella. Dengan cepat Arabella membakar kepala yang bergelinding di depannya.
" sebenarnya aku tidak mau melakukan ini, tapi mau bagaimana lagi. Ini tujuan ku belajar bela diri " batin Arabella merasa jijik melihat banyak darah di depannya
" Nona ku benar-benar keren "batin Hugo kagum
" Nona baik-baik saja?" tanya Felix
" Iya, mari kita lanjutkan perjalanan " jawab Arabella
Gadis itu berjalan terhuyung dan hampir saja terjatuh kalau tidak di papah oleh Felix.
" nona, anda belum makan dari pagi. Kita beristirahat saja dulu " kata Felix cemas
" Tidak bisa, jika kita istirahat itu akan menghambat waktu kita untuk cepat sampai ke Lokhan " kata Arabella
" Nona ! kumohon jangan keras kepala lagi ! " teriak Felix membentak
" baru kali ini aku mendengar mu marah pada ku, Felix. Baiklah kita beristirahat sebentar " kata Arabella heran
"Saya bukan marah pada mu nona, saya hanya mencemaskan nona " batin Felix peduli
Arabella, Felix dan Hugo beristirahat sejenak di pinggir hutan malam itu. Arabella dan Felix melihat Hugo yang masih ketakutan dan melihat lihat ke arah sekitar.
" Tuan Hugo, kau masih syok ya?" tanya Felix
" Itu benar Felix, dia kan baru pertama kali melihat makhluk seperti itu wajar saja kalau syok " kata Arabella sambil memakan kue nya dengan santai
" bagaimana bisa nona bicara tentang makhluk itu dengan santai? apa nona tidak takut?" tanya Hugo sambil memakan roti nya
" Tuan Hugo, asal kau tau saja ya. Nona sudah pernah melihat makhluk itu di wilayah utara Vanders saat nona di sandera oleh Raja Dominic " terang Felix
" Felix, kau tidak usah sedetail itu memberitahu nya " kata Arabella sebal
" Maafkan saya nona hehe " kata Felix tertawa kecil
" Jadi.. nona, makhluk apa itu? dia terlihat seperti manusia tapi bukan manusia " tanya Hugo penasaran
Arabella menceritakan apa yang ia tau tentang monster itu pada Hugo. Hugo yang awalnya menganggap semua cerita monster itu hanya dongeng kini percaya bahwa semua cerita itu nyata.
Waktu berlalu, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju ke camp pengungsian di Lokhan. Arabella terlihat tidak sabar untuk segera sampai ke sana, hari masih gelap dan ia berharap cepat pagi.
***
Pagi buta,
Di camp pengungsian..
" Apa kakak sudah mengirim surat pada Abel ?" tanya Peter
" Sudah, aku bilang kalau kita baik baik saja. Dia tidak mencemaskan kita. Seharusnya surat nya sampai di Clarines pagi ink" jawab Ethan
" Bagaimana jika dia tau yang sebenarnya? Apa yang harus kita jelaskan padanya?" tanya Peter bingung
" sebaiknya kita sembunyikan dulu darinya " jawab Ethan
" Jelaskan apa?" tanya Arabella yang sudah ada di belakang mereka bersama dengan Felix.
" Abel ! kenapa kau ada disini?" tanya Ethan kaget
Dominic, Cane, Eugene terpana melihat Arabella ada di sana. Gadis itu menyadari bahwa ada yang aneh, dan ia tidak melihat Aiden juga Ashton ada di sana.
" Jika dia tau semua ini, dia akan berduka. Tapi, ini tak bisa disembunyikan lagi " batin Dominic
" Mana pangeran Aiden dan kak Ashton? " tanya Arabella tegas
" Abel, tenanglah dulu! " seru Peter
" Sebenarnya kenapa kau datang kemari dan panik seperti ini?" tanya Ethan tak mengerti
" Seseorang mengirimkan aku surat kemarin, aku pikir itu adalah kakak. Dalam surat itu mengatakan kalau terjadi sesuatu yang buruk pada kalian !" seru Arabella
Tidak ada jawaban dari semua pria itu, mereka hanya terlihat sedih dan berduka. Arabella menanyakan apa yang terjadi, tapi Ethan menyuruh agar gadis itu melihatnya sendiri. Gadis itu bingung kenapa Ethan membawanya ke tenda mayat.
