
Di pesta itu, Raja mengumumkan bahwa Aiden akan kembali tinggal di istana dan di berikan tugas sebagai pangeran resmi dan ia menenangkan para bangsawan bahwa posisi Aiden sebagai pangeran tidak akan mengancam posisi putra mahkota.
" Dan pengumuman yang terakhir adalah tentang nama-nama kandidat putri mahkota yang sudah di setujui oleh semua fraksi bangsawan. Berikut ini adalah nama-namanya .." kata Philip
Kandidat putri mahkota :
Pertama adalah Putri Duke Zena yaitu Nona Anna Yulian Zena.
Kedua adalah putri Marques Elza, yaitu Nona Lily France Elza
ketiga adalah Putri Viscount Benedict, Megan Benedict
Ke empat adalah putri Count Collete, Claire Dania Collete
dan yang terakhir adalah putri Duke Reese, Arabella Naomi De Reese
Ke 5 nona itu dipanggil ke depan aula dan memperkenalkan diri mereka masing-masing di depan semua para bangsawan yang hadir. Namun, Megan dan Arabella terlihat malas.
" Aku tidak tahu kalau nona Megan akan ikut pemilihan putri mahkota juga ?" tanya Claire
" Aku sebenarnya tidak berniat, tapi ini rencana para orang tua " jawab Megan malas
" Tidak apa nona Megan, aku rasa nona Megan dalam posisi yang sama dengan nona Arabella " kata Aida sambil melihat wajah Arabella yang malas
" Apa kalian membicarakan ku?" tanya Arabella tak mengerti
" Haha.. " Aida dan Megan tiba-tiba tertawa melihat wajah Arabella
Semua orang menikmati pesta, sementara Arabella masih memikirkan rahasia besar yang ia ketahui tentang Canaria ( ibu Aiden ), Ratu dan Oscar. Ia menyendiri di taman depan istana ,melepas kedua sepatu heelsnya dan duduk di rerumputan dengan gaunnya yang lebar.
" Ini melelahkan sekali, syukurlah aku pergi kesini. Aku bisa menghindari berdansa dengan putra mahkota. Kenapa dia begitu terobsesi mengangguku? menyebalkan " gumam Arabella merasa sebal
" Anda begitu terbuka ya, nona " kata Aiden yang sudah ada di belakangnya
" Akh !! " Arabella kaget melihat Aiden.
Ia langsung berdiri dan membungkuk untuk memberi hormat tapi ia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke pelukan Aiden.
" Ah.. memalukan. Niat ku untuk membuat image baik di depan pangeran Aiden, kini sudah hilang " batin Arabella merasa malu
" Maafkan saya yang mulia pangeran, saya tidak bermaksud untuk tidak sopan pada anda. Saya benar-benar tidak sengaja " kata Arabella sambil membungkuk hormat
Aiden tersenyum melihat tingkah Arabella, dan fokus kepada kaki Arabella yang tidak memakai sepatu.
" Dia melihat ke arah kakiku? pasti dia berfikir aku tidak sopan karena tidak pakai sepatu " batin Arabella merasa tak nyaman
Arabella mengambil kedua sepatunya dan akan memakainya.
" Tidak usah dipakai " kata Aiden
" Kenapa? " tanya Arabella heran
" Kau melepaskan nya karena kakimu sakit, bukan? jadi, tidak usah memakainya walaupun ada aku " kata Aiden menenangkan
" Pria ini, dia kebalikan dari putra mahkota yang ceria. Dia terlihat tegas dan dingin, tapi aku yakin dia orang yang baik " batin Arabella senang
" Tapi, yang mulia pangeran.."
" Aku bilang tidak usah " kata Aiden
Tak lama kemudian, Demian dan Lorenzo menghampiri Aiden dan Arabella yang sedang ada di taman.
" Yang mulia pangeran, anda.. " Demian dan Lorenzo kaget melihat Arabella ada disana.
" Kalian kenapa ada disini juga?" tanya Arabella heran
Lorenzo dan Demian terlihat bingung dan gugup. Aiden terlihat kesal melihat Demian dan Lorenzo yang datang disaat yang tidak tepat.
