Arrabella Twice Lives

Arrabella Twice Lives
Bab 48 Perang Lokhan part 1 ( Season 2 )


Tak terasa hari berlalu begitu cepat, sudah 10 hari berlalu dan sudah memasuki musim dingin di Clarines.


" nona, anda harus selalu memakai mantel anda karena hari semakin dingin " kata Daisy sambil memakaikan jaket bulu pada Arabella yang sedang duduk bersantai di kursi.


" Terimakasih selalu mengingatkan ku Daisy " Arabella tersenyum sedih


" Nona tidak usah cemas, tuan Duke dan kedua tuan muda pasti akan segera pulang dan mereka akan baik baik saja " kata Daisy menenangkan


" Iya, aku juga yakin begitu. Hanya saja rasa rindu ini aku tidak yakin bisa menahannya " Arabella memegang dadanya, dalam hatinya gadis itu selalu berdoa agar ayah dan kedua kakaknya selamat. Ia juga merindukannya kekasihnya pangeran Aiden.


Hari turun salju itu adalah hari ulang tahun Arabela yang ke 16 dan harusnya ada perayaan debutante kedewasaan untuknya. Namun, ia tak berharap semua itu lagi ia hanya berharap semua kstaria yang pergi berperang akan segera kembali dengan selamat. Ia menunggu dan terus menunggu kabar, setidaknya satu surat yang datang akan membuat perasaan nya lebih baik.


" ayah, kak Ethan, kak Peter, pangeran Aiden, kumohon cepat kembali..kembalilah dengan selamat.. " Arabella melihat cincin berlian yang ada di jari manisnya itu ( pemberian Aiden )


***


Sementara itu di Kota Lokhan..


Kota Lokhan sudah seperti kota mati, karena banyak orang mati tergeletak disana. Hari itu sudah muncul matahari dan para monster bersembunyi jika ada matahari. Dan itu memberikan para ktsaria waktu untuk beristirahat sejenak.


" Aku masih tidak mengerti kenapa monster monster ini bisa memperbanyak diri mereka, bisa kau jelaskan pada kami Raja Dominic?" tanya Eugene cemas


" satu satunya monster yang melakukan ini dan bisa menggigit yang lain untuk memperbanyak jenisnya, hanya satu monster saja. Dan nama monster itu adalah Kiton, dia adalah monster yang sudah dibunuh oleh kakek buyut ku berpuluh-puluh tahun yang lalu. " terang Dominic


" Jika dia sudah dibunuh, bagaimana caranya ia bisa bangkit kembali ?" tanya Aiden serius


" kalau itu,aku juga tidak tahu. " jawab Dominic bingung " Yang jelas dia tidak bisa dibunuh dengan cara memenggal kepalanya seperti monster lain. Karena Kiton adalah monster iblis terkuat dari yang terkuat, dia tidak akan mati dengan mudah "


" Semua ini tidak akan pernah berakhir jika mahluk bernama Kiton itu belum kita musnahkan " kata Ethan


" Kau benar tuan Ethan, maka dari itu kita harus menyusun rencana untuk menangkap dan memusnahkannya " kata Dominic


" Raja Dominic, apa kau ada cara agar kita bisa menemukan nya?" tanya Aiden


" Ada, namun ini adalah cara yang sulit untuk kalian yang tidak mempunyai kekuatan sihir " Jawab Dominic


" Bagaimana putra mahkota? apa keputusan mu?" tanya Aiden pada adik tiri nya itu


" Kita harus melakukan apapun resikonya, ini demi rakyat " jawab Eugene penuh keyakinan dan sorot mata yang tajam


" Aku mengagumi sikap pemberani Eugene yang satu ini, meskipun dia menyebalkan. Tapi dia bersikap layaknya pemimpin "batin Aiden kagum


" jadi, ini sisi putra mahkota yang lainnya? dia yang biasanya lembut dan ramah, sekarang terlihat serius dan penuh percaya diri " batin Ashton penuh kekaguman


"Dia menunjukkan sisi nya sebagai pemimpin, dan itu terlihat bagus. " batin Dominic kagum


" kau tidak buruk juga kalau menjadi Raja kelak " kata Dominic menyeringai


" Yang jelas aku bukan raja tiran seperti mu !" Eugene kesal


" Aku ini sedang memuji mu tau, setidak nya berikan juga pujian mu untukku " kata Dominic ketus


" Terimakasih raja Dominic, kau sangat menyebalkan " kata Eugene sebal


" Karena tempat monster iblis itu berbahaya, hanya beberapa orang saja yang bisa ikut. Jika semakin banyak orang yang ikut akan semakin berbahaya, sebagian juga harus menjaga kota ini " kata Dominic tegas


" Aku mengerti " kata Eugene tegas


Eugene dan Aiden memerintahkan beberapa kstaria untuk ikut dengan Dominic dan beberapa ksatria lagi tetap berada di Lokhan untuk menjaga kota itu dari monster.