" Kakak, kenapa kau membawa ku kemari?" tanya Arabella bingung
Ethan tak menjawab dan membuka selimut salah satu mayat disana, Arabella tercengang melihat mayat itu.
" Kak.. kak Ashton...bagaimana ini bisa terjadi..kakak apa yang terjadi? " teriak Arabella histeris.
Suara nya yang menangis histeris itu terdengar oleh orang orang yang berada diluar tenda. Dominic, Eugene, Cane, Felix, Peter, Demian dan Lorenzo merasa kasihan pada Arabella yang menangis seperti itu.
" Wakil ketua Ashton sudah seperti kakak nya sendiri, pasti dia merasa sangat kehilangan. " kata Eugene prihatin
" Nona Arabella ternyata bisa menangis seperti itu , apa yang akan terjadi padanya kalah ia mengetahui tentang yang mulia?" batin Demian cemas
" Huu.. huu. " suara Arrabella menangis terisak isak
" Lorenzo, kasian sekali nona Arabella .. " kata Demian
" Iya benar " Lorenzo terlihat sedih
Dominic berkata dalam hatinya..
Saat kau menangis ada terbesit di pikiran ku, aku ingin sekali memelukmu dan menenangkan mu namun aku tidak menyangka bahwa mendengar mu menangis saja aku tidak sanggup. Karena hatiku rasa nya sakit sekali saat mendengar suara mu menangis, kau yang biasanya selalu tersenyum, penuh semangat dan pantang menyerah, kini sedang menangis? Hanya mendengar nya saja aku tidak bisa, apalagi melihatnya meneteskan air mata pasti lebih sakit rasanya...
" Yang mulia, anda ingin melihat nona Arabella?" tanya Cane
" Tidak, mendengarnya menangis membuat hatiku sakit apalagi jika aku melihatnya " jawab Dominic dengan mata penuh kesedihan
"Yang mulia..."Cane melihat raja nya bersedih
"tidak pernah aku melihat yang mulia bisa merasa sedih seperti ini, dia sangat menyukai nona Arabella dengan tulus. Seandainya nona Arabella bisa melihat perasaan yang mulia sedikit saja " batin Cane berharap
Di dalam camp, Arabella masih menangis dan tak percaya bahwa Ashton sudah tiada. Ia memegang tangan Ashton yang terasa dingin.
" Kak Ashton.. bangun ! kau jangan bercanda terus ! kakak , kak Ashton hanya tidur kan? kalian sedang bercanda dengan ku kan? ayolah ini tidak lucu kak !" seru Arabella yang tidak menerima kenyataan di depannya.
Arabella menangis melihat pria yang sudah seperti kakak nya sendiri terbaring tak bernyawa. Ia berusaha membantah bahwa Ashton tidak mati, tapi pikiran dan mata nya tak bisa menipu hati nya. Ethan dan Peter melihat Arabella dengan penuh kesedihan.
" Abel, Ashton sudah tiada.. kau jangan seperti ini.. " kata Peter sambil menepuk pundak adik nya itu
" tidak, kalian bercanda padaku ! kalian suka bercanda padaku.. kak Ashton tidak mungkin.. Kakak ! dimana pangeran Aiden? aku juga tidak melihatnya ?" tanya Arabella panik
" Abel tenanglah !" seru Ethan memegang tangan adik nya yang panik dan histeris itu
" Dimana pangeran Aiden ! kakak !" teriak Arabella
" Dia akan baik-baik saja, dia sudah janji " batin Arabella berharap
Ethan dan Peter tertegun tak bisa menjawab pertanyaan adiknya. Pada akhirnya pertanyaan Arabella terjawab saat beberapa kstaria yang lewat membicarakan Aiden di luar tenda.
" Syukurlah monster itu musnah " kata kstaria 1 lega
" benar, kita harus berterimakasih pada pangeran Aiden. Katanya beliau lah yang berjasa besar membunuh monster itu " kata ksatria 2
" Kau benar Jack, tapi bagaimana cara kita berterimakasih kalau pangeran Aiden nya sendiri tidak ada disini " Ksatria 1
" Benar juga. Katanya tidak ada yang tau dia masih hidup atau sudah meninggal, yang jelas dia menghilang bersama monster itu " kstaria 3 merasa prihatin
Arrabella terkejut mendengarnya dan pergi keluar tenda tempat mayat itu untuk menanyai kstaria yang ada diluar. Ketiga kstaria itu begitu kaget saat melihat Arabella bertanya pada mereka dengan histeris tentang pangeran Aiden. Dominic dan Eugene menghampiri gadis itu karena cemas melihat sikap Arabella sangat emosional.