" Kenapa kalian datang disaat seperti ini? mengganggu saja !" batin Aiden marah
" Oh tidak, kita datang di saat yang tidak tepat " batin Demian takut
" Yang mulia tampaknya tidak senang, sekarang yang penting harus menjawab pertanyaan nona Arabella dulu" batin Lorenzo
" Apa kalian dan guru Cedric di undang kesini juga?" tanya Arabella polos
" Tidak, guru ada di camp kok. Kami kesini karena kami di suruh untuk mengawal pangeran, hehe " jawab Demian gugup
" Akting mu tidak terlihat natural Demian" batin Lorenzo
" Iya kami disini untuk mengawal pangeran atas perintah guru " kata Lorenzo tegas
" Aku sudah menduga kalau dia pembohong, dia bilang tidak kenal dengan pangeran, tapi nyatanya dia kenal..dasar guru aneh, menyebalkan, dingin, sombong " gumam Arabella merasa jengkel
Gumam man itu rupanya terdengar oleh Aiden dan kedua temannya.
" Ah... yang mulia pangeran, maafkan saya mengatakan hal yang tidak sopan di depan anda.. " kata Arabella ketakutan
" Ti.. tidak apa-apa kok." jawab Aiden gugup
" Bagaimana mungkin yang mulia tidak papa, kau berani mengutuk nya di depan nya, bagus sekali nona " batin Demian
" Terlihat jelas, kalau Yang mulia sedang menahan kekesalannya " batin Lorenzo
" Aku merasa senang, karena ada orang yang mengutukku di depan ku. Ini pertama kalinya dalam hidupku " batin Aiden senang
Aiden memberikan isyarat kepada Demian dan Lorenzo untuk segera pergi meninggalkannya berduaan dengan Arabella.
" Kalau begitu, kami pergi dulu " kata Demian
" Iya, kami harus berjaga-jaga di tempat lain " kata Lorenzo
" Ah iya baiklah " kata Aiden
" selamat malam yang mulia, selamat malam nona Arabella " kata Lorenzo dan Demian berpamitan
Lorenzo dan Demian buru-buru pergi. Arabella bingung melihat tingkah Lorenzo dan Demian yang terlihat aneh.
" Jadi, kau adalah salah satu kandidat putri mahkota?" tanya Aiden
" Iya yang mulia " jawab Arabella
" Sepertinya hubungan mu dan putra mahkota itu sangat baik ya " kata Aiden sambil tersenyum
" kenapa anda berfikir seperti itu yang mulia?" tanya Arabella
" saat pertama kali datang ke istana, aku melihat mu dan putra mahkota berpelukan sangat mesra" jawab Aiden menyindir
" Itu tidak seperti itu.. hubungan saya dan putra mahkota tidak seperti itu. Tadi, saya hanya tidak sengaja jatuh dan dia memegang tangan saya untuk menolong saya " terang Arabella
" Eh? kenapa aku harus menjelaskan ini padanya?" batin Arabella bingung
" Begitu kah? " Aiden bertanya seolah tak percaya
" Seperti nya saya sudah terlalu banyak bicara pada anda yang mulia, saya permisi dulu. Maaf sudah menganggu anda yang mulia " kata Arabella sambil tersenyum
" Ya, dipikir-pikir aneh juga. Aku menjelaskan hal ini kepada orang yang baru ku temui sekali memangnya dia siapa? " batin Arabella bingung
" Tunggu .." Aiden melihat kaki Arabella yang terluka dan terlihat cemas.
" Ya, yang mulia?" tanya Arabella
" Kakimu..." Aiden terlihat gugup
" Singa kecil, disini kau rupanya !" seru Eugene sambil menghampiri Arabella dan Aiden yang sedang berdua.
(" Singa kecil? kenapa Eugene memanggilnya begitu?") batin Aiden cemburu
" Kakak, kau juga ada disini?" tanya Eugene ramah
" Iya aku sedang berjalan-jalan, dan aku tak sengaja bertemu dengan nona Arabella " jawab Aiden
" Baguslah kakak menemukan gadis ini, aku sudah mencarinya kemana-mana " kata Eugene senang
" Mau apa dia kesini?" Batin Arabella merasa kesal
" Kalau begitu kalian silahkan lanjutkan mengobrol nya, saya permisi " Arabella membungkuk hormat
" Kau mau kemana? kau berhutang berdansa denganku?" tanya Eugene sambil memegang tangan Arabella
(" Oh, jadi dia selalu berlaku seenaknya pada Naomi. ") batin Aiden kesal
" Yang mulia tolong lepaskan tangan saya " kata Arabella merasa tak nyaman
Aiden menarik Arabella dan menepis tangan Eugene. Eugene terlihat kesal, tapi ia menahannya.