" Kapten Ethan, Kapten George, aku serahkan Lokhan di bawah kepemimpinan kalian !" seru Eugene


" Baik yang mulia!" seru George dan Ethan bersamaan


Eugene, Aiden, Ashton, Peter, Dominic dan Cane lah yang pergi ke tempat Kiton itu. Mereka menggunakan sihir teleportasi Dominic. Ashton dan Peter terpana karena Dominic begitu hebat dalam sihir dan juga kuat.


***


Mansion Reese, Felix sedang berlatih pedang bersama Arabella.


" Nona, kemampuan berpedang nona semakin hari semakin bagus. " kata Felix memuji


" Benarkah? kau memuji ku karena aku adalah nona mu kan?" tanya Arabella sambil tersenyum


" Tidak nona, saya serius! saya memuji nona karena kemampuan nona " Felix tersenyum


" Baiklah, aku akan mencoba percaya " kata Arabella


" nona saya serius !" seru Felix


" haha baiklah Felix, oke. " kata Arabella sambil tertawa kecil


Arabella akan masuk ke dalam rumahnya lalu tiba-tiba sebuah panah melesat ke arahnya, dengan cepat Felix menghalangi panah itu dan akhirnya melukai tangan Felix.


" Felix ! astaga kau baik baik saja? " tanya Arabella sambil melihat Felix dengan cemas


" nona tenang saja, saya hanya tergores " jawab Felix " Apa nona terluka?" tanya Felix


" Aku baik baik saja berkat dirimu " jawab Arabella


" Apa ini pekerjaan Count Oscar lagi?" batin Arabella curiga


"nona, lihat di anak panah itu ada sebuah kertas !" seru Felix sambil melihat pada anak panah yang hampir menusuk nya tadi


Arabella mengambil kertas itu dan membaca apa yang tertulis di dalam nya. Ia terlihat serius setelah melihat surat itu.


" nona? ada apa?" tanya Felix


" tidak apa,Felix mari kita obati luka mu " jawab Arabella serius


"ada apa dengan nona ?" batin Felix heran melihat wajah Arabella yang tiba-tiba muram


Setelah menerima surat itu, Arabella terlihat serius dan sering melamun, raut wajahnya terlihat tidak baik.


"Aku tidak bisa cerita pada kakak atau siapapun, karena mereka sedang tidak ada disini. Ya, aku harus menghadapi nya sendiri " batin Arabella penuh tekad


***


Arabella pergi ke kediaman Ratu Freya di istana dengan sorot mata yang tajam dan keseriusan. Penuh keteguhan dan tekad yang kuat, gadis itu seperti akan menyampaikan sesuatu yang penting.


" Yang mulia ratu, nona Arrabella ingin bertemu dengan anda " seru Deborah


" Mau apa dia kesini?" tanya Ratu Freya heran


" Nona Arabella bilang kalau ia ingin membicarakan tuan Count Oscar dengan Ratu " jawab Deborah


" Apa? jangan jangan benar, kalau anak ini sudah tau tentang ku dan Count Oscar. Atau tentang pembunuhan 19 tahun yang lalu itu.." batin Ratu ketakutan


" biarkan dia masuk !" seru Ratu setengah berteriak


Tak lama kemudian, Arabella masuk ke ruangan pribadi ratu dan ia menatap tajam kepada Ratu.


" Selamat siang yang mulia ratu, semoga anda selalu panjang umur dan di sehatkan " kata Arabella memberi hormat


" Ya, silahkan duduk saja " kata Ratu tegas


Arabella dan Ratu duduk berhadapan, tanpa basi basi gadis itu menyerahkan surat yang ada di anak panah itu.


" Apa maksud semua ini?" tanya Ratu heran dan tak mengerti isi surat itu


" Saya ingin meminta perlindungan dari yang mulia ratu " kata Arabella tegas


" Apa maksud mu?" tanya Ratu kaget


" Saya yakin yang mulia ratu tau siapa yang menulis surat ancaman itu untuk saya " Arabella menatap tajam ratu


Ratu terhenyak mendengarnya, tangannya gemetaran seolah sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh Arabella selanjutnya.


