
Lucy mulai mentransfer sihir yang ia punya untuk kedua pria di hadapannya itu. Sebuah cahaya muncul dari tangannya, dan tangannya menyentuh tangan Aiden dan Eugene secara bersamaan.
Perlahan ingatan dan kenangan mulai mereka lihat di dalam alam bawah sadar mereka. Eugene dan Aiden terlihat terganggu dengan ingatan pahit dari masa lalu mereka.
" Entah apa yang mereka lihat dalam kenangan masa lalu mereka. Mereka terlihat begitu terganggu, apa itu kenangan menyakitkan untuk mereka ?" tanya Lucy sambil melihat Eugene dan Aiden yang terlihat tidak senang
Beberapa saat kemudian, Eugene dan Aiden kembali membuka mata mereka dan seolah tubuh mereka menjadi berat.
" Sudah selesai, saya sudah mentransfer kekuatan sihir saya pada kalian. Jadi, tolong gunakan kekuatan itu dengan bijak, artinya gunakan kekuatan sihir itu bila kalian dalam keadaan yang sangat terdesak " kata Lucy mengingatkan
" Baik, terimakasih. Jika kau menginginkan sesuatu datanglah ke istana Clarines, aku akan mengabulkan permintaan mu " kata Eugene serius
" Baiklah yang mulia " kata Lucy
" Kami akan pergi " kata Aiden pamit
" Baiklah, semoga kalian bisa menemukan gadis itu dan menyelamatkan nya " kata Lucy tulus
Aiden dan Eugene tersenyum dan mengangguk.
" Pangeran Aiden, datanglah kesini lagi lain kali saya akan menceritakan tentang ibumu " kata Lucy
" Aku akan datang lagi " kata Aiden
" Saya menunggu, semoga kalian selamat dan baik-baik saja " kata Lucy
Aiden dan Eugene keluar dari rumah Lucy. Dan mereka semua terkejut saat melihat rumah itu menghilang di hadapan mereka.
" Rumah nya .. rumahnya menghilang.." kata Ashton terkejut
" Wanita itu benar-benar bukan orang biasa " kata Peter takjub
" Yang mulia pangeran, yang mulia putra mahkota, terimakasih kalian sudah melakukan hal sejauh ini untuk menyelamatkan Abel, adik saya " kata Ethan
" Arabella juga berarti untukku, kau tidak usah berterimakasih " kata Aiden
Ashton dan Eugene kaget mendengar Aiden berkata seperti itu pada Ethan.
" Jadi,benar pangeran juga menyukai Abel? Kenapa juga aku memikirkan ini? kenapa aku marah jika ada seseorang yang menyukai Abel? belakangan ini aku kenapa? " batin Ashton sedih
" Aiden seperti nya serius, dia benar-benar menganggap Arabella penting untuknya. Sudah jelas kalau Aiden adalah rival ku " batin Eugene cemburu
" Meskipun aku tidak suka dengan Eugene, tapi demi Arabella mau tidak mau aku harus bekerja sama dengannya" batin Aiden
" Nampaknya Pangeran Aiden memang memiliki perasaan pada Abel, putra mahkota, bahkan Ashton juga meskipun dia belum yakin dengan perasaan nya. Mereka sampai melakukan hal berbahaya hanya untuk menyelamatkan Abel.. adikku itu sungguh beruntung, atau ini malah buruk untuknya? " batin Peter bingung
" baiklah, kita harus segera bergegas ke kerajaan Vanders " kata Eugene tegas
" Siap yang mulia!"
" Pangeran dan putra mahkota sampai meninggal kan pekerjaan mereka di istana hanya untuk Abel. Perasaan mereka pada Abel pasti tidak sederhana, apakah mereka berdua sama-sama menyukai Abel?" batin Ethan bertanya-tanya
***
Dominic melihat Arabella yang ketiduran di meja makan. Ia menggendong gadis itu dan menurunkan nya di ranjang, pria itu menyelimuti gadis itu dengan selimut hangat. Tanpa sadar, Dominic menatap nya dengan penuh kelembutan yang tak pernah ia perlihatkan pada gadis itu ketika gadis itu dalam keadaan sadar.
" Tidurlah yang nyenyak, domba kecil " kata Dominic
" Tidak.. jangan bunuh aku.. jangan bunuh aku lagi.. " kata Arabella bergumam sambil tidur
" Aku tidak akan membunuh mu, karena itu kau harus tidur nyenyak " kata Dominic serius menjawab Arabella
" aku ingin pulang.. ayah.. kakak.. aku tidak mau mati.. " Arabella menangis dalam tidur nya
Dominic mengusap air mata yang jatuh di pipi gadis itu.