" Dia menolongku? apa dia melihat kalau aku aku tidak nyaman dengan Eugene?" batin Arabella merasa lega
" Kau tidak dengar dia bilang apa?" tanya Aiden dingin
" Baiklah, nona Arabella aku akan menagih hutang mu nanti. Kau selamat kali ini.. " Eugene tersenyum
" Arabella kau selalu saja menolakku lagi dan lagi. Lihat saja nanti, kau akan jadi milikku cepat atau lambat. Dan saat itu tiba aku tidak akan mengizinkan mu pergi dariku " kata Eugene dalam hatinya
" kenapa aku merasa kalau kedua pria ini sedang cemburu? tapi pada siapa?" batin Arabella polos
Eugene pergi meninggalkan Aiden dan Arabella di taman.
" Saya sangat berterimakasih pada yang Mulia pangeran, karena sudah menyelamatkan saya " kata Arabella senang
" Seperti nya kau senang sekali terhindar dari adikku itu " kata Aiden sambil tersenyum
" Eh ? apa saya se senang itu?" tanya Arabella
" Entahlah, tapi aku merasa begitu. Aku merasa kau tidak senang dekat-dekat dengannya, apa aku salah? " kata Aiden menebak
" Anda benar yang mulia, saya memang tidak senang berada di dekat putra mahkota " kata Arabella membenarkan
" Kalau aku boleh tau, kenapa?" tanya Aiden penasaran
" Karena saya tidak menyukainya " jawab Arabella
" Lalu kenapa kau mau mencalonkan dirimu menjadi putri mahkota?" tanya Aiden heran
" Itu karena permintaan yang mulia Raja pada ayah saya. Saya juga tidak tahu kenapa yang mulia raja meminta hal seperti itu, tapi saya pastikan saya tidak akan menjadi putri mahkota " kata Arabella sambil tersenyum
" Oh jadi itu alasannya " Aiden tersenyum senang
" Aku tidak salah lihat kan? dia tersenyum.. dan dia terlihat sangat tampan sekarang " batin Arabella merasa terpesona " Ah tidak, aku tidak boleh terpesona.. "
" Aku jadi tenang setelah mendengar jawabannya langsung darimu, sekarang aku tahu bahwa aku salah paham mengira kau menyukai nya. Jadi, aku masih ada kesempatan kan? " batin Aiden senang
" Kau menolak berdansa dengan adikku, kalau berdansa denganku bagaimana?" tanya Aiden malu-malu
" Dengan saya?" tanya Arabella kaget
Aiden mengajak Arabella ke aula istana dan mengajaknya berdansa. Sementara itu Eugene berdansa dengan Claire atas perintah Ratu.
Semua gadis bangsawan disana iri dengan Arabella yang berdansa dengan Aiden yang tampan.
" Semua orang memperhatikan anda yang mulia pangeran " kata Arabella sambil berdansa dengan Aiden
" Kau salah, semua orang memperhatikan mu. terutama para pria " kata Aiden
" Tidak mungkin, hari ini pusat perhatian semuanya pada yang mulia pangeran " kata Arabella sambil tersenyum
" Benarkah?" tanya Aiden tak percaya
" Anda selalu meragukan saya " kata Arabella sambil tersenyum
" Aku selalu memimpikan hari ini setiap hari, Arabella. Hari dimana aku bisa memegang tanganmu seperti ini,berada di dekatmu dab memelukmu. Seperti nya hari ini aku akan sulit tidur, karena aku akan pasti akan selalu mengingat senyumanmu yang cantik itu " batin Aiden senang
Tidak hanya menjadi pembicaraan kaum wanita bangsawan saja, Aiden juga menjadi pembicaraan kaum pria bangsawan disana.