" Arabella.. " kata Eugene cemas
" Kau seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah, tenanglah!" Dominic membentak Arabella
" Kalian berbohong, tipuan apa yang kalian main kan pada ku? sudah cukup ! ini sudah tidak lucu lagi.. kembalikan kak Ashton, kembalikan pangeran Aiden.. tolong.. hiks " Arabella menangis dan jatuh terduduk
" Melihat keadaan nya seperti ini, hatiku sangat terluka. Meski aku senang melihat Aiden menghilang karena dengan begitu saingan ku akan berkurang untuk mendapatkan Arabella , tapi aku sakit hati melihat Arabella histeris seperti ini " batin Eugene dalam hatinya
Dominic menggenggam tangan Arabella dan menatapnya dengan lembut, Raja tiran itu hampir saja menjatuhkan air matanya ketika melihat gadis itu menangis.
" yang mulia raja, tolong katakan padaku ! ini semua mimpi kan? kalian hanya mempermainkan ku kan? ayo katakan !" kata Arrabella sambil menangis terisak isak
" aku harus jawab apa? agar aku bisa menenangkan mu?" batin Dominic bingung
Dominic tak bisa menjawab pertanyaan gadis itu dan hanya menatap nya dengan sedih.
Tiba-tiba saja Arabella berdiri dan pergi menjauh dari Camp, kedua kakak nya mengejarnya dan mencoba menghentikan nya. Gadis itu bersikeras untuk mencari Aiden yang bahkan ia sendiri tak tau Aiden ada dimana.
Duke Reese muncul disaat yang tepat dan ia berhasil membujuk putrinya agar tidak pergi, pada akhirnya keadaan Arabella sedikit tenang. Namun, tetap saja gadis itu belum bisa menerima kenyataan.
"tenanglah nak, ayah ada disini .. tenanglah .." Duke Reese memeluk Arabella yang menangis sesegukan itu.
Hati ayah mana yang tidak terluka melihat putri nya menangis sedih karena kehilangan orang yang dekat dengannya. Kini Duke Reese menyadari betapa dalamnya cinta anak nya itu untuk pangeran Aiden yang tidak ia terima lamaran nya, ia merasa ada penyesalan di hatinya.
"Ayah.. katakan kalau ini bohong ! ini tidak benar kan? ayah.. kak Ashton dan pangeran Aiden baik baik saja ayah.. mereka sudah janji akan kembali dengan selamat.. hu..huu.. " Arabella menangis di pelukan ayahnya
Setelah beberapa saat, Arabella duduk sendirian dan menatap kosong ke arah jasad Ashton yang terbaring tak bernyawa di depan nya. Dominic menghampiri Arabella yang sedang sendirian itu, ia jongkok di depan gadis itu dan menatap nya. Dominic menceritakan yang terjadi pada gadis itu, karena Arabella memintanya sendiri.
#FLASHBACK
Raja tiran itu berusaha menghentikan Aiden mendekati Kiton.
" Jangan bodoh pangeran Aiden !" seru Dominic berteriak
" Maaf, tapi aku harus melakukan ini " kata Aiden dengan wajah yang pasta
Cahaya biru itu terpancar kuat dari tubuhnya, cahaya itu adalah sebuah MANA yang dimiliki oleh Aiden pemberian dari gadis suci yang berada di dalam kalung kristal. Aiden berusaha membunuh monster itu dengan kekuatan suci yang ia miliki, namun sebagai gantinya ia mungkin akan hancur lebur bersama monster iblis itu. Aiden tak punya pilihan lain lagi, melihat Dominic yang kekuatan nya sudah berada di ujung, juga Ashton, Eugene, Peter dan Cane yang nyawanya dalam bahaya karena sihir hitam.
" Naomi tak akan memaafkan ku kalau terjadi sesuatu pada kakak mu. Jadi, aku harus lakukan ini " batin Aiden
Cane, Ashton, Eugene dan Peter berhasil bebas dari sihir hitam itu karena Aiden menggunakan kekuatannya. Ashton melihat Aiden mengorbankan dirinya.