" Kau boleh meminta apa saja, akan aku berikan. Tapi tolong jangan minta untuk pulang, karena aku tidak ingin kau pergi. " kata Dominic dengan wajah sedih
Dominic meninggalkan Arabella dengan sihir teleportasi nya ia kembali ke istana nya. Cane sudah ada di depannya.
" Yang mulia, akhirnya anda sudah datang. Saya bingung tadinya ingin menghubungi yang mulia " kata Cane terburu-buru
" Ada apa?" tanya Dominic
" Seorang pria bangsawan dari Clarines datang menemui anda " jawab Cane
" Malam-malam begini? sangat tidak sopan, suruh saja dia pulang " kata Dominic kesal
" Tapi yang mulia, bangsawan itu bilang kalau dia adalah ayah dari nona Arabella " kata Cane memberitahu
" Ayah si domba kecil itu? datang kesini?" batin Dominic
" Aku akan menemuinya " kata Dominic cepat
" Kalau soal urusan nona Arabella saja, yang mulia pasti akan bertindak cepat. Yang mulia akhir-akhir ini anda banyak berubah " batin Cane senang
Duke Reese dan salah satu pengawalnya menunggu di aula kerajaan Vanders, wajahnya terlihat tidak baik dan pucat.
" Jadi, dia adalah ayah si domba kecil?" tanya Dominic di dalam hatinya sambil melihat Duke Reese
" Dia terlihat masih muda, aku dengar dia sudah memenangkan banyak pertempuran. Tapi, tidak kusangka dia menjadi raja di usia yang sangat muda. Mungkin dia seumuran dengan Ethan, atau Peter. Wajahnya dingin dan tidak berekspresi .. sesuai dengan julukan nya sebagai raja iblis" batin Duke Reese menilai
Duke Reese dan pengawalnya memberi salam pada Dominic dengan sopan.
" Selamat malam yang mulia Raja Dominic, maafkan saya menganggu anda malam-malam seperti ini " kata Duke Reese
" Silahkan duduk " kata Dominic mempersilahkan
Duke Reese duduk di kursi yang sudah disiapkan Cane.
" Perkenalkan nama saya adalah Duke Herald De Reese, saya adalah ayah dari Arabella Naomi De Reese yang sedang disandera oleh anda yang mulia" kata Duke Reese
" Benar, putrimu memang berada di tangan ku..Duke " kata Dominic
" Tolong lepaskan putri saya, dia tidak bersalah dan tidak ada hubungannya dengan kerajaan Clarines. Saya akan memberikan apapun yang anda inginkan, asal yang mulia mau membebaskan putri saya " terang Duke Reese dengan raut wajah sedih
" Aku sudah bilang pada mereka ( Aiden dan Eugene ) tentang apa yang aku inginkan. Jika kau bisa memberikan itu, akan kubebaskan putrimu " kata Dominic tegas
" Maafkan saya yang mulia, jika anda berfikir menyendera putri saya akan membuat Pangeran dan putra mahkota mengabulkan keinginan anda, seperti nya anda salah. Putri saya bukanlah seseorang yang penting untuk mereka. Jadi, tidak akan ada gunanya.. putri saya juga bukan seorang putri kerajaan " kata Duke Reese membujuk
" Apa Duke ini tidak tahu ya? kalau kedua pria kerajaan dari Clarines itu menganggap nona Arabella sangat penting?" batin Cane heran
" Inilah sebabnya aku selalu melarang Abel dekat-dekat dengan keluarga kerajaan, aku takut Abel akan terlibat hal-hal yang berbahaya. Akhirnya yang aku takutkan terjadi juga " batin Duke Reese cemas
" Haha.. tuan duke, apa kau berfikir begitu? kau berfikir bahwa putrimu tidak berharga untuk Clarines? Pangeran dan putra mahkota Clarines, sampai mencari cara untuk menghancurkan ku dan ingin berperang denganku, hanya demi menyelamatkan putrimu. Sudah jelas bahwa putrimu sangat penting dan berharga untuk mereka. " Dominic tertawa
" Pangeran dan putra mahkota sampai melakukan itu? kenapa aku tidak tahu ? bukankah raja sudah melarang perang?" batin Duke Reese kaget
" Sa.. saya tidak tahu pangeran dan putra mahkota akan melakukan itu untuk putri saya. Tidak mungkin..." Duke Reese tak percaya