" Berani nya dia memegang putri ku seperti itu ! dansa pertama nya harusnya dilakukan denganku !" seru Duke Reese yang cemburu Arabella berdansa dengan Aiden
" Ayah, tahanlah amarahmu. Dia itu pangeran " kata Peter
" Kalian ini benar-benar cemburu pada pangeran Aiden?" tanya Peter tak percaya
" Bisa-bisanya adik bungsu kita begitu populer di kalangan para pria " kata Ethan kesal
" Ya kakak betul sekali, lihatlah beberapa pria disana itu. Mereka terlihat cemburu sama seperti kalian !" seru Peter pada ketiga pria yang ingin mengajak Arabella berdansa tapi di tolak.
Ethan, Peter dan Duke Reese jengkel melihat Arabella berdansa dengan Pangeran begitu lama.
Setelah selesai berdansa, Aiden mengajak Arabella ke balkon ia juga membawa sebuah kotak coklat dan kotak obat.
" Yang mulia..apa yang anda lakukan? kenapa anda membawa saya kesini?" tanya Arabella bingung
" Duduklah " kata Aiden
Arabella duduk di kursi yang ada di balkon. Aiden membuka sepatu heels yang dipakai oleh Arabella. Arabella tercengang melihatnya.
" Yang mulia.. apa yang anda .."
" Diam lah sebentar " kata Aiden cuek
Aiden mengobati luka di tumit kaki kanan Arabella dan membalutnya dengan perban. Aiden membuka kotak yang satunya lagi dan berisi sepasang sepatu wanita.
" Apa yang akan yang mulia lakukan?" tanya Arabella gugup
" Memakaikan mu sepatu " jawab Aiden santai
" Bagaimana bisa dia bicara sesantai ini? dia ingin memakaikan ku sepatu katanya? apa kata orang nanti, akan ada rumor lagi !" Batin Arabella bingung
" Biar saya saja yang mulia " kata Arabella sambil mengambil sepatunya dan memakaikannya
" Sepatu ini pas sekali dengan ukuran ku ? bagaimana bisa, dan sepatu ini sangat nyaman di pakai, tidak terasa pegal " batin Arabella senang
" Maaf kan aku jika kau tidak nyaman, aku hanya merasa sedikit terganggu dengan luka di kakimu " kata Aiden datar
" Saya bahkan tidak tahu kalau kaki saya terluka, tapi yang mulia bisa melihatnya. Terimakasih yang mulia " Arabella tersenyum
Arabella tiba-tiba teringat perkataan Guru Cedric ( Aiden ) sebelumnya yang mengatakan padanya bahwa ia tak boleh sembarangan tersenyum pada sembarang pria karena akan menimbulkan salah paham.
" Kenapa aku memikirkan si guru menyebalkan itu?" tanya Arabella dalam hatinya
" Nona Arabella apa yang kau pikirkan?" tanya Aiden
" Tidak.. yang mulia.. maafkan saya. Dan terimakasih " kata Arabella sambil melangkah pergi, lalu ia tiba-tiba berhenti.
" Yang mulia, bolehkah saya bertanya pada yang mulia?" tanya Arabella
" Katakan " jawab Aiden
" Tapi anda janji tidak boleh marah ya?" tanya Arabella
" Baik, aku janji " jawab Aiden singkat
" Dimana yang mulia membeli baju itu?" tabya Arabella
" A..apa?" Aiden terlihat kaget
" Apa dia tahu bahwa aku adalah Cedric? apa aku ketahuan? Oh iya, baju ini dia pasti mengenalinya " batin Aiden panik
" Yang mulia, mohon maaf. Anda tidak perlu menjawab pertanyaan saya.. anggap saja saya tidak pernah bertanya " kata Arabella gugup
" Benar juga? mungkin mereka memang mempunyai baju yang sama, tidak mungkin kan kalau guru adalah pangeran Aiden?" batin Arabella
" Dari perkataan nya, dia mulai curiga " batin Aiden
" Tapi yang mulia, apa kita pernah bertemu sebelumnya? karena anda terlihat tidak asing bagi saya " tanya Arabella penasaran
" sepertinya tidak pernah, aku kan baru saja tiba di negeri ini dan aku juga baru melihatmu " jawab Aiden berbohong
" Benar juga, saya ini bicara apa sih. " kata Arabella sambil tersenyum
" Nona Arabella, boleh saya beritahu satu hal?" tanya Aiden
" apa itu yang mulia?" tanya Arabella
" Jangan sembarangan tersenyum pada pria, karena beberapa dari mereka akan salah paham dan mengira senyuman itu sebagai sinyal. " jawab Aiden mengingatkan
Arabella lagi-lagi kaget, karena kata-kata Aiden mengingatkannya pada guru Cedric.