" Saya minta perlindungan pada yang mulia ratu dari Count Oscar, atau saya minta yang mulia menghukum Count Oscar untuk saya " kata Arabella tegas


"Apa? kau ini bicara apa? kenapa dia harus di hukum? memang nya kesalahan apa yang sudah dia perbuat?" tanya Ratu deg deg an


" Apa perlu saya sebutkan kesalahan nya? mencoba melukai saya, mengancam saya, dan bekerja sama dengan yang mulia ratu untuk mencelakai seseorang 19 TAHUN yang lalu " terang Arabella tegas


" Dia sudah tau semuanya? tidak, Freya kau harus tenang. Jangan kalah dari gadis kecil ini " batin Freya


" Aku tau langkah yang ku ambil ini memang cukup berbahaya. Tapi, aku tidak mau terus-terusan diganggu oleh Count Oscar, dan itu akan melibatkan keluarga ku dengan terpaksa aku harus mengancam ratu dengan rahasia nya " batin Arabella


"Apa maksud mu? kerja sama apa ? jangan bicara sembarangan pada ku, atau nyawa mu yang akan melayang " tanya Ratu dengan mata yang tajam


" Sepertinya saya sudah memilih waktu yang salah untuk berbicara dengan yang mulia ratu, apa saya seharusnya berbicara dengan yang mulia raja saja ya?" Arrabella tersenyum tipis


Ratu beranjak dari tempat duduknya dan terlihat murka !


" Sebenarnya apa yang kau inginkan dengan berkata seperti ini pada ku??!" seru Ratu murka


" Dia bilang dia akan segera menghabisi gadis ini, tapi gadis ini masih hidup dan berada di depan ku sekarang, juga mengancam ku !" batin Ratu marah


" Bukankah saya sudah bilang saya ingin perlindungan dari yang mulia ratu. Mari kita bernegosiasi yang mulia ratu " kata Arabella tegas


" Kau !" seru Ratu murka


Arrabella tersenyum melihat ke arah Ratu sedangkan sang Ratu terlihat sangat marah. Entah apa yang dipikirkan Arabella dengan menawarkan negosiasi pada Ratu yang jelas akan membuat nya dalam bahaya. Apa alasan yang membuatnya melakukan hal ini?


***


Aiden, Eugene, Dominic, Ashton, Peter dan Cane memasuki sebuah gua yang gelap. Dominic menyalakan api dari tangannya yang membuat gua itu tidak terlalu gelap.


" Yang mulia raja, apa ini tempat Kiton itu berada?" tanya Peter penasaran


" Iya, disinilah kakek buyut ku menemukan nya untuk pertama kali. Semoga saja kita bisa menemukan petunjuk disini " kata Dominic sambil melihat lihat ke dalam gua.


" atau menemukan Kiton itu sekalian membunuhnya " kata Aiden


" Idemu bagus pangeran Aiden " kata Dominic setuju


6 orang itu menelusuri gua bersamaan dan menemukan bercak darah berceceran di tanah dan sebuah lubang seperti sumur.


" Yang mulia putra mahkota, yang mulia pangeran lihat apa yang saya temukan !" seru Ashton melihat ke arah sumur di depannya


Sontak Aiden, Dominic, Cane, Eugene dan Peter melihat ke arah sumur itu. Terdengar suara cekikikan dan menggema dari dalam sumur itu.


" Kalian dengar suara itu?" tanya Aiden


" Ya, aku dengar " jawab Dominic


4 orang itu kecuali Dominic dan Aiden, tiba-tiba terjatuh oleh sebuah sinar hitam, lalu mereka merasakan tubuh mereka kesakitan.


" Tolong ! aku sulit bernapas .."kata Ashton kesakitan


" To..long " kata Peter kesakitan


" Yang mulia .." lirih Cane


" Tidak disangka, keturunan Vanders datang sendiri untuk menemui ku " kata seorang pria bertubuh tinggi dan memiliki wajah menyeramkan dengan kuku nya yang panjang dan lidahnya menjulur keluar. Wajahnya penuh darah.


" Kau.. " kata Dominic tajam


" Raja Dominic, apa dia mahluk itu?" tanya Aiden waspada


Mahluk yang terlihat seperti monster itu merubah dirinya menjadi mirip manusia.