" melihat ekspresi wajahnya, dia tidak sedang berbohong " batin Dominic
" Tuan duke, apapun yang kau berikan padaku, aku tidak akan melepaskan putrimu. Sebelum kerajaan Clarines menyetujui syarat ku " kata Dominic dengan tatapan tajam
"Bagaimana ini? Aku sudah memohon kepada raja untuk menyelamatkan Abel, tapi para bangsawan menentang keputusan untuk menyerahkan wilayah itu kepada Vanders." batin Duke Reese cemas
Setelah Duke Reese, memohon untuk waktu yang lama, dan Dominic tidak menyetujui nya. Akhirnya Duke Reese pun menyerah dan ia berkata dalam hatinya bahwa ia akan bergantung kepada Pangeran dan putra mahkota untuk menyelamatkan putrinya itu. Karena ia tahu bahwa Dominic, akan melakukan segara cara untuk mendapatkan apa yang ia mau
" Baik, saya tidak akan memohon lagi pada anda jika yang mulia bersikeras tetap seperti itu. Tapi, izinkan saya bertemu dengan putri saya. Yang mulia Raja, tidak keberatan kan kalau saya meminta hal ini?" kata Duke Reese berharap
" Setidaknya aku harus memastikan Abel baik-baik saja sekarang. Dengan begitu hatiku akan tenang " batin Duke Reese
" Bertemu? jika mereka bertemu ada kemungkinan dia akan meminta untuk pergi lagi, atau mungkin Duke akan membawanya pergi. Tidak.. tidak bisa " batin Dominic resah
" Kau tidak bisa bertemu dengannya !" seru Dominic melarang
" Yang mulia hamba mohon, saya hanya ingin tau keadaan Abel baik-baik saja atau tidak, perasaan saya tidak tenang " kata Duke Reese sambil berlutut memohon
Dominic menghela napas lalu ia melakukan sihir nya di cermin. Di cermin itu terlihat Arabella yang sedang tertidur pulas. Duke Reese menangis melihat Arabella berada di cermin itu.
" Abel.. anakku ... " kata Duke Reese sambil menangis
" Kau sudah melihatnya bukan? putrimu baik-baik saja, aku tidak akan menyakiti nya " kata Dominic dingin
" Yang mulia, anda harus berjanji pada saya jangan pernah menyakiti putri saya. Saya mohon " kata Duke Reese
" Baik, lebih baik kau segera pergi duke. " kara Dominic
" Setidaknya Abel baik-baik saja disini, syukurlah raja iblis ini tidak membunuhnya. Aku tinggal menunggu pangeran dan putra mahkota akan menyelamatkan nya. Aku tidak boleh gegabah " kata Duke Reese dalam hatinya
" Hati saya sudah tenang melihat putri saya baik-baik saja, saya bisa kembali dengan tenang " kata Duke Reese sambil tersenyum di wajahnya yang pucat itu
" Dia adalah seorang ayah yang lembut, pantas saja si domba kecil itu sangat menyayangi ayahnya " batin Dominic
" Cane, antar tuan duke ke tempat peristirahatan terbaik di Vanders !" seru Dominic
" Tidak perlu yang mulia raja, saya harus segera kembali ke Clarines " kata Duke Reese
" Baiklah, Cane antar tuan duke sampai ke Clarines dengan selamat " kata Dominic tegas
" Kenapa dia melakukan ini? dia terlihat tidak buruk, tidak seperti rumornya " batin Duke Reese heran melihat sikap Dominic yang agak ramah padanya.
" Terimakasih yang mulia Raja, saya titipkan putri saya " kata Duke Reese
" Meskipun aku tidak suka Arabella berada disini dan dijadikan alat untuk mencapai tujuan raja Tiran ini, namun setidaknya aku bisa sedikit mempercayai nya karena ia tak menyakiti Abel dan Abel baik-baik saja. Itu sudah cukup untukku " batin Duke Reese merasa sedikit lega
" Baik, aku kan sudah berjanji. " jawab Dominic dingin
" Tentu saja aku akan menjaganya " batin Dominic
***
Keesokan harinya, Aiden, Eugene dan prajurit yang mereka bawa sampai di bagian utara Vanders yang bersalju.
" Ini tempatnya? yang di maksud nyonya Lucy itu?" tanya Eugene sambil melihat-lihat.
