
Aiden tercengang dengan apa yang baru saja ia dengar dari Arabella tentang ibu nya yang tidak meninggal bunuh diri.
" Sudah kuduga ada yang kau sembunyikan dariku, tentang penculikan kemarin juga. Apa ini berkaitan dengan kematian ibu ku?" tanya Aiden tajam
" Apa yang aku katakan? semuanya sudah terlanjur, aku sudah mengatakannya. Aku akan membuat Aiden dalam bahaya" batin Arabella resah
" Naomi, jelaskan padaku ! apa maksud perkataan mu barusan? kau tau sesuatu kan?" tanya Aiden serius
" Aku tau kalau mendiang ibumu tidak meninggal karena bunuh diri " jawab Arabella
" Apa maksud mu kalau ada orang yang membunuh ibuku?" tanya Aiden tegas
" tidak pernah aku lihat tatapan nya setegas dan setajam ini. Apa dia pangeran Aiden yang ku kenal?" batin Arabella resah
" Iya itu benar, ibu yang mulia tidak bunuh diri " jawab Arabella gugup
" Kau tau dari siapa? " tanya Aiden antusias
" Aku harus jawab apa, ini salah ku karena mengatakan kebenaran ini padanya. Semoga saja ancaman ratu dan Count Oscar tidak terjadi, ya jika mereka tidak tau tidak akan apa apa " batin Arabella tenang
" Sebenarnya..
BUKK
Lalu tak sengaja seseorang menabrak Arabella dan Aiden yang sedang berjalan dengan keretanya. Aiden melindungi Arabella yang hampir terjatuh ke tanah.
" Kau bisa hati hati tidak?!!" kata Aiden marah pada orang yang membawa kereta
" Maafkan saya tuan nona, saya merasa harus menyingkirkan halangan yang ada di depan saya, sebaiknya kalian yang harus berhati-hati " kata si kusir kereta ketus
Kusir kereta itu menatap Arabella dengan tajam sambil tersenyum tipis. Kusir kereta itu pergi begitu saja.
" Hey kau ! bukannya minta maaf malah bicara sembarangan ! kemari kau !" Aiden kesal
Si kusir itu mengabaikan Aiden dan Arabella.
" Pria itu, dia adalah .. aku yakin pernah melihatnya. Dia adalah orang yang aku lihat di kediaman Collete.. dia asisten Count Oscar " batin Arabella panik
" Naomi, kau baik baik saja? apa kau terluka?" tanya Aiden cemas
" Aku baik baik saja, kau yang terluka. Tangan ku berdarah " kata Arabella sambil melihat tangan kiri Aiden tergores dan berdarah
" Ini hanya tergores biasa " kata Aiden santai
" Ini salahku, dia terluka karena ku. Aku sudah melibatkannya, seharusnya aku tidak bilang apa apa soal ini. Beraninya dia memata matai ku, sejak kapan?" batin Arabella tercengang
" Aku tau ada yang aneh denganmu sejak penculikan itu, dan sekarang kau terlihat ketakutan. Apa yang kau sembunyikan ?" batin Aiden heran
" Naomi, kau kenapa? kau baik baik saja ?" tanya Aiden cemas
Aiden memegang tangan Arabella yang gemetaran karena ketakutan. Mata gadis itu penuh ketegangan juga terlihat terpana akan sesuatu.
" Naomi!! kau dengar aku?" tanya Aiden panik
Arabella tenggelam dalam lamunannya dan tak Mendengarkan Aiden.
" Dadaku sesak sekali, ingatan masa lalu itu teringat kembali. Aku.. kehidupanku yang sekarang, sudah berbeda aku tidak akan kembali ke masa masa itu. Aku akan hidup, aku tidak akan mati di tangannya. Tidak akan, aku harus tenang di depan Aiden " suara batin Arabella penuh kesedihan
" Yang mulia, aku akan mengobati luka mu " kata Arabella mulai tenang
Di mansion Reese, Arabella mengobati luka di tangan Aiden. Pria itu terus menatapnya penuh kecurigaan, kecemasan dan keheranan bercampur aduk sekarang.
