
"Apa yang mereka berdua lakukan?" ucap Riki yang terkejut akan pemandangan yang baru saja ia lihat.
Meskipun bayangan yang ia lihat begitu samar dan tidak terlihat dengan jelas tapi Riki jelas tahu apa yang Alena dan juga Errando lakukan di dalam mobil tersebut. Riki terdiam sejenak menatap lurus ke arah depan seakan tidak percaya akan apa yang baru saja ia lihat, awalnya Riki bahkan sudah mengira bahwa Alena benar-benar berubah dan telah melupakan Errando sepenuhnya. Meskipun itu terdengar mustahil namun dengan tingkah laku Alena yang mulai membuka hatinya dan juga baik kepadanya, Riki menganggap bahwa jalannya sudah mulai terbuka. Namun nyatanya malam ini dan detik ini juga Riki kembali dibuka matanya, seakan-akan diperlihatkan bahwa Alena tetaplah Alena yang tidak akan pernah berubah dan tetap mencintai Errando selamanya.
Riki mengusap rambutnya dengan kasar ke belakang, durasi ciuman keduanya yang lama dan begitu panas membuat tangan Riki mengepal dengan erat, namun tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya melihat segalanya terjadi tepat di depan matanya. Lagi pula apa yang Riki harapkan dari sebuah hubungan yang penuh kepalsuan ini? Apakah sebuah cinta yang murni dari seorang Nona muda? Ayolah jangan bercanda itu bahkan terdengar sangat lucu.
Pada akhirnya Riki kembali ditarik ke tempat asalnya, bagaimana pun juga bawahan tetaplah bawahan yang tidak akan pernah bisa berganti menjadi atasan hanya karena menikahi putri saudagar kaya raya.
Riki terjebak dalam sebuah hubungan yang tidak pernah bisa membuatnya keluar dari lingkungan tersebut tepat setelah ia memutuskan untuk masuk ke dalamnya, sebuah perasaan yang sudah merasuk ke dalam hatinya benar-benar menguncinya dan sama sekali tidak membiarkan ia pergi dari sana. Lagi pula siapa yang tidak akan jatuh cinta pada sosok Nona muda seperti Alena? Kebaikan hatinya dan juga raut wajahnya yang menawan, membuat siapa saja yang dekat dengannya pasti akan langsung jatuh hati kepadanya.
Riki terdiam di tempatnya sambil terus menyaksikan segala hal yang terjadi di dalam sana, hingga kemudian tak lama setelah itu Alena nampak keluar dari dalam mobil disusul dengan Errando yang juga mengikuti langkah kaki Alena keluar dari sana.
**
Errando yang berhasil menyusul langkah kaki Alena lantas langsung menarik tangan Alena sehingga membuat langkah kaki Alena berhenti dengan seketika.
Ditatapnya raut wajah Alena yang terlihat begitu sendu itu, sambil mengangkat wajah Alena secara perlahan Errando membawa Alena agar menatap ke dalam manik matanya selama beberapa detik.
"Jangan lari lagi Al... Aku benar-benar sudah lelah terus bermain kejar-kejaran seperti ini. Apa kamu tidak lelah?" tanya Errando dengan nada yang begitu lembut membuat hati Alena benar-benar merasa goyah dan tidak lagi bisa menahannya.
Alena yang mendengar perkataan dari Errando barusan lantas tanpa jawaban ataupun tanpa aba-aba langsung memeluk tubuh Errando dengan erat. Sambil menangis dengan tersedu Alena masuk ke dalam pelukan tubuh pria itu, Alena benar-benar tidak tahu apa yang harus ia katakan saat ini sehingga yang bisa ia lakukan hanya menangis dengan tersedu dan memeluk tubuh Errando dengan erat. Membuat Errando lantas langsung membalas dekapan Alena barusan sambil beberapa kali mencium kening Alena seakan berusaha untuk menenangkan wanita itu.
***
Beberapa menit kemudian
Mobil milik Riki terlihat mulai memasuki area halaman kediaman Hermawan. Dengan langkah kaki yang perlahan Riki terlihat mulai turun dari dalam mobil sambil membawa box berisi cake yang tadi ia beli. Riki menghentikan langkah kakinya sejenak tepat di pintu masuk utama, helaan napas yang berat terdengar begitu jelas keluar dari mulut Riki sampai kemudian perlahan raut wajah yang tadinya begitu terlihat menahan amarahnya, perlahan-lahan mulai berubah menjadi senyuman yang lebar. Sungguh perubahan yang begitu cepat dan mungkin akan sangat sulit untuk di lakukan mengingat apa yang baru saja Riki lihat di depan tadi dengan mata kepalanya sendiri.
"Apa ia melihat segalanya tadi? Mungkinkah..." ucap Alena dalam hati bertanya-tanya sambil menatap ke arah langkah kaki Riki yang terlihat kian mendekat ke arahnya.
Sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Alena berada, Riki mulai melukis senyuman indah di wajahnya seakan tanpa beban sama sekali.
"Kejutan... Lihatlah Nona, apa yang saya bawakan untuk anda." ucap Riki kemudian sambil mengangkat dengan tinggi box yang ia bawa di tangannya sedari tadi.
Mendengar perkataan dari Riki barusan lantas membuat Alena mengernyit dengan seketika. Sambil melirik ke arah box yang dibawa oleh Riki saat ini Alena mencoba untuk menerka, apakah Riki melihat segalanya atau tidak?
"Mengapa anda diam Nona? Apa anda tidak menyukainya? Saya bahkan harus jauh-jauh pergi ke Bogor membelinya khusus untuk anda tadi." ucap Riki kemudian dengan raut wajah yang ceria.
"Bogor? Tadi? Apa kau sudah gila?" ucap Alena dengan nada yang spontan.
Mendengar perkataan Alena barusan membuat Riki lantas tersenyum ke arahnya. Tanpa menanggapi secara langsung perkataan Alena barusan Riki kemudian mulai melangkahkan kakinya ke arah meja makan dan mulai membuka box tersebut untuk mengeluarkan isinya.
"Anda benar Nona sepertinya aku tergila-gila kepada anda, hahaha aku bercanda kemarilah Nona kita makan cake-nya secara bersama-sama." ucap Riki kemudian sambil membuka penutup box tersebut.
Sedangkan Alena yang mendengar perkataan dari Riki barusan tentu saja terkejut bukan main, sebuah perkataan yang spontanitas biasanya merupakan suatu kejujuran yang berasal dari dalam hati seseorang. Maka dari itu ketika Alena mendengar Riki mengatakan hal tersebut tentu saja membuatnya terkejut bukan main. Ditatapnya raut wajah Riki yang terus-terusan menunjukkan senyuman di wajahnya itu, membuat Alena lantas langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung seakan bertanya-tanya akan maksud dari ekspresi wajah Riki yang terlihat sangat aneh bagi Alena.
Riki yang tahu bahwa Alena saat ini tengah menatapnya sedari tadi, lantas bersikap acuh tak acuh dan terus membuka box tersebut kemudian memotong cake itu satu persatu. Setelah semuanya terpotong Riki kemudian meletakkannya ke dalam sebuah piring kecil dan memberikannya kepada Alena masih dengan senyuman yang mengembang di wajahnya, membuat Alena semakin bertanya-tanya akan maksud dari senyuman yang terlukis dengan jelas di wajah Riki sedari tadi.
"Apa kau tadi melihat sesuatu di depan Rik?" ucap Alena kemudian seakan menebak alasan dari tingkah laku Riki yang aneh ini saat ini.
Bersambung