" Seperti nya benar, katanya tempat itu tidak terlihat oleh orang biasa. Kita mungkin bisa memakai sihir ini untuk menemukannya " kata Aiden
" Yang mulia ! tolong hati-hati! ada mahluk aneh disini !" teriak Ashton panik
Aiden, Eugene dan para rombongan yang ikut itu terkejut saat melihat 3 monster yang sedang memakan manusia yang sudah mati. Ketiga monster itu menyerang semua prajurit dan seperti ingin melahap mereka.
" Tidak peduli makhluk apa ini, kita harus membunuhnya. Mereka berbahaya !" seru Ethan sambil bertarung dengan salah satu monster nya.
" Aku .. INGIN MAKAN !!" seru monster itu sambil menunjukkan gigi taringnya yang penuh dengan darah
" Mereka terlihat seperti manusia, tapi mereka makan manusia. Mahluk apa mereka?" batin Eugene kaget
" ini saat nya menggunakan sihir kita !" seru Aiden
Aiden dan Eugene memasukkan sihir mereka kedalam pedang dan menyerang monster-monster itu, dan Aiden menebas salah satu leher Monster itu.
" Putra Mahkota, tebas leher nya ! makhluk ini akan mati kalau di tebas lehernya !" seru Aiden
" Baik ,kakak !" seru Eugene
Setelah pertarungan dengan ketiga monster itu. Mereka semua beristirahat dan membangun camp disana.
" Yang mulia, apa ini akan baik-baik saja ?" tanya Ethan
" Apa nya?" tanya Eugene
" Kita membuat kemah dan beristirahat disini, bukankah ini berbahaya jika makhluk itu kembali?" tanya Ethan
" Tenang saja, aku dan kakak ku sudah melindungi tempat ini dengan sihir perlindungan " jawab Eugene
" Sihir ini sangat berguna disaat-saat genting " batin Eugene lega
Aiden, Eugene dan semua orang di rombongannya, membicarakan tentang makhluk yang menyerang mereka.
Awalnya mereka mengira bahwa keberadaan makhluk itu hanyalah mitos, dan sekarang mereka yakin bahwa makhluk itu adalah monster yang sering disebutkan para orang tua mereka pada zaman dulu. Dan monster itu sudah hidup selama berabad-abad di bagian utara Vanders, oleh sebab itu mereka tidak melihat ada penduduk yang tinggal disana. Monster itu dapat bertahan dan memperoleh banyak kekuatan dengan memakan daging dan darah manusia, monster-monster itu dapat dikalahkan ketika kepala nya di penggal atau dipisahkan dari tubuhnya.
Aiden sedang duduk dan ia melihat gelang pemberian Arabella kepadanya.
" Kau baik-baik saja kan? apa yang sedang kau lakukan sekarang? aku merindukan mu.. Naomi ..Jika kita bertemu, aku akan langsung mengatakan semuanya padamu. Aku tidak akan menunda nunda nya lagi, aku tidak mau menyesal. Karena itu, tunggulah aku ..Banyak yang harus aku katakan padamu.. kau harus mendengarkan ku .." batin Aiden sambil mencium gelang yang ada di tangannya. Hatinya sangat sedih karena merindukan gadis yang ia cintai.
Lorenzo dan Demian terlihat sedih melihat Aiden yang sedang galau memikirkan Arabella.
" Lorenzo, apakah nona Arabella akan baik-baik saja?" tanya Demian
" Dia pasti akan baik-baik saja, kenapa kau menanyakan seolah-olah kalau akan terjadi sesuatu pada nya?" tanya Lorenzo kesal
" Tidak.. aku hanya khawatir. Karena aku dengar kalau nona Arabella ditawan oleh raja tiran yang kejam, aku hanya takut nona Arabella akan di lukai oleh nya. Kasihan dia, dengan tubuhnya yang kecil seperti itu.. di usianya yang muda.. dia harus.. " Demian menangis dan wajahnya memelas
" Kau ini memang harus dihajar ya ! jangan bicara yang tidak tidak deh ! kau ingin yang mulia mendengar nya? dia sudah sangat sedih dan gelisah, kita jangan membuatnya tambah sedih lagi " kata Lorenzo sambil memukul kepala Demian
" Iya iya baiklah, aku hanya khawatir " kata Demian sambil memegang kepalanya
" Kita harus yakin kalau nona Arabella baik-baik saja disana, dan kita akan segera menemukannya. Jika tidak, mungkin yang mulia akan bersedih terus dan merasa bersalah" kata Lorenzo sedih
" Kau benar, nona Arabella akan baik-baik saja. Kalau tidak beberapa pria disini akan sedih " kata Demian
" Siapa maksud mu beberapa pria itu?" tanya Lorenzo tak mengerti
" Mereka.. sama sedihnya seperti pangeran " jawab Demian sambil melirik ke arah Ashton yang tidak bersemangat, Eugene yang sedang melamun, Felix yang tidak fokus, Ethan dan Peter yang terlihat sedih.