" Ada apa Naomi?" Aiden berbicara dengan nada yang serius
" Ada apa, apanya yang mulia?" tanya Arabella
" Tadi kau gemetaran, dan kau juga belum melanjutkan pembicaraan kita. " kata Aiden tegas
" Dia pasti sudah curiga padaku, dan keheranan melihatku seperti ini. Aku harus mengalihkan perhatian nya dulu " batin Arabella berpikir
" kita bicarakan ketika yang mulia sudah menjalankan tes dari kak Ethan dan Kak Peter. " kata Arabella tegas
" Aku penasaran, jadi katakan sekarang " ujar Aiden
" Itu.. aku .."
BRAK
Pintu kediaman Reese terbuka oleh seseorang.
" Yang mulia ternyata kau disini? kami sudah menunggumu di lapangan panah " kata Peter
" Tidak akan kubiarkan kalian berduaan ya " batin Peter jengkel
" syukurlah aku selamat, kali ini aku harus berterimakasih pada kakak " batin Arabella lega
" Padahal ini belum sore " batin Aiden
" Ayo yang mulia, anda masih berniat untuk menikahi adik saya atau tidak sih?" tanya Peter kesal
" Baiklah, Naomi ayo kau juga ikut " kata Aiden
" Iya yang mulia " kata Arabella patuh
" Sudah lah, setelah pertandingan nya aku bisa bertanya pada Naomi. Aku simpan dulu saja pertanyaan ini " batin Aiden
" Maaf yang mulia, tapi itu ancaman nya. Aku tidak bisa memberitahu mu semuanya. " batin Arabella merasa bersalah
***
Di lapangan panahan, semua orang berkumpul disana untuk menyaksikan pertandingan memanah Aiden dan Peter. Pertandingan itu berlangsung sengit dan dimenangkan oleh Aiden dengan poin yang beda tipis.
PROK PROK PROK
" Yang mulia pangeran benar-benar pemanah yang handal " kata Aida kagum
" Nona Arabella beruntung sekali ya " kata Anna
" Hehe, iya aku sangat beruntung " kata Arabella sambil melihat Aiden tersenyum ke arahnya.
" Kyaa.. pangeran sangat keren !" kata para gadis bangsawan yang lainnya
" Seandainya aku bisa jadi istrinya .." gumam salah satu gadis bangsawan
" Calon duke muda Peter juga tak kalah keren kok" gumam gadis bangsawan lainnya
" teriakan para gadis itu membuat kuping ku panas, tapi biarkanlah. Toh, pangeran Aiden hanya milikku " batin Arabella santai
Aida, Megan, dan Camille memarahi para gadis bangsawan yang berbicara tentang Aiden dan Peter.
" Hey kalian jaga mulut kalian ya! " seru Aida gemas
" Kalian ingat baik baik, yang mulia pangeran Aiden adalah milik nona Arabella ! tidak bisa diganggu gugat!" seru Megan tegas
" Itu benar ! nona Arabella adalah calon adik ipar ku, tidak bisa diganggu gugat !" seru Camille tegas
" Haa.. adik ipar?" tanya Megan, Aida, Arabella, Anna, Lily yang kaget mendengarnya
" Ya ampun aku salah bicara " batin Camille
Camille hanya menjawab dengan senyuman polosnya dan berkata " maksud ku, kakak ipar ku hehe "
Para gadis itu tertawa dengan gembira. Sementara Aiden, Peter dan Ethan sedang berada di tengah lapangan.
" bagaimana? mau lanjut lagi? " tanya Aiden menantang
" Baiklah baiklah, tidak usah. Saya akui yang mulia memang hebat " kata Peter memuji
" Jadi berapa poin saya? " tanya Aiden
" Ehem.. karena nilainya sempurna, aku beri 10 poin " kata Ethan menilai
" Ya ampun seperti biasanya ya kakak memang pelit, kali ini aku berikan 20 poin " kata Peter senang
" Jadi totalnya berapa lagi supaya jadi seratus?" tanya Aiden
Peter dan Ethan sibuk menghitung dan berfikir.
" secara keseluruhan yang mulia baru dapat 48 poin, masih ada 3 pertandingan lagi. Yang mulia harus menang dalam 3 pertandingan ini dengan sempurna barulah dapat 100 dari kami " terang Peter
" Setuju " kata Aiden santai
Round 2
Ethan vs Aiden
" Baiklah, para hadirin sekalian ! ini lah pertandingan berikutnya. Sparing antara pangeran Aiden dengan Sir Ethan dari white knight " kata Demian berteriak
Semua orang disana sangat antusias menyaksikan pertandingan itu.