" Aku tidak heran kalau kau tidak bisa terkena serangan sihir ku, tapi kenapa dia juga tidak terkena? apa kau penyihir sama dengan si vanders ini?" tanya Kiton pada Aiden


" Benar juga, seharusnya jika aku manusia biasa aku akan terkena sihir nya seperti yang lainnya. Tapi, kenapa aku baik baik saja?" batin Aiden bingung


" Apa dia juga memiliki ilmu sihir? bukankah dia tidak bisa? apa dia memiliki garis keturunan penyihir. Jika itu benar maka...." batin Dominic berfikir


Raja itu teringat saat ia menyandera Arrabella di Istana nya lalu Aiden mengeluarkan kekuatan tidak biasa dari tubuhnya. Raja itu mengira bahwa mungkin Aiden memiliki kekuatan suci MANA dan bukan sihir.


Aiden juga terlihat bingung, namun ia berusaha mencari cara agar membuat Eugene, Ashton, Peter dan Cane berhenti merintih kesakitan.


" Apa yang harus kita lakukan?" tanya Aiden bingung


Aiden masih melihat ke 4 orang itu kesakitan di hadapannya dan semakin mencekik.Dominic juga berusaha melepaskan sihir Kiton itu, namun tetap tak berhasil juga.


" Bodoh, sihir itu bisa terlepas hanya jika kalian bisa membunuh ku " kata Kiton sambil tersenyum sinis


" maka aku tidak punya pilihan lain !" seru Dominic dengan tatapan mata membunuh nya


Tubuh raja tiran itu mengeluarkan cahaya merah yang dahsyat, artinya semua kekuatan nya sudah ia kerahkan untuk melawan Kiton si raja monster itu.


" bagus , dulu kakek buyut mu juga melakukan ini. Saat itu dia berhasil tapi kau tidak akan !salah satu tujuan ku bangkit kembali adalah membalas dendam kepada keturunan Vanders !" seru Kiton sambil merubah dirinya kembali ke sosok monster nya.


Cahaya hitam memancar dari tubuhnya seperti bayangan, dengan mata nya yang menyala Kiton menyerang Dominic. Aiden kebingungan karena tidak bisa berbuat apa apa karena tidak bisa sihir.


" mana bisa aku tidak berbuat apa apa !" gerutu Aiden kesal


Terjadilah pertarungan dan adu kekuatan antara Raja monster dan Raja tiran itu, dan semakin sengit. Aiden semakin panik ketika melihat Dominic memuntahkan banyak darah dan tergeletak tak berdaya.


BUK


Raja tiran itu terjatuh lemas dan Aiden memeganginya.


" Tidak percuma aku memulihkan tubuh ku dan berlatih keras. Pada akhirnya aku bisa melihat keturunan Vanders mati di tangan ku !" kata Kiton sambil menatap Dominic dan Aiden dengan tatapan membunuh.


Dominic berbaring tidak berdaya dan memuntahkan darah banyak dari mulutnya.


" Dominic sudah terluka parah, dan mereka juga tidak bisa dibiarkan, mereka bisa mati karena sihir nya. Aku harus melakukan ini.. " batin Aiden sedih sambil melihat gelang pemberian Arabella ditangannya


Aiden terlihat sedih melihat semua orang di dekatnya sudah terluka sangat parah. Setelah ia mendengar bisikan aneh, dengan senyuman pahitnya, ia memegang pedang nya dan berjalan mendekati raja monster itu alias Kiton.


" Maafkan aku Naomi, mungkin aku tidak bisa menepati janjiku. Kalau aku tidak bisa menyelamatkan semua orang, apalagi kakakmu orang yang kau sayangi. Kau pasti akan terluka.. " batin Aiden sedih


" Pangeran Aiden ! apa yang mau kau lakukan?" tanya Dominic kaget melihat Aiden yang berjalan mendekati Kiton. " Hentikan ! kau bisa mati !" teriak Dominic dengan tenaga nya yang tersisa.


Peter, Ashton, Cane, Eugene kaget melihat tubuh Aiden memancarkan cahaya terang berwarna biru. Kiton kaget melihat nya dan tercengang.