" Benar juga. Mereka sama sedihnya seperti yang mulia " kata Lorenzo setuju
Aiden berjalan jalan di sekitar salju yang dingin itu sendirian, berusaha mencari cara untuk menemukan tempat tersembunyi itu. Tapi, ia tak melihat apa-apa disana, yang ia lihat hanyalah gurun salju yang kosong melompong.
***
Menara Gionda
Atas permintaan Arabella, Wen membawa gadis itu berjalan-jalan di taman.
" Nona, anda sudah berjanji jangan pergi jauh-jauh. Hanya di taman ini saja " kata Wen mengingatkan
" Untuk seorang pria seperti mu, kau sangat cerewet ya " kata Arabella kesal
" Nona ! saya cerewet seperti ini karena ini menyangkut nyawa saja, untung saja kemarin Yang mulia Raja masih mengampuni nyawa saya. Tolong ya , nona jangan buat saya mati muda " kata Wen sebal
" Baiklah, aku hanya akan berjalan-jalan di sekitar sini. Lagi pula aku juga takut pada monster-monster itu. " kata Arabella menenangkan
" Nona janji ya?" tanya Wen
" Iya, aku janji. Kau bisa mengawasi ku kalau tidak percaya " jawab Arabella santai
" ya, nona saya akan duduk disini. " kata Wen patuh
Wen duduk di rerumputan itu sambil mengawasi Arabella yang sedang melihat-lihat bunga. Arabella sangat terkejut saat ia memandangi ke gurun salju, ia melihat sosok yang tidak asing tak jauh dari tempatnya berdiri.
" Apa ini mimpi? apa itu kau yang mulia?" batin Arabella merasa sedih
Arabella berjalan mendekati Aiden, Aiden berdiri di samping Arabella tapi Aiden terlihat seolah tak melihatnya.
" Apa dia tidak melihatku? Pangeran ! aku disini ! pangeran.. ini aku.. tolong .. Pangeran Aiden .." Arabella memanggil manggil Aiden
Aiden menoleh sedikit merasa seperti ada yang memanggilnya. Arabella bergerak lebih maju untuk mendekati Aiden, namun tubuhnya terpental seolah tersengat listrik karena peringatan telah melewati pelindung yang dibuat oleh Dominic. Wen yang melihat itu segera menghampiri Arabella.
" Nona ! apa yang nona lakukan?" tanya Wen heran
" Yang mulia pangeran.. kenapa kau tidak bisa melihatku. Aku ada disini.. " kata Arabella sambil menangis melihat Aiden yang ada dihadapan nya tapi tak bisa melihatnya.
" Naomi.. kau ada dimana ?" batin Aiden sedih
" Pangeran Aiden, aku disini. Aku di depanmu.. " kata Arabella yang berharap untuk terlihat oleh Aiden
" Kenapa dia tidak bisa melihatku? apa karena sihir pelindung ini?" batin Arabella berfikir
" Aneh, kenapa aku merasakan kalau Naomi ada di sekitar sini?" batin Aiden sambil memegang dadanya
Tangan Aiden menyentuh sihir pelindung, bersamaan dengan itu, Arabella juga menyentuh sihir pelindung. Mereka saling menatap satu sama lain, tapi Aiden tak menyadari nya bahwa gadis yang ia cari itu ada di hadapan nya namun ia tak bisa melihatnya.
" Aku ada di depanmu yang mulia, aku disini.. aku merindukanmu..." kata Arabella sedih
" Aku merasakan sihir disini, apa ini tempatnya? tempat yang tak terlihat itu? " batin Aiden kaget karena tangannya merasakan sengatan listrik ketika berdekatan dengan pohon yang menjadi penanda sihir pelindung milik Dominic.
Aiden berusaha menggunakan sihirnya untuk mengetes apakah tempat itu benar sihir pelindung atau tidak. Dan benar saja, tubuh Aiden terpental saat menggunakan sihirnya disitu.