Arabella menghampiri Aiden yang sedang duduk di tenda istirahat.
" Ini minumlah " kata Arabella sambil menyerahkan botol air pada Aiden
" Terimakasih.. Naomi.." Aiden meneguk air minum di dalam botol itu
" Apa yang mulia baik baik saja? apa ada sesuatu yang kau butuhkan?" tanya Arabella
" Ada. Aku butuh semangat, aku kekurangan semangat " jawab Aiden sambil tersenyum
" Semangat? jadi aku harus melakukan apa lagi? aku sudah memberikan semua dukungan ku pada mu " kata Arabella polos
" bukan dukungan semangat seperti itu, tapi isi ulang " kata Aiden sambil menunjuk ke pipinya
" Apa maksudnya?" tanya Arabella polos
" Cepat, sebentar lagi mau mulai! " kata Aiden sambil menunggu sesuatu
Dengan cepat Arabella mencium pipi Aiden karena takut akan dilihat orang.
CUP
Aiden tersenyum ceria dan memegang pipi nya yang habis mendapat kecupan dari kekasihnya itu, wajahnya merona, hatinya pun gembira.
" Apa sudah terisi kembali?" tanya Arabella sambil tersenyum
" dasar pria ini.. semakin lama dia semakin agresif " batin Arabella senang
***
Kediaman Collete..
Kusir yang tadi ditemui Arabella dan Aiden di kota memang benar adalah mata-mata yang dikirim Count Oscar untuk memata matai Arabella. Kusir itu melaporkan bahwa Arabella hendak mengatakan kebenaran tentang Canaria pada Aiden tapi, kusir itu berhasil menghalangi nya dan mengancamnya.
" Kurang ajar ! gadis itu tidak bisa menepati janjinya ! aku harus bertindak dan memberitahu yang mulia ratu tentang ini, dia tidak bisa dibiarkan !" seru Count Oscar marah
" Tuan Count, bukan kah seharusnya kita tenang saja. Karena dia kan tidak punya bukti nya " kata George ( orang kepercayaan Count Oscar )
" Meskipun benar begitu, tapi pangeran Aiden pasti akan mempercayai kata-kata nya. Kita harus ambil tindakan pencegahan ! " kata Count Oscar marah
***
Sementara itu Duke Reese sedang berbicara dengan raja di ruang kerjanya.
" Saya sudah menyelesaikan semua masalah di pusat kota, tentang korupsi itu. " kata Duke Reese sambil memberikan sebuah berkas pada Raja
" Bagus lah, kau bekerja dengan baik Duke Reese. " kata Raja
" Kalau begitu saya permisi dulu " kata Duke Reese sopan
" Tunggu tuan Duke, mari kita lakukan pertunangan putri mu dan pangeran Aiden besok. " kata Raja tiba-tiba
" yang mulia Raja...kenapa anda tiba-tiba ?" kata Duke Reese kaget
" Tenang saja, undangan nya sudah ku sebar. Aku juga sudah menyuruh orang untuk mempersiapkan segalanya " terang Raja
" Yang mulia raja, ini mengagetkan saya.. " kata Duke Reese masih kaget
" Maafkan aku tidak berdiskusi dulu denganmu. Ini salahku yang tidak sabar untuk melihat pertunangan pangeran Aiden dan nona Arabella. Apa kau keberatan dengan keputusanku? " kata Raja
" Tentu saja tidak, saya hanya merasa ini terlalu cepat. Saya berterimakasih atas kemudahan hati yang mulia, saya akan segera mempersiapkan putri saya untuk acara besok " kata Duke Reese
" Sebaiknya aku segera mempersiapkan nya, terutama Abel..Dia harus bersiap-siap. Tapi, kenapa yang mulia raja tiba-tiba memajukan pertunangannya ya?" batin Duke Reese berfikir
***
Di Vanders..
Dominic menerima undangan pertunangan dari istana Clarines. Dominic terlihat muram dan sedih, Cane melihat raja nya itu bersedih.