" Pangeran Aiden ! kau pikir apa yang kau lakukan?" tanya Ashton sedih
"Apa yang terjadi pada Abel kalau kau kenapa napa?" batin Ashton
" Raja Dominic, tuan Ashton, beritahu padanya, kalau aku sangat mencintai nya. Dan aku minta maaf " Aiden tersenyum pahit
" Katakan itu sendiri ! " teriak Dominic kesal
" Jadi kau ingin MATI bersama ku!! " teriak Kiton sambil menyeringai
Terjadi lah adu kekuatan antara Aiden dan Kiton. Sinar hitam dan sinar Biru saling menyerang, semuanya terkejut saat sinar biru itu mengalahkan sinar hitam milik si raja monster.
" Bagus, kita akan selamat " kata Eugene lega
Sesuatu terjadi di luar dugaan saat mereka semua lengah dan dengan kekuatan yang tersisa dari Kiton. Monster itu menyerang ke arah Peter dan Eugene, Ashton berlari dan menghalau serangan itu dengan tubuhnya. Setelah itu Aiden dan Kiton menghilang secara tiba-tiba ditelan oleh sinar hitam.
Dominic kaget karena ia tak bisa mencari keberadaan Aiden.
" Ashton !!" teriak Peter kaget
" Tuan Ashton !" teriak Eugene dan Cane panik
Mulut Ashton mengeluarkan banyak darah, tubuhnya tergeletak tak berdaya. Dominic, Cane, Eugene dan Peter menghampiri Ashton.
" Yang mulia raja, selamatkan dia !" seru Peter cemas
Dominic menggunakan sihir pengobatan nya, namun ia menunjukkan raut wajah yang pasrah.
" Sudah terlambat, sihir hitam itu sudah mengenai jantungnya. Sihir pengobatan ku tidak bisa menghentikan nya !" kata Dominic kaget
Peter, Cane, Eugene dan Dominic merasa kasihan melihat kondisi Ashton yang buruk.
" Kenapa kau lakukan ini? kenapa kau menyelamatkan ku?" tanya Peter sambil memegang tangan Ashton
" Wajahmu terlihat sangat jelek sekarang, Peter. " Ashton tersenyum di wajahnya yang pucat
" Di waktu seperti ini kau masih bisa bercanda .. " kata Peter sedih
" Pada akhirnya Abel akan sedih karena pangeran Aiden tidak ada, aku tidak bisa melindunginya. Tapi, aku bisa melindungi mu dia pasti akan senang karena kau baik baik saja, tapi dia akan sedih karena pangeran Aiden.. " kata Ashton dengan napas yang Tersengal-sengal
" Kau ini bicara apa ! kau pikir Abel tidak akan sedih kalau kau mati seperti ini? bodoh !" seru Peter sambil menangis
" Aku... sangat terharu kau menangis untukku.. Pete .." Ashton menangis dan tersenyum melihat Peter
" Ashton kau ini ..!! "
" Hibur lah dia, Peter.. katakan padanya aku minta maaf tidak menepati janji, katakan juga selamat ulang tahun dari ku..ini untuknya.." Ashton tersenyum pahit sambil menyerahkan sebuah kotak pada Peter.
" Kau harus mengatakan nya sendiri, bodoh !" seru Peter sedih
" Aku akan tidur Peter..aku sangat lelah .." Lirih Ashton tak bertenaga
Pria itu tersenyum di detik-detik terakhir hidupnya. Ia mengingat Arabella dan berharap setulus hati agar Arabella tidak sedih karena kepergian nya dan cepat bangkit. Bahkan di saat terakhir, pria itu tetap memikirkan perasaan wanita yang sudah menolak cintanya.
#END FLASHBACK
Dominic menyerahkan kotak pemberian Ashton pada Arabella karena Peter tak sanggup memberikan itu pada adiknya.
" Kenapa kau berfikir aku tidak akan sedih ? kak Ashton kenapa kau begitu bodoh .. kenapa.. " Arabell memeluk kotak itu dengan erat dan menangis
Dominic memeluk Arabella yang menangis terisak isak dan menepuk nepuk pundaknya.
" Kak Ashton..pangeran Aiden.. kalian sangat jahat...kalian pembohong.. "
*** Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan komen nya ya.. **
Makasih tetap setia membaca 😉