" Ini pasti kebetulan kan " batin Arabella heran
" Terimakasih telah mengingatkan saya yang mulia, tapi ini adalah senyuman ramah. Bukan senyuman untuk memikat pria. Tolong anda jangan salah paham juga.. " kata Arabella sambil tersenyum tipis
***
Setelah itu, Arabella merasa pusing dan meminta kepada ayahnya untuk membawanya pulang.
" Kau ingin pulang sekarang? " tanya Duke Reese cemas
" Iya ayah, aku benar-benar lelah. " jawab Arabella lemas
Sejak Arabella jatuh pingsan kemarin, ia selalu mudah lelah dan merasakan pusing. Entah apa penyebabnya. Dan hari ini di pesta, adalah hari yang melelahkan baginya.
" Biar aku yang mengantar Abel pulang, kebetulan aku sedang menganggur " kata Ashton menawarkan dirinya.
Tiba-tiba sang Raja mengatakan bahwa ia ingin Eugene berdansa dengan semua kandidat putri mahkota. Termasuk Arabella, dan ia menunggu gilirannya untuk berdansa dengan putra mahkota.
Terlihat sang Raja dan Aiden meninggalkan aula istana dan berbicara secara pribadi.
" Kau yakin tidak apa-apa? wajahmu pucat" kata Ashton cemas
" Kak Ashton, aku tidak apa-apa kok " jawab Arabella menenangkan
" Jika kau merasa sakit, aku akan berbicara dengan yang mulia putra mahkota. " kata Megan cemas
" Nona Megan, tidak usah cemas. Aku hanya sedikit lelah " kata Arabella sambil tersenyum
" Kenapa kesehatanku menurun akhir-akhir ini? ada apa sebenarnya ?" batin Arabella bertanya-tanya
***
Giliran Eugene berdansa dengan Arabella. Ekspresi Eugene saat berdansa dengan Arabella berbeda saat ia berdansa dengan para kandidat calon putri mahkota yang lain.
" Aku senang akhirnya aku bisa menagih hutangku hari ini juga " Eugene tersenyum senang
" Iya yang mulia, dengan begitu anda tidak bisa memaksa saya untuk berdansa dengan anda lagi nanti " kata Arabella sebal
" Bercanda mu tidak lucu, tapi aku suka " kata Eugene
" aku tidak bercanda" kata Arabella tidak tahan
" Kepalaku semakin pusing.. tidak, aku harus bertahan. Jika aku pingsan disini, aku akan membuat semua orang cemas. " batin Arabella
" ada apa dengannya? kenapa dia berkeringat sangat banyak? apa dia sedang sakit?" batin Eugene merasa cemas melihat gadis dihadapannya terlihat pucat dan berkeringat
Eugene menghentikan dansanya dan memegang kening Arabella dengan penuh perhatian.
" Yang mulia ada apa?" tanya Arabella dengan nada lemas
" Kita akhiri saja dansanya, sudah cukup. Kita ke ruang istirahat, aku akan panggilkan dokter " kata Eugene dengan nada khawatir
" Yang mulia, saya baik-baik saja. " kata Arabella
" Baik-baik saja bagaimana? kau demam seperti itu.. apanya yang baik-baik saja ?" Eugene menatap Arabella dengan penuh kecemasan
" Kenapa dia menunjukkan tatapan seperti ini? dia terlihat tulus, kenapa dulu dia tidak seperti ini? saat aku sakit dulu, dia tak pernah sekalipun menanyakan keadaanku, apalagi sampai memanggil dokter. Kenapa dia sekarang begini? apa dia benar Eugene di masa lalu?" batin Arabella merasa sedih
Eugene menarik tangan Arabella dan membawanya pergi dari aula.