" Yang mulia raja terlihat tidak baik, seharusnya aku tidak memberitahu nya tentang undangan itu " batin Cane merasa bersalah
" Mereka akan bertunangan? setelah itu mereka akan menikah bukan? kenapa dada ku rasa nya sesak sekali, ada apa denganku? kenapa aku masih tidak senang? padahal harusnya aku bahagia karena dia bahagia bukan? bodoh, hatiku seperti nya belum ikhlas " batin Dominic sedih dan patah hati
" Kapan acaranya ?" tanya Dominic
" Ya? apa yang mulia akan datang?" tanya Cane kaget
" Tentu saja aku harus memberi selamat " jawab Dominic datar
" Besok sore di Clarines yang mulia " jawab Cane
" Melihat raut wajah yang mulia saat ini, dia pasti belum bisa melupakan nona Arabella " batin Cane ikut sedih
" Baiklah, Cane kosongkan semua jadwalku hari ini sampai besok. Aku harus menyiapkan hadiah pertunangan untuk mereka " kata Dominic tegas
" Siap, yang mulia " kata Cane patuh
Bukan hanya Dominic saja yang patah hati dan terbakar api cemburu ketika menerima undangan pertunangan Aiden dan Arrabella. Tapi, seorang wanita di kerajaan Monique juga terbakar api cemburu dan dia adalah Ariana.
" Yang mulia, ada undangan dari kerajaan Clarines untuk yang mulia " kata salah satu pengawal kerajaan Monique
Ariana mengambil surat undangan itu dan kaget saat membacanya.
" APA?? pangeran tampan ku akan bertunangan dengan putri Duke itu? " kata Ariana sambil berteriak kaget. " Tidak bisa begitu !" Ariana merobek surat undangan itu dengan kesal tapi karena kertas undangan nya tebal, ia kesulitan merobeknya
" Kenapa susah sekali merobek nya?! menyebalkan ! " gumam Ariana kesal sendiri
****
.
Bahkan di istana putra mahkota, terjadi kegaduhan.
Eugene terlihat marah-marah sepanjang hari itu dan suasana hatinya sangat buruk. Claire sakit hati karena Eugene selalu memikirkan Arabella bahkan disaat gadis itu akan bertunangan dengan kakak tirinya.
" Bertunangan? haa.. " gumam Eugene kesal
" Seharusnya anda memberi selamat bukannya marah-marah seperti ini kan?" tanya Claire heran
" Bagaimana bisa aku memberi selamat pada mereka? sedangkan gadis yang aku cintai akan bertunangan dengan orang lain, haruskah aku memberi selamat?" tanya Eugene sinis
" tidak bisakah yang mulia melihat kenyataan? menerima kenyataan? dia bahkan tidak pernah melihatmu, kenapa kau terus memaksakan perasaan mu padanya? dia bukan ditakdirkan untukmu !" seru Claire tegas
" Jadi apa menurutmu aku ditakdirkan untuk siapa ? untukmu? jangan konyol ! kau yang membuat rencana ini seolah olah ini takdir, jangan kira aku tidak tau kau bekerja sama dengan ibuku untuk menjebak ku !" seru Eugene sambil mendorong Claire hingga jatuh ke lantai
" Saya tidak melakukan itu !" seru Claire menyangkal
" Jangan berpura pura lagi, aku tidak bodoh !" seru Eugene
" Ya ! saya memang melakukannya ! yang mulia tau kenapa ? itu karena saya mencintai anda, saya tulus !" seru Claire sambil menangis
" Cinta ? apa itu yang namanya cinta? memaksakan kehendak pada seseorang yang tidak mencintaimu sama sekali apa itu cinta?" tanya Eugene sinis
" Selama ini aku selalu melakukan hal hal yang baik untukmu, memperhatikan mu, kapan kau akan melihatku sebagai seorang wanita. Kapan kau akan mencintaiku dan melupakan wanita itu?" batin Claire sakit hati
***
Setelah tes nya selesai semua, malam itu Peter dan Ethan mengatakan bahwa Aiden telah lulus ujian.
" Kami tidak menyangka akan menyerahkan adik kami yang sangat berharga pada yang mulia " kata Peter
" Kalian tenang saja, aku tidak akan pernah menyakitinya dan aku akan selalu menjaganya " kata Aiden tegas
" Karena cinta dan rasa sayang ku pada nya bukan lah hitungan hari, minggu atau bulan. Tapi, bertahun-tahun.. di kehidupan yang dulu dan kehidupan sekarang aku tetap mencintainya, itu tidak pernah berkurang " batin Aiden tulus
" kami percaya pada yang mulia " kata Ethan ramah
" Selamat yang mulia pangeran " kata Lorenzo dan Demian ikut senang
Aiden tersenyum berseri seri.