***


Di istana timur Clarines,


" jadi kita sudah sepakat kan yang mulia Ratu?" tanya Arrabella penuh keseriusan


" Iya. Kau juga harus menepati janjimu, akan aku pastikan Count Oscar tidak akan menyentuh mu atau keluarga mu. Jika satu kata saja bocor tentang rahasia ini, kau akan ku penggal " ratu mengancam


" Baik, saya mengerti. Terimakasih sudah bernegosiasi dengan saya, saya percaya bahwa ratu akan menepati janji " Arabella tersenyum ceria


" Gadis kurang ajar ! " batin Ratu kesal


" Arabella kau benar-benar bodoh. Kau mungkin sedang berada di ujung jurang sekarang. Aku hanya bisa bertaruh pada harapan bahwa ratu bisa menjamin keselamatan Aiden dan keluarga ku. Semoga saja.. " batin Arabella


Saat ia akan keluar istana, ia melihat Claire sedang berjalan di temani pelayan setia nya. Arabella memberi hormat pada Claire.


" Salam yang mulia putri mahkota " kata Arabella membungkuk hormat


" wanita jalang ini, kenapa semakin hari dia terlihat semakin cantik. Pantas putra mahkota terpikat padanya, tidak putra mahkota adalah milikku " batin Claire iri


" Sudah lama tidak bertemu ya nona Arabella " kata Claire sambil tersenyum


" Iya yang mulia putri mahkota " Arabella tersenyum ramah


" Kau habis dari mana? maksud ku kenapa kau bisa ada disini?" tanya Claire penasaran


" Saya habis dari istana Ratu. Ada hal yang penting " jawab Arabella santai


"kenapa kau tidak pergi saja? dan jangan banyak bertanya !" batin Arabella sebal


" sejak kapan wanita ini akrab dengan ratu sampai membicarakan hal penting segala. Apa jangan jangan..." batin Claire berfikir mengarah pada kecurigaan


" Kalau boleh tau apa yang kau bicarakan dengan yang mulia Ratu?" tanya Claire tajam


" Maaf Putri mahkota, tapi sepertinya pembicaraan kami ini anda tidak bisa mengetahuinya. Mungkin kau bisa tanya pada tuan Count Oscar " kata Arabella


" Nona Arabella ! kenapa kau masih belum pergi?" tanya Ratu marah


Claire memberi hormat pada Ratu dengan anggun dan senyuman nya yang ramah.


" Maafkan saya yang mulia ratu, saya memang akan pulang tapi putri mahkota menanyakan ada urusan apa saya dengan yang mulia ratu. Mana bisa saya menolak menjawab nya " kata Arabella sopan


" Gadis ini sedang menggertak ku " batin Ratu marah


" Yang mulia ratu, anda harus tepati janji anda karena aku tidak main main "batin Arabella


" Apa kau selalu seperti ini Putri mahkota? setiap orang yang datang ke istana ku apa selalu kau tanyai seperti ini? " tanya Ratu marah


" Tanpa diduga, ratu juga marah pada Claire. Oh kasihan, kemana ya putri mahkota yang disayang itu. Melihatmu seperti ini aku merasa sangat puas Claire" batin Arabella puas


" Yang mulia ratu, maafkan saya. Saya tidak bermaksud seperti itu, saya hanya ingin tau saja " kata Claire meminta maaf


" Baiklah karena kau baru disini, akan aku ingatkan padamu. Jangan ikut campur urusanku atau urusan yang bukan urusanmu, lakukan saja tugas mu sebagai putri mahkota kerajaan Clarines dengan baik! " kata Ratu tegas


" Dulu ratu sangat baik pada ku. Kenapa sekarang sikapnya jadi seperti ini? pasti wanita jalang ini menjelek jelekkan aku di depan ratu " batin Claire kesal


" baik yang mulia ratu, akan saya laksanakan. Maafkan saya, saya akan menjadi putri mahkota yang menjadi panutan untuk rakyat Clarines " kata Claire manis


" Bagus " Ratu menanggapi dengan dingin


***


Keesokan harinya, di mansion Reese


Felix berlari dengan terburu buru menyampaikan sebuah surat pada Arabella.


" Nona ! ini ada surat dari Lokhan !" seru Felix


" Apa ? benarkah? ini pasti dari ayah atau kedua kakakku" kata Arabella senang


Arabella membuka surat itu, awalnya ekspresi nya senang namun tiba-tiba saat membaca bagian bagian akhir suratnya, raut wajahnya berubah seketika menjadi memucat.


" Nona! ada apa?" tanya Felix cemas


" Tidak ! ini tidak mungkin !!" Arabella jatuh terduduk


**** Hai makasih yang udah nungguin Author up, jangan lupa kalau udah selesai baca nya kasih jempol, komen dan rate nya ya 😊sampai jumpa di bab berikutnya...


Jangan lupa mampir juga ke Novel baru ku ya, baru dua chapter " Aku menjadi tawanan sang tiran "