Arabella terkejut melihatnya, karena Aiden bisa menggunakan sihir.
" Pangeran Aiden.. dia bisa menggunakan sihir " batin Arabella
" Naomi.. pasti ada disini..sihir ini pasti sihir yang melindungi tempat misterius itu " batin Aiden yakin
Aiden berlari dan berniat memberi tahu Eugene dan yang lainnya bahwa ia menemukan tempat tersembunyi itu dan menemukan sihir pelindung nya. Arabella sedih melihat Aiden pergi begitu saja, karena ia berfikir Aiden meninggalkannya.
" Jangan pergi ! pangeran Aiden ! aku disini !" seru Arabella berteriak
" Nona ,mari kita kembali ! " seru Wen
" bisa gawat urusannya, kalau yang mulia sampai tahu " batin Wen panik
" Tidak ! aku mau disini !" seru Arabella kesal
" aku akan menunggunya.. aku akan menunggu pangeran " kata Arabella dalam hatinya
Sebuah cahaya tiba-tiba muncul di dekat Arabella, dan cahaya itu berasal dari sihir teleportasi yang digunakan Dominic.
" Aku merasakan ada yang menyentuh sihir pelindung ku, apa itu kau?" tanya Dominic pada Arabella
" Iya itu aku, tolong buka sihir pelindung nya.. " kata Arabella sambil menangis
" Kenapa dia menangis? dan sekarang dia mulai berbicara tidak formal padaku" batin Dominic heran
" Kenapa aku meminta hal yang tidak masuk akal dariku? " tanya Dominic kesal
" Kau bilang semalam, kalau aku bisa minta apa saja selama berada diistana ini. Sekarang aku mau minta sesuatu darimu, lepaskan sihir pelindung nya ! aku ingin pergi !" seru Arabella setengah berteriak
Hati Dominic sangat terkejut mendengar permintaan gadis itu, inilah hal yang tidak ingin raja tiran itu dengar darinya.
" DIAM !!!" teriak Dominic
" Yang mulia, mohon tenang !" seru Wen berusaha meredakan amarah raja nya itu
" Aku tidak pernah melihat yang mulia seperti ini. Dia selalu menyingkirkan wanita yang mendekati nya , tapi nona Arabella mungkin berbeda untuk nya, ia tidak ingin nona Arabella pergi dan ingin nona Arabella selalu di dekatnya. Yang mulia.. mungkinkah dia.. pada nona Arabella... " Batin Wen berfikir
Dominic menggendong gadis itu dengan paksa dan penuh kemarahan.
" Lepaskan aku .. yang mulia penjahat.. tiran.. psikopat !! Aku ingin pergi ! aku mau pulang !" seru Arabella kesal
Arabella berusaha memberontak pada Dominic dengan memukulnya. Tapi, Dominic diam saja seolah tak merasakan apapun.
" Apa aku pernah bilang kau boleh pergi?" tanya Dominic
" Kau sudah berjanji kan ! kau janji akan mengabulkan permintaan ku, semalam kau bersikap baik padaku.." kata Arabella sambil menangis
" Aku bisa mengabulkan semua permintaan mu, selama kau tidak meminta pergi dari sini !" seru Dominic tegas
Dominic menggunakan kekuatan sihirnya lagi untuk menguatkan sihir pelindung nya, ia kembali mengurung Arabella di kamarnya. Arabella duduk
" Kau.. kau.. " Arabella menangis
" Berhenti menangis, atau aku akan membunuh mu !" seru Dominic mengancam
" Kalau begitu kenapa kau tidak membunuhku?" tanya Arabella
" Apa ? Apa kau bilang? berani nya !" Dominic mencekik Arabella dengan penuh kemarahan
" Jika kau berniat membunuhku, aku mungkin sudah mati sejak lama. Lalu kenapa kau tidak membunuhku?" tanya Arabella heran
Dominic melepaskan tangannya dari leher Arabella dan wajahnya terlihat kebingungan.
" Kenapa aku tidak membunuh mu? benar, seharusnya aku membunuh mu sejak awal, jika aku membunuh mu sejak awal aku tidak akan merasakan perasaan aneh ini dan terganggu oleh seorang wanita seperti mu " batin Dominic
***
Di tempat peristirahatan, Aiden memberitahu semua orang bahwa ia menemukan sihir pelindung tempat misterius dan ia yakin bahwa Arabella ada disana.