" Yang mulia, sampai kapan anda akan menarik tangan saya?" tanya Arabella kesal
" Aku selalu bingung padamu, apa salahku padamu? kenapa kau selalu seperti ini?" tanya Eugene sakit hati
" Seperti apa maksud anda ?" tanya Arabella
" Kau selalu menatapku dengan tatapan seperti ini, penuh kebencian. Sebenarnya apa salahku padamu ? " tanya Eugene heran
" Kau bertanya apa salahmu? salahmu banyak. Di masa lalu kau selalu menyakitiku, dan setiap melihatmu sekarang aku ingin mengutuk dirimu !" batin Arabella merasa kesal
" Anda selalu salah paham pada saya yang mulia, mana berani saya menunjukkan tatapan kebencian seperti itu pada yang mulia. Sedangkan kita sama sekali tidak dekat " terang Arabella
" Justru itu karena kita tidak dekat, kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Eugene sedih
" Saya tidak PERNAH !" kata Arabella menyangkal
" Sudahlah, kita ke ruang istirahat. Lalu aku akan panggil dokter " kata Eugene terlihat kecewa
" Tidak usah yang mulia, saya akan kembali pulang saja. Tolong izinkan saya pulang " kata Arabella tegas
" Sebenarnya apa yang membuat mu seperti ini? kau menutup rapat-rapat hatimu untukku " batin Eugene
" Bagaimana bisa aku mulai membuka hatiku untuk seseorang? kalau aku sudah mulai tidak percaya cinta ketika kau membuatku tidak percaya lagi " batin Arabella sakit hati
Eugene menggendong Arabella dan membuat gadis itu kaget.
" Arghh.. yang mulia !" seru Arabella kaget
" Tenang saja, disini tidak ada orang. Aku sudah menyuruh semua orang yang ada disini pergi ke pesta " kata Eugene
" Bukan begitu, tapi saya bisa jalan sendiri yang mulia.. " kata Arabella kesal
" bisakah sekali saja kau tidak menolakku? aku hanya ingin membantumu, jangan salah paham " kata Eugene tegas
Arabella tak mampu berkata apa-apa lagi setelah ia menatap tatapan mata Eugene yang tegas, ia patuh. Eugene menggendongnya sampai ke ruang istirahat.
" Tunggulah disini, aku akan memanggil dokter " kata Eugene
" Tidak usah " kata Arabella
" Tolong, jangan menolakku lagi.." kata Eugene dengan nada yang sedih
***
Sementara itu, Peter, Ethan dan Duke Reese mencari-cari Arabella di aula istana dan di sekitarnya. Lalu Ashton memberitahu kan bahwa putra mahkota membawa Arabella pergi.
Ethan yang sedang mencari Arabella, berpapasan dengan dokter istana dan Eugene.
" Yang mulia " Ethan membungkuk hormat
" Kau pasti mencari Arabella bukan? ikut aku " kata Eugene
Beberapa saat kemudian, setelah Arabella di periksa dokter.
" Putra mahkota pasti sangat menyukai nona ini, dia bahkan yang tidak pernah pergi ke gedung dokter sendirian. Rela mencari dokter, hanya untuk mengobati nona ini dengan cepat. Tidak heran, akhir-akhir ini yang mulia banyak berubah " batin Dokter Foster senang
" Bagaimana keadaan nya?" tanya Eugene
" Nona Arabella hanya mengalami demam biasa karena kelelahan, jika dia tidur, makan dan minum obat dengan teratur dia akan segera sembuh.." kata Dokter Foster menjelaskan
" Baiklah, terimakasih Dokter Foster" kata Eugene
" Yang mulia putra mahkota, dokter, terimakasih " kata Ethan
" sama-sama " jawab Dokter Foster ramah
Ethan mengatakan pada Eugene untuk membawa Arabella pulang lebih awal agar adiknya bisa istirahat.
" Baiklah, bawalah dia. Dan cepat sembuh " kata Eugene sambil tersenyum tulus
" Terimakasih yang mulia " kata Arabella
Keluarga Duke Reese pun kembali ke kediaman mereka. Sepulang dari sana Arabella langsung tiduran di ranjangnya. Daisy dan Layla merawatnya yang sedang demam.
" Hari ini benar-benar penuh kejutan. Pertama rahasia tentang kematian istri pertama raja, konspirasi Count Oscar dan yang mulia Ratu, kembalinya pangeran Aiden ke Clarines, kelakuan Eugene yang berbeda dari masa lalu. Semua hal hari ini begitu membuatku terkejut, terutama sesuatu yang begitu familiar tentang guru dan pangeran Aiden. Sekilas mereka terlihat mirip " batin Arabella bingung
Disisi lain, dua pria tampan di istana sedang memikirkan Arabella. Yaitu Aiden dan Eugene.