" Bagaimana kalau kita merayakan nya dengan minum minum malam ini?" tanya Peter
" Saya setuju " kata Demian semangat
" yang mulia pangeran, anda tidak boleh menolak ya. " kata Ethan tegas
" Tapi sebenarnya aku.. " Aiden ragu
" Tadinya aku ingin bicara dengan Naomi tentang hal tadi siang. Seperti nya itu adalah hal yang penting menyangkut ibuku. Tapi, aku juga tidak bisa menolak ajakan Sir Ethan dan tuan Peter " batin Aiden bingung
" Ayolah yang mulia, jangan menolak ajakan dari calon kakak ipar anda. " bisik Semua membujuk
" Ah baiklah, kalian tunggu sebentar. Aku akan menemui Naomi dulu " kata Aiden
" Yang mulia, adik saya sudah pulang bersama Felix. Karena ini sudah malam, anda tidak usah cemas " kata Peter menenangkan
" Baiklah, mari kita minum minum." kata Aiden akhirnya
" Tidak disangka pangeran yang dulunya dingin, bisa juga ramah dan hangat seperti ini. Dia bahkan menjadi budak cinta nya Abel " batin Peter
Aiden, Lorenzo, Demian, Peter dan Ethan pergi ke sebuah kedai untuk minum minum malam itu.
***
Di mansion Reese..
Arabella sudah sampai di rumahnya, gadis itu merasa bersalah karena telah menghindari Aiden dengan sengaja pulang lebih dulu.
" Maafkan aku yang mulia, tapi jika aku mengatakan lebih lanjut kau akan terlibat dan berada dalam bahaya. Sementara ini aku akan merahasiakan nya " gumam Arabella
Layla datang dengan wajah ramah, membawa teh dan cemilan untuk Arabella.
" Nona, sudah pulang. Ini saya bawakan cemilan untuk nona. " kata Layla
" Iya, terimakasih Layla " jawab Arabella sambil meneguk teh nya. " Ini sangat enak "
" Tidak seenak teh buatan nona " kata Layla ramah
" Besok pergilah ambil cuti, Layla " kata Arabella
" Ke..kenapa nona ?" tanya Layla kaget
" Apa dia sudah tau?" batin Layla tercengang
" Besok kan hari pertunangan ku, tentu saja kau harus mengambil cuti. Dan bibi Daisy juga, aku ingin kalian datang ke pesta pertunangan ku " kata Arabella senang
" Apa? saya hanya seorang pelayan nona, mana bisa saya menghadiri pesta pertunangan nona dan pangeran " kata Layla heran
" Itu benar nona, kami tidak pantas menghadiri acara pertunangan nona " kata Daisy yang tiba-tiba sudah muncul di depan nona nya itu
" Kalian ini kenapa masih bicara begitu, kalian sudah seperti keluargaku sendiri. Mana bisa kalian tidak bisa hadir di acara pertunangan ku, terlebih lagi bibi Daisy, kau sudah mengurus ku sejak kecil, kau sudah seperti ibu ku " kata Arabella tulus
" Nona.. " Daisy menangis
" Eh, kenapa kau menangis?" tanya Arabella cemas
" Saya tidak menyangka kalau nona akan bertunangan besok setelah itu nona akan menikah, lalu nona akan segera meninggalkan mansion ini.. saya akan sangat merindukan nona.. nona ku sudah dewasa.. hiks " Daisy menangis
" Aku mengerti perasaanmu, tapi meskipun aku menikah nanti. Kalian harus tetap ikut bersamaku, agar aku tidak kehilangan kalian " kata Arabella
" Nona .. " mata Layla berkaca-kaca
" Mana bisa aku hidup tanpa kalian " Arabella berkaca-kaca lalu memeluk Daisy dan Layla dengan sedih.
" Di kehidupan lalu kalian mengorbankan hidup kalian untukku dan aku selalu membuat kalian menderita, tapi di kehidupan kali ini aku akan berusaha membuat kalian bahagia " batin Arabella
